Monday, September 26, 2016

Agus Yudhoyono Maju Pilgub DKI Jakarta, Babak Baru Sinetron Politik Indonesia

Dulu, ketika saya hendak masuk kuliah (S1), saya hampir tidak memiliki pilihan kedua, karena satu-satunya jurusan kuliah yang saya masuki hanya Ilmu Komunikasi. Tapi engga mungkin kan, mendaftar tanpa ada pilihan kedua, pede banget. Di sebuah universitas swasta di Malang, yang sedianya menjadi pilihan nomer sekian bagi saya yang sedang menunggu pengumuman SPMB, saya membubuhkan jurusan Ilmu Pemerintahan sebagai pilihan kedua.

Lalu terjadilah dialog dibawah ini:
Ayah: “ngapain milih jurusan ini?”
Saya: “soalnya ayah engga ngebolehin aku milih jurusan Hukum.”
Ayah: “jangan ah, kerjaannya rawan dosa!”
Saya: “nah ya, kalau aku engga jadi wartawan, aku mau jadi orang yang ngerti tentang pemerintahan. Kalau mau mengubah (pemerintahan) Indonesia jadi lebih baik, kita harus berada didalamnya!”
Ayah: “gaya kamu!” *dijitak ayah*

Ternyata saya malah berkelana jauh dari pekerjaan yang saya inginkan pada awalnya. Maklum, waktu itu masih muda, masih makan idealisme. Sekarang, berhubung banyak tagihan yang harus dibayar, kerjaan apapun boleh deh (#lah). Waktu itu saya belum mengerti kalau ada yang namanya pembuat kebijakan. Tahu sedikit aja dari pelajaran IPS, tapi saya sudah gundah ngeliat Indonesia yang carut-marut. Saya merasa harus melakukan sesuatu, dan menurut saya, masuk ke dunia politik atau pemerintahan adalah solusinya.

Thursday, September 22, 2016

Antara Halal dan 'Halal' (Bagian 2)


Mau ngelanjutin post hari senin deh, kebetulan saya baru nonton The Food Files, sebuah program di National Geographic People dan bahasannya ‘ngena’ banget buat saya. Kalau sister sedang luang, boleh tuh dicari. Programnya diproduksi di Singapura dan Malaysia, jadi buat kita orang Indonesia, ‘kasus’ yang diangkat sangat sesuai dengan kondisi kita.

Pernahkah kamu merasa bersalah sesudah makan sesuatu? Bukan hanya karena halal atau engga, tapi kamu tahu bahwa makanan ini tidak memiliki dampak yang baik terhadap dirimu. Sederhananya begini, we eat to live. Not live to eat. Jadi apapun yang kita makan, idealnya mendukung kesehatan dan kehidupan kita. Sebagai manusia, kita membutuhkan nutrisi dari makanan agar kita bisa beraktivitas secara optimal. Ada perbedaan tipis antara ‘eat to live’ dan ‘live to eat’. Sebagian orang memang memikirkan apa yang akan dimakan dengan sangat teliti dan perhatian, misalnya vegan atau vegetarian. Ada juga yang sangat picky dan selektif sehingga tujuan mendapatkan kesenangan (pleasure) dari apa yang dimakan menjadi prioritas yang tinggi.

Supaya lebih mudah dipahami, kalau kamu sering punya pemikiran seperti ini: “engga bakal makan kalau engga di restoran X”, dan itu terjadi berulang kali, hampir setiap hari, bisa jadi kamu live to eat. Sementara sebagian besar orang cukup santai terhadap pilihan makanan. Perhaps a little bit picky, tapi tidak memaksakan diri.

Hidup kita bukan hanya tentang makanan. Meskipun pangan merupakan kebutuhan primer, tapi makanan adalah penyokong kehidupan kita. Bukan satu-satunya hal yang penting dalam hidup.

Wednesday, September 21, 2016

Serba-Serbi Dicomblangin

Berlawanan dengan reaksi kebanyakan perempuan single diluar sana, saya termasuk orang yang tidak begitu menolak dijodohkan. Lebih tepatnya, dikenalkan atau dicomblangin. Kesannya kalau dijodohkan kayak dipaksa harus jadi gitu, sementara kalau kedua istilah berikutnya, biarlah semuanya berjalan dengan alami. Kalau memang ditakdirkan oleh Allah untuk bersama, alhamdulillah. Kalau tidak, bolehlah jadi saudara.

Biasanya kalau ada yang tanya apa saya sudah ada calon pasangan, saya langsung balik bertanya, “mau dikenalin ke siapa nih?” Biar engga terlalu sakit hati aja sih, dibuat santai, ye kan. Sejauh ini saya sudah pernah dicomblangin sebanyak empat kali, dan empat-empatnya belum jadi (ya iyalah, buktinya saya masih single). Begini ceritanya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...