Monday, April 3, 2017

Weekend Journal #14

Hmmm, semakin lama semakin jarang nge-blog ya. Ckckck. Habis gimana sister, saya sudah jenuh baca-ngetik-baca-ngetik buat tesis. Belum lagi ngetik transkrip wawancara. Primaaa, datang-datang kok mengeluh.

Pada saat seperti ini, saya sedikit menyesal karena menelantarkan tesis saya tahun lalu. Actually, CEO di tempat kerja saya sangat suportif dan mendorong saya untuk menyelesaikan tesis. Beliau pun bilang tidak menekan saya untuk kembali ke pekerjaan segera, tapi saya sudah mulai jenuh. Dua bulan penuh tidak bekerja, tapi pikiran engga bisa diberhentikan dari memikirkan rencana kerja, “nanti kalau aku back to work, aku mau bikin project A, B, C.” Melihat perusahaan dengan proyeknya yang semakin seru, kadang membuat saya ngomel dalam hati, “aduh, aku S2 ini sebenarnya buat apaaa...”

Di sisi lain, mulai ada secercah titik terang pada tesis saya, baru satu titik tapi alhamdulillah banget. Soalnya bulan April menandakan sisa dua bulan saja untuk menyelesaikan tesis sebelum membayar SPP lagi. Hadeeeeeh. Lalu saya ingat bahwa dulu waktu skripsi, saya bisa ngetik Bab IV sepanjang sekitar 60 halaman hanya dalam waktu tiga hari. Cuma bedanya, dulu saya sudah melakukan observasi selama enam bulan. Sementara sekarang, hari ini baru akan mulai turun lapangan.

That’s why saya mudik sejak minggu lalu. Saya katakan kepada mama saya, “ini kalau hitungan manusia, engga akan selesai. Tapi akan beda ceritanya kalau Allah sudah ‘ikut campur’.” Apa kunci agar Allah mau ikut membantu?

Ya, restu orangtua.

Berbeda dengan ayah saya yang mempercayakan ‘nasib’ saya sepenuhnya kepada Allah (dengan bantuan tante saya); seperti biasa, hubungan saya dengan mama naik-turun seperti nilai tukar mata uang asing (yaelah). To be honest, saya sampai takut ketemu mama saya karena hati ini rasanya tak tenang ketika berada di rumah.

Namanya sedang butuh, saya mengumpulkan keberanian untuk menemui beliau dan bersimpuh memohon maaf. Sumpah udah macem lagi sungkeman di nikahan aja, tapi yang ini banyak banget dramanya. Saya, mama, dan adik menangis selama beberapa jam; ditambah lagi saya menangis sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Malang. Sampai sekarang kepala saya masih pusing kalau mengenang kejadian kemarin.

I was so sad and still am, knowing that we should have supported each other, but in reality we feel deeply hurt by each other. Saya tidak bisa mendeskripsikan cerita kami di sini, tapi kemudian saya belajar untuk memaafkan diri sendiri dan mama, serta melepaskan semuanya. Saya pernah belajar melakukannya awal tahun lalu, dan rasanya cukup sukses. Hanya kadang ada satu-dua momen yang membuat kita jatuh, lalu kita harus mengingatkan diri sendiri untuk bangkit lagi. It’s hard, it’s really hard. But life must go on.

Saya menuliskan ini, meskipun seolah-olah seperti membuka aib keluarga sendiri, namun justru saya ingin sister ikut belajar. Sebenarnya saya tidak ingin menjadi manusia yang mudah menyerah. Kemarin saya hampir putus asa, berpikir bahwa saya tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Lalu seorang sahabat saya meyakinkan saya kalau saya bisa keluar dari ‘lingkaran setan’ ini, dan anak-anak saya pasti akan bangga memiliki saya sebagai ibu mereka. Thanks, Igna!

Saya pun mencoba untuk memahami keputusan-Nya. Dia percaya kepada saya, Dia tahu saya akan mampu melewati semua ini dan ‘lulus’ sebagai hamba yang lebih dekat dengan-Nya. Melalui kejadian ini, Dia meminta saya untuk introspeksi dan tidak hanya menuntut kesempurnaan. Mungkin selama ini saya terlalu egois dan hanya ingin menang sendiri. Atau mungkin, saya harus bekerja keras untuk tidak egois walaupun yang saya lihat contohnya demikian.

What I find it hardest is, it’s my mom whom I argued with. It’s not my boyfriend or my friend whom I can just leave and let go. Saya masih, dan akan terus bingung apa yang sebaiknya saya lakukan. Namun saya berpegang teguh pada Allah, He is the best guidance for me. Prinsip saya, selama saya tidak menyalahi hukumnya, Dia yang akan memutuskan. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar. Dia lebih tahu. 

Bismillah for another week! :)

Tuesday, March 21, 2017

Weekend Journal #12

Tiga minggu engga menulis weekend journal, kemana aja prim? Untung baru tiga pekan, belum tiga kali puasa – tiga kali lebaran. Bang Toyib, halo? :))

Dua minggu yang lalu saya berkunjung ke Jakarta untuk sharing di sebuah workshop. Saya berangkat dari Jogja hari Kamis malam, mengadakan LIMA appointment pada hari Jum’at, workshop pada hari Sabtu, bertemu informan penelitian saya pada hari Minggu, dan kembali ke Jogja hari Minggu malam.

Akhir pekan kemarin, saya volunteering di Festival Literasi KANCA yang dibuat oleh Writing Table/mbak Windy Ariestanty. Sebenarnya tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, malah saya ngerasa agak magabut. Tapi akhirnya saya tepar, kemarin Senin engga bisa bangun dari tempat tidur. Turned out I got my period coming. Makanya bukan hanya capek badan, tapi juga pingin nangis kenceng entah kenapa. Bukan, bukan karena berantem sama mas Pakistan lagi (iya sih, dia sedang ngambek. Saya yang period, kok dia yang PMS -_-).

Dua kali akhir pekan ini, saya senang banget bisa bertemu teman lama, dan mendapatkan teman-teman baru. Salah satu orang yang temui di KANCA adalah Alexander Thian atau aMrazing. Saya dulu pernah bertemu dia pada tahun 2013 atau 2014 di Surabaya. He is so different and he has achieved a lot!

Buat yang sudah pernah baca bukunya Lexy, pasti tahu kalau ‘karier’ Lexy berawal dari counter hp. Boro-boro punya, dia bekerja sebagai penjaga counter hp! Saya agak lupa ceritanya, so please correct me if I am wrong. Lalu dia mencoba menulis skenario macem FTV atau film-film pendek gitu. Dengan berkembangnya networking dia, saat ini siapa sih engga tahu aMrazing? Follower Twitter-nya lebih dari setengah juta, sementara post-nya di Instagram – ya, yang sering mengundang decak kagum itu – pernah dikompilasi dalam sebuah pameran fotografi. Jangan kira dia berasal dari keluarga berada. After all, aMrazing bekerja sangat keras untuk bisa berada di posisinya saat ini.

Sosok lain yang membuat saya terinspirasi adalah Kak Jezzie Setiawan, bos saya di GandengTangan. Saya diajakin menginap di rumahnya waktu saya ke Jakarta, and her family is so lovely. Saya betah ngobrol dengan mama-papanya, kayak ngobrol sama orangtua sendiri gitu (wah, ngaku-ngaku :p). Hubungannya dengan suami, Bang Darul, juga bikin saya menginginkan pasangan seperti itu. Yang punya mimpi besar, dan mau bersama-sama berjuang mewujudkannya. Oh ya, hampir sama dengan pendiri Post Santa, Kak Maesy dan Kak Teddy, yang saya post di Instagram. Bedanya, saya engga begitu kenal dengan Kak Maesy dan Kak Teddy, sementara saya sudah bekerja dengan Kak Jezzie setahun terakhir.

