Wednesday, December 23, 2015

At the End of the Journey

Januari 2012

Aku memandangi kamar berukuran 3 x 3 yang kini tampak lapang. Disinilah, selama empat tahun lamanya, aku 'tinggal' dan mencari arti hidup yang lain. Meski sejujurnya, dari sejak awal aku tidak pernah berencana untuk tinggal secara permanen disini. Empat tahun yang lalu, aku hanya ingin pergi........jauh. Berkelana. Hidup mandiri. Tapi aku harus bisa menerima kenyataan bahwa aku terdampar di kota yang hanya berjarak 90 kilometer dari kota kelahiranku. Di kota ini, ayahku juga memiliki rumah, tapi berhubung pendirianku sudah teguh, aku memutuskan untuk nge-kos.

Ya, aku empat tahun yang lalu, adalah anak yang (sok) dewasa, yang muak dengan segala apa yang terjadi di rumahku; aku hampir setiap hari bertengkar dengan ibuku. Barangkali aku juga bosan dengan lingkungan pergaulanku yang penuh hura-hura. Belum lagi nasib buruk menimpaku: aku tidak lulus ujian nasional SMA. Aku lelah, aku hilang arah, dan aku merasa perlu menyepi agar dapat menata masa depanku dengan tenang.
Alasan utamaku pergi ke Ubud adalah agar aku dapat menghindari suatu acara yang akan membuatku berhadapan dengan orang-orang yang menyakiti hatiku, salah satunya adalah suamiku sendiri. Alasan keduaku adalah untuk berpikir dan mengetahui apa yang harus aku lakukan selanjutnya. (Crossroads in Ubud, halaman 3)
'Perjalanan' itu, yang kemudian membuka mataku akan suatu jalan kehidupan yang lain. Persahabatan sejati, jatuh cinta dan patah hati, perjuangan menemukan passion...semua terjadi di kota Malang. 

***
Confidence is power. Dan menjadi cantik adalah salah satu jalan ke sana. Namun, at the end of the day, kenyamanan dan kebahagiaan ada pada saat kita bisa menjadi diri sendiri. (How to Love Yourself, halaman 76)
“Ay, dulu tuh perasaan waktu awal-awal kita kenal, kamu tuh selalu pakai baju yang modis. Terus lumayan sering dandan. Sekarang kok udah jarang sih?”
Aku tergelak menanggapi perkataan pacarku [sekarang mantan, dan dia sudah menikah sebulan yang lalu, CONGRATULATION! (tulus lho ini ngucapinnya, lol)]. Aku berkaca pada cermin di ruang kecil di 'kantor' Unit Kegiatan Mahasiswa FORMASI (Forum Mahasiswa Studi Bahasa Inggris), tempat kami pertama kali bertemu, dan kemudian menjadi anggota. Aku menggumamkan pembelaanku. Aku harus mengakui perkataannya ada benarnya. Ketika SMA, dengan teman-temanku yang kebanyakan model dan anak orang kaya, setidaknya aku terlatih mengenakan pakaian yang appropriate. Aku bahkan pernah masuk majalah remaja ketika menghadiri acara off-air mereka di sebuah mall. 


Tapi waktu berselang, teman-teman kuliahku di Malang lebih beragam. Kebanyakan lebih sederhana. Lebih alami. Dan ternyata yang sederhana dan alami lebih nyaman bagiku. Selamat tinggal rok mini, selamat datang celana jeans dan kaos belel (...dan hal ini tetap bertahan hingga aku menjadi penyiar radio di tahun kedua kuliah. Aku pernah pergi kerja dengan celana training dan kaos gombor, padahal ternyata aku harus meng-interview grup penyanyi. Untunglah aku punya cukup waktu untuk meminjam baju dari teman yang kosnya dekat dengan radioku).

***

Handphone-ku bergetar, sopirku mengirim sms, “oi, ayo brgkt.”
Aku sedikit gusar, nanti aku harus meminta mamaku untuk mengingatkan agar dia lebih sopan. Aku menuruni anak tangga, berpamitan dengan ibu kosku sekali lagi, dan menaiki mobil. Aku duduk di sebelah sopir karena kabin tengah dan belakang dijejali barang-barangku. Kadang aku heran, empat tahun dan aku mengumpulkan begitu banyak barang. Belum lagi barang-barangku yang sudah aku kirim ke rumah dengan kargo minggu lalu, dan ada lagi yang aku titipkan kepada omku yang akan pergi ke Surabaya beberapa hari lagi. 


Belum setengah jam perjalanan, handphone-ku bergetar lagi.
“Yaaah, udah brgkt ya? Aku baru sampe kosmu. Maaf bgt aku telat, tp pokoknya jgn lupa kapan2 main ke Mlg lg.”
Mayu. Si sahabatku yang memang hobi terlambat (kuliah, kerja kelompok, nonton bareng – mottonya adalah 'kalau bisa terlambat, kenapa harus tepat waktu?' Haha.) ternyata mau memberikan kejutan perpisahan untukku. Sayang sekali aku harus segera berangkat agar tidak terlalu malam tiba di Surabaya. Untung saja kemarin lusa kami sudah sempat makan malam bersama, dimana dia memberiku sebuah notebook yang katanya, “untuk mendukung hobi menulis-mu, prim.”
Aku tersenyum. Kata-katanya begitu mulus tanpa modus. Memang soulmate tidak harus berarti romantis. Bisa saja artinya pertemanan yang manis. (The Alley of Marrakech, halaman 111)
Tidak lama kemudian, sopirku mengarahkan mobil ke SPBU. Aku mengambil uang dari dompet, dan sedikit tercenung. Aku teringat bahwa dompet yang sudah sedikit pudar warnanya ini, adalah hadiah terakhir dari pacar – iyaaa, mantan, hadeh.
Pengalaman sudah mengajarkanku untuk selalu setia pada diri sendiri. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan orang yang mempunyai nilai-nilai hidup yang berbeda. Sudah saatnya aku melepaskan Peter, membiarkannya pergi bersama harapan-harapan yang sudah terlanjur kutumpukkan di punggungnya. Tak ada pilihan lain, kami harus mengemas semua memori dan mulai pindah hati. (Pindah Hati di Alexandria, halaman 150)
Setelah 3,5 tahun bersama, kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan pada saat kami memulai penulisan skripsi. Kalau saja kami masih berpacaran, kami pasti akan menghadiri wisuda bersama. Setelahnya, kami akan mengadakan makan siang bersama, dengan orangtuaKU dan orangtuaNYA. Aku sempat berpikir, mungkin saat itu akan menjadi waktu yang tepat untuk mendiskusikan kelanjutan hubungan kami. 

Tapi ternyata, Tuhan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Tanda-tanda perpisahan sebenarnya sudah tercium sejak hubungan kami mencapai tahun kedua. Sembari kuliah, aku semakin aktif di kegiatan ekstrakurikuler dan bekerja part-time. Ujung-ujungnya, dia rajin mencari alasan untuk membuatku merasa bersalah. Yang tidak bisa bertemu dengannya-lah, yang memprioritaskan kegiatan dan teman-temanku daripada dia-lah, dan kemudian yang terakhir, dia menduga aku sudah 'berubah'. Aku tidak menyayanginya lagi, melainkan lebih memperhatikan laki-laki yang lebih dewasa, sudah bekerja, dan terlihat punya masa depan yang cerah. Aku kesal karena merasa ruang gerakku menjadi sempit, dan aku langsung setuju ketika ia mengatakan kami harus putus.

***

Ketika adzan isya' berkumandang, kami sudah dua pertiga perjalanan. Aku bisa melihat tanggul lumpur Lapindo disamping kananku. Alhamdulillah, jalanan tidak terlalu macet. Aku tersenyum, mengingat satu momen saat aku melakukan perjalanan dari Surabaya ke Malang beberapa bulan yang lalu. Aku tidak sendirian, aku sedang bersama rombongan Persema Malang, klub sepak bola yang aku teliti untuk skripsiku. Mereka baru saja menang besar pada pertandingan di Surabaya, dan karena kebetulan aku juga hendak kembali ke Malang setelah menonton mereka, mereka mengajakku ikut di bis mereka. Waktu itu, kami terjebak macet panjang disini. Di sela-sela menonton film, aku menemukan diriku curhat kepada beberapa pemain perihal putusnya hubunganku dengan pacar-(MANTAN, Ya Tuhan, prima)-ku. Aku lupa judul film yang kami tonton, tapi aku ingat kata-kata Mamoun, si pemain Nigeria: “prima, you deserve to be with someone who support your growth, and happy to see you improving yourself. You need a strong man who doesn't feel insecure with your achievements.”

 
Malamnya, ketika kami tiba di Malang, HSM, si pemain Korea, mengantarkan aku ke kos. Sebelum aku turun, ia berkata dengan bahasa Indonesia yang patah-patah, “Oppa tidak mengerti kamu bicara apa, tapi Oppa tahu kamu putus sama boyfriend kamu. Selama Oppa disini, Oppa tidak mau lihat kamu sedih. Kalau kamu ingat boyfriend, jangan nangis, telepon Oppa, nanti kita makan.” Lalu ia mengacak-acak jilbabku, membuatku sedikit merajuk – sambil tertawa tentunya.
Funny how life shows us the path to love, when we open ourselves to new experiences.(Last Dance in New York City, halaman 168)
***

Pukul 20.00, setelah 2 jam perjalanan, akhirnya aku bisa melihat mamaku menyambutku di teras rumah. Aku memeluknya dengan erat, hampir menangis karena 'perjalanan'-ku selama empat tahun ini mengajarkan kepadaku banyak hal, termasuk arti 'rumah'. Sejauh-jauhnya aku pergi, aku akan selalu pulang ke rumah. Tempat dimana orang-orangnya mencintaiku dengan sepenuh hati, meski terkadang dengan cara yang tidak aku mengerti.
Aku belajar bahwa, at the end of the day, kebahagiaan bukan berada di suatu tempat, bukan juga berada di tangan orang lain, tetapi kebahagiaan itu ada di dalam diri sendiri. Jika kita tidak bahagia kala sendiri, maka kita tidak akan bahagia saat bersama orang lain. Jika kita tidak bahagia di sini, maka kita tidak akan bahagia di sana, meskipun tempatnya begitu indah. (The Colors of Love in Istanbul, halaman 128)

“Ma, kakak pulang..”
“Iya, kak. Alhamdulillah.”

