Friday, September 26, 2014

Puisi Senja (1)

(Poetry below is written by me,
above image captured by @ekky_akbar (on Instagram) - 
Follow him for more amazing pics about sky and so on ;))

Sini, duduk bersamaku
Akan kuceritakan tentang hidup dari sudut pandangku

Tenang, ini takkan lama
Biasanya aku segera lumat ditelan masa
Bahkan seringnya tak sempat menyempurna

Meski demikian, aku percaya
Tuhan selalu punya jalan-Nya
Jangan kecewa
Karena mungkin esok hari aku diizinkan lebih merona

Tunggu, aku belum sempat bertanya.
Namaku senja,
Namamu siapa?

Thursday, September 25, 2014

Time After Time

 

Beberapa hari yang lalu, Ika, pembaca setia blog saya meninggalkan komen di blog post ini. Bu guru cantik ini bertanya bagaimana saya bisa membagi waktu di antara berbagai kegiatan yang saya miliki.

Sebenarnya, jawabannya simpel: saya tidak tahu. #lho

Kalau jawaban pertama kurang memuaskan, maka jawaban kedua saya adalah: I make time.


Sedari kecil, saya sudah dibiasakan untuk memiliki banyak kegiatan oleh orang tua saya karena beberapa alasan pribadi, salah satunya sudah pernah saya ceritakan di blog ini. Selamat mencari blog post yang dimaksud :D

Ketika bertumbuh, ibu saya yang single parent membutuhkan banyak bantuan untuk menyelesaikan berbagai keperluan. Sebagian besar adalah pekerjaan rumah tangga dan urusan bisnis – dimana ibu saya hampir selalu menyertakan saya dalam setiap urusannya.

Belum lagi urusan saya sendiri, seperti sekolah atau kuliah, ekstrakurikuler, organisasi, dan... pacaran bergaul :)))

Tapi berita baiknya, sebenarnya saya tidak sesibuk itu kok pemirsa. Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya, Senin-Jumat di kantor, dan sepulang kantor biasanya saya hanya bisa menyelesaikan satu atau dua urusan.

Untuk nge-blog, saya 'memaksakan diri' di pagi hari sebelum ngantor, atau sore sebelum pulang kantor.

Itupun.. Saya masih termasuk 'hobi' tidur. Saya bisa tidur 6-7 jam sehari, tentu saja dengan waktu yang terpisah-pisah. Alhamdulillah di kantor ada kasur, bisa lah buat selonjoran barang setengah jam :p

Kalau weekend, nah itu barulah saya berpacu dengan melodi waktu. Saya biasanya sudah bikin to-do list sejak hari Kamis. Dari mulai seminar yang ingin saya ikuti, teman atau kolega yang ingin saya temui, buku yang ingin saya baca, apapun itu. Biasanya kegiatan saya pada Sabtu-Minggu dimulai jam 9 pagi dan berakhir jam 9 malam.. Fiuh.

Khusus untuk blogging, libur dulu yes selama weekend. Saya memang memaksimalkan waktu untuk hal-hal yang tidak membutuhkan komputer, kecuali ada project yang ingin saya planning :)

Traveling? Saya termasuk cukup impulsif, begitu pingin ya udah masukin ke jadwal. Dan itupun juga bisa seharian main. Seperti terakhir kali saya ke Jogja, saya udah pergi jam 8 pagi dan baru tiba di rumah tante jam 10 malam. Sampai-sampai baru ngobrol sama tante pas sarapan dan waktu nganterin saya ke terminal :)))

Mbak Ollie (@salsabeela) pernah menulis di buku Girls & Tech, bahwa kita semua memiliki waktu yang sama dengan waktu yang dimiliki Steve Jobs, Bill Gates, Oprah Winfrey, dan lain-lain. Jadi, tidak semestinya kita mengatakan “I ain't got no time for that.”

Yang bener, kita memang tidak memberikan komitmen kepada hal tersebut. Bisa jadi karena memang bukan prioritas saat ini, atau yaaa.. memang males aja sih..

But hey, knowing your priority is a must. Makanya saya lebih suka bikin tujuan jangka pendek (2-3 bulan kedepan) dan jangka menengah (6 bulan-1 tahun kedepan). Impian tentu ada, tapi dengan adanya tujuan yang lebih nyata dan terarah, saya yakin perlahan saya akan mencapai impian tersebut. Ingat, yang paling penting bukan seberapa cepat kita tiba di impian kita, tapi apakah kita dapat menikmati dan mengambil pelajaran di tiap milestones.. #tsah


Kedua, pahamilah kapan harus mengorbankan sesuatu, sekali lagi, demi hal yang lebih prioritas. Tahun ini, lagi-lagi saya harus say good bye sama pendaftaran beasiswa ke luar negeri karena keterbatasan waktu dalam menyiapkan semua persyaratannya. Sedih? Iya. Kecewa? Lumayan. Tapi saya ingat ada hal-hal yang lebih penting, dan saya yakin akan ada jalan untuk lebih dekat dengan impian tersebut in the near future.

Tentang pengorbanan, baca juga cerita Dewi Lestari disini. Saya kutip sedikit dibawah sini ya..