Sesudah saya menginap di rumah Kak Jezzie, saya semakin takjub. Dia memang berasal dari keluarga terpandang, tapi dia mau ‘turun gunung’ untuk membantu menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia. Orangtuanya bisa memberikan fasilitas apa saja, tapi dia lebih memilih untuk mencari jalannya sendiri. Saya optimis kalau 2-3 tahun dari sekarang, nama Kak Jezzie akan lebih dikenal. Sekarang saja dia sudah mendapatkan beberapa penghargaan.
  
aMrazing dan Kak Jezzie memberikan contoh nyata bagi saya, bahwa kunci kesuksesan itu ada pada kerja keras diri sendiri. Dulu saya pikir, betapa beruntungnya seseorang yang sudah kaya ‘dari sananya’ dan tinggal melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orangtuanya. Pertanyaannya kemudian, apa benar orang-orang yang terlahir di keluarga biasa saja tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi hidup yang menyenangkan?

Lalu saya melihat orang-orang yang melepaskan diri dari latar belakangnya yang sulit, mencoba dan terus mencoba, hingga menemukan suatu jalan yang membawanya pada keberhasilan. BARANGKALI orang-orang yang tidak terbiasa untuk menerima hak istimewa, akan lebih kreatif dalam mencari cara untuk survive. Seperti saya, misalnya. Hahaha.

So what’s actually the moral story of this post? Jangan bersedih jika keadaan sister saat ini masih sulit. You may find something big if you keep trying. Sebaliknya, jangan terlena kalau orangtua sister menghujani dengan segala bentuk perhatian. Go out from your comfort zone. Make your own success as it will be more and more satisfying. 

Udah ah ceramahnya. Lanjut ngerjain tesis deh, biar bisa segera melangkah ke milestone selanjutnya. Best of luck for you who read it, keep doing the hard work!

Salam sukses,
Prima

Wednesday, March 15, 2017

Catatan Online Dating (1): Bule atau Lokal?

Jadi sister sudah tahu kalau saya mencoba online dating untuk mendapatkan calon suami. Hahahahaha, agak gimana gitu ya. I know what you think of me, nantinya kalau jadi atau engga, saya rasa saya harus tetap bersyukur karena pengalaman yang saya dapatkan. Mungkin sister (dan saya pribadi) sebagai orang Indonesia masih merasa jengah mendengar tentang online dating. Sementara tips dan trik online dating akan saya ceritakan beberapa bulan lagi sesudah saya benar-benar bertemu mas Pakistan, kali ini saya mau nanya sama sister.

Adakah di antara kalian yang pernah berpikir, “mbak Prima cocoknya sama bule.”

Kalau iya, percayalah sister tidak sendiri. Banyaaaaak orang yang sering ngomong begini sama saya. Padahal saya sendiri engga pernah mengkhususkan diri untuk mengejar hanya bule. Eh, Pangeran Dubai masuk bule kah? Untuk blog post ini, semua warga negara asing saya masukin ke kategori ‘bule’ ya, hanya untuk memudahkan saja.

Ceritanya, tadi malam saya ngobrol dengan si mas Pakistan. Kami membahas betapa generasi millennial jaman sekarang (termasuk kami), merasa lebih cool kalau ngobrol dalam bahasa Inggris. Waktu saya di Jakarta akhir pekan lalu, saya menghadiri sebuah workshop menulis dan hampir semua peserta bicara (dan menulis) dalam bahasa Inggris. I was surprised.

Dalam obrolan saya dan mas Pakistan, dia keukeuh mau ngajarin anaknya bahasa daerahnya dia – macam bahasa Jawa kalau buat saya. Memang saya engga bisa bahasa Jawa halus dan engga berbicara secara fasih. Sedangkan dia sehari-hari bicara dalam bahasa Pashtun, bukan bahasa nasional yaitu Urdu. Untungnya bahasa Inggris dia lancar banget sih, bahkan jauh lebih bagus dari saya.

Obrolan ngalor-ngidul itu membuat saya menceritakan kepada mas Pakistan tentang fenomena bule hunter. Lalu dia bertanya, “apa kamu bule hunter?” *diam sejenak*

Mohon maaf sebelumnya kalau salah, disini saya mendefinisikan bule hunter sebagai ‘perempuan yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pasangan bule, dengan kriteria apapun, yang penting bule.’ Nah, sebenarnya siiih, biarin aja orang punya hidup masing-masing. Cuma saya ingin sedikit meluruskan beberapa hal, terutama mengenai diri saya sendiri (ya iyalah ini kan blog saya).

Monday, March 6, 2017

I Want to Get Married

Being a single myself for almost 6 years now, I rarely ask “when will you get married?” to people, except to my friends whom I know well and I am sure they have boyfriend/girlfriend. I have known too many single women and men – and often I am a bit in doubt as I think...they are waaay older than me.

However, when I know the real age of this guy, I wonder what makes him still single until now. Probably, just like how some people seeing me. There must be something wrong about him, or me. For me, the assumptions can be sickening.

“Oh, you must have been always reject your parents’ suggestions.”
“Don’t be picky!”
“You work too hard.” – or – “You travel too much.”
“You are too independent, men are afraid of you.”
“You are not pious enough, pray more!”

Sadly, these kind of suspicion even contrary with what I am prepared to. As an adult, I have to be responsible to myself. It means, I have to work and earn money. Now that I am trying to escalate my career (or expand my work opportunity), I have to study and graduate. Everyone has his/her own priority, can’t you understand?

Sometimes I ask myself, have I ever prioritize marriage above anything else? My mind always occupied with many things I don’t even look for someone to date with. I thought my time will come someday, someday, someday; and suddenly I am 28 years old now. Did I miss something – or someone? Did I accidentally skip the right man?

Maybe that’s why I laughed at my boss idea about online dating. My boss is a lovely person and I know whoever with her is a lucky man. She is also a super busy entrepreneur, despite the fact that she might seems cold, her energy is derived by loving and caring people around her. But online dating? Why? I felt okay with myself. When she said that it might give me a better chance to meet my husband candidate, I thought she didn’t mean it. [First time she suggested me to create an account, it was end of 2015. Surely I declined the idea and forget it soon.]

Time goes by, we met again and she forced me. She said I deserve to be happy. And I responsed, “I AM happy.” She answered, “I know you are. But don’t you think that happiness meant to be shared?” I mumbled, but I let her installed online dating app and filled my profile.

I didn’t expect too much, so when I found myself emotionally attached to this guy from Pakistan, I was surprised. I almost quitted this app in only two weeks that time, but luckily I saw his profile at the very last time, right before I was about to click ‘disable account’. Up until now, it’s been three months. It doesn’t always smooth, to be honest. But I always hear a whisper saying, “it might works.”   

It doesn’t automatically diminishes my curiousity. If I was happy and alright with being single, why I still want to have a relationship? As I said, with all the hardship, I still got back to him, again and again. Am I just scared of being lonely?

I am not.

You might think I have warm personality and yes, I have a lot of friends. But I enjoy solitude more than other people. My roommate almost never been single because she doesn’t like to be alone. She constantly meet her friends while I can just refuse my friend’ invitation if I am not in the mood (thanks Allah for giving me such kind of understanding friends). I can turn off my phone for days and I don’t feel lost.

So why it has to be now? Why it has to be him? (uhm, perhaps it doesn't HAS TO BE now/him...)

Maybe, just maybe. Because after all this time, I have changed my mind about marriage. I thought at first we have to get married, no matter what. I thought it will be so pathetic to spend the rest of lifetime by myself. I thought having spouse and kids is everything – the only reason of happiness. While you don’t realize, marriage is NOT happily ever after. It requires hard work, every single day. It needs a lot of forgiveness and compassionate.

I finally came to a comprehension that marriage is another personal development, which you can have in order to upgrade yourself. You can find ways to grow, but with the support of someone (...you love and loves you back), you may cultivate further and faster.

I want to be the reason for someone to fight – and I want to have more reasons to keep doing better. This time, the strongest motivation is myself (or perhaps my family). But I once told my best friend, “I think there is no better feeling than looking at your kids’ eyes, then realize that all your sweat and tears are paid off.”

I want to please Allah without having to compromise myself. In life you keep making sacrifice and sometimes you worry if it is worthy. But I eventually believe that all you’ve done for Him, surely will be counted. And who can figure out if He has decide to give something big for you, not only here on earth but maybe later?

I am grateful to have this motivation again. I wish something bigger coming soon, as my best friend reminds me to have positive thoughts, especially towards Allah. I will, Put.