Mama sudah menyiapkan nasi goreng untuk aku dan sopirku, yang langsung aku makan dengan lahap.

“Ma, Mama duduk sini dong. Mama udah makan? Kok ga makan sama kakak dan om Yono?”
“Mama udah makan, sebentar mama mau ambil sesuatu ke kamu. Ini, hadiah kelulusanmu.”

Mamaku mengangsurkan sebuah amplop.

Tiket pesawat! Ke Kuala Lumpur, Malaysia! Sesudah sepuluh tahun lamanya aku tidak bepergian keluar negeri. Aku menciumi pipi mamaku dan berterima-kasih dengan sorak sorai bergembira.

“Aduh, aduh. Bau nasi goreeeeng. Ya mama cuma bisa kasih hadiah ini, walaupun perginya masih bulan depan. Kamu nanti liburan seminggu disana, ga sama mama, tapi akan ada teman mama yang siap nganter kamu kemana-mana...”

Suara Mama tidak lagi terdengar. Aku sibuk membayangkan Petronas Twin Towers, Merdeka Square, Kompleks Putrajaya... Aku harus browsing dan mencari tempat-tempat wisata baru.

Aku siap untuk perjalanan berikutnya! 


Lots of love,
Prima


-- kutipan-kutipan diatas diambil dari buku Passport to Happiness: 11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta. Terima kasih Kak Ollie yang telah menginspirasi-ku untuk terus menjelajah dan menemukan makna cinta. Below is an additional quote that makes me believe in myself more. 'Til I meet 'him', I will not settle down :)

Bonus:
Meskipun belum tentu mudah, probabilitas untuk bertemu pasangan hidup berikutnya menjadi lebih tinggi saat kita membuka batas-batas geografis. Dan tak hanya sekadar pasangan hidup. Aku adalah salah satu dari sedikit orang yang percaya bahwa we can have it all, kita bisa mendapatkan pasangan berkualitas yang segalanya sesuai dengan yang kita inginkan. Mulai dari kualitas fisik, kapasitas otak, hingga chemistry dalam hubungan. I repeat: we can have it all. (Di bab apa, dan halaman berapa? You have to read it by yourself to find out ;))

Pic from Gagas Media

Monday, December 14, 2015

Let Her Go

I know, I know that on my blog post some days ago, I wrote that I will stop blogging for a while, especially to focus on my final test. But then, this morning I read this blog post of Kak Leija and I can't help but think. Last night was like those usual nights, talking with my roommate, in the dark...when I finally cried in silence as I didn't want my roommate knew it.

Some of these weeks, as I have written here, I have asked A LOT to Allah, even much more than I usually do. I begged Him for the scholarship paid soon (because I have went to this and that office but it still doesn't works), I asked Him to allows me to work here and there, being a participant here and there... 

Until some days ago, I got a call and suddenly everything doesn't matters anymore. 

It was my mom, asked my permission for something.

I haven't gave her my answer yet. I still can't decide 'yes' or 'no'. I really want to respond, "is my permission matter for you?" but from the bottom of my heart, I'm afraid if the answer is "no, but I just want to know." 

My mom's happiness is what matters the most for me, but I doubt that I ever make her happy for all of my lifetime. 

And now I have to let her go.

What should I do?

Thursday, December 3, 2015

Jadi Liaison Officer, Ngapain Tuh?

Saya, teman-teman, dan para pembicara. Photo by Kukuh.

Hari Kamis lalu, saya dan teman-teman sekelas mengadakan seminar bertajuk “The Social Media: Journalism and Strategic Communication”. Selain mengundang dosen Ilmu Komunikasi, Mas Kuskridho Ambardhi; kami juga mengundang tiga pembicara kece: Pangeran Siahaan, Rorie Asyari, dan Adita Irawati. Saya kebagian mendampingi Bu Adita, meski pada hari H saya juga ikut menjemput Rorie di bandara, lalu menjemput Pangeran di hotel.

Sementara cerita tentang seminar akan saya bagikan kapan-kapan (...kalau ingat #DigetokPembaca), saya ingin sharing tentang tugas yang saya jalankan, yang biasa dikenal dengan sebutan LO a.k.a. Liaison Officer.

Sejujurnya, tugas LO ini gampang-gampang susah. Gampang kalau orang yang didampingi itu lumayan terkenal, jadi kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang dirinya. Seperti apa profesi dan hobinya, ada kecenderungan orang ini rempong atau engga, bahkan mungkin apa saja yang boleh dan tidak boleh kita obrolkan sama orang ini. Susah kalau ya itu, kita harus kepo lebih jauh untuk menguak seperti apa orang ini. Apalagi kalau orang ini tidak aktif di media sosial, dan secara umum tidak banyak diberitakan.

Lah, memang harus segitunya ya Prim? Iya dong. Sebagai LO, kita bertugas untuk membuat orang yang kita dampingi (mari kita sebut dia 'artis'), merasa nyaman sepanjang kegiatan. Biasanya, kita harus menjemput si artis di bandara, lalu menemani sarapan/makan siang/makan malam, membantu menyiapkan penampilannya, hingga mengantarnya ke hotel atau bandara untuk pulang. Paling tidak, kita akan 'stuck' bersamanya selama seharian. Masa ga ngobrolin apa-apa? Diem-dieman aja kayak orang pacaran lagi berantem? Lol.

Hal pertama yang harus disiapkan adalah pengetahuan sister tentang event yang dihadiri oleh si artis. Nama, tujuan, latar belakang, pengisi acara lainnya, situasi venue, audiens, dan sebagainya. Ga perlu dipresentasikan ke si artis juga sih, tapi kalau misal dia bertanya, kita bisa menjawab. Jangan sampai si artis mengalami culture shock atau salah kostum, wah bisa-bisa dia ngambek *lebay *tapi mungkin terjadi

Yang kedua, pengetahuan tentang keadaan kota secara umum, terutama kalau si artis baru pertama kali datang ke kota ini. Mungkin dia akan bertanya tentang pariwisata, kuliner, atau tempat beli oleh-oleh. Sister juga harus meng-update berita tentang event-event lain di kota tersebut. Sebagai contoh, hari Kamis tersebut, kami bertemu dengan beberapa orang penting di bandara, bahkan Sri Sultan HB X lagi nongkrong di Solar*a bandara. Ngapain? Kami geleng-geleng kepala dan cepat-cepat googling. Soalnya event ini mungkin juga akan mempengaruhi jumlah audiens, atau menyebabkan jalanan macet.

Yang ketiga, harus bisa menciptakan obrolan yang menarik untuk kedua belah pihak, tidak hanya kita terus yang bertanya, tapi harus bisa menceritakan pendapat kita tentang hal itu. Bukannya mau show off, tapi kalau si artis adalah public speaker, dia pasti sangat berharap mendapatkan wawasan baru dari kunjungannya ke institusi kita. Selain itu, dengan obrolan yang seru, dia akan terbuka ketika diundang lagi. Pengalaman kemarin, Pangeran Siahaan seneng banget sama LO-nya, sampai di-tweet segala. Kebetulan yang mendampingi adalah ketua panitia seminar yang memang terkenal kritis.

Meski demikian, kita juga harus pintar melihat situasi. Jangan nyerocos terus sampai si artis menunjukkan gelagat tidak nyaman. Biasanya artis-artis ini punya jadwal yang padat, dan untuk datang ke acara kita pada pagi hari, malam sebelumnya mereka baru saja merampungkan kegiatan lain. Bu Adita yang saya dampingi, berangkat dari Jakarta dengan pesawat jam empat pagi, sementara malamnya baru tiba dari Denpasar. Kebayang kan capeknya.. Jadi sangat wajar kalau mereka butuh waktu untuk recharge energi barang setengah atau satu jam ketika di mobil.

Yang terpenting ketika jadi LO, jangan lebay! Okelah kita nge-fans sama si artis, tapi jangan terus memberondong mereka dengan wefie setiap menit. Kalau memang nge-fans, coba tunjukkan bagaimana kesan sister terhadap si artis yang menginspirasi sister untuk berkarya. Hal itu akan lebih memorable. Bisa jadi, sister malah diajak bekerjasama dengan si artis, seperti yang terjadi pada saya dan mbak Ollie.

Seiring dengan bertambahnya jam terbang saya dalam mendampingi 'artis', saya juga mulai merasa santai dan be more to myself. Yaudah kalau memang ga bisa mengimbangi obrolan sama si artis, cari aja obrolan yang umum dan kasual. Menanyakan sudah berapa kali dia ke kota ini, apa yang dia suka dan tidak suka, dan lain-lain. Tapi insyaAllah, sepanjang yang saya tahu, belum ada yang menyesal untuk di-LO-in oleh saya; atau kalaupun nyesel, mungkin komplain itu ga sampai ke saya :)))

Love,
Prima  

*Post ini adalah post terakhir saya di tahun ini :( Biasalah, menjelang pekan UAS, yang namanya pikiran tuh penuh banget dengan penulisan paper dan konsultasi. But please stay tune, I'll be back with more interesting posts in early 2016! Kisses!