To finish my latest book, I need to wake up before everybody else at home, so I still have that silence and uninterrupted moment. For months, I’ve woken up at 4 a.m. and written for two to three hours straight. I’ve declined most talk show and TV invitations for almost a year. At first, I was shaky because I felt like I was missing out on opportunities, but I gradually learned to see what really matters. I can’t stress more how important it is to see the distinction. Sometimes we’re just busy without being truly productive.

#wow #emejing

Jadi, zahabat zuper – LOL – pada intinya, semua itu disesuaikan dengan impian dan kemampuan masing-masing pribadi. Apa sih makna kesuksesan untuk kamu? Dan bagaimana kamu merencanakan kehidupanmu agar dapat mencapai kesuksesan tersebut? Kalau kamu ngerasa masih terlalu santai, sedangkan kamu pingin menggapai sesuatu yang lebih dari apa yang kamu miliki saat ini; mungkin kamu perlu men-setting ulang impianmu. Push your limit, that's the only thing you can do to make a meaningful life ;)

Lots of love,
Prima

Wednesday, September 24, 2014

After One Year of Ubud Writers and Readers Festival 2013

It's been a year.

Tahun lalu, saya hanya seorang peserta, bahkan hanya untuk satu setengah hari.
Tahun ini, saya akan menjadi volunteer (sebagai MC), dan semoga tahun depan saya bisa melakukan yang lebih lagi..

Yes, we are talking about Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).

Betapa event ini mengubah hidup saya.
Betapa saya, hingga hari ini, bersyukur pernah memaksakan diri untuk jauh-jauh ke Bali, meski saat itu saya sedang pilek berat. Saya masih ingat, sepanjang perjalanan bis ke Bali, saya harus memegang erat Vicks Vaporub karena itulah satu-satunya penyelamat saya dari batuk yang akan mengganggu penumpang lain.

Sepulangnya dari Bali, saya terkapar sesudah sholat Ied, ga bangun selama dua hari.
Saya tidak menyesal :)

Ketika saya berangkat kesana, saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa.

Iya, saya hanya ingin mengingatkan kembali diri saya tentang passion saya, yaitu menulis.

Tetiba saya ingat, masa-masa kecil saya dihabiskan dengan mengurung diri di perpustakaan sekolah.

Menulis berlembar-lembar essay, cerita pendek, puisi, dan lain-lain.
Menjelang kompetisi, ibu saya dan guru penjaga perpustakaan akan turun tangan.
Memastikan setiap ejaan sempurna, dan tulisan tangan saya enak dibaca; bahkan kadang ibu saya menghadiahkan cubitan di sekujur paha jika saya malas dan membolos.

Saya mungkin sebagaimana anak-anak lainnya ingin berlari kesana kemari.
Ingin berlatih kasti atau basket.

Tapi ibu saya tahu saya hanya akan menjadi bulan-bulanan, maka ia meyakinkan saya bahwa saya memiliki dunia yang lain.

Menulis.

Setelah berbagai penghargaan dan beberapa kota saya datangi untuk mengikuti lomba menulis; saya tiba-tiba melupakan menulis. Saya tetap menulis, laporan untuk OSIS, karya ilmiah; tapi paham kan maksud saya.. Menulis, yang seperti 'itu'..

Sampai akhirnya saya berkenalan dengan blogging.

Maka di UWRF 2013, saya ingin sekali tahu tentang dua hal ini..

  1. Apakah saya dapat hidup dari menulis?
  2. Apakah buku adalah satu-satunya wujud tulisan yang diakui sebagai pencapaian seorang penulis?


Tentu saja jawabannya “YA” untuk pertanyaan pertama.

Dan ternyata, jawabannya “tidak” untuk pertanyaan kedua.

Saya berkesempatan bertukar opini dengan para jurnalis, editor, bahkan blogger.. Ya meski mbak Trinity Traveler dan Agustinus Wibowo juga punya buku sih..

Beberapa dari kita memang memiliki komitmen yang tinggi dalam menyelesaikan sebuah buku, tapi beberapa dari kita lebih banyak excuse kesibukan yang lainnya. Hehehe.

So, it's been a year.

Alhamdulillah, saya mulai mendapatkan pengakuan sebagai blogger.
Tapi sepatutnya hal ini tidak membuat saya terlena, kan?

Here we go, another Ubud Writers and Readers Festival.
May it brings another inspiration for me, and I do hope I can share it with you guys :)

Lots of love,
Prima



***Oya, saya ga sengaja ketemu Ustadzah Tunik, guru perpustakaan SD saya, di toko buku hari sabtu lalu. She still recognized me, kata beliau saya tidak banyak berubah. Masih cute, masih cablak seperti dulu.. Haha. Tak lupa saya memohon doa restu beliau untuk World Muslimah Award.. She is one of my 'mothers', one of a few people who always believe in me and my dreams :)

Tuesday, September 23, 2014

Tentang Berdebat


Sudah menjadi tabiat saya menjadi orang yang ngeyelan. Pokoknya, kalau ada apa-apa, yang penting dibantah dulu. Pendapat saya paling benar deh.

Itu dulu.

Semoga :)

Jadi gini, ada masa dalam hidup saya dimana saya tidak bisa dan tidak boleh berpendapat. Manut saklek. Kemudian, ketika saya bertumbuh, saya merasa bahwa saya senang memimpin, dan alhamdulillah dapat amanat dari lingkungan saya juga. Seperti jadi ketua kelas, ketua divisi di OSIS, dan seterusnya. Masa ini, saya berubah menjadi yang diturutin maunya. Ego saya mendapatkan tempatnya, dan makin menjadilah saya.