Bismillah.

Lots of love,
Prima 

Read also: Don't Get Married 

Sunday, March 5, 2017

Music Challenge: Summertime [SISTAR - Loving U, I Swear, Shake It]

Guess where I am right now? Yes, I am at the uni library. Right, on SUNDAY MORNING. I couldn’t work on my thsesis yesterday as I felt a bit headache and also heat stroke, although I spent all day long inside the house. I took medicine last night and I woke up feeling better, so why not celebrating this sunny day in the library?

It suits with today’s music challenge theme: summertime! I know, I know. Indonesians have to be grateful to be exposed with sun all year long – even in the raining season starts in November until now. I also know that because of the global warming, rain might just fall suddenly in the middle of June. And let’s not forget that in transition times between seasons, the weather is sooo bad your body might feel unwell (but I think it happens everywhere in the world). However, summertime always something that warmly greeted by many many people in other countries. Unexceptionally in Korea.

People say that SISTAR has been number 1 summer hit-maker. I don’t know since when, but most of their singles will be released close to summer. They also consider it carefully in terms of making the music video. They have these super energetic dances, colorful background, and fascinating scenes. No wonder myself almost wait for the summer after watching their music videos. Yeah, almost. Because I don’t fill my summertime with only sing, dance, and swim in the pool.

Sorry I can’t write much today, my hands are still trembling but I do the best I can to revise my thesis. Oh, I also want you to know that writing posts for music challenge has been entertaining me so much, it gives me pleasure and happiness. Hmm, or maybe it’s because I haven’t reached any mellow themes yet. Haha. Well then, have a nice Sunday!



 

Friday, March 3, 2017

Music Challenge: Song with Number in the Title [K.Will - Day 1]

Second post for Music Challenge, and you know what, I am already at the uni library. Speaking of high-speed WiFi connection so that I can watch any documentaries and Lion’ trailer..... Dev Patel, kalau buah kamu ini semakin matang ya, sukak deh lihatnya, hihihi.

Theme for today is “a song with number in the title”, and my mind went straight to ‘1, 2, 3, 4’ by Lee Hi. But I will save Lee Hi for another theme so I chose Day 1 by K.Will.

I love ALL K.Will songs, it’s no secret. Especially because most of his music videos are very cute I just can’t!!! But specifically, listening to this song which its music video was released in 25 June 2014 makes me feel warm. It almost remind me to my crush – almost. If I am not mistaken, when I listened to the song for the first time, I didn’t have any crush. Jadi gemes gitu, pingin ngebayangin siapa, ya sudah Pangeran Dubai aja deh :)))

As usual, K.Will shows a lot of admiration to his lady through this song. The lyrics also represent a man who feels shy, as he got a crush on a woman who deserves more than him, but he really wants to fight for her. Ladies, you should get a man who can adore you like K.Will. If this man can’t sing or make a song, make sure he does as shown below. 

..........

Then, ‘Day 1’ refers to the first day of their relationship. Well, I think in Korea and Indonesia are same, relationship should be official with the question popped up by the man, “do you want to be my girlfriend?” and an answer, “YES! YES! YES! I do!” Sorry, the woman here is quite emotional :p

Of all the ugly guys
I’m the best looking
What do I have to do to let you know how I feel?
Thinking of you drives me crazy

So I’m not that handsome
but I think I look cute when I smile
I’ll do better than all the guys out there, my love
I love you

Close your eyes and count to three
Now open and tell me what you see
Nothing? You don’t see your man?
It’s day 1 from today

I’ve never said that before
You’re my lady you’re my baby
But really, I’m not kidding
From today, from now
Will you be mine, baby


Btw, not too long after I saw the original music video, I also watched him perform the song in a music show. Although the coreography is a bit too cheesy (hmmm), but I like the part when he dance with a girl. It’s really nice. So now, let me continue my thesis and please enjoy K.Will – Day 1 (and have a nice weekend!).


Thursday, March 2, 2017

Thought Catalog: Being a Lecturer, Is It For Me?

Hi sister! Sebagaimana saya janjikan di post ini, saya akan mulai menjawab pertanyaan dari Thought Catalog. Yaaa paling engga biar blog ini terisi sementara saya terus dikejar deadline ujian tesis (masih Bab 1 dan harus lulus akhir Mei nih, hiks hiks). Tadinya saya ingin menulis dalam bahasa Inggris, sayangnya mata sepet kebanyakan baca jurnal. Selain itu, saya sudah menulis dalam bahasa Inggris untuk 15 Day Music Challenge. Jadi kali ini biarkan saya menulis dalam bahasa Indonesia, please... For now, saya akan menjawab pertanyaan ini:

If money didn’t matter, what would your dream job be?

Wednesday, March 1, 2017

Music Challenge: Song with a Color in the Title [Big Bang - Blue]

Oh my God, it’s March already and I haven’t done my research yet!!!
This week I was about to punish myself and not going outside the house if I don’t make any progress. Unluckily, my cousin use the library at home for English private course so I have to pick other place. I chose to go to library at university because if I come early, I can have a nice seat. Like what I am having now, I have my own private learning room where I can sleep type peacefully.

One of the benefits to work at the uni library is, I get the access for high-speed Internet connection. However, nowadays even the students have limits which is 5GB/person. Most probably there are students use the campus Internet to download Korean drama. Me? I don't, I can just copy movies from the nearest Internet cafes, it’s faster and more convenient. LOL.

Anyway, when I work at the uni, I like listening to YouTube videos because it has autoplay so it will recommend any good songs. Also, I don’t save songs on my laptop, there is no specific reason, I just prefer to not listening anything when I work at home (or radio/Channel V are okay). That’s why I count on YouTube videos to give me update about the most ‘hit’ songs lately.

However, most likely I just choose to replay some songs over and over again. When I saw the 30 Days Music Challenge on Twitter, I thought why don’t I write such thing on my blog. But 30 days are too long for me, I can’t even commit to write two posts a week. So I shorten it up and pick 15 themes that I am gonna write. Don’t worry, I will give you more than one song on my post if I can really think of the songs.

For the first post which is today, I have to post “a song with a color in the title”. I automatically think about ‘Blue’ by Big Bang. Now that I write it, I wonder why when you are sad, you said “I’m feeling blue”? When I googled it, I found this answer from Quora (validity can’t be guaranteed):
The use of blue to mean “sad” dates from the late 1300s. There are many references as to where this expression came from some being:

This is because blue was related to rain, or storms, and in Greek mythology, the god Zeus would make rain when he was sad (crying), and a storm when he was angry. Kyanos was a name used in Ancient Greek to refer to dark blue tile (in English it means blue-green or cyan).

The phrase "feeling blue" is linked also to a custom among many old deepwater sailing ships. If the ship lost the captain or any of the officers during its voyage, she would fly blue flags and have a blue band painted along her entire hull when returning to home port.

Even though you don’t speak Korean (neither do I), you will get the meaning behind the song if you watch the original music video. It talks about the separation, devastation after it, and how faith on love can’t be restored that easy. Below is some translation from the lyrics.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go


Okay then, I will leave you feeling ‘Blue’ with Big Bang now. To give you a bit entertainment, I also show you the performance version. Have a great day and see you on Saturday!


Monday, February 27, 2017

Weekend Journal #9

Akhir pekan kemarin adalah salah satu productive weekend yang sangat bermakna. Saya mendapat banyak suntikan semangat dan food for thought. Buat sister yang belum tahu, saya meneliti tentang faktor yang memotivasi donatur menyumbangkan uangnya di campaign NusantaRun Chapter 4 yang dipublikasikan di Kitabisa.com. [Ada yang jadi donatur? Kontak saya dong, email: primaditarahma at gmail dot com]

Makanya ketika saya melihat nama Alfatih Timur, CEO KitaBisa, sebagai salah satu pembicara di dYouthizen, saya langsung Whatsapp-an dan minta waktu untuk ketemu. Awalnya saya engga dapat konfirmasi untuk ikut seminar tersebut, tapi karena Timy (panggilannya) minta ketemu di seminar, saya pun tetap datang. Alhamdulillah saya bisa jadi peserta dan bisa dengerin mbak Melanie Subono berbagi inspirasi.