Thursday, November 26, 2015

Mamma Mia: I Feel Incomplete Without My Dad


Katanya, tanggal 12 November yang lalu diperingati sebagai Hari Ayah ya? Namun, bukannya mengucapkan kepada ayah tercinta, saya dan beberapa teman di sebuah grup Whatsapp malah memperdebatkan tanggal Hari Ayah yang sebenarnya – menurut internasional atau nasional. Halah, ga penting banget. Oya, saya juga tidak terpikir untuk mengucapkannya, karena ayah saya bukanlah orang yang 'seru' diajak gombal-gombal begitu, tapi yang penting doaku untukmu Yah, forever and for always :)

Hari itu, saya membaca sebuah blog post dan saya jadi teringat film Mamma Mia yang saya tonton beberapa hari sebelumnya – kebetulan nontonnya sama ayah. Filmnya menarik, dulu saya sudah pernah nonton, dan overall I like every detail in the movie.

Lucunya, sementara ayah saya tertawa dengan lepas, saya malah menahan air mata. Saya sangat memahami perasaan Sophie Seridan (Amanda Seyfried) yang ingin mengetahui siapa ayahnya. Meski ia bahagia dengan ibu dan calon suaminya (apalagi bisa tinggal di Yunani yang eksotis gitu, wow); ia tetap merasa kehilangan suatu kepingan hidupnya yang berharga.

Saya tercenung. Persis sekali seperti perasaan saya selama sebagian besar tahun-tahun kehidupan saya. Dulu, saya hampir tidak pernah merasa utuh. Yang saya tahu, seharusnya orang tua itu ada dua: ibu dan ayah; dan seharusnya keduanya bersama saya. Kenyataannya, sejak saya berusia empat tahun, saya harus menerima keadaan bahwa saya hanya memiliki salah satu dari mereka di hadapan saya. Yang lain? Ada juga, tapi tidak selalu bersama saya.

Hal ini berubah pada sekitar tiga-empat tahun terakhir. Saya mulai mengumpulkan keberanian untuk memulai hubungan yang serius dan berorientasi kepada pernikahan. Jadi, saya tidak boleh merasa pantas 'bermanja-manja'. Ayah dan ibu saya sudah lama meninggalkan masa lalu; saya harus mengejar kebahagiaan saya sendiri – ekstrimnya, dengan atau tanpa mereka. Saat itulah saya melihat di sekeliling saya, banyak sekali orang-orang yang latar belakang orangtuanya lebih tragis daripada saya, dan mereka baik-baik saja. Saya harus bersyukur, kedua orang tua saya masih ada, dan secara umum, kami tidak memiliki suatu masalah yang pelik.

Selain itu, sister pernah dengar kan, kalau kita tidak akan bisa mencintai orang lain jika belum mencintai diri sendiri? Nah disitulah transformasi diri saya. Saya mencoba mencintai diri saya sendiri, dengan segala yang saya miliki – termasuk dengan apa yang tidak saya miliki. Saya pantas untuk dicintai, bagaimanapun latar belakang orang tua saya. Saya ingin merasa utuh dengan diri saya sendiri, and I know I will.

Barangkali hal ini kemudian mengubah cara pandang saya terhadap pasangan. Saya berharap tidak mencari orang dengan tujuan melengkapi saya; melainkan dengan adanya dia, saya ingin merasa lebih kuat, dan bisa memberi lebih banyak manfaat bagi sekitar kami. Hal ini ga mudah untuk dilakukan, tapi mohon doa sister ya :)

Lots of love,
Prima

Tuesday, November 24, 2015

The Belief

Q.S. Yunus (10)

Ternyata sudah lama ya saya ga menulis post untuk #1Hari1Ayat. Kemana saja, prim? Biasa, sedang mengeksplorasi hal-hal baru :))) Bukannya ga menemukan ayat untuk ditulis, tapi sesudah #1Hari1Hadits selama bulan Ramadhan, saya lebih fokus untuk mempertahankan kuantitas bacaan Qur'an. Secara umum saya juga sedang jarang nge-blog, maklum sindrom menjelang UAS, buka laptop automatically buka folder Kuliah atau Tugas endebre endebre.

Sejak hari Jum'at yang lalu, sampai Senin kemarin, saya mendapatkan berbagai kejutan – yang saking bikin syok, saya cuma bisa ketawa getir. Awal-awal sih nangis sesenggukan, terus nangis kenceng sampai badan gemetar, terus kok ada aja lagi yang terjadi...hmmm, senyumin aja deh. Huft.

Jadi kalau dirunut ceritanya begini: beasiswa saya ditunda karena ada permasalahan administratif, permohonan referral saya ke sebuah universitas di Australia ditolak, ada orang yang suudzon kepada saya, dan terakhir HP saya mendadak rusak. Ga ada angin, ga ada hujan, tiba-tiba HP saya mati begitu saja di tengah negosiasi 'bisnis' yang maha penting dengan beberapa kolega. Allahu akbar, rezeki saya ditahan lagi oleh Allah.

Saya jadi teringat suatu perbincangan di grup whatsapp tentang keyakinan. Ketika kita yakin bahwa Allah akan mengabulkan permohonan kita, ada dua hal yang akan Allah lakukan: memberikan apa yang kita minta, atau menguji keyakinan kita. Iya, menguji apakah kita yakin bahwa ketentuan Allah lebih baik daripada permohonan kita.

Saya terhenyak. Mungkin keyakinan saya sedang diuji, terutama karena saya sedang punya banyaaak sekali permintaan. Saya tidak boleh 'pura-pura buta', ngotot merasa bahwa yang saya minta ini yang terbaik untuk saya, daripada yang akan diberikan oleh Allah sebagai gantinya. Saya harusnya bersyukur, bahwa Allah sedang melindungi saya dari konsekunsi buruk yang mungkin timbul dari apa yang saya inginkan.

Yakin, tawakkal, dan menunggu keputusan Allah. MasyaAllah, sulitnya bukan main, sister. Terutama jika ujian keyakinan itu datang bertubi-tubi pada waktu yang berdekatan. Tapi percayalah, Allah adalah hakim terbaik, dan akan selalu begitu.

Salam,
Prima

Friday, November 20, 2015

Tentang Menawar

Hari jumat dua minggu yang lalu, saya terpaksa pergi ke kampus dengan menggunakan ojek. Biasanya sih, saya menggunakan ojek dari rumah (SMS ke Pak Ojek terus minta dijemput) hanya sampai terminal TransJogja Condongcatur, lalu lanjut dengan TransJogja sampai halte dekat kampus. Tapi hari itu, saya harus mengejar sesi konsultasi dengan psikolog, jadi saya meminta ojeknya mengantarkan saya langsung ke kampus.

Saya sempat menawar harga layanan Pak Ojek tersebut, dari yang seharusnya Rp. 30.000,00 akhirnya turun jadi Rp. 25.000,00. Lumayan, pikir saya. Bisa buat beli milk tea di kantin – padahal harganya Rp. 8.000,00 dan ternyata rasanya tidak terlalu enak. Weks.

Tapi kemudian saya sedikit merasa bersalah. Anggap saja menjemput saya dari rumah, mengantar ke kampus, dan kembali lagi ke pool dia butuh satu liter bensin; jadi paling tidak dia hanya menerima sekitar Rp. 17.000,00. Memang sih, dia pasti sudah menghitung dengan seksama resiko pekerjaannya, tapi kalau mau jujur, dapat apa sih dari uang segitu?

Saya jadi teringat ketika saya mendampingi siswa Stamford American International School, Singapore, pada kunjungan mereka ke Yogyakarta bulan Oktober. Waktu itu mereka melakukan Jogja Race dan ada challenge yang harus mereka selesaikan. Salah satunya, pergi ke pasar, membeli beberapa barang dengan harga yang semurah mungkin. Hmmm, lebih tepatnya, dengan nominal uang x harus bisa mendapatkan barang sebanyak-banyaknya. Nantinya, poin yang mereka dapatkan akan berbanding lurus dengan jumlah barang.

Artinya, mereka harus mencoba menawar harga kan. Saya sempat mendampingi dua kelompok. Yang pertama sepakat untuk membeli cemilan, jadi pada akhirnya mereka tidak perlu menawar harga – karena barang yang mereka beli sudah cukup variatif. Kelompok kedua, berdebat ngalor ngidul dan memutuskan melewatkan tantangan tersebut. Tapi, pada saat kami hampir mendekati akhir perjalanan, beberapa dari mereka tiba-tiba ingin membeli sesuatu, termasuk mencoba menawar harganya.

Kemudian, mereka berpikir untuk membeli pernak-pernik yang dijual di dekat pintu Keraton. Namanya juga anak kecil, mereka masih terus berdebat tentang berapa banyak uang yang ingin mereka habiskan. Sampai pada suatu titik, saya bertanya, “memangnya mau nawar berapa?” Paling juga bedanya lima ribu-sepuluh ribu.

Untunglah kemudian guru mereka – kalau ga salah namanya Mr. Anderson – menengahi. He said something I won't forget forever, “Guys, guys! Will ten thousand worth much more for you all, or for them?” Sepuluh ribu itu bakal lebih berharga buat kalian, atau buat mereka (pedagang)?

Saya terdiam. Mereka semua terperangah, tidak lagi berdebat. Sepuluh ribu, buat kita – apalagi buat anak-anak ini yang notabene bayar sekitar SGD1500 (lebih sih...) untuk ikut program di Yogyakarta – insyaAllah tidak ada apa-apanya. Tapi buat para pedagang, barangkali sepuluh ribu sangat berguna untuk menambal kebutuhan hidup mereka hari itu.

