Monday, April 3, 2017

Weekend Journal #14

Hmmm, semakin lama semakin jarang nge-blog ya. Ckckck. Habis gimana sister, saya sudah jenuh baca-ngetik-baca-ngetik buat tesis. Belum lagi ngetik transkrip wawancara. Primaaa, datang-datang kok mengeluh.

Pada saat seperti ini, saya sedikit menyesal karena menelantarkan tesis saya tahun lalu. Actually, CEO di tempat kerja saya sangat suportif dan mendorong saya untuk menyelesaikan tesis. Beliau pun bilang tidak menekan saya untuk kembali ke pekerjaan segera, tapi saya sudah mulai jenuh. Dua bulan penuh tidak bekerja, tapi pikiran engga bisa diberhentikan dari memikirkan rencana kerja, “nanti kalau aku back to work, aku mau bikin project A, B, C.” Melihat perusahaan dengan proyeknya yang semakin seru, kadang membuat saya ngomel dalam hati, “aduh, aku S2 ini sebenarnya buat apaaa...”

Di sisi lain, mulai ada secercah titik terang pada tesis saya, baru satu titik tapi alhamdulillah banget. Soalnya bulan April menandakan sisa dua bulan saja untuk menyelesaikan tesis sebelum membayar SPP lagi. Hadeeeeeh. Lalu saya ingat bahwa dulu waktu skripsi, saya bisa ngetik Bab IV sepanjang sekitar 60 halaman hanya dalam waktu tiga hari. Cuma bedanya, dulu saya sudah melakukan observasi selama enam bulan. Sementara sekarang, hari ini baru akan mulai turun lapangan.

That’s why saya mudik sejak minggu lalu. Saya katakan kepada mama saya, “ini kalau hitungan manusia, engga akan selesai. Tapi akan beda ceritanya kalau Allah sudah ‘ikut campur’.” Apa kunci agar Allah mau ikut membantu?

Ya, restu orangtua.

Berbeda dengan ayah saya yang mempercayakan ‘nasib’ saya sepenuhnya kepada Allah (dengan bantuan tante saya); seperti biasa, hubungan saya dengan mama naik-turun seperti nilai tukar mata uang asing (yaelah). To be honest, saya sampai takut ketemu mama saya karena hati ini rasanya tak tenang ketika berada di rumah.

Namanya sedang butuh, saya mengumpulkan keberanian untuk menemui beliau dan bersimpuh memohon maaf. Sumpah udah macem lagi sungkeman di nikahan aja, tapi yang ini banyak banget dramanya. Saya, mama, dan adik menangis selama beberapa jam; ditambah lagi saya menangis sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Malang. Sampai sekarang kepala saya masih pusing kalau mengenang kejadian kemarin.

I was so sad and still am, knowing that we should have supported each other, but in reality we feel deeply hurt by each other. Saya tidak bisa mendeskripsikan cerita kami di sini, tapi kemudian saya belajar untuk memaafkan diri sendiri dan mama, serta melepaskan semuanya. Saya pernah belajar melakukannya awal tahun lalu, dan rasanya cukup sukses. Hanya kadang ada satu-dua momen yang membuat kita jatuh, lalu kita harus mengingatkan diri sendiri untuk bangkit lagi. It’s hard, it’s really hard. But life must go on.

Saya menuliskan ini, meskipun seolah-olah seperti membuka aib keluarga sendiri, namun justru saya ingin sister ikut belajar. Sebenarnya saya tidak ingin menjadi manusia yang mudah menyerah. Kemarin saya hampir putus asa, berpikir bahwa saya tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Lalu seorang sahabat saya meyakinkan saya kalau saya bisa keluar dari ‘lingkaran setan’ ini, dan anak-anak saya pasti akan bangga memiliki saya sebagai ibu mereka. Thanks, Igna!

Saya pun mencoba untuk memahami keputusan-Nya. Dia percaya kepada saya, Dia tahu saya akan mampu melewati semua ini dan ‘lulus’ sebagai hamba yang lebih dekat dengan-Nya. Melalui kejadian ini, Dia meminta saya untuk introspeksi dan tidak hanya menuntut kesempurnaan. Mungkin selama ini saya terlalu egois dan hanya ingin menang sendiri. Atau mungkin, saya harus bekerja keras untuk tidak egois walaupun yang saya lihat contohnya demikian.