Saya pertama kali menyimak mbak Melanie di Surabaya Youth Carnival beberapa tahun lalu, and she is really really amazing (baca post ini). Ada dua poin penting yang dia share ke peserta dYouthizen. Yang pertama, ada dua tipe manusia di dunia ini: yang melakukan – dan yang tidak. Meskipun niat aja udah dapat pahala, tapi ‘mau’ aja engga cukup. You have to take action! Yang kedua, the best time to take action is NOW. Apalagi kalau habis datang seminar itu biasanya semangat lagi tinggi banget. Kalau nunggu besok, atau lusa.. bye deh. That’s why malam minggu itu saya sebenarnya berencana untuk langsung menuliskan transkrip wawancara sama Timy. Sayangnya ada keluarga jauh yang datang ke rumah dan yaaa masa saya engga nemenin (excuse melulu -_-).

Sesudah saya sholat dzuhur, saya ketemu Timy lagi buat ngobrol. Eh ternyata, sesi berikutnya adalah sesinya ko Yansen Kamto dari Kibar.id. Orangnya narsis abis, tapi penjelasannya warbiyasak keren! Nah, kami pun sepakat untuk memperhatikan materinya ko Yansen. Oya, untuk cerita dari ko Yansen, kayaknya lebih baik dibikin blog post tersendiri deh.

Oleh karena waktu Timy yang terbatas, saya justru ditawari ikut dia dan istri makan siang (tapi udah jam 3 sore..), sekalian mengantar mereka ke hotel tempat mereka menginap malam itu. Allah baik banget.. saya pun dapat waktu eksklusif buat konsultasi tentang tesis saya, bahkan bisa berdebat tentang banyak hal. Dari mulai transportasi online (istrinya kerja sebagai Marketing Analyst di GoJek), masalah kemiskinan di Indonesia, dan tren gaya hidup sehat.

Timy banyak memberikan saya pengetahuan dan wawasan, yang pastinya membantu tesis saya. Kalau saya mengetahui hipotesis atau asumsi dari teori dan observasi, Timy sudah memahaminya lebih dulu. Cuma yaaaaa, trial and error selama hampir 4 tahun sejak KitaBisa berdiri. Setara dengan S3 kan.

Selain Timy sendiri, caranya berinteraksi dengan istrinya jadi #RelationshipGoals buat saya. Mungkin karena sama-sama bekerja di start-up, obrolan mereka nyambung banget. Mereka juga satu jurusan di UI, hanya beda angkatan. Engga nyangka, mereka sudah menikah 3 tahun lho. Istrinya ini manis manja gitu. Gara-gara banyak peserta perempuan yang minta foto bareng, waktu di mobil istrinya tanya ke Timy, “abang udah dapat nomer handphone cewek berapa?” :)))))

Meskipun saya engga banyak tahu tentang mereka, istrinya Timy sempat cerita kalau dia S2 di Amerika Serikat. Mereka pun menjalani long distance marriage selama 1,5 tahun. Balik ke Indonesia, Timy masih semangat banget dengan Kitabisa. Istrinya tetap mendampingi dan percaya dengan mimpi-mimpi Timy. Even for them both, saya ngeliat..... gampang kalau naksir sama Timy yang sekarang, secara KitaBisa udah ‘membukukan’ donasi sebanyak Rp. 73 Miliar dari 4000-an campaign. Tapi dulu waktu baru mulai? I can’t imagine the challenges and difficulties.

Saya pun merefleksikan hal ini kepada diri sendiri. Kira-kira, apakah saya siap untuk menjadi suami yang masih membangun, belum kelihatan masa depannya gimana, dan punya mimpi teramat besar which is unthinkable for common people. 

Dulu saya pernah didekati oleh seorang yang baru mendirikan start-up dan saya khawatir sama rencana keuangannya. Bedanya dengan Timy, saya melihat dia tidak punya fighting spirit. Orangnya agak ‘menggampangkan’ dan saya jadi mikir, apakah dia berkomitmen untuk membahagiakan saya?

See, ketemu orang-orang yang inspiratif selalu bikin merenung. So grateful to meet Timy and wife, dan sekarang mari lanjut ngerjain tesis karena Timy pun menunggu hasil penelitian saya :D

Have a great week ahead!

Lots of love,
Prima

Wednesday, February 22, 2017

Back to Blog

Akhir-akhir ini, saya seperti diingatkan untuk kembali nge-blog secara rutin karena beberapa kejadian. Yang pertama ada Addy McTague, seorang mualaf yang berasal dari Chicago. Dulu dia mendapat wawasan tentang Islam, salah satunya dari blog saya (baca post ini), dan kami sempat berkirim email. Setelah saling follow di Instagram, kami juga bertukar nomer WhatsApp. Berhubung dia sedang berada di Tiongkok, dia bilang akan senang sekali kalau bisa mengunjungi Indonesia tahun ini (enaknya jadi warga negara Amerika Serikat, she doesn’t need visa to enter Indonesia). Somehow, dia mengingatkan saya untuk menulis lagi tentang #1Hari1Ayat, atau #1Hari1Hadits.

Yang kedua, Selasa kemarin saya ikut syuting program Ragam Manfaat di Trans7 sebagai narasumber. Engga syuting yang gimana sih, cuma memberikan testimonial tentang penggunaan honey lemon shot. Kru Trans7 memang menghubungi saya lewat post ini, dan saya sempat membantu mencarikan kontak narasumber yang lain. Nanti saya kabari kalau sudah akan tayang (cieh), dan perhatikan baik-baik ya, karena saya hanya akan muncul selama... SATU menit :)))

Yang ketiga, kemarin saya juga mendapat email dari Office of International Affairs UGM. Kantor ini menyediakan informasi beasiswa untuk mahasiswa (atau alumni) UGM, dan mereka berjasa menyekolahkan saya selama dua semester. Pakai beasiswa dari Tokyo Foundation sih, hehe. Saya jadi ingat waktu tes interview beasiswa ini. Saya banyak ditanya tentang blog saya, mengapa saya menulis blog, dan manfaat apa saja yang pernah saya dapatkan dari blogging. Salah satu jawaban yang terus membekas di pikiran saya adalah, ‘saya tidak pernah menyangka kalau tulisan saya bisa mengubah kehidupan seseorang yang tidak saya kenal.’ Kebetulan, saya menceritakan tentang Addy McTague.

I have to admit, the case of Addy was one of the biggest achievements in my blogging career. Blog tidak hanya memberikan saya pekerjaan dan penghidupan. Membawa saya kepada kesempatan besar seperti World Muslimah Award 2014. Menjadikan saya narasumber di berbagai acara. It’s not just that. Tanpa bermaksud mengecilkan hal-hal lain yang sudah saya dapatkan dari blog, ‘dipercaya oleh Allah untuk mengubah kehidupan seseorang’ is something reaaaaally big. Saya mah apa atuh, hanya butiran debu di kehidupan yang fana ini. But He trusted me to write and change people’s lives.

Ada orang yang diberikan karunia kekayaan dan bisa membantu orang-orang di sekitarnya lewat amal yang ia berikan. Ada orang yang diberikan anugerah kecerdasan dan jadi guru/dosen/ilmuwan. Ada orang yang diberikan berkah naluri kepedulian dan membaktikan hidupnya sebagai pekerja sosial.

What’s your blessing?

Saya masih ‘betah’ menjadi seorang blogger yang menuliskan refleksi diri dan pengalaman. Saya masih belum berorientasi untuk menjadikan blog ini lebih komersil. Saya masih nyaman bercerita tentang lika-liku kehidupan untuk sister, terutama untuk diri sendiri. Sehingga suatu saat nanti ketika saya (insyaAllah) mencapai puncak, saya tidak tinggi hati.

Saya sudah punya beberapa pertanyaan untuk dijawab di blog ini. Saya mendapatkan bahannya dari Thought Catalog – suka banget sama website ini, it opens my mind and encourages me to hear my inner voice more.

Sampai jumpa di post berikutnya!