Kembali lagi ke kasus saya dan Pak Ojek. Iya, Pak Ojek pasti sudah mikir berapa keuntungan bersih dia, dari uang yang dia dapatkan dikurangi bensin, perawatan motor, uang makan, uang rokok, dan lain-lain... Sama juga dengan para pedagang, mereka pasti sudah memperhitungkan kulakan, transportasi, sewa lapak, tapi...sepuluh ribu gitu lhoh.

Jadi, lain kali, kalau lima ribu atau sepuluh ribu tidak berpotensi membuat kita kaya mendadak – atau sebaliknya, miskin mendadak – jika boleh saya menyarankan, ikhlaskan saja. Semoga dengan demikian, Allah berkenan menambah keberkahan perjalanan kita, atau kegunaan barang yang kita beli.

InsyaAllah, amin.

Dari yang sedang menasehati diri sendiri,
Prima 

Thursday, November 19, 2015

Jogging di Campuhan

 
 
Photo courtesy of Gracia Ardiati.





Sejak kembali dari Bali, saya memutuskan untuk jogging setiap pagi. Alasannya, saya merasa sangat lelah dan tidak bugar, jadi saya pikir berolahraga akan mengembalikan kebugaran saya. Alhamdulillah, setelah dua minggu, saya ingin sekali bisa melanjutkannya secara rutin. Saya juga berharap bisa terus meningkatkan durasi dan mengombinasikan rute perjalanan supaya tidak bosan.

Ngomong-ngomong tentang jogging, waktu di Bali kemarin saya sempat mengunjungi Gunung Lebah, atau biasa dikenal orang dengan sebutan Bukit Campuhan. Yang pertama, saya pergi dengan Volunteers Coordinator yang juga roommate saya, Mutia. Yang kedua, saya pergi dengan beberapa teman volunteers dan seorang peserta. Pinginnya sih bisa kesana lebih sering, tapi kebetulan tempat saya menginap cukup jauh, jadi susah kalau mau bolak-balik dan harus standby di kantor sebelum pukul 08.30.

How to get there? Kalau sister datang dari timur, sebelum jembatan/Warung Murni, ada Warwick Ibah di kanan jalan. Masuk kesitu, dan kalau sister membawa motor, ada lahan kosong di belakang Mini Market. Di jalan tersebut ada sebuah SMA, tapi sebaiknya tidak parkir disana; karena bisa saja saat kembali, parkirannya sudah penuh, dan pastinya merepotkan kalau sister mau pulang.

Kemudian, pilih jalan di samping kanan jembatan, melewati bagian samping pura, dan sister akan menemukan jalan setapak. Ikuti saja jalan di sebelah sungai itu, nanti sister akan menemukan belokan ke kiri, lalu ke kanan, and then welcome to Campuhan :)

Pada saat saya di Bali, matahari terbit sekitar pukul enam WITA. Jadi kami jogging sekitar pukul setengah tujuh sampai setengah delapan. Menurut saya, jam segitu sudah cukup panas, tapi ketika kami pulang, Campuhan malah semakin ramai. Saya sempat bertemu dengan seorang bapak-bapak tour guide yang juga sedang jogging, beliau bilang bule lebih suka ke Campuhan pada pukul sembilan. Kalau warga lokal malah lebih senang nongkrong di Campuhan pada sore hari, apalagi yang muda-mudi. 'Banyak yang pacaran, mbak. Sampai kita kewalahan ngusirnya', ujar Pak Wayan. Oya, bukit tersebut sebenarnya adalah salah satu tempat suci di Ubud, jadi sudah sepatutnya untuk kita berperilaku yang baik ya.

Kelebihan dari Campuhan adalah, adanya tempat sampah yang disediakan, jadi ga perlu galau kalau mau bawa bayi minuman, you can simply put it in the trash bin. Tentang jarak, sebelum masuk Campuhan, ada plang penunjuk kafe, tapi saya sendiri tidak begitu memperhatikan lokasi kafenya. Katanya sih, kalau kita sampai ke kafe tersebut, artinya kita sudah menempuh jarak sejauh dua kilometer. Lalu, kalau kita jalan terus, jalan itu akan berujung di Jalan Sanggingan, dan jaraknya ke Warwick Ibah bisa sekitar enam atau tujuh kilometer. That's why kebanyakan orang lebih suka kembali lewat Campuhan lagi.

Uniknya, ada tradisi tidak tertulis di Campuhan, yaitu sister harus menyapa orang-orang yang papasan dengan sister. Tadinya saya kaget waktu disapa 'hi', 'morning', atau 'pagi' oleh orang-orang yang saya temui, tapi saya mengalaminya dengan semua orang; so at the next time, I do that and teach the volunteers who went with me. Senang deh bisa bikin orang tersenyum di pagi hari. Apalagi kalau bisa ngobrol dan minta nomer hape-nya si bule ganteng yang hobi jogging bertelanjang dada..... #eaaa  

'Aturan' lainnya di Campuhan sama saja dengan jogging dimanapun: lakukan pemanasan terlebih dahulu. Kalau sister jarang berolahraga, pelan-pelan saja, karena di awal jalannya memang nanjak abis. But make sure to take a lot of pictures, because the view is really beautiful!

Happy jogging,
Prima

Wednesday, November 18, 2015

Why Volunteering?

Bertugas di Gala Opening.
Menjadi MC untuk Festival Welcome.
Menjadi MC untuk sesi 'Farewell Kabul'.
Bersama sebagian volunteers UWRF pada Closing Party.
Kenangan dari UWRF2014.
Aku memeriksa kertas-kertas yang ada di tanganku sekali lagi. MC Guidelines sudah aku print sebanyak dua belas buah – sejumlah orang yang berada di timku. Ada kertas kosong, aku akan meminta nomer telepon emergency mereka; dan kertas bertuliskan MC dalam huruf ukuran super-besar.

Aku memandang ke sekelilingku, tersenyum pada satu-dua volunteers di sampingku. Kursi berjejalan di seisi ruangan, dipenuhi para volunteers yang mengenakan kaos dan celana pendek; atau mini dress tanpa lengan. Cuaca Ubud memang sedang panas-panasnya, hujan belum turun meski sudah akhir Oktober.

“Hi, how are you?”, “nice to meet you”, “it's gonna be awesome” - begitu banyak semangat dan kehangatan yang bertebaran. Percakapan tersebut didominasi oleh bahasa Inggris; maklum, hampir separuh dari volunteers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) adalah bule. Suasana berubah senyap saat Kak Ochie, Volunteers' Coordinator, meminta perhatian kami.

Ya, kami – sekitar 100-an orang volunteers – sedang mengikuti orientasi dan briefing. Selama lima hari kedepan, mulai besok Rabu, 27 Oktober 2015, kami akan membantu mensukseskan salah satu festival sastra terbesar di dunia.

Setelah orientasi berakhir, aku sebagai salah satu volunteers mengacungkan kertas bertuliskan MC tinggi-tinggi, sambil bersalaman dan ber-cipika-cipiki dengan mereka yang sudah aku kenal. Ini adalah kali kedua aku menjadi volunteer di UWRF, jadi wajar jika ada beberapa muka yang tampak familiar untukku.

Sembilan orang duduk manis mengelilingiku, sementara dua orang anggota tim yang lain ternyata masih dalam penerbangan menuju Bali. Aku membuka briefing, memperkenalkan diri sebagai MC Supervisor, dan menjelaskan tugas-tugas MC. Lalu aku mempersilakan Summa, International Program Coordinator; Julia, International Writer Liason Supervisor; dan Angela, Marketing Staff; untuk menambahkan apa-apa yang kurang.

Hari itu, tugasku berakhir dalam waktu yang cukup singkat. Hari berikutnya, aku juga masih bisa berleha-leha karena hanya ada satu sesi yang membutuhkan MC. Aku menunjuk Ayu, yang sudah tiga kali menjadi volunteer UWRF untuk menanganinya; sedangkan aku bertugas pada Gala Opening, mendampingi tamu VIP seperti duta besar dari negara sahabat dan para panelis senior.

Hari-hari selanjutnya, aku standby mulai pukul delapan pagi dan baru bisa kembali ke hotel sesudah pukul sembilan malam. Aku sibuk berkordinasi dengan para Supervisor seperti Main Program, Interpreter, Writer Liaison; dan juga para staff, seperti Partnership Coordinator. Aku harus memastikan para MC menjalankan tugas dengan baik: mereka harus menyebutkan nama panelis dengan benar dan mengucapkan terima kasih kepada sponsor. Ada juga beberapa sesi khusus yang membutuhkan briefing tambahan, dan aku harus menghubungkan antara MC dengan kordinator sesi tersebut.

Rasanya ingin sekali mencuri tidur sejenak di siang hari, tapi baru saja aku merebahkan punggung di atas tikar di Basecamp, saat itulah aku mendapat telepon berkenaan dengan timku. Dan itu terjadi setiap hari – hingga aku heran kenapa aku masih keukeuh untuk beristirahat, hehehe. Justru pada hari terakhir, ketika aku memutuskan untuk menemani MC di salah satu venue, malah tidak ada yang mencariku. Aku tidak tahu harus senang atau kesal karenanya :)))

Malam-malam kurang tidur selama hampir dua minggu karena mempersiapkan jadwal; tabungan yang habis ludes tak bersisa; bahkan aku harus berlelah-lelah mengerjakan tugas UTS dan mengumpulkannya sebelum aku berangkat ke Bali...'sihir' apa yang UWRF tanamkan kepadaku sampai aku mau menjadi volunteer disana?