SMA kelas 2, saya berkesempatan untuk belajar berdebat. Yup, menyalurkan ngeyelan saya di tempat 'yang seharusnya'. Hingga masa kuliah semester empat, saya masih cukup aktif di lomba debat bahasa Inggris, dan beberapa kali menang lomba. Alhamdulillah.

Beberapa tahun terakhir, saya tersadar bahwa berdebat (dalam kehidupan nyata) sangat menguras energi.

Di lomba debat, sebenarnya kami bukan memaksakan pendapat. Sangat jauh berbeda lho.

Kami belajar untuk mempertanggungjawabkan pendapat kami.


So, secara umum lomba debat itu gini, ada 'motion' atau perkara yang kudu didebatkan. Terus ada tim 'government' (positif) dan 'opposite' (negatif). Nah, setiap tim punya poin-poin utama yang akan dipertahankan demi memenangkan perdebatan tersebut. Seingat saya, yang berhak untuk menang adalah yang dasar pendapatnya paling logis.

Gampangnya, ketika kita berpendapat tentang sesuatu, kita kudu ngerti dari mana pendapat itu berasal. Sebelum kita debatin hal ini, kita mesti paham dulu kenapa tema ini diperdebatkan. Baru dari situ kita bisa membangun poin-poin pendapat kita.

Dari lomba debat, saya belajar bahwa di setiap problem, paling tidak pasti ada dua sisi cara pandang. Dengan demikian, selain memahami prinsip diri sendiri ketika menghadapi problem yang diperdebatkan, kita terlatih untuk menghargai pendapat orang lain.

Bagaimana dengan kehidupan nyata?

Disebabkan perbedaan sudut pandang adalah suatu hal yang wajar, ada baiknya kita tidak berdebat :)

Ekstrimnya, ingatlah surat Al-Kafiruun: “Lakum dinukum waliyadin.” Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

Berargumen akan menyenangkan ketika kita bisa santai menanggapinya, anggap aja nambah ilmu.. Tapi kalau sampai berdebat, apalagi berdebat kusir, hindari aja deh selagi mampu. Meski mungkin kita mendapatkan kepuasan saat memenangkan perdebatan, percayalah perasaan ini ga sebanding dengan kehilangan sahabat atau saudara :)

No wonder Rasulullah bersabda, "Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar..." (HR. Abu Daud)

What do you think? :)

Salam,
Prima 

P.S.: Mestinya ini di-post waktu rame Pilpres ya :p
P.P.S.: Mohon maaf, kalau ada salah penyebutan istilah-istilah dalam lomba debat. Udah agak lupa sih :(

Saturday, September 20, 2014

Disapa "Assalamu'alaikum" di Da Lat, Vietnam

Ketika Kak Teppy pulang dari Tur Eropa sekitar awal tahun lalu, dia agak kesulitan menemukan waktu untuk menceritakan perjalanannya. Jadilah, ada beberapa cerita yang baru di-share hingga kuartal kedua tahun ini. Lama buanget yuaaa.

Tadinya, saya pikir saya ga akan begitu, ternyata kenyataan berbeza, pemirsa *salim ke Kak Teppy*

Selama dalam perjalanan, sebenarnya saya udah berusaha bikin notes di Evernote setiap ada ide untuk nulis. Hasilnya adalah beberapa tulisan tentang Kamboja (thanks to technology, yay!). Tapi, di beberapa kota, koneksi internet agak susah didapat, jadi saya nyimpen tulisan di Notes HP. Lalu ketika HP saya rusak, good bye deh sama ide-ide tulisan saya :(((((

Butuh beberapa waktu untuk mengingat-ingat detil perjalanan, googling, nanya-nanya ke teman saya di Vietnam untuk bisa melanjutkan cerita #ThePrimTrip. But some memories stay forever. Just like this story. Enjoy!

**

Melanjutkan cerita saya di Dalat, Vietnam yang bisa dibaca disini; saya pingin merekomendasikan tourist attraction satu ini: Da Lat Plateau Railroad.

Ini bukan saya.. Tapi teman saya, Nhung ;)

Bangunan Stasiun Da Lat adalah salah satu peninggalan kolonial Perancis, that's why arsitekturnya khas banget kan. Kota Da Lat sendiri, dikarenakan kontur wilayahnya yang berbukit-bukit; ga kondusif untuk memiliki trayek rel kereta yang panjang. Jadilah ketika Perancis meninggalkan Vietnam, proyek rel kereta tidak dilanjutkan. Tahun 1990-an barulah pemerintah menggunakan kereta ini untuk menuju beberapa obyek wisata di wilayah lain di Da Lat.

Ketika saya disana, namanya juga liburan yesss; bangun pagi males-malesan, sarapan males-malesan, jalan kaki ke stasiun pun males-malesan. Jadilah kami harus menanggung akibatnya, yaitu ketinggalan kereta pagi! Zzz.

Padahal tempat nginep kami di Quang Trung St itu deket banget sama stasiun, sekitar sepuluh menit jalan kaki. Oya, kalau ke Da Lat, saya sarankan nginep di daerah sini, karena relatif tenang dan sepi. Di villa saya, kalau malam buka jendela bisa lihat pemandangan yaitu Da Lat University yang bangunannya mirip Hogwarts (anggap aja gitu, haha). Daerah lain untuk nginep adalah dekat Da Lat Market, banyak tempat makan murah disekitarnya tapi ramenya ampun deh.. 

