Thursday, November 7, 2013

#MenulisMuharram: Before You Leaving Me



Suatu hari, saya melihat gambar ini di Facebook teman saya, dan saya tersentak.



Saya bukan anak pembangkang (menurut saya), tapi saya rasa bahkan anak paling penurut pun pasti pernah mengalami negosiasi (baca: berdebat) dengan sang ibu. Latar belakangnya tentu macam-macam, misalnya saja masalah pasangan, pilihan karier, dan lain-lain.



Meski intinya ibu menginginkan yang terbaik untuk kita, tapi saya juga percaya bahwa ibu dan kita mengalami masa-masa yang berbeda – yang mungkin, harapan ibu sudah tidak sejalan dengan kondisi saat ini. Contohnya, waktu saya mau bekerja di Jakarta. Ibu saya menggambarkan keadaan waktu beliau bekerja di Jakarta, dan beliau meminta saya mengikuti jejaknya dalam mempertimbangkan tempat tinggal. Waktu itu, tempat tinggal ibu cukup jauh dari kantor, tapi cukup dekat dengan kegiatan ibu di kala weekend (kegiatan ekstra seperti olahraga dan kursus-kursus). Lalu saya berpikir, jika hal ini diaplikasikan kepada saya sekarang, mungkin saya harus berangkat kantor jam lima pagi. Beruntung, saya tidak perlu bernegosiasi secara langsung, karena pakde-bude saya yang turun tangan dan mengingatkan bahwa pengalaman ibu tersebut terjadi dua puluh tahun yang lalu. Sekarang sudah jelas berbeda, sehingga mari kita mencari solusi yang cocok untuk masa sekarang.



Kembali ke gambar di atas, jika sudah wilayah Indonesia bagian berdebat dengan ibu, ibu saya selalu berkata, “Apa susahnya sih kamu menurut pada ibu? Usia ibu tidak lama lagi, kak..”



Lalu saya akan merajuk dan melarikan diri dari perdebatan.



Saya sayang ibu, dan saya sama sekali tidak berharap ibu pergi begitu cepat. Ibu adalah satu-satunya harta yang saya miliki, meski ayah saya juga masih ada, tapi ibu membuktikan bahwa she is always be there for me. Sampai saya sebesar ini, ibu saya masih tidak tidur kalau saya sakit. Beliau turut menangis ketika seseorang yang saya cintai meninggalkan saya. Beliau mencium kening saya penuh haru ketika saya memenangkan lomba menulis.



Saya masih ingin ibu memakaikan hijab saya saat saya menikah, saya masih ingin ibu menimang cucunya. Mengingat saya juga punya adik, saya ingin ibu mendampingi adik saya saat bertumbuh dewasa seperti ibu mendampingi saya saat ini.



Ibu pernah bilang, “Bahagiakan ibu, itu akan memanjangkan umur ibu. Ibu memang tidak selalu benar, tapi jika kamu tidak setuju, kamu punya pilihan untuk berkata dengan santun.”



Duhai ibu, maafkan aku.

Mungkin egoku terlalu tinggi, menghalangiku dari melembutkan suaraku ketika berucap padamu.

Ampuni aku, karena hanya dengan restumu, aku bisa tetap melaju..



Love,
Prima




4 comments:

  1. terharu......sedih...ah apalah rasanya itu :(

    semalem aja gak liat Ibu tidur di kamar karena urusan tugas, rasanya haaaah haah kangen :( apalagi kalau Ibu, pasti berharap, ngeliat ada anaknya yg sedang tidur di kamarnya. tentu beda rasa kalau anaknya udah berkeluarga.

    ReplyDelete
  2. saya aja yang kelakuanya kayak preman masih nangis gara gara keinget sama ibuk. :')

    ReplyDelete
  3. Terharuuu, kak.
    Aih, jadi langsung kangen sama ibu T.T

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...