Lots of love,
Prima

Monday, February 20, 2017

Weekend Journal #8

Aloha, good morning! Ya Allah, sudah tanggal 20 Februari, artinya saya sudah ambil break dari pekerjaan selama tiga minggu lebih. Rasanya sudah tiga tahun (lebay) saya engga berinteraksi sama orang masalah deadline, dan engga ada penghasilan. Sediiih, pingin jalan-jalan – padahal minggu lalu baru nge-trip ke Kalibiru – pingin belanja, pingin ini itu banyak sekali. Maybe this is why saya diliputi kekhawatiran yang luar biasa. Kalau kata orang, salah satu sumber ketidakbahagiaan yang paling utama adalah ketika kita tidak hidup untuk hari ini, tapi terlalu banyak berangan-angan ke masa depan yang masih jauh.

Contohnya saya yang saat ini masih single, terus ngebayangin “enak kali ya punya suami, ada yang ngebantuin diskusi tesis.” Padahal belum tentu juga, kenyataannya nih, teman-teman sekelas saya yang sudah menikah, malah tesisnya berhenti karena keasyikan ngurus rumah tangga.

Atau contoh lagi, masih tentang saya yang sedang mengerjakan tesis. Setiap kali saya lihat lowongan pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan hubungan internasional, saya sering berharap sudah lulus dan tiba-tiba bekerja di instansi terkait. Padahal kembali bekerja full time di kantor mungkin engga seindah yang saya harapkan. Segala macam tuntutan ada di depan mata untuk membuktikan apakah kita cukup profesional dan produktif. Apalagi orangtua akan tutup mata: engga peduli gajimu berapa, kamu harus bisa survive. Anyway, British Embassy buka lowongan lho: [Digital Media Officer]

Makanya sekarang saya berusaha fokus pada hari demi hari. Setiap pagi, saya mengingatkan diri sendiri untuk membuat kemajuan dengan tesis. Mau harus baca bahan selama dua jam nonstop (satu jam aja deh...); ngetik 1000 kata (hitungannya sedikit, tapi kalau buat tesis, malasnya kanmaen); atau browsing case study (believe me, it can take a lot of time).

Demi menjaga kewarasan, saya memaksakan diri untuk keluar rumah paling tidak dua hari sekali. Saya orangnya suka mager, tapi engga bagus untuk kesehatan mental karena saya orang yang sangat people person. Saya harus tetap ketemu orang agar tidak stres.

Saya juga berusaha untuk tidak melirik kalender atau agenda. Saya membuat jadwal maksimal seminggu ke depan agar tidak memberati pikiran saya sendiri. Hal ini ternyata berguna karena saya jadi melakukan evaluasi setiap hari. Seperti akhir pekan kemarin, saya merasa bersalah karena gagal membaca 5 jurnal dan mengetik 1500 kata untuk kerangka pemikiran. Saya pun harus ‘membayar hutang’ tersebut pada hari ini dan besok. Di sisi lain, saya masih harus banyak istirahat karena badan belum pulih seratus persen. I also attended my classmate’s wedding and turned out it was really fun. Namanya mahasiswa kalau udah ngerjain tesis, cuma bisa reunian kalau lagi bimbingan (itupun beda dosen pembimbing) dan ada yang menikah. I definitely enjoyed last weekend but still feel guilty for my thesis.

Jadi, buat kamu yang sering merasa gelisah, coba lihat lagi apakah kamu tipikal orang yang suka berandai-andai dan justru mengabaikan masa sekarang? Saya pernah baca salah satu cara agar sholat kita lebih khusyu’ adalah dengan membayangkan jika sholat ini adalah sholat terakhir yang kita lakukan. Dalam hidup, saya merasa akan lebih mudah untuk berjuang jika kamu tahu hari ini adalah hari terakhir kamu berada di dunia. After all, kita engga tahu apakah kita masih akan hidup keesokan hari. So, do your best today and make the most of your happiness!     

Love,
Prima

Saturday, February 18, 2017

Terjebak dalam Hubungan yang Rumit, Haruskah Bertahan?

I finally decided to write this post after weeks contemplating. Sebenarnya saya agak malu mengakui bahwa saya sedang dalam proses baikan dengan si mas Pangeran Dubai KW Premium (baca: si Ganteng dari Asia Selatan). Iya, setelah post saya berjudul What If, kami berkomunikasi lagi dan tiba-tiba saja semuanya seperti yang dulu. Ngobrol ngalor ngidul, ketawa sampai ngakak, dan ngegombal. Halaaah. Saya lemah.

I have to say that after 5 years being single, going back to a relationship (or at least approach phase) is really really hard. Saya tuh tipikal yang kalau udah suka, suka banget. Baper, berpikir kalau dia satu-satunya, dan membayangkan jauh ke depan. Terakhir saya mengalami perasaan suka ini akhir tahun 2014. Yang gila, saya menyatakan perasaan saya kepadanya dan ditolak!!! Hingga bulan September 2016, saya mengaku kepada seorang sahabat kalau saya susah move on karena dia memenuhi semua kriteria saya. Ngomongin kriteria lelaki idaman saya itu hal lain lagi. Memang dari lubuk hati terdalam saya masih berharap bisa menikah sama Pangeran Dubai yang beneran. Bahahahahak. Tapi kalau realita, saya senang dengan seorang lelaki yang passionate with his life, bertanggungjawab, dan suportif sama saya. Kalau sudah berinteraksi, nanti kelihatan apakah ada chemistry, dan bisakah kami saling membawa satu sama lain menjadi pribadi yang lebih baik. Sederhana, kan?

This man that I liked in circa 2014-2015 has everything that I need/want. But one: he doesn’t likes me back. Perih. Sekarang pun dia sudah bertunangan dengan entahlah siapa, and then saya langsung unfollow Instagramnya :)))

Nah, saya sudah pernah membocorkan beberapa cuplikan dari ‘hubungan’ saya dengan mas Pangeran Dubai KW Premium. Secara garis besar, sebenarnya dia kurang memenuhi kriteria yang saya inginkan. Di sisi lain, dia punya kualitas diri yang membuat saya berpikir “bisa dicoba lah.” Selain karena dia ganteng yaaa, hihihi. Namun kemudian, mungkin kami terlalu terburu-buru dan tibalah kami pada pertengkaran pertama yang cukup membuat saya terkejut. Ya iyalah, secara saya sudah lama tidak berhubungan serius dengan seorang lelaki, terus sekarang saya harus berkompromi dan memikirkan perasaannya. Kaget deh.

Untungnya, saya ditantang oleh seorang konsultan karir (dan ternyata konsultan cinta juga kayaknya, peace mbak Rani, hehehe) untuk bertahan selama minimal tiga bulan. Why so? Karena dia tahu saya tipikal orang yang kadang terlalu independen, sampai seolah-olah tidak membutuhkan orang lain – dalam hal ini, pasangan hidup. It was true, I could almost just go and say “hell-o, who the hell are you? Engga ada kamu, aku tuh baik-baik aja.”

But I didn’t do that. Saya merefleksikan apa yang terjadi dalam hubungan kami, meminta maaf, dan bertanya apa yang bisa saya lakukan agar hubungan kami lebih kondusif. Dia memang engga langsung menjawab dengan jelas, namun perlahan saya memahami apa yang kami butuhkan untuk memperbaiki hubungan ini.

Saya juga berkonsultasi dengan orang-orang yang saya anggap lebih berpengalaman, seperti konsultan pernikahan mas Wahyu ‘Wepe’ Pramudya, dan sahabat-sahabat saya yang sudah menikah, terutama yang menikah sama WNA. 

Friday, February 17, 2017

A New Page on My Thesis

It’s all about your mindset. Cukup lama saya berjibaku dengan pikiran negatif saya tentang tesis. Tadinya saya pikir suatu hari akan ada ‘aha moment’ – semacam lampu yang tiba-tiba menyala di dekat kepala saya, lalu ide tentang tesis akan tertulis secara lancar.  Nyatanya, sampai akhir tahun 2016, saya tak kunjung mendapatkan ‘gong’ tersebut. Sampai dosen pembimbing saya mengadakan panggilan khusus dan memaksa para mahasiswa yang belum pernah mengumpulkan progress sama sekali untuk konsultasi. Termasuk saya.