Tahun 2013, aku menghadiri UWRF untuk pertama kali, saat itu sebagai peserta. Di antara para panelis, aku menangkap orang-orang yang begitu enerjik; mereka ada di setiap venue, melayani para peserta yang bertanya, atau mendengar komentar para peserta. Mereka tersenyum, tertawa, berbincang dengan mata berbinar. Mereka membuat kami menikmati setiap sesi. Mereka – para volunteers – membuat peserta merasa aman.

Pada hari kedua, Tuhan menjawab rasa penasaran-ku dengan cara mempertemukan aku dengan Ayu. Sesudah UWRF2013, kami tetap berkomunikasi, sampai aku memutuskan untuk mendaftar sebagai volunteer pada UWRF2014.

Tahun 2014, I had so much fun. Aku bercengkrama dengan Pak Bondan Winarno, Sacha Stevenson, Robyn Davidson, dan masih banyak lagi. Surely there is a huge difference of being a participant and a volunteer. The feeling of becoming a person behind a successful event, is priceless.

Enam hari sebagai volunteer di UWRF2014, aku seperti mendapat suntikan semangat dalam perjalananku menuju cita-cita sebagai penulis. Aku seperti kecanduan, jadi ketika aku mendapat tawaran untuk menjadi volunteer pada UWRF2015, aku tanpa ragu langsung menyetujuinya. Alhamdulillah, aku dipercaya menjadi MC Supervisor – dan MC Supervisor Indonesia pertama selama sejarah UWRF. Yang lebih luar biasa lagi, timku bekerja dengan sangat baik, I'm proud of them as they put much more efforts than I asked them to.

Semangat sebagai volunteer UWRF itu aku bawa kedalam pengalaman volunteering lainnya, misalnya sebagai Divisi Registrasi pada Asia Pacific Regional Rotaract Conference (APRRC) 2015, atau sebagai Time Keeper pada acara Talkshow dan Fundraising Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Pengalamanku sebagai volunteer mengajarkan beberapa hal. Pertama, bahwa volunteering menjadi representasi profesionalisme seseorang. Ketika seseorang sebagai volunteer yang tidak dibayar saja mau kerja 100%, idealnya ketika dia bekerja di kantor, dia harus memberikan performa lebih baik lagi.

Kedua, volunteering membantu kita menyadari satu hal yang paling mendasar dalam kehidupan: jika kita bekerja dengan hati – dibayar atau tidak – maka hasilnya akan luar biasa. That's why, bekerja-lah pada bidang yang benar-benar kita sukai, karena kita pasti akan memberikan sepenuh hati. Dari hasil pekerjaan yang luar biasa itulah, maka rezeki akan mengikuti.

Ketiga, bahwa setiap individu memiliki naluri untuk membantu dan membahagiakan orang lain. Apalagi Indonesia yang memang pada dasarnya memiliki tradisi gotong royong. Hingga saat ini, aku masih sering senyum-senyum ketika mengingat para partisipan (dan panelis) yang terlihat puas, terhibur, terinspirasi, dan termotivasi. Terlebih kalau sempat mengobrol dengan mereka lalu mereka memuji hasil kerja kita – sumpah, sangat disarankan untuk mengalaminya sendiri. The happiness is worth all the 'pain' :')

Jujur, aku belum berani menjadi volunteer pada program-program jangka panjang, seperti Indonesia Mengajar, atau mengikuti jejak Butet Manurung dengan Sokola Rimba-nya. Oh my God, that's still completely out of my mind. Namun, bukan berarti kalau aku tidak akan melakukannya suatu hari nanti. Maka saat ini, aku sedang mengasah kepekaan diri dan profesionalisme, melalui volunteering pada event-event jangka pendek. Semoga, tulisan sederhana ini, mendorong semakin banyak lagi pemuda/i Indonesia agar mau mencemplungkan diri menjadi volunteer dan merasakan dampak positifnya ;)

Love,
Prima

*Photos courtesy of Anggara Mahendra/Stanny Angga for Ubud Writers & Readers Festival 2015

Bonus Foto :p
Wefie bersama Dubes Inggris untuk Indonesia, Mr. Moazzam Malik.

Working with Bule

(Post ini tidak bermaksud untuk SARA atau meninggikan/merendahkan golongan tertentu. It's just something I learned which I think might be good for you too.)

Seumur hidup, saya sering melihat orang Indonesia yang menganggap bule itu lebih keren, lebih hebat, lebih segalanya – di segala aspek kehidupan pula. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh pengaruh film Hollywood, atau mungkin pergaulan yang menciptakan hal demikian. Mungkin juga, kebetulan saja jumlah mereka di Indonesia tidak terlalu banyak – jadi kita ketemunya bule yang baik-baik pula.

Saya sendiri, hampir selalu memandang mereka sama dengan orang Indonesia: ada yang baik, ada yang jahat; ada yang kaya, ada yang miskin; ada yang menyenangkan, ada yang menyebalkan sampai pingin bikin kita melaporkan mereka ke imigrasi supaya dideportasi. Hehe. Ketika saya bekerja di sebuah start-up yang lebih banyak melayani klien bule daripada klien Indonesia, pengalaman saya memberikan kesimpulan yang sama: ada klien yang sangat koperatif, sebaliknya, ada klien yang ingin banget saya santet saking menurut saya, mereka tuh psycho.

Tapi, pengalaman bekerja untuk bule sepertinya sedikit membuat saya minder. Padahal kalau dipikir-pikir, seharusnya saya bangga dong, dari sekian banyak studio animasi di dunia ini, mereka memilih untuk bekerja dengan kami. Hanya saja, mungkin saya terlalu menghayati sebuah peribahasa lama: pembeli adalah raja – kepercayaan diri saya jadi menurun.

Ketika Kak Ochie menunjuk saya sebagai MC Supervisor untuk UWRF, saya deg-degan tidak karuan, hampir tidak sadarkan diri, dan menggelepar bak cacing kepanasan (ini apa.....). Satu hal yang membuat saya sedikit khawatir adalah, I will work with bule! Like, in the same position! Wow! I will also lead a bule in my team! Another wow! #lebaylagi

Terlebih, baru kali ini divisi MC dipimpin oleh orang Indonesia, saya pula. Yang ga pernah nge-MC kecuali di UWRF pula. It IS a big deal. Semua mata akan tertuju pada saya...macem Miss Indonesia gitu #KibasJilbab

Alhamdulillah, overall semuanya lancar. My team made only ONE mistake along the festival, make it one of the best divisions. Bangganya bukan main :') Meski demikian, kami sempat mengalami konflik kecil dengan dua divisi lain karena salah paham. Kedua divisi tersebut, dipimpin oleh bule. Dan yang mengalami konflik dengan kami pun, bule. Saat itu, saya sempat keringat dingin. Duh aduh, gimana nih ngomongnya? Untunglah, mereka sangat fair, terbuka, dan tetap mengapresiasi divisi MC. Sesudahnya, saya merasa kepercayaan diri saya dalam menghadapi bule kembali meningkat. Hooray!

So, kalau sister hampir ga percaya, masa sih, prima pernah ngerasa ga pede? Jawabannya: sering! Tapi saya mengalihkan pikiran negatif itu menjadi motivasi agar saya do my best. Memang hasilnya ga selalu seperti yang  kita harapkan, tapi perasaan bahwa kita telah menyelesaikan tanggung jawab...puasnya tuh disini. *nunjuk dada *cieh

Keep calm and stay confident,
Prima

Tuesday, November 17, 2015

Air Mata Surga: Apakah Tujuan Menikah Hanya untuk Memiliki Anak?



I can't believe that there is a book/movie representing what I really think about polygamy exactly the way I think. Okay, bukan masalah latar belakang atau alasan melakukan poligami-nya, tapi 'bentuk' poligami sebagai 'solusi' yang ditawarkan untuk permasalahan pernikahan tersebut. Mungkin hal ini yang menyebabkan saya tidak menangis saat menonton – padahal filmnya mengharu-biru banget, karena penggambaran poligami-nya seperti apa yang ada di pikiran saya.

Air Mata Surga bercerita tentang rumah tangga Fisha (Dewi Sandra) dan Fikri (Richard Kevin) yang tak kunjung dikaruniai anak. Maka setelah prahara dengan mamanya Fikri, mereka memutuskan bahwa poligami adalah jalan terbaik untuk kebahagiaan.........tapi pertanyaannya, kebahagiaan siapa?

Dulu, saya hampir selalu berpikir bahwa yang namanya menikah itu supaya punya keturunan. Titik. Secara memang Rasulullah mensabdakan agar muslim memperbanyak keturunan dan meliputi dunia dengan orang-orang yang saleh.

Tapi kemudian, ketika saya beranjak dewasa, saya bertemu dengan orang-orang yang secara dewasa menunda untuk punya anak, atau mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Beda ya, dengan tidak mampu atau tidak bisa punya anak; tetapi kelompok ini berpikir dengan serius tentang pola asuh, pendidikan, masa depan, dan sebagainya. Saya tidak merasa perlu untuk menghakimi mereka, karena kita semua pasti punya sebuah keputusan besar dalam hidup yang sudah dipertimbangkan dengan matang. Lagipula, siapalah kita, maksa mereka punya anak? Memang kalau mereka sudah punya anak, kita mau membantu mengurusi? Engga kan, so just keep calm and take care of your own business, please.

Yang saya sesalkan, ketika 'tidak bisa punya anak' ternyata adalah suatu 'berkah' yang Allah titipkan kepada suatu pasangan; lalu salah satu dari mereka (biasanya suami) menggunakannya untuk menyakiti pasangannya (biasanya istri). Ya iyalah menyakiti bok, memangnya perempuan itu kucing??? Cuma buat dititipi benih doang???