Jadwal kereta

Pemandangan di perjalanan. Mirip di Kota Batu, ga sih? :p

Saya lupa jadinya naik kereta yang jam berapa, tapi rasanya sih siang bolong gitu. Soalnya meski mendung, cuaca cukup panas dan ketika kembali kami masih punya waktu untuk pergi ke kereta gantung.

Da Lat Plateau Railroad menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Satu jam untuk di perjalanan PP, dan kita mendapat waktu setengah jam untuk berkeliling di Pagoda Linh Phuoc.

Gerbang komplek Pagoda
Jalan menuju pagoda
 
 
 
 

Pagoda Linh Phuoc merupakan satu komplek pagoda yang terdiri dari dua bangunan besar dan beberapa tempat peribadatan yang lebih kecil. Di salah satu bangunan ada lonceng yang guuuedeee banget, dan ditempeli doa-doa para pengunjung. Di dekat lonceng itu, ada dua ruangan besar. Satu menyimpan patung Dewi Kwan Im yang tinggi banget, dan ditempeli ornamen bunga-bunga kering berwarna oranye keemasan. Beautiful! Ruangan yang lain sedang direnovasi, tapi sudah bisa digunakan untuk berdoa. Didalamnya juga ada banyak patung dewa-dewa, terutama Dewi Kwan Im (lagi).

Oya, kebetulan saya sedang berhalangan, jadi demi kesopanan, saya memutuskan untuk tidak masuk ke ruangan tersebut. Lagipula, buat apa juga tho yaaa, hehehe. Kalau orang Vietnam biasanya masuk, berdoa, lalu menyumbang beberapa Dong kepada penjaga kuil.

Usai berfoto (ga puaaas, cuma setengah jam, hiks), saya dan Nhung beranjak kembali ke stasiun. Dan disinilah sesuatu mengejutkan saya.

“Assalamu'alaikum..”

Saya hampir melonjak mendengarnya. Saya melihat sekeliling dan tidak menemukan siapa yang mengucapkan salam tersebut.

Seorang laki-laki muda didepan saya tampak memandangi saya.

Saya sudah ancang-ancang mundur, tapi dia mengucapkan lagi, “Assalamu'alaikum..”

“Wa'alaikumsalam”, saya jawab.

Laki-laki bernama Arifin tersebut adalah orang Vietnam keturunan Melayu, sehingga dia mampu berbicara bahasa Melayu patah-patah, dan alhamdulillah beragama Islam.
Dia dan komunitas Vespa-nya sedang mengadakan road trip dari Ho Chi Minh (bok, sepuluh jam perjalanan lho); dan ternyata kegiatannya sehari-hari adalah menjadi tour guide untuk turis dari Malaysia atau Brunei Darussalam.

“Jika kakak mahu, saya boleh antar kakak pergi di Ho Chi Minh percuma (gratis). Saya belum pernah antar turis Indonesia”, ujarnya.

Yaelaaah, jauh-jauh ke Da Lat, masih kena modus lakik juga nih. Lalala yeyeye.

Kami pun bertukar nomer telepon dan berpisah di gerbang pagoda karena masing-masing harus melanjutkan perjalanan. Sayang sekalski esok harinya ketika tiba di HCM, kesehatan saya drop dan akhirnya tidak jadi berjumpa lagi dengan kakak tampan ini #halah :)))

Sampai sekarang, saya masih feel amazed kalau mengingat kejadian ini. Betapa 'Assalamu'alaikum' adalah sebuah salam universal, yang bisa langsung menautkan dua hati orang :')

That's why I feel grateful for wearing hijab. Meski kemudian saya batal jalan-jalan gratis – woi – tapi dengan hijab, memudahkan saya diidentifikasi oleh saudara seiman saya, meski berbeda bangsa :)

Subhanallah, nikmat Allah yang mana yang kamu dustakan?

Salam,
Prima


 
 
Di depan sini lho, ketemu Kak Arifin :))
 
 
 
 
Make a wish..
Colorful yaaa, berasa di TK #lho
 

Friday, September 19, 2014

Bincang Santai GMS: Manfaat Blogging

Terima kasih sertifikatnya ya :)
Ceritanya lagi jawab pertanyaan peserta.
 
Foto dari Facebook GMS Family

Hari Sabtu tanggal 30 Agustus yang lalu, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk sharing pengetahuan saya tentang blogging bersama keluarga GMS (Gerakan Mahasiswa Surabaya). GMS (@GMS_family) ini adalah sebuah organisasi lintas kampus, yang memiliki fokus gerakan ke arah pendidikan dan kemasyarakatan.