What I find it hardest is, it’s my mom whom I argued with. It’s not my boyfriend or my friend whom I can just leave and let go. Saya masih, dan akan terus bingung apa yang sebaiknya saya lakukan. Namun saya berpegang teguh pada Allah, He is the best guidance for me. Prinsip saya, selama saya tidak menyalahi hukumnya, Dia yang akan memutuskan. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar. Dia lebih tahu. 

Bismillah for another week! :)

Tuesday, March 21, 2017

Weekend Journal #12

Tiga minggu engga menulis weekend journal, kemana aja prim? Untung baru tiga pekan, belum tiga kali puasa – tiga kali lebaran. Bang Toyib, halo? :))

Dua minggu yang lalu saya berkunjung ke Jakarta untuk sharing di sebuah workshop. Saya berangkat dari Jogja hari Kamis malam, mengadakan LIMA appointment pada hari Jum’at, workshop pada hari Sabtu, bertemu informan penelitian saya pada hari Minggu, dan kembali ke Jogja hari Minggu malam.

Akhir pekan kemarin, saya volunteering di Festival Literasi KANCA yang dibuat oleh Writing Table/mbak Windy Ariestanty. Sebenarnya tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, malah saya ngerasa agak magabut. Tapi akhirnya saya tepar, kemarin Senin engga bisa bangun dari tempat tidur. Turned out I got my period coming. Makanya bukan hanya capek badan, tapi juga pingin nangis kenceng entah kenapa. Bukan, bukan karena berantem sama mas Pakistan lagi (iya sih, dia sedang ngambek. Saya yang period, kok dia yang PMS -_-).

Dua kali akhir pekan ini, saya senang banget bisa bertemu teman lama, dan mendapatkan teman-teman baru. Salah satu orang yang temui di KANCA adalah Alexander Thian atau aMrazing. Saya dulu pernah bertemu dia pada tahun 2013 atau 2014 di Surabaya. He is so different and he has achieved a lot!

Buat yang sudah pernah baca bukunya Lexy, pasti tahu kalau ‘karier’ Lexy berawal dari counter hp. Boro-boro punya, dia bekerja sebagai penjaga counter hp! Saya agak lupa ceritanya, so please correct me if I am wrong. Lalu dia mencoba menulis skenario macem FTV atau film-film pendek gitu. Dengan berkembangnya networking dia, saat ini siapa sih engga tahu aMrazing? Follower Twitter-nya lebih dari setengah juta, sementara post-nya di Instagram – ya, yang sering mengundang decak kagum itu – pernah dikompilasi dalam sebuah pameran fotografi. Jangan kira dia berasal dari keluarga berada. After all, aMrazing bekerja sangat keras untuk bisa berada di posisinya saat ini.

Sosok lain yang membuat saya terinspirasi adalah Kak Jezzie Setiawan, bos saya di GandengTangan. Saya diajakin menginap di rumahnya waktu saya ke Jakarta, and her family is so lovely. Saya betah ngobrol dengan mama-papanya, kayak ngobrol sama orangtua sendiri gitu (wah, ngaku-ngaku :p). Hubungannya dengan suami, Bang Darul, juga bikin saya menginginkan pasangan seperti itu. Yang punya mimpi besar, dan mau bersama-sama berjuang mewujudkannya. Oh ya, hampir sama dengan pendiri Post Santa, Kak Maesy dan Kak Teddy, yang saya post di Instagram. Bedanya, saya engga begitu kenal dengan Kak Maesy dan Kak Teddy, sementara saya sudah bekerja dengan Kak Jezzie setahun terakhir.