The thing is, coba pikirkan perasaan perempuan tersebut. Betul, hanya perempuan yang memiliki keistimewaan untuk hamil, melahirkan, dan menyusui – tapi bukan berarti hal itu bisa menjadi justifikasi, bahwa ketika seorang perempuan tidak bisa melakukannya, ia tidak utuh sebagai seorang perempuan. TIDAK. Sama sekali TIDAK. Seorang perempuan tetaplah perempuan, terlepas dari apa yang bisa dan ia bisa lakukan.

Sebaliknya, jika yang memiliki masalah adalah laki-laki, mungkinkah perempuan mendapat 'hak pilih'-nya untuk bercerai dan mencari laki-laki yang 'lebih baik'? Saya yakin kebanyakan akan meminta sang perempuan untuk bersabar. Karena semua orang tahu, seorang laki-laki tetaplah laki-laki, terlepas dari apa yang bisa dan ia bisa lakukan.

Kembali ke film Air Mata Surga, film yang banyak mengambil setting di Yogyakarta ini, mungkin sebaiknya ditonton oleh yang sudah membaca bukunya. Untuk saya dan teman-teman yang mendapat tiket nonton gratis dari Wardah, dari awal hingga tengah film rasanya bingung banget. Ini siapa ya? Jadi ceritanya apa? Hubungannya ini dan ini apa? Kok bisa karakternya melakukan hal ini? Kebetulan kami memang tidak mau googling terlebih dulu, supaya surprise gitu. Huehehehe.

Hal paling menghibur dari film ini justru baju-baju Dewi Sandra yang masyaAllah bagus-bagus! Kami sampai nunggu kredit selesai untuk menemukan brand yang mensponsori :))) Morgan Oey juga berakting dengan luar biasa, bahkan seorang teman nyeletuk, “duh dia pantes banget jadi orang Islam.” Hahahahahaha, jangan diambil hati ya Ko!

Intinya, film ini saya rekomendasikan sebagai bahan diskusi dengan suami atau calon pasangan. Bukannya berpikir yang tidak-tidak, tapi hanya agar kita lebih menghargai dan merasa empati pada orang-orang di sekitar kita yang mungkin mengalaminya. Semoga, Allah selalu membantu kita untuk berprasangka baik pada orang lain - dan alih-alih mencerca keadaannya – mendoakan yang lebih baik untuknya.

Salam,
Prima

Friday, November 13, 2015

Kursus Bahasa Asing: Kelas atau Privat?

Serunya kursus bahasa asing di kelas... (Pic source)
  
Akhirnyaaa, sesi (?) terakhir dari blog post saya tentang belajar bahasa asing/Inggris dalam minggu-minggu ini. Semoga sesudah sister membaca dan mempraktikkannya, kalau ketemu saya suatu hari nanti, bisa ngobrol cas-cis-cus dalam bahasa Inggris, insyaAllah.

Kalau bagian pertama lebih kepada motivasi, dan bagian kedua lebih ditujukan untuk sister yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris; kali ini saya akan mencoba memberikan pandangan untuk sister yang sedang bingung: ambil kursus bahasa asing di kelas, atau privat ya???

Seperti saya pernah ceritakan di post ini, saya tidak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris sebelumnya. Sejauh ini saya cuma belajar di klub debat, baca buku-nonton film-dengerin musik, praktik sama orang asing, yaaa gitu-gitu aja. Tapi saya pernah mengikuti kursus bahasa Jerman secara privat (sendirian) dan kursus bahasa Korea di kelas beranggotakan sekitar 10 orang.

Nah, hal pertama yang prinsipil ketika sister belajar bahasa asing di lembaga kursus adalah, pastikan murid di kelas sister maksimal 12 orang. Kenapa 12? Sebenarnya sih, 12 sudah terlalu banyak, tapi kadang untuk alasan efisiensi dan ekonomisasi (…), jadi lembaga kursus harus menambah kuota dari murid per kelas.

Kalau buat saya pribadi, semakin sedikit jumlah murid di kelas, ada baik-buruknya. Baiknya, tutor bisa memberikan perhatian lebih banyak untuk masing-masing murid. Buruknya, kita jadi kekurangan kompetitor – yang dalam hal ini bisa jadi motivasi atau teman kita dalam berlatih. Dulu sih, saya ngerasa paling kuper di kelas bahasa Korea, habisnya saya cuma ngerti Super Junior! Tapi untungnya, dengan bantuan teman-teman sekelas, saya jadi punya referensi lebih banyak tentang budaya Korea.

Hal kedua, adalah tujuan sister belajar bahasa Inggris. Kalau sister sekedar kursus untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, saya sarankan untuk mengikuti kursus di kelas. Tapi, kalau sister memiliki tujuan tertentu, dengan kebutuhan bahasa yang spesifik juga, sebaiknya menambah dengan kursus privat. Misalnya, waktu saya kursus bahasa Jerman, saya ingin menjadi volunteer di World Cup 2006. Jadi, saya dan tutor mengkhususkan pembelajaran mengenai olahraga.

Hanya saja, kursus privat memiliki kekurangannya sendiri. Selain biasanya lebih mahal, kursus privat berpotensi kurang serius apalagi kalau kita sudah akrab dengan tutornya. Huehehehehe. Tapi jangan berkecil hati, beberapa lembaga kursus yang menyediakan layanan kursus privat sudah menyiapkan standarisasi dan sister bisa mencapai tingkat yang sama dengan kursus di kelas.

Jadi, sekarang tinggal menyesuaikan dengan anggaran dan jadwal sister. Kalau memang sister terikat pekerjaan dan tidak memungkinkan untuk mengikuti kursus di kelas, maka privat menjadi satu-satunya pilihan. Atau kembali lagi, belajar sendiri di rumah. Yang mana yang sister pilih, yang paling penting tetaplah satu: practice! Selamat belajar!

Love,
Prima    

Thursday, November 12, 2015

What is Passion, btw?

Still talking about passion. I am pretty much inspired by Diana Rikasari' post, as it opened my eyes. All of this times, we might always trapped with only one or two specific things that we think representing our passion. The truth is, what we do and what we can do, are so much more than that. Our dreams, our goals, our attempts in finding ways to be useful for others; are way more complicated to be defined by a 'job' or a 'profession', even a 'title'.

When I work for JUMP! Foundation early October, I had a challenge: to create a meaningful conversation with Danny. He is very very quiet and inexpressive. When he rode the buffalo, he liked it. I could see the sparks in his eyes. He didn't tell me how happy or excited he was, but he seems enjoyed every activity. At that day when we went to Borobudur and eco-farming, I came late to the bus, and he  was the only student who doesn't have a seat-mate. So I sat next to him, and try to talk with him (more like I interviewed him, though.....).

We talk about his family, he told me about his sister who addicted to game – for him, it's fun because they can play together; but for their mom, it isn't something good. Lol. He said he miss his mom so badly, and then we start talking about hobby and occupation.

For a 12 years old boy, it makes sense that he has no plan for his study or job yet. He has no favorite subject. He thinks he likes many things, such as reading (but don't want to be a writer...yet), and swimming (but haven't got any intention to be an athlete...yet). Or when he look up to his mom, perhaps his life with guide him to be a businessman...but he hasn't sure yet.

After our conversation, we reached a conclusion that I would like to share with you. Some people are lucky to know what they want to do once they were born; some just naturally know, some are inherited from their close family. For example, you might have a friend whose his/her father, mother, aunt, uncle, grandma, and grandpa (phew!) are doctors, then he/she becomes a doctor. Others want to be doctor since they were child because they think it's noble.

But we also meet people who find their life goals after trial-and-error for years, some even just found what they really want to do when they are old. So are they unlucky? We – Danny and I - think that these kind of people are also lucky in their own way. God gives them chances to know a lot of activities, than just stick to one thing, and they should feel grateful too. Like me, I was a radio broadcaster, private tutor, marketing executive, even joined a movie production as a talent coordinator. Kalau orang bilang banyak anak, banyak rezeki; maka buat saya banyak pekerjaan, banyak networking. Alhamdulillah.

So, don't be fooled by what they called passion. If Diana' passion is to create, then I believe that my passion is to communicate. I studied Communication Science, and if I look back, all of my jobs always related with it. Why do you have to limit your ability by pointing to one specific profession when you can do more?

Expand your horizon, go out of your comfort zone (and sometimes it means you have to do a boring job to survive), and think outside the box; but always, always be grateful and do your best. Who knows that your best opportunity might comes from something you never think of?

For the love of passion,
Prima

And this is me and Danny, on the way to airport :)

Wednesday, November 11, 2015

5 TV Shows that Will Help You to Speak English Better

So, continuing my post on Monday, as I have said, I had a chance to practice my English more often than usual for the last couple weeks; and most of my partner said that my English is very good. I took that as compliment, but that's also recalled some memories of me speaking English poorly when I was 13-14 years old. I wasn't just feel stupid to not knowing how to make a good English sentence, but I was also embarrassed, especially when it comes to speak in front of many people.

Years go by, I am getting more confident with my English skill. I read a lot of English books, magazines, and newspapers; I also joined English debate club where I was forced to not only speak but think in English. In every practice/competition, I have to speak for around 8-10 minutes so I have to explain what I mean clearly, explicitly, and convincing. It was like my mind filled with English words, I even pray in English... Because I know God understand all language, and He knows I want to be better in English-speaking. Haha.