Mereka punya program Bincang Santai yang fungsinya sebagai transfer knowledge orang-orang yang kompeten di bidangnya. Temanya juga macam-macam, misalnya bedah buku, seminar wirausaha, seminar peluang beasiswa ke luar negeri, sampai diskusi tentang pilpres. Tujuan acara bincang santai ini adalah, agar wawasan mahasiswa lebih terbuka dengan dunia diluar bidang kuliahnya. Serunya, karena ini adalah organisasi lintas kampus, maka teman kita bisa makin banyak, dari berbagai kampus, ga terbatas cuma dari tempat kuliah kita aja :D

Setelah bulan lalu mereka bikin diskusi tentang pilpres (dengernya aja udah berat gitu kan, haha), bulan ini bincang santai bener-bener santai.. Yang diundang aja rasanya alumni stand up comedy deh, lebih banyak ketawanya ya kan ya kan? *sodorin mic ke penonton

Awalnya saya sempet agak keder juga, karena pas saya kasih pertanyaan, “udah pada punya blog kan?” semua pada ngacung. Pas ditanya udah berapa lama, sebagian dari mereka udah nge-blog lebih lama daripada saya! Tapi saya sih pede aja, karena saya pikir yang paling penting adalah kita bisa tukar ilmu, kalaupun ada yang kurang dari saya, pastilah mereka bisa melengkapi ;)

Di post kali ini, saya mau bagi sedikit aja, yaitu tentang manfaat nge-blog.

Meski saya yakin sister udah pada tahu tentang manfaat nge-blog, saya cuma mau tegaskan lagi, siapa tahu ada yang lupa, hoho.


  1. Melatih kemampuan merangkai kata
    Kemampuan menulis, terutama ketika kita mulai memasuki dunia perkuliahan, sangatlah krusial. Adik saya yang tahun ini jadi maba di FEB UB, punya tugas ospek seabreg, dan membutuhkan kemampuan menulis. Contoh, menuliskan rencana perkuliahan dan cita-cita setelah menjadi sarjana. 
    Lalu, di masa kuliah, kita akan menulis berpuluh-puluh tugas essay, laporan magang/KKN, dan terakhir...skripsi. Semua membutuhkan kemampuan menulis.
    Ketika lulus, kita dihadapkan pada tuntutan menulis cover letter untuk melamar kerja – memang di Indonesia umumnya cover letter tuh gitu-gitu aja, sedangkan kalau diluar negri, cover letter kita kudu menjual banget supaya HRD mau lihat CV kita. 
    Itu kalau kita pingin kerja. Kalau pingin sekolah lagi, kita juga tetep harus nulis essay tentang program sekolah kita, ah banyak deh pokoknya. Bisa kebayang kalau kita ga terlatih menulis? Kacau deh pokoknya..

  2. Mengenali passion dan skill kita
    Semakin banyak dan semakin random blog post kita, pasti ada satu-dua topik yang kita banget. Setelah sekitar setahun, saya tahu saya ga begitu suka (dan ga jago) nulis blog post tentang tempat makan, fashion, atau film (lah, boro-boro. Nonton aja mungkin setahun sekali). Yang saya suka ya tulisan-tulisan yang bisa memberikan pelajaran hidup untuk para pembaca saya, amiiin insyaAllah. 
    Diana Rikasari, Harumi PS, Benakribo menggunakan blog untuk menemukan dan memaksimalkan potensi diri mereka. Dan saya yakin kamu juga bisa demikian! ;)

  3. Menyediakan media untuk mempromosikan diri
    Menurut sebuah artikel yang pernah saya baca di thedailymuse.com, 92% perusahaan di Amerika Serikat merekrut karyawannya via aktivitas di social media, termasuk blog. Saya rasa, di Indonesia akan terjadi demikian juga dalam beberapa tahun kedepan. Seperti saya singgung diatas, melihat kemampuan menulis yang sangat krusial, bisa saja blog kita menjadi salah satu kekuatan kita ketika melamar pekerjaan. Mungkin kamu melamar kerja sebagai marketing, tapi bos kamu juga mempercayai kamu untuk memegang blog perusahaan (seperti saya!). Nilai plus buat kamu kan. 
    Atau kamu punya passion di desain grafis, lalu seperti saya tulis di poin kedua, kamu menggunakan blog untuk memajang hasil karyamu. Then somebody potential come, and hire you for a project. What a great opportunity!



Diluar ketiga hal diatas, pasti masih banyak lagi manfaat nge-blog.
That's why, saya minta para peserta Bincang Santai untuk bikin komitmen kembali nge-blog, minimal sebulan sekali. Saya sempat sebutkan, misalnya sekarang sebagai maba, kita menulis blog post sebulan sekali, setahun ada 12 post, empat tahun kuliah ada 48 post. Siapa tahu, saat kita lulus itu, kita sudah yakin dengan passion dan skill kita, plus kita sudah punya media untuk menunjukkan, 'hey, I can write!'. Wow, sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui :D

Seusai menyampaikan materi dan sesi tanya-jawab (ah, saya suka sekali sama partisipan yang pada semangat!), ada sesi pemberian sertifikat dan foto bareng. Tapi acara tidak selesai disitu, karena beberapa partisipan ada yang minta konsultasi pribadi. Alhamdulillah, semoga ilmu yang saya share ada gunanya ya.

Next I will share more topics about blogging.

Tapi, kalau boleh tahu, dari manteman pembaca, apa sih yang pingin diketahui tentang blogging? Because I would looove to learn more and share it with you :)

Lots of love,
Prima

Thursday, September 18, 2014

Curhat Hijab Syar'i

Ya Allah.. ga kerasa udah tanggal 18 aja.. Saya belum packing dan persiapan ngemsi untuk Ubud Writers & Readers Festival, dan itinerary liburan kantor ke Bandung juga belum fix. Horeee #AkuLelah

[Manteman, ada rekomendasi rekomendasi makan malam di Bandung, specifically di Dago, yang tempatnya kece dan makanannya tidak mengecewakan? Yuk mari diberitahukan ke saya, kakaaak~]

Okay, sekarang saya pingin cerita.. (lah dari tadi ngapain..)