Jumlah teman sekelas yang tidak banyak, membuat kami mengetahui apa yang terjadi dengan tesis semua mahasiswa sekelas. Kami pun kerap curhat, padahal yang dibahas itu-itu aja. Jadilah ada kesepakatan kalau di grup WhatsApp engga boleh bahas tesis. Kalau ada yang ngomongin tesis, artinya dia ‘ngomong jorok’. LOL.

Hingga minggu lalu, sebenarnya pikiran saya masih kemana-mana. Baca, ngetik, baca, ngetik; tapi ada perasaan yang kurang sreg. Satu hal yang sering mengganjal adalah dosen pembimbing. Sejak awal beliau bilang kurang begitu menguasai tentang komunikasi pemasaran. Saya pun sempat ilfil sama beliau, ups. Namun, setelah berkali-kali diingatkan oleh teman-teman sekelas, saya kemudian menyadari bahwa saya sangat beruntung.

Dosen pembimbing saya memang cukup sibuk (who doesn’t?), tapi beliau sangat perhatian dan komunikatif. Dalam artian, beliau mudah dihubungi dan siap sedia merespon pertanyaan kami lewat WhatsApp. Beliau bahkan membuat grup WhatsApp untuk mahasiswa bimbingannya, dan memiliki jadwal bimbingan yang jelas. Kebetulan tanggung jawab beliau di luar mengajar masih berkisar di seputaran administrasi Jurusan Ilmu Komunikasi dan FISIPOL UGM. Beliau tentu masih punya aktivitas di luar kampus, tapi engga sesibuk dosen-dosen lain. Alhamdulillah banget deh pokoknya.

Saya jadi ingat zaman saya magang dan skripsi waktu S1. Dosen penguji laporan magang saya adalah seseorang yang luar biasa teliti. Saya sempat sebal karena beliau suka mempermasalahkan hal-hal yang menurut saya remeh. Nyatanya, bertahun-tahun berikutnya, saya justru mengikuti jejak beliau dengan menjadi editor di ZettaMedia. Ajaran beliau waktu itu banyak saya aplikasikan pada pekerjaan saya. She taught me so much about writing perfectly. Karena beliau, mata saya jadi ‘sakit’ kalau melihat susunan kalimat yang kacau, atau salah ketik yang teramat banyak. And it is good, very good. Right?

Saat skripsi, tantangannya berbeda. Dosen pembimbing saya baru pulang sekolah dari Belanda dan beliau sangat bersemangat membantu saya. Pada saat pengerjaan skripsi itu, saya berdarah-darah untuk bisa memenuhi ekspektasi yang sangat tinggi. Dosen pembimbing kedua dari Jurusan Psikologi juga punya harapannya sendiri. Namun begitu, skripsi saya menjadi sempurna. I never thought that I can write that great, and I am proud of it. Bukan hanya saya yang mengatakannya, tapi setiap orang yang membaca skripsi saya pasti akan memuji kedalaman penelitian itu – terutama untuk ukuran skripsi.

Melalui proses seperti itu beberapa tahun yang lalu, menjadi refleksi bahwa seberat apapun hari-hari ini, this too shall pass. At the end of the day, I will smile. Saya akan mengenakan toga, berpanas-panas antri di dalam Grha Sabha Pramana, bersalaman dengan rektor (atau cuma dekan? – engga apa-apa juga, bapak dekan FISIPOL ganteng banget lho), and I will make my parents proud of me. AND I WILL MAKE IT ON THIS SEMESTER! #PrimaWisudaJuli2017!!!!!

Salam pejuang tesis,
Prima

Tuesday, February 14, 2017

Weekend Journal #7

So sorry for being late to post Weekend Journal. Akhir-akhir ini saya sedang engga mood blogging, padahal banyak yang pingin diceritain ke sister. Mungkin efek habis sakit kali. Makanya saya happy banget waktu tahu salah satu finalis World Muslimah Award 2014 dari Singapura, Masturah, main ke Yogyakarta. Ehhh, kok pas saya sakit :((( Jadilah kami hanya main bareng selama satu hari. Terus pagi ini saya down waktu ditinggal Masturah ke airport pagi buta, hiks. Masuk masa seminggu sebelum datang bulan alias PMS memang menyesakkan dada. Argh kesel kesel kesel, engga salah kalau kapan hari saya nulis artikel berjudul: Pasti Ada Alasan Mengapa Tuhan Menciptakan Saya Begitu Perasa.

Oh ya, alhamdulillah saya sudah jauh lebih baik. Sebenarnya hari Selasa lalu saya divonis dokter harus masuk rumah sakit karena positif demam berdarah dan kondisi saya semakin memburuk. Malamnya, saya naik motor sendiri (ditemani roommate) ke rumah sakit dekat rumah, tapi ternyata kamarnya penuh. Udah berasa hotel di Prawirotaman aja pakai penuh segala. Ya sudah, Rabu-Jumat saya istirahat di rumah lagi, sampai bosaaaaan. Lalu Jumat sore saya cek lab dan trombosit saya sudah meningkat pesat. Yay!!!

Sakit selama 10 hari jelas membuat mood saya turun drastis. Pokoknya baper, tidak bersemangat, serba salah juga. Badan masih lemas, mau ngapa-ngapain yang berat sedikit eh capek. Namun beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar seorang sahabat saya divonis lupus. Belum lagi minggu waktu saya sakit itu, saya mengetahui seorang kenalan saya divonis kanker. Hati saya mencelos. Saya jarang sekali sakit parah, bahkan seingat saya, terakhir kali saya ambil darah – itupun untuk medical check up – adalah pada masa World Muslimah Award 2014. Mendengar tentang kabar dua orang ini membuat saya banyak ‘bersyukur’ bahwa Allah masih berkenan mengingatkan saya untuk mengambil rehat dan merenung. Apa ini waktu yang tepat untuk membuat Happiness Project lagi? Mengingat sejak awal tahun, cukup banyak badai yang menghantam biduk kehidupan saya. LOL, drama abis.

Saya minta maaf kalau pagi-pagi sister harus membaca cerita saya yang sedang pesimis. I do feel like I have to find some strength to rise up and move forward. Thankfully I had Masturah came and reminded me that life can be beautiful whatever it gives you. Ngelihat cerita hidup kami berdua, engga heran kalau kami dapat gelar Inspiring Muslimah dulu, hihihi. Semoga siapapun yang membaca ini mendapatkan semangat yang dibutuhkan untuk bangkit:
“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” [Q.S. Ali Imran (3): 190] – (ayat ini diulang sebanyak 16 kali di dalam Al-Qur’an) 

Have a nice day,
Prima

Thursday, February 9, 2017

What If

Aku tahu ini hari Selasa, dan aku tahu kita berjanji hanya bicara pada akhir pekan. Namun pesanmu tak kunjung datang. Bukannya aku mengharapkannya. Iyaaa, aku berharap kamu melihat post-ku di Facebook, bahwa aku sakit demam berdarah, dan kamu akan mengucapkan “semoga cepat sembuh.” Tapi sudah enam hari sejak kita terakhir bicara, jadi aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menunggu agak petang, memastikan kamu sudah pulang kantor. “Aku sakit demam berdarah,” dan supaya tidak terlalu terkesan egois, aku menambahkan, “jaga dirimu baik-baik.”

Kalau suka kenapa gengsi?
Kalau kangen kenapa menahan diri?

Karena aku benci melihat kita saat ini. Kita yang berminggu-minggu lalu bisa berbicara setiap hari, tak peduli aku harus menahan posisi sampai leher pegal demi tidak kehilangan sinyal. Kita yang sekarang, entahlah... apa yang sedang terjadi? Mungkinkah kita sama-sama kehilangan optimisme? Delapan bulan memang bukan waktu yang singkat, tapi ingin aku percaya bahwa delapan bulan juga bukan waktu yang lama. Seandainya kita mau saling menunggu.

Akan tetapi, aku tidak bisa menunggu dalam diam. Aku ingin tahu apakah aku menunggu seseorang yang juga menungguku. Ataukah ini akan berujung pada kesia-siaan?

Tolong, beri tahu aku. 

"What if I had never let you go
Would you be the man I used to know
If I'd stayed
If you'd tried
If we could only turn back time
But I guess we'll never know"
[What If - Kate Winslet] 

Mulai Hari Ini, Aku Akan Berhenti...