Sesudah saya menginap di rumah Kak Jezzie, saya semakin takjub. Dia memang berasal dari keluarga terpandang, tapi dia mau ‘turun gunung’ untuk membantu menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia. Orangtuanya bisa memberikan fasilitas apa saja, tapi dia lebih memilih untuk mencari jalannya sendiri. Saya optimis kalau 2-3 tahun dari sekarang, nama Kak Jezzie akan lebih dikenal. Sekarang saja dia sudah mendapatkan beberapa penghargaan.
  
aMrazing dan Kak Jezzie memberikan contoh nyata bagi saya, bahwa kunci kesuksesan itu ada pada kerja keras diri sendiri. Dulu saya pikir, betapa beruntungnya seseorang yang sudah kaya ‘dari sananya’ dan tinggal melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orangtuanya. Pertanyaannya kemudian, apa benar orang-orang yang terlahir di keluarga biasa saja tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi hidup yang menyenangkan?

Lalu saya melihat orang-orang yang melepaskan diri dari latar belakangnya yang sulit, mencoba dan terus mencoba, hingga menemukan suatu jalan yang membawanya pada keberhasilan. BARANGKALI orang-orang yang tidak terbiasa untuk menerima hak istimewa, akan lebih kreatif dalam mencari cara untuk survive. Seperti saya, misalnya. Hahaha.

So what’s actually the moral story of this post? Jangan bersedih jika keadaan sister saat ini masih sulit. You may find something big if you keep trying. Sebaliknya, jangan terlena kalau orangtua sister menghujani dengan segala bentuk perhatian. Go out from your comfort zone. Make your own success as it will be more and more satisfying. 

Udah ah ceramahnya. Lanjut ngerjain tesis deh, biar bisa segera melangkah ke milestone selanjutnya. Best of luck for you who read it, keep doing the hard work!

Salam sukses,
Prima

Wednesday, March 15, 2017

Catatan Online Dating (1): Bule atau Lokal?

Jadi sister sudah tahu kalau saya mencoba online dating untuk mendapatkan calon suami. Hahahahaha, agak gimana gitu ya. I know what you think of me, nantinya kalau jadi atau engga, saya rasa saya harus tetap bersyukur karena pengalaman yang saya dapatkan. Mungkin sister (dan saya pribadi) sebagai orang Indonesia masih merasa jengah mendengar tentang online dating. Sementara tips dan trik online dating akan saya ceritakan beberapa bulan lagi sesudah saya benar-benar bertemu mas Pakistan, kali ini saya mau nanya sama sister.

Adakah di antara kalian yang pernah berpikir, “mbak Prima cocoknya sama bule.”

Kalau iya, percayalah sister tidak sendiri. Banyaaaaak orang yang sering ngomong begini sama saya. Padahal saya sendiri engga pernah mengkhususkan diri untuk mengejar hanya bule. Eh, Pangeran Dubai masuk bule kah? Untuk blog post ini, semua warga negara asing saya masukin ke kategori ‘bule’ ya, hanya untuk memudahkan saja.

Ceritanya, tadi malam saya ngobrol dengan si mas Pakistan. Kami membahas betapa generasi millennial jaman sekarang (termasuk kami), merasa lebih cool kalau ngobrol dalam bahasa Inggris. Waktu saya di Jakarta akhir pekan lalu, saya menghadiri sebuah workshop menulis dan hampir semua peserta bicara (dan menulis) dalam bahasa Inggris. I was surprised.

Dalam obrolan saya dan mas Pakistan, dia keukeuh mau ngajarin anaknya bahasa daerahnya dia – macam bahasa Jawa kalau buat saya. Memang saya engga bisa bahasa Jawa halus dan engga berbicara secara fasih. Sedangkan dia sehari-hari bicara dalam bahasa Pashtun, bukan bahasa nasional yaitu Urdu. Untungnya bahasa Inggris dia lancar banget sih, bahkan jauh lebih bagus dari saya.

Obrolan ngalor-ngidul itu membuat saya menceritakan kepada mas Pakistan tentang fenomena bule hunter. Lalu dia bertanya, “apa kamu bule hunter?” *diam sejenak*

Mohon maaf sebelumnya kalau salah, disini saya mendefinisikan bule hunter sebagai ‘perempuan yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pasangan bule, dengan kriteria apapun, yang penting bule.’ Nah, sebenarnya siiih, biarin aja orang punya hidup masing-masing. Cuma saya ingin sedikit meluruskan beberapa hal, terutama mengenai diri saya sendiri (ya iyalah ini kan blog saya).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...