Beberapa minggu yang lalu, saya tiba-tiba mencoba mengenakan hijab syar'i. Khimar saya lebarkan, lalu saya tumpuk (dua-duanya paris, soalnya adanya itu di rumah); saya juga pakai outer yang lebih longgar dan panjang, dan jangan lupa, kaos kaki. Sebenarnya sih, ada alasan dibalik ini. Rambut saya sudah terlalu panjang, kalau digelung bikin sakit kepala terutama waktu pakai helm. Jadi cuma bisa diikat biasa ponytail lalu digerai ke bawah. Itupun panjangnya masih melebihi khimar (biasa) saya. [Guess: how long is my hair? :p]

So, daripada mengambil resiko hijab yang tidak sempurna karena sejumput rambut mengintip keluar, khimar lebar jadi pilihan. Event pertama yang saya datangi dengan outfit 'demikian' adalah pengajian-nya ManJaddaWaJadda Surabaya. Sukses, karena rata-rata ukhti mengenakan pakaian serupa. Pulangnya, saya nangis. Why so? Honestly, saya khawatir saya kehilangan semua yang biasa saya miliki: teman main, aktivitas having fun, and much more. Saya juga takut dengan pandangan orang tentang 'jilbab lebar', because I once had the same thoughts, you know..

Esoknya, saya tetap mengenakannya. Meski mama saya berkomentar, “heh kamu ngapain pakai jilbab kayak daster gitu?” HIKSSSSS. Di kantor, ga ada yang memperhatikan secara saya memang satu-satunya hijabi, ga ngaruh saya pakai apapun, kecuali hot pants #lho

Tiga hari berlalu, saya ga tahan. Saya curhat ke mbak mentor saya dan disabar-sabarin.. She said it's okay, everything needs process. Yang paling penting khimar saya sudah terulur dan menutup dada, bajunya longgar, dan disarankan untuk mulai membiasakan diri pakai kaos kaki. Iya, saya susah banget untuk pakai kaos kaki karena beberapa alasan.. Tapi minggu lalu saya udah beli kaos kaki, selusin langsung biar murah :))) Jadi mudah-mudahan minggu ini bisa dibiasakan.

Saya sendiri sadar, selain proses, ada hal yang sangat mempengaruhi perubahan, yaitu kemauan. Kita ga bisa nunggu hidayah jatuh dari langit (meski memang hanya Allah-lah yang punya hak prerogatif untuk menurunkan hidayah). Tapi kita harus aktif mencari ilmunya...dengan tujuan, didekatkan dengan hidayah tersebut.

Jadilah saya bertanya-tanya ke beberapa orang, 'memang hijab saya seperti ini masih kurang?' Mayoritas sih jawabnya, 'engga, tapi kalau lebih syar'i, akan lebih baik di mata Allah.'

Selain penampilan, saya juga meragu, apakah saya sudah pantas mengenakan hijab syar'i.
Yang kenal saya, atau seenggaknya teman-teman pembaca sudah bisa menduga kalau saya talkative, rame, heboh, gitu deh pokoknya. Sssttt beberapa minggu lalu, di kantor ada training dan kekurangan saya dalam customer servicing adalah...kurang anggun. Deskripsinya: emosional, meledak-ledak, kurang 'mikir' dalam berucap. Hehehehehe.

Bukannya gimana-gimana, saya ga mau kesan hijab syar'i ini ternoda karena akhlak saya yang kurang baik. Tapi untungnya salah seorang teman mengingatkan, “kan bagus mbak, justru jadi pengingat..”

#jleb

Long story short.. Berdasarkan hasil diskusi saya dengan teman-teman, hijab, mau hijab biasa ataupun syar'i, sebenarnya itu tidak akan menghilangkan identitas diri kita kok. Toh, idealnya kita memang menjadi muslimah yang menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya..

Back to me, I am still learning, again. Berhubung stok khimar masih terbatas, ya selama masih ada yang bersih (ingat, saya pakai 2 lembar paris), I will do it. Makanya, jangan males ke laundry ya prim.. *nasehatin diri sendiri*


Mencoba Syar'i
What about you?
Gimana pengalamanmu dalam berhijab syar'i?
Cerita dong, saya tunggu :)

Salam,
Prima

Wednesday, September 17, 2014

I Choose To Be Beautiful

Some girls are born naturally pretty, some have to put efforts just to be beautiful.

There is nothing wrong with that, even if you decided to have surgery, it's your personal decision that I should respect :)

This thought comes in my mind when my blogger friend and I had discussion about pretty girls.

Jadi gini, memang udah takdir saya, jarang banget dipuji cantik dari sejak kecil. Soalnya, geng saya itu kumpulan cewek-cewek cantik, yang kadang bikin saya iri dan males bercermin. Ah muka gini-gini aja, pakai baju juga gini-gini aja, ga akan ada yang bilang saya cantik kok.