But language skill can be decreasing, too. Look at me with my Japanese, German and Korean skill. I studied Japanese at the first grade of high school, along with having German private tutor coming to my dorm twice a week. None of those language is used years after, so now I have nothing left, except “vie get est ihnen?” -_______________-

Korean was almost same. I reached a level of language fluency that even surprised me in only six months. At that time, I can understand what Korean says although I don't always know how to response it. But soon after, it diminishes and I can only do some jagisogae now. Argh. Too bad.

However, if I can put aside my struggle with other languages (oh, I haven't mentioned my battle with Arabic course – it was a war!!!!!), I am having an opportunity to explore more English vocabulary, and I would love to share it with you. It's a lot easier for me now, but I still want to learn, though. Hopefully it's also easy for you, becauseee it's just as simple as turn on your television and bring a notebook with you. Yes, I am gonna share not only one or two but FIVE TV shows that can makes you speak more fluently in English in minutes (IF you practice it, lol). Are you ready? Here we go.



Pic source

1. Criminal Minds
Okay, it's about psychological imbalance of a person; it's about some kind of irrational reasons of killing a person; and sometimes (most of the time!) how a suspect kills the victims is so... dehumanized. But, you can just pay attention to Dr. Spencer Reid, that good-looking genius. The wikipedia says that his IQ is 18x something, he can read 20,000 words in an hour (or a minute?), and he has three academic titles. No wonder that every word he says is somehow new for me. So yes, I always paused at that second - after he finished a sentence - write it down in my notebook, looking for its meaning in the dictionary, and then repeat it until the sentence locked in my mind. Not to mention, that there will be some wise quotes in the beginning and ending part – for this quote, I'd rather writing it on my Facebook status or tweet it. I look wise now, am I? *smirk

2. Undercover Boss USA
Some episodes can really like 'what?', but some episodes are really inspiring. I always cry after watching it – mostly if it's a boss who helps the employees in their education/health problem. My faith in humanity does restored, so I recommend it highly. Also the English used here is conversational one because it's reality show after all. I'm hoping the dialogue is natural, though. Who says you can't learn and being inspired at once?

3. Arirang Prime Time News
I put it in the list because it is more convenient for us to hear English-speaking Asian. No matter what the newscasters' background is, but their pronunciation is just right for our ears. Arirang also have other good programs but watching the news make you (look, ehem) smarter. Actually, Indonesian channel Metro TV used to have news program in English too, but watching news about Indonesian is just stressful – so yeah, I erased it from my favorite list.  

4. Top Gear UK
While Top Gear Korea is great for its innovation and creativity, and Top Gear USA is boring (sorry!) - I love to watch Top Gear UK. If you want to hear more British English, Top Gear UK is the right program for you. Their British accent is not too hard to understand, and they can make you laugh. Or cry, because you want the luxurious car so much ← that's what my cousin do.

5. Ultimate Airport Dubai
With the same reason as Arirang Prime Time News, this TV show is really great for you to learn English. Dubai Airport is also one of the biggest airports in the world (and one of the best...), AND it is becoming hub for most flights from Southeast Asia to Europe. So this serial will be really helpful for you who love traveling.

One requirement, when you watch those TV shows, don't you dare using Indonesian (or your language) subtitle. Hahaha, sama aja boong sih. The goal of studying English through TV shows is so that you get used to listen...in order to train your speaking skill. So once again I'd say, practice, practice, and practice!

Greeting,
Prima 

Tuesday, November 10, 2015

Pelajaran tentang Pernikahan

It was such a beautiful moment... :')

Saya banyak belajar tentang pernikahan pada perjalanan ke Bali kemarin. Barangkali karena saya menghadiri pernikahan sahabat, saya jadi melihat lope-lope di udara, lol. Sore itu, saya melihat sahabat-sahabat saya yang lain, yang sudah menikah selama beberapa waktu, dan juga para senior misalnya papa-mamanya suami sahabat saya; mereka semua sangat menikmati suasana. Ada yang menggenggam mesra tangan pasangannya. Ada yang berbagi tugas dalam menenangkan si bayi, sambil sesekali mencuri peluk. Mungkin sebuah akad nikah dan pesta pernikahan membawa mereka kepada kenangan terdahulu, saat mereka memulai biduk rumah tangga :')

Nah, sebelum bahasa saya semakin sinetron-is, saya ingin membagi cerita dari pernikahan-pernikahan yang sempat saya amati pada hari itu. Kebetulan, ada seorang sahabat saya yang baru 'diminta', dan saya berharap post sederhana ini bisa menjadi tabungan untuknya dan calon pasangannya.  

1. Saling Mengapresiasi
Suami sahabat saya berkewarganegaraan asing, dan sudah bukan rahasia lagi bahwa bule umumnya tidak pelit dalam memuji. Tidak seperti orang timur yang sungkan banget kalau mendapatkan pujian, orang barat bisa sedikit-sedikit memuji hingga mungkin terdengar gombal.
Maka, saling memuji dan mengapresiasi haruslah satu kesatuan ketika diaplikasikan dalam hubungan sehari-hari, termasuk pernikahan. Pujian yang tulus, tidak berlebihan, dan sesuai dengan situasi-kondisi merupakan salah satu bumbu pernikahan. Kenapa? Karena pujian bermakna bahwa kita memperhatikan seseorang, terutama seseorang yang penting bagi kita. Banyak hal yang bisa dipuji dari pasangan, dari mulai potongan rambutnya yang membuatnya tampak lebih gagah, keberhasilan pasangan mendapat klien baru, sampai usahanya memakaikan popok si bayi. Percayalah, kata-kata positif jauh lebih bisa menggerakkan seseorang daripada kritik atau sindiran.
Bagaimana kalau kita bukan orang yang terbiasa memuji? Ada cara lain, yaitu menanyakan kabar. 'How was your day?' might seems simple, tapi dengan membuka diri dan menyediakan waktu untuk mendengarkan ceritanya, bisa memberi kita bahan untuk memuji. So, what do you want to compliment from your spouse today?

2. Berbagi Impian Bersama
Salah satu teman saya sudah menikah selama beberapa bulan, dan saat ini mereka sedang merintis usaha kuliner yang sudah lumayan terkenal di wilayah kota Malang. Dari cerita mereka, awalnya mereka sering berargumen mengenai impian mereka. Teman saya, si perempuan, dulunya pegawai bank yang cukup sukses. Tapi mereka berdua tahu pekerjaan di bank sangat melelahkan, jadi mereka putar otak hingga akhirnya menghasilkan ide usaha kuliner ini.
Saya harus mengakui, tidak semua pasangan beruntung memiliki impian yang sama. Kebanyakan, salah satu diantaranya harus mengikhlaskan impiannya, untuk mendukung impian pasangannya – dan biasanya sih, yang perempuan-lah yang melakukan 'pengorbanan cinta'. Suami yang seperti Mas Tito-nya Dian Pelangi, yang resign dari pekerjaannya di perusahaan minyak 'hanya' untuk mendukung karir istrinya, kayaknya one in a million. Ya kan?
Tapi janganlah berandai-andai memiliki suami seperti Mas Tito, cukup dengan suami yang memahami bahwa kita – meskipun telah berstatus sebagai istri dan ibu – punya impian. Menerbitkan buku, misalnya. Atau kita, juga perlu berbesar hati, ketika suami – meski sudah direpotkan dengan mencari nafkah dan menjadi kepala keluarga – tetap berkeinginan menambah gelar akademik suatu hari nanti.
Bicarakan dengan kepala dingin: sebelum menikah, pada hari-hari pertama, dan bahkan tiap anniversary; untuk mengingatkan diri kita berdua: ada sesuatu yang perlu dikejar dan diraih, sebelum dipanggil Sang Khaliq.

3. Belajar untuk Mendengar
Ketika saya di Bali, saya tidak hanya mengalami hal-hal yang indah berkaitan dengan pernikahan lho. Saya juga 'berkesempatan' melihat prahara rumah tangga, tepat ketika kami pulang dari pernikahan sahabat, hihihi. Lho kok ketawa, Prima? Padahal waktu kejadiannya, rasanya saya pingin berenang – eh, maksudnya menyelam dan tenggelam supaya tidak mendengar pertikaian mereka.
Tapi dari mereka saya mengerti satu hal: kemampuan mendengar sangat-sangat penting dalam pernikahan. Ya, dalam semua hubungan antar manusia, jika tidak ada yang mendengar, maka siapa yang akan memahami kebutuhan dan merespon dengan baik? That's why we have Listening test in TOEFL. Because when you listen well, you speak better. And if you never listen, what do you actually say? Nothing.
Hal ini pasti sangatlah sulit, karena buuuuuanyak sekali pasangan bercerai hanya karena 'dia ga pernah dengerin aku!' Lalu kemudian, masalah komunikasi menjadi kambing hitam. Ga enak banget kan, kitanya belajar susah-susah tentang teori komunikasi A, B, sampai Z; disalah-salahin sebagai penyebab perceraian #eaaa
Sheryl Sandberg, di bukunya yang berjudul Lean In, pernah berlatih mendengar dan mencanangkan suatu misi: dia tidak akan memberi komentar tentang sesuatu kecuali diminta. Yes, kecuali diminta. Susah? Pwol. Apalagi yang cerewet kayak saya. Mungkin bibir harus dilakban agar bisa sukses dalam latihan ini. Tapi sekali lagi, kalau kita sudah menanamkan di mindset bahwa kemampuan mendengar penting dalam pernikahan, maka kita harus berjuang untuk menguasainya #tsah


Tentu saja masih banyak sekali kunci pernikahan yang sukses, seperti saling mengingatkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, membangun rasa percaya, dan sebagainya. Tapi ketiga hal diatas, merupakan oleh-oleh yang sangat berharga dari perjalanan saya kemarin, dan saya harap sister bisa turut mempelajari dan mengaplikasikannya, semoga :)

Lots of love,
Prima

*Pic courtesy of Indah Temple 

Monday, November 9, 2015

How to Speak English Well?