Dear M,

Hari ini seharusnya hari kedua Pos Cinta. Sebenarnya tak patut aku mengatakan sakit demam berdarah yang sudah menjangkitiku sejak minggu lalu, menjadi penyebab aku terlambat mengikuti Pos Cinta ini. Allah pasti punya skenario lain, mengapa Dia membuatku sakit pada masa-masa yang cukup krusial. Tesisku sudah terlambat beberapa bulan, tak apalah jika ditunda barang satu-dua minggu lagi. Sementara temanku yang datang dari Singapura besok, dia petualang sejati. Dia pasti (dan sudah) menemukan cara untuk menikmati Yogyakarta sendiri.

Namun entah mengapa masa sakitku ini membuatku berpikir tentangmu. Tentang kita berdua.

Sedikit-banyak aku merasa sakitku ini disebabkan oleh ketidakpedulianmu akan rumah yang kamu tempati saat ini. Rumah tempatku (terpaksa) menghabiskan beberapa hari dalam seminggu dalam rangka ‘pulang kampung’. Kamu justru menyalahkan aku akan serangkaian kejadian di rumah itu. Ingin aku berteriak, “meneketehe?” karena aku memang tidak selalu berada disana. Namun aku paham, kamu hanya mencari kambing hitam. And it’s me, the one who will be your black sheep. Not only in the past, but also now, although I have been away.

Nyatanya, Jogja masih cukup dekat dari jangkauanmu. Kamu masih terus saja merongrongku. Kamu masih perlahan menghancurkan jiwaku. Kepercayaan diriku. Impianku. Kamu yang selalu mengatakan aku tidak cukup baik untuk apapun yang aku kerjakan. Aku membawakanmu nilai delapan, kamu marah, “seharusnya kamu bisa dapat sepuluh”, katamu. Bertahun-tahun kemudian, aku siap ‘menetas’, perkataanmu berubah lagi. “Kalau kamu pergi dari rumah, kamu bukan anak berbakti.” Aku mengkerut. Aku lupakan pekerjaan menarik di ibu kota. “Aku tidak bahagia disini,” aku pernah mengemis kesempatan untuk menjejak dunia luar. Kamu marah bukan kepalang. Aku pun menutup diri. Aku tak pernah lagi ingin membuka mulutku di hadapanmu, karena kamu pasti tak memberi izin.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah peluang bagus datang kepadaku. Aku mengambilnya tanpa berpikir dua kali. Aku berangkat ke Jogja. Isakanmu tak kupedulikan. Kamu pun sadar diri. Situasi finansial keluarga kita yang sedang carut-marut tak memberimu banyak pilihan. Dua tahun kemudian, aku kembali tercengang. Kamu masih seperti yang dulu, bahkan lebih buruk. Kamu menimpakan semua kesialan hidupmu kepadaku. Seseorang yang usianya tak ada separuh darimu. Saat aku berusaha untuk bangkit, kini aku melihatmu sebagai seorang yang tak rela melihatku lebih berhasil darimu.

Mengapa?
“Sini Ibu peluk. Kamu anak yang baik. Pasti ada alasan mengapa Allah mempercayakan ujian hidup ini kepadamu.” Entah karena kekesalan yang menumpuk, atau karena perasaanku lebih sensitif karena sakit ini. Aku menemukan diriku mencurahkan perasaan kepada seorang ibu yang duduk di sampingku di klinik. Seorang ibu yang dua anaknya sedang bersekolah di luar negeri. Seorang ibu yang memberikan kepercayaan penuh pada kedua anaknya, bahwa mereka bisa menggapai apapun yang mereka inginkan. Wow, berbeda sekali denganmu, M. Teringat ejekanmu, atau seringaimu, yang seolah-olah mengatakan, “kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun di hidupmu.”

Mengapa, M?

Padahal yang ada di pikiranku, jika aku sukses, aku akan bisa memperbaiki kehidupan kita. Membawamu pergi dari rumah tak layak itu, mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Karena kamu pantas menerimanya.

Namun begitu, pertemuanku dengan sang ibu di klinik mengingatkan diriku bahwa hidupku, tanggung jawabku. Mulai saat ini, aku akan berhenti meminta izin kepadamu, M. Mulai saat ini, aku akan melakukan apa saja yang aku mau, selama tidak melanggar hukum negara dan hukum agama. One day when I am happy, you will be happy with me too. Hopefully.

Lots of love,
Prima

Monday, February 6, 2017

Weekend Journal #6

I was very very sick for the last five days. Nyebelin, kan? Padahal seminggu yang lalu saya ‘berpesan’ kepada sister untuk menjaga kesehatan. Ternyata saya sendiri tepar, sebenar-benarnya tepar.

I am not superwoman. Jadi engga usah komen, “masa Prima bisa sakit?” To be honest, menurut jurnal yang saya tuliskan, saya sakit hampir setiap bulan. Normal lah, flu ringan atau migrain. Gini belum kerja di Jakarta lho, ckckck. Tapi yang kemarin ini benar-benar di luar prediksi. 

Saya kembali dari Surabaya hari Selasa sore. Malamnya Jogja diguyur hujan teramat deras sehingga saya harus meringkuk sendirian di rumah (niatnya nginep kos teman). Rabu pagi saya lupa ngapain tapi badan mulai engga enak. Kok menggigil padahal dingin banget juga engga. Kamis pagi suhu badan semakin meninggi, sampai 39,5 derajat dan jalan kliyengan. Sholat pun duduk. Sisanya tiduran terus di kamar. Engga bisa makan karena (maaf) muntah-muntah. Udah mulai engga sanggup lihat handphone atau laptop.

Jum’at pagi tiba-tiba keadaan saya membaik. Alhamdulillah banget, karena saya sudah janji akan bertugas di event Japan Tobacco International. Engga sebagai SPG sih – lagian siapa yang mau nge-hire saya jadi SPG, hahaha – tapi sebagai fasilitator buat acara semacam Amazing Race. Kegiatannya selesai sebelum jum’atan, dan sesudah itu saya langsung ngibrit ke dokter. Diagnosanya antara gejala tipes atau DB :(((

Jadilah saya menghabiskan sepanjang akhir pekan di tempat tidur (lagi). Sampai tadi pagi. Dengan kekuatan bulan dari Yang Maha Kuasa, saya pergi lagi ke klinik untuk ambil darah dan tes lab. Hasilnya sih baru bisa dilihat besok, mohon doanya ya, semoga saya sudah sembuh sepenuhnya.

[Sekarang saya mau kembali ke tempat tidur lagi karena masih agak pusing.]

Take care,
Prima 

Wednesday, February 1, 2017

Pro Kontra Remote Working

Hari ini tepat seminggu saya break syuting kerja dari ZettaMedia. Huhuhu. Sedih banget sih, tapi saya memang kurang fokus dan sulit mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang sama. Seharusnya bisa, seharusnya. Saya sempat mencoba untuk mengerjakan tesis di pagi hari dan malam hari, lalu bekerja pada jam09.00-17.00. Tapi seringnya saya sudah lelah, sementara akhir pekan dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan lain – kadang juga bekerja (bikin #LifeGoals, meeting sama tim penulis, atau kerjaan freelance lain). Saya pun masih punya ‘kehidupan orang biasa’ seperti mencuci baju, menyapu rumah, hahahahaha. Kadang saya berharap orang rumah mau lebih memahami dan berbagi masalah pekerjaan rumah ini, tapi ya sudahlah. Jangan dijadikan beban. Oh ya, kalau lagi mengeluh begini, saya suka membandingkan diri dengan orang-orang lain yang lebih sukses tapi juga lebih banyak yang harus dikerjakan. So please Prima, no more excuses!!!

Beberapa minggu terakhir sebelum break, saya ‘numpang’ kerja di kantor tante saya. Sebenarnya saya pernah bekerja di kantor tersebut. Status saya sebagai mahasiswa (iya, masih mahasiswa) juga memungkinkan saya untuk keluar-masuk dan menggunakan fasilitas dengan bebas. Awalnya sih ngerasa karena di rumah selalu terdistraksi. Sepupu atau nenek nonton TV; sedikit-sedikit saya pingin ngeberesin tumpukan piring kotor atau ngebersihin rumah (emak-emak banget); atau diajak ngobrol sama teman sekamar yang menjalankan bisnis dari rumah. Huh, kalau gini ceritanya, pekerjaan engga kelar.