Lalu mindset itu pelan-pelan berubah. Entah sejak kapan, saya mulai agak perhatian dengan apa yang saya kenakan. Semata karena saya ingin menghargai diri saya sendiri dan event yang saya datangi. Yang penting, nyaman dan serasi. I still feel safer to not being under the spotlight, that's why meski saya pernah jadi penyiar radio, saya hampir ga pernah nge-MC. Percaya ga sih, saya yang seperti ini hampir selalu merasa kikuk kalau dilihatin banyak orang :)))

Kemarin, saya baca-baca status Facebook saya jaman ga enak alay. Tahun 2009 itu saya menulis, yang intinya, I want to be beautiful. Kalau memang butuh usaha, fine, I'll do it. Mau pintar aja butuh belajar, mau cantik juga pasti harus melakukan sesuatu. Pikir saya waktu itu.

Saya mulai facial, luluran, manicure-pedicure, padu-padan baju, dsb, dst, dll..

Apa itu berhasil?

Errr.. engga tahu juga. Kalau saya bilang iya, ntar disangka kepedean. Haha.

I just feel better about myself. Saya ga lagi 'memusuhi' cermin, dan saya punya pandangan lebih positif terhadap cewek-cewek cantik.

Yang mau saya sampaikan disini adalah, memperhatikan penampilan itu perlu.
Apalagi jika menunjang kebaikan dari dalam diri kita (inner beauty).

Penampilan itu ibarat halaman rumah, dan kepribadian kita ibarat ruang tamu atau ruang keluarga.
Kalau orang udah males masuk ke halaman, gimana kita mengharapkan orang mau masuk ke ruang tamu?

Menurut saya – menurut saya lho – 'sayang' banget kalau kepribadian kita yang (insyaAllah) sudah baik tidak dilengkapi dengan penampilan yang rapi dan menyenangkan. Bisa diawali dengan lebih banyak senyum, memakai baju warna cerah, perawatan wajah supaya ga kusam; simpel kan?

So, I choose to be beautiful, because I know I can.

What about you? ;)

Lots of love,
Prima



Tuesday, September 16, 2014

The Saint and The Sinner

Dia yang kamu olok karena bangkrut dan jatuh miskin.
Dia yang kamu hina akibat perbuatan maksiat yang ia lakukan.

Bisa jadi ia lebih terhormat di mata Allah.

Barangkali dia sedang dipanggil oleh Allah untuk lebih mendekat pada-Nya.

Tak henti tangisnya di malam hari karena memohon ampunan-Nya.
Tak letih dia bersujud karena mengharap rahmat-Nya.

Hingga di satu titik, dia merasa kasih sayang Allah dilimpahkan pada kesempatan kedua.
Hingga di satu waktu, dia merasa mesra dengan Sang Maha Pengampun, dan dia tutup telinganya dari gunjing orang-orang yang tak memahami.

Tak perlu merasa lebih suci.
Allah punya suratan takdir yang lebih indah dari apapun yang bisa manusia rencanakan.

"Every saint has a past, and every sinner has a future."
Won't you understand?

Lots of love,
Prima


Monday, September 15, 2014

Ullen Sentalu Museum: Back to Roots

Foto dari kamera Linda (IG: @onlyndaa)
 “Kenapa replika Candi Borobudur ini dibuat miring?
Karena kami mau menunjukkan keprihatinan kami, secara anak muda, utamanya yang keturunan Jawa jaman sekarang tidak memahami sejarah dan budayanya. Giliran kalau ditanyain tentang K-Pop, wah hafal luar-dalam..”


#deg

Muka kami memerah mendengar penjelasan mbak Ambar, tour guide yang bertugas mendampingi kami mengelilingi Ullen Sentalu.

Saya memang tidak pernah mau mengaku kalau orang Jawa. Soalnya gimana ya, malu bok ngakuin tapi ga bisa bahasa Jawa, ga ngerti esensi budaya Jawa, dan bener-bener ga nJawani sama sekali.

Bahkan rasanya saya lebih berani kalau ditantangin buat cerita tentang silsilah keluarga kerajaan Dubai daripada kerajaan Yogyakarta, atau kerajaan Singosari yang berada di Jawa Timur.. #OkeSip

So I think Soekarno was right, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.” 
Karena meski kita tidak hidup di masa itu, kita bisa banyak belajar dan menghindari kesalahan yang serupa.

Seperti misalnya, filosofi dibalik alis pengantin Jawa bercabang seperti tanduk rusa karena istri diharapkan lincah dan gesit seperti rusa. Ibu Gusti Nurul, putri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro VII (fiuh..) memilih suaminya (yang saya udah lupa namanya), padahal pria sekelas Soekarno-pun melamarnya – semata karena ia memperjuangkan prinsip hidupnya. I think she is a good example for Javanese women: cerdas, tangguh, multi-talented (she is a horse rider AND a dancer!), dan fashionable. Mungkin kalau beliau masih muda, beliau udah jadi selebgram atau fashion blogger #digetok

And there are more deep lessons behind every collection in Ullen Sentalu Museum.

Saya udah pingin banget ke Ullen Sentalu sejak hari raya Idul Fitri tahun lalu rasanya. Tapi ga ada yang mau nemenin masa. Dan saya pikir kesana itu susah banget jalannya atau gimana, ternyata engga kok.. Pokoknya masuk Wisata Kaliurang, terusss aja, nanti nanya orang sesudah plang arah Museum Merapi (catet! Next time mau kesini!), udah deket dari situ, sekitar 500 meter-an.