Akhir-akhir ini, saya kembali dapat pertanyaan: gimana caranya supaya bahasa Inggris bisa sebagus mbak Prima? Susah juga ya, kalau saya bilang, buat saya bahasa Inggris saya masih harus terus ditingkatkan, nanti saya dikira merendah lagi #KibasJilbab #eaaa

Saya pikir, mungkin kebetulan saja, saya sering dapat kesempatan untuk mempraktikkan bahasa Inggris saya dengan beragam orang – baik native speaker maupun bukan. Tentunya, setiap kesempatan tersebut menambah kosa kata saya, dan kemampuan saya untuk mencoba memahami bagaimana orang-orang yang bukan native berbicara bahasa Inggris. Menurut saya, ujung-ujungnya, kita boleh kok 'merusak' tata bahasa selama kalimat kita dapat dipahami. Dan masih menurut saya, bule native speaker tidak begitu peduli kok, mereka sudah sangat menghargai usaha kita untuk berbicara dalam bahasa mereka (dengan pengecualian, kalian tidak pura-pura bodoh seperti salah satu personel JK* 48 itu.. ups.).

Salah satu hal yang saya pelajari dari Hyeonseo Lee, the North Korean defector yang saya temui di Ubud Writers and Readers Festival 2015, sebenarnya ada tips sangat mudah untuk bisa mahir berbahasa asing, apapun bahasanya. Yaitu: kepepet! Saya sempat terkikik waktu mendengar salah satu ceritanya. Ketika dia mengajukan kewarganegaraan Korea Selatan, dia hampir ditolak karena disangka orang Cina asli gara-gara kemampuan bahasa Cina-nya yang sempurna. Padahal, latar belakangnya pilu banget. Sebagai pengungsi yang bersembunyi di Cina, dia harus fasih berbahasa Cina karena kalau tidak, maka dia akan ketahuan dan dikembalikan ke Korea Utara. 

Nah, saran saya, ga perlu menunggu kepepet baru belajar bahasa asing. Saya sering menegaskan berulang kali, bahwa kita ga pernah tahu kapan kemampuan bahasa asing kita akan berguna. Yakin nih, ga pernah berimpian kalau suami dikirim pelatihan ke luar negeri dan kita bisa ikut mendampingi? Oke, ada impian itu, tapi biar aja deh suami yang pinter bahasa asing, terus apa iya dia bisa nemenin kita 24 jam? Kalau kita butuh ke pasar, atau naik kereta ke masjid terdekat deh, gimana kalau kita sama sekali tidak bisa berbahasa asing, bahkan bahasa Inggris sekalipun?

Saya juga sering berujar, kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni adalah salah satu senjata dakwah paling ramah. Ga terhitung lagi berapa banyak orang bule yang terbuka matanya, oh ternyata ada juga muslimah yang berpendidikan, hanya karena mendengar saya. Hmmm, mungkin mereka yang kurang gaul kali ya, hahahahaha. Tapi serius, mungkin suatu saat Allah menitipkan 'suara'-Nya kepada kita, yang tinggal buka mulut dan nyerocos betapa Islam itu adalah agama rahmatan lil 'alamin.

Buat saya, hingga saat ini, kemampuan ber-bahasa Inggris, atau bahasa asing apa saja, adalah hal yang paling mudah dipelajari. Misalnya, kita ingin menjadi duta pariwisata, tapi hiking ga mampu, berenang-pun megap-megap jadi boro-boro deh snorkeling, nah kenapa ga ceritain tentang situs wisata di kota kita dengan blog post ber-bahasa Inggris. Bandingkan dengan hiking yang butuh latihan berbulan-bulan (oke...lebay), atau snorkeling yang bikin kulit hitam; belajar bahasa asing bisa dilakukan di rumah, cyin..

Caranya gimana? Nah, I will share it on the next blog post, but for now, hayuk ah belajar bahasa asing! *pecutin pembaca satu-satu :)))

Lots of love,
Prima

Thursday, November 5, 2015

What My Dad Taught Me about Passion

Pose-nya biar kayak anak gaul gitu... :))
 
Around two months ago, I had a chance to have a 'short' trip with my dad. Actually it was a working trip for me, but since it is a rare experience for us to meet, why didn't he drives me around? *anak durhaka

We went to Kulon Progo and Sleman, came by to visit my dad's best friend as they haven't met each other for almost 20 years! Later that day, he told me that my generation is so lucky to have Facebook, Whatsapp, etc., to keep in touch. My dad, in order to meet his friend, had to contact another friend, who connected him to another friend (duh!) who works in the same ministry (dinas), then he got that friend' phone number. Fiuh.

But it isn't the thing I want to tell you here. On our way home, we discussed about the choice of life. My dad's best friend works for a governmental office below the ministry of husbandry (Dinas Peternakan). Knowing he is already at senior level, so basically his salary is good enough (or do I have to say, rich enough?).

I asked my dad if he ever thought to work in the similar job, being a governmental employee? He answered firmly, NO. Graduated as a veterinarian, he always dreamed to be an entrepreneur. After working in an animal food' company (perusahaan pakan ternak) for 10 years, he signed out and started his first business: chicken farm. Unfortunately, although our family had some good years, my dad' next ventures keep failing and we are having financial crisis for the last ten years.

He never feel regret, though. He said it's what he always wants to do, and the only thing that feels right for him even after failed so many times. By the time, I personally think, it's what we call passion. We know what we want to do, thus we keep doing it no matter how many times we fall and fail. 

In the other side, I realized that my dad is worry that I will be failing myself just like him. It's because we still have arguments of what I want to do in my life, and yeah, I'm that happy-go-lucky kind of person. I have no clear target, strict deadline, or even long-term goals. The thing is, no parent want to see the children are struggling – especially after the parent exchanging their life to give a comfortable shelter, an eligible school, a nice motorcycle or car, you name it.

So, I guess, even though time goes by, there will be always this kind of debate: a good job and a job that has to be avoided; and then, the parents and the kids always see it from totally different point of views. I am a little bit lucky that my dad counted as 'rebel' at his time, but we still find some misunderstanding in our discussion. I can't imagine my friends who face bigger problem as their parents are governmental employees, and let say...my friends are artists. Woohoo, hello Prima? Can I stay at your home because I fight with my dad again – yes, still about that vacancy-in-his-office versus an art expo that I want to join in? Hmmm.

If you have a parent who fully understand your passion, congratulation! But if it is otherwise, perhaps you want to share your experience? I'm sure it will be helpful!

For the love of passion,
Prima

Wednesday, November 4, 2015

Work in Bali

First thing first, please let me take a deep breath.
I just arrived from Surabaya after passed 9 hours in the bus, and the day before, I spent around 5 hours at the Ngurah Rai airport – thanks to Lion Air which delayed my flight for almost 3 hours (still, Lion Air?).

Before I tell you my stories of this year' Ubud Writers and Readers Festival (I know you guys have been so curious!), I need to confess a thing: I didn't take pictures along the event! I don't want to be so-called sok sibuk gitu, but when I look back, I didn't have the privilege to use my camera whenever I wanted to. Some said I was too focused on my duty, and I did put a lot of efforts, even somehow I thought it was too overwhelming for me. Many people said it was the first time MC team has Indonesian supervisor, so of course I want to do my best. 

ANYWAY, kok jadi curhat?

I did a lot of contemplating along the trip. Funny thing, when I put down my camera and phone, I had more time to see what's around me.

As I sat under the tree, somewhere in Denpasar, I realized that I've never been lived anywhere so far from my hometown. By far I mean two things: location and culture. Most of my life spent in Surabaya, where I was born; I studied for undergraduate in Malang; and now pursuing my Master in Yogyakarta. All these three cities are in Java island, and basically embrace Javanese tradition although it might be slightly different.

While I was in Bali for a vacation/volunteering for Ubud Writers and Readers Festival 2015, I can't help but thinking of what if I work here in Bali? Like, for more than one year? Am I gonna fit in?

I don't have the answer now. But after two weeks there, I can say that there are two sides of it. First, working here generally same with working everywhere in the world: you have duties, responsibilities, a**hole office-mate (not that I have it, but yes I heard some stories...), negotiating your salary, etc. If you can work in a company that has international networks, it's good for you; but if not, well once again, it's just same with everywhere in other parts of Indonesia.

However, I felt a very bad homesick for not hearing adzan. I didn't recognize the feeling at some first days, but when I stay at my mom' friend house near a Javanese village (Kampung Jawa), my heart became so warm to hear adzan again. When I travel to Malaysia and Vietnam, I had a schedule to visit the mosques and those were easy to find. It was strange that I have to travel for 20km to find the nearest mosque. In Indonesia.

Perhaps it was one of the reason that Allah hasn't permitted me to study abroad. Or even traveling to countries where Muslim as minorities. I thank Allah for putting my heart close to Him, and I hope He always do.

It doesn't mean that I am not an adaptable person, but it taught me to be more prepared for this kind of situation. Another friend of my mom said, if I decide to work in Bali, I have to arrange some schedule to go to Qur'an recitation' group (pengajian), at least once a week. If I can do it in Java, I must do it too in Bali. Even though I have to go a little bit far, I have to do it because I have a need to maintain my 'connection' with my Creator. Only then I don't feel lost or lonely.

Well, I think it's something I want to share with you for now, and it will be great if you can let me know what you think about it. See you at the next post (hopefully less than a week from now)!

Salam,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...