Akhirnya saya kesini kemarin Minggu sama gerombolan anak Random Jogja. Padahal baru sekali itu ketemu, ngobrol udah ngalor-ngidul, becandaan udah kayak temenan sepuluh tahun. Sumpah ngerasa beruntung banget karena perginya sama mereka, ga sama..... #abaikan - eh eh maksud saya, ga sama teman yang garing gitu. Soalnya museum (saya pikir) udah garing kan ya, kalau teman jalannya juga garing, bisa-bisa malah nyesel kan perginya..

Ternyata (lagi) saya salah banget, pemirsa. Ullen Sentalu is just simply amazing. Emang sih saya belum tentu mau kesana lagi (kecuali dibayarin! :p), tapi sangat-sangat menyenangkan. Bersih, suasananya juga enak karena sejuk (ada beberapa ruang yang pakai AC dan ada yang tidak, tapi tetep adem), dan tour guide-nya jago. Bisa jawab pertanyaan-pertanyaan kami yang agak-agak susah (bukan saya – of course – ada pengunjung lain kayaknya udah baca ensiklopedia) dan ga ngambek kalau dibecandain #lho :)))

Berhubung museumnya milik swasta, jadi memang kita tidak boleh berfoto di dalam museum, takut ada masalah dengan copyright or something gitu.. Tapi lima puluh menit tur-nya asyik banget kok, ga bikin nyesel karena ga bisa foto-foto, dan ga kerasa juga kalau lima puluh menit.

Beberapa highlight dari Ullen Sentalu, menurut saya adalah:
1. Ruangan alat musik tradisional, dimana ada juga lukisan tentang tari-tarian Jawa
2. Ruangan surat-surat putri dan pangeran, they are good writers! Kalau mereka punya Twitter pasti banyak followers-nya #eh 
3. Ruang koleksi batik Jogja-Solo, ah pingin punya semua! - kecuali kain batik yang khusus dipakai untuk jenazah :)))
4. Taman sesudah labirin – ini bagus banget Ya Allah, mau punya rumah yang ada tamannya begini.. 

Katanya sih kalau hari minggu siang ada latihan tari juga, tapi karena kami adalah manusia-manusia bersemangat (...kalau mau jalan-jalan), kami termasuk pengunjung pertama hari itu. Hoho.

So, kayaknya segitu aja teaser-nya. Kalau banyak-banyak, ntar jadi spoiler dan malah ga seru lagi (berasa film aja..). A must-visit place in Jogja!

And last, please enjoy our pictures.. Turnya lima puluh menit, foto-fotonya hampir dua jam #TapiBoong #lol

*Photo by Ekky (IG: @ekky_akbar)
 

 
 
 
 
 
 
 
 
Bonus! dari Dika (IG: @awiradilaga)

Friday, September 12, 2014

Top 5 Most Memorable Books (+ Comic)

One of my blogger friend, Hesti (@hzboy) is an avid bookworm. Since I know her, I feel ashamed for my reading frequency. I started to improve it around mid last year, and it's getting better now. I hope I can read more books in the near future. Thank you for reminding me, Hesti :)

I enjoy reading her book blog, and while I don't have one, I would love to share my thoughts about book and reading. Just like I promise in this post, I wish I can write more book reviews, at least once a month. Now, as I inspired by her blog post, I would like to write my own Top 5 Most Memorable Books.

I know Hesti wrote 10, however as I don't read a lot, I don't remember much about the books that I have read. So please let me give you 5 only, okay..


  1. Lean In – Sheryl Sandberg
    I once wrote a short post about this book, and actually I want to make a review for every chapter. Wow, every chapter? Yep, because one review will be too long – or maybe it will not called review but book summary, LOL. 
    I bought this book to spend my Malaysian Ringgit in Johor Bahru Airport. Long before that, I have planned to buy the book in Periplus when I was in Indonesia, but I didn't know why I forgot to do that.
    The book is incredibly amazing. And I wish my husband candidate willing to spend some times to read it too, so he can understand what's on my mind :)


  2. Desperate in Dubai – Ameera Al Hakawati
    I also have written about this book here. I only need like two flights to finish the book, and I left speechless. This book might be a little bit confusing with four main characters. But it has many good lessons for life. One of the most important lesson is, never ever keep your hatred. We just never know if we can destroy a person's life when we decide to pay revenge. Nah, it brings something else then. Always, always, doing good.


  3. Halaqah Cinta- @teladanrasul
    I read this book A LOT. Like really, a lot. This book has some to-do list at the end of every chapter, and I believe that the purpose of self-improvement is not only for getting husband/wife, but for seeking Allah' ridha. 


  4. Pansy Comics
    My mom brought it for me as the prize when I get first rank, maybe at my second or third grade in elementary school. This book motivated me to play piano, and somehow I remember that I once want to be a researcher who lives in the jungle. Ha :)))


  5. Gege Mengejar Cinta – Adhitya Mulya
    I wanted to put Sabtu Bersama Bapak that I wrote here, but then I think this book is more memorable for me. You know why? Because, I haven't got the answer 'til now. Which one will you choose: somebody who loves you, or somebody who you love?
    Let the time answer it for me ;)


So there you go, what's yours? :)

Love,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...