Tadinya saya sempat bersyukur mendapatkan pekerjaan yang bisa saya kerjakan dari rumah. Iyalah bersyukur banget, engga harus berjibaku dengan kemacetan setiap harinya. Trauma sama yang namanya kerja di Surabaya, jarak rumah-kantor 19 km = 70 menit. Pulang-pergi, jadi sekitar 140 menit setiap hari, dikali 25 hari. Punggung rasanya cuklek. Makanya saya masih ngeri kalau ditawari kerja di Jakarta. OH NOOO, pulangkan saja aku pada ibuku.

Kemacetan ini implikasinya banyak, terutama ketika sampai di kantor, kita engga bisa langsung kerja. Bahkan saya pernah mencanangkan program mandi di kantor, soalnya gerah selama di jalan. Untungnya kantor saya waktu itu menerapkan kamar mandi terpisah antara laki-laki dan perempuan. Habis mandi, sarapan dulu. Walaupun udah sarapan di rumah, tapi sampai kantor udah lapar lagi. Habis makan, terbitlah ngantuk dan BYE BYE pekerjaan. Engga deng, bercanda.

Awalnya, ketika bos mengetahui hal ini, beliau menawarkan untuk kami – para tim marketing, mengecek dan mengirim email pekerjaan dari rumah. Jadi kami bisa datang sedikit lebih terlambat, lalu mengerjakan hal-hal yang perlu, seperti berdiskusi dengan tim dan sebagainya. Sempat ada wacana untuk full bekerja dari rumah, tapi kami menolak karena diskusi dengan tim susah dilakukan jika tidak ketemu...dan koneksi internet di kantor jauh lebih cepat. Jadi bisa sambil download atau browsing gitu :p

Lalu saya resign, dan memulai babak baru kehidupan sebagai mahasiswa/freelancer. Tahun 2015, saya jarang sekali pegang laptop kecuali urusan kuliah. Pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan, hampir semuanya menuntut saya untuk ketemu orang, bahkan keluar kota. Sleman-Gunung Kidul hitungannya keluar kota kan? :)))

Barulah tahun 2016 saya kembali bekerja dengan ritme yang relatif teratur. Saya menyisihkan empat hari bekerja full dari pagi sampai malam, lalu tiga hari untuk urusan perkuliahan dan lain-lain. Tempat bekerja saya pun pindah-pindah. Kadang di rumah berbekal modem WiFi. Kadang di kafe (cieh – padahal sekali beli es teh, tinggalnya empat jam, LOL). Kadang di kampus, nebeng WiFi kampus. Mungkin karena sering berpindah tempat, saya engga merasa bosan. Tapi setelah beberapa waktu terakhir kerjanya di kampus terus, baru deh terasa jenuh *masukkan lagu Rio Febrian disini*

Kemarin saya sempat baca sebuah artikel yang mengulas tentang kebijakan kantor non-kubikel. Jenis kantor seperti ini memang lagi laris terutama di dunia start-up. Kantor saya dulu yang studio animasi (bagian ilustrator dan animator) juga menerapkan hal ini. Namun saya sendiri kurang begitu merasakannya karena saya dan rekan tim marketing dikumpulkan dalam satu ruangan tersendiri. Saya dan rekan tim marketing juga lumayan tertib. Kalau ngobrol paling berhubungan sama pekerjaan, atau sekalian menjelang dan sesudah jam makan siang. Jadi engga merasakan gangguan konsentrasi. Kembali lagi ke atas, saya justru merasa susah fokus ketika baru tiba di kantor karena macet endebre endebre.

Yang menarik dari artikel itu, penulis menyebutkan bahwa pekerja yang bekerja dari rumah atau remote working mengalami peningkatan produktivitas. Kok bisa? Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa kelebihan bekerja dari rumah yang perlu saya rangkum lagi, yaitu:

1. Tidak perlu berjibaku dengan kemacetan pada pagi atau sore hari.
2. Bisa bekerja dimana saja – selama anggaran memungkinkan dan fasilitas mencukupi.
3. Bisa menentukan jadwal atau ritme bekerja – selama bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. Mau kerja pagi atau malam hari, lalu siang mau nongkrong cantik (atau dalam kasus saya, ke kampus dan nungguin dosen pembimbing sampai lumutan), bebas.
4. Sejalan dengan poin nomer 3, bisa memaksimalkan waktu bekerja dan mengoptimalkan waktu luang.
5. Efisiensi ongkos pekerjaan dan penghasilan. Maksudnya gini, sister menerima gaji sebesar X tapi dikurangi ongkos bensin atau angkot dan lain-lain – dibandingkan dengan gaji sebesar X-1 tapi hanya dikurangi ongkos internet atau WiFi. Ada yang merasa lebih ‘untung’ dengan alternatif kedua.

Namun begitu, dengan segala kelebihannya, remote worker bukannya tidak merasakan tantangan. Misalnya sebagai berikut:
1. Konektivitas Internet – mungkin ini hanya masalah saya pribadi. Sepanjang setahun saya bekerja dengan dua perusahaan di Jakarta, atasan saya sering mengeluhkan tentang hal ini. Habis gimana, rumah saya di gunung dan kami hampir tidak punya alternatif untuk Internet fiber optic. Masih bisa kerja pakai modem: nulis, ngedit, download/upload kerjaan, tapi tidak bisa lebih dari itu. Mau Skype-an? Harus ‘turun gunung’ dulu.
2. Produktivitas selalu akan jadi tantangan untuk remote worker, terutama buat sister yang angka produktivitasnya agak susah dihitung. Sejak dulu di studio animasi, saya sudah pakai Asana untuk mengevaluasi pekerjaan tim. Ada macam-macam website yang bisa digunakan untuk memantau produktivitas. Terutama karena remote worker tentu tidak bekerja berdasarkan jam kerja normal. Sistem evaluasi produktivitas harus menguntungkan kedua belah pihak, baik pekerja maupun perusahaan.
3. Komunikasi dengan rekan kerja. Ketika kita membahas hal ini, sebenarnya bukan hanya berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri. Saya juga pernah beberapa kali mengalami misunderstanding dengan orang kantor. Akan tetapi ada hal yang lebih krusial, manusia adalah makhluk sosial yang pastinya butuh berinteraksi. Ini yang paling berat buat saya karena saya engga punya teman ngobrol, apalagi pekerjaan saya menuntut saya harus terus update. Makanya, coworking space menjamur dimana-mana untuk memfasilitasi diskusi dan kerjasama bagi para single worker. 

Sementara saya menyelesaikan tesis, ada kemungkinan saya masih akan menjadi remote worker sampai bulan Ramadhan atau bahkan Idul Fitri. Sesudah itu, saya rasa saya mau kerja di kantor aja deh. Mungkin juga udah kelamaan sih, berarti saya ‘break’ dari kantor hampir 3 tahun-an sejak November 2014. I can’t waaaaait to have lunch with office mates, getting through the traffic jam, and weekly meeting please!

Kalau menurut sister, lebih enak remote working atau bekerja di kantor?

Lots of love,
Prima

Monday, January 30, 2017

NOT A Book Review: Tigress – Ayu Meutia


Sekitar bulan November, saya mendapat kiriman buku dari Ayu Meutia (Instagram: (at)adjoemoetia). Why did it takes me too long to write about her book on my blog? Karena saking sukanya sama buku ini, saya bawa buku ini kemana-mana, menandai kalimat-kalimat yang menyentuh, sampai bukunya lecek! Maafkan saya, Ayu~ :(((

Nah, setahun yang lalu, saya juga menulis post tentang buku puisinya Kak Ochie. Berbeda dengan bukunya Kak Ochie yang berisi satu cerita, buku Tigress berisi 52 puisi – pendek dan panjang. Setiap kali membaca buku puisi, saya jadi teringat akan masa kecil. Dulu, saya mengawali kiprah saya di bidang menulis dengan mengikuti kompetisi menulis atau membaca puisi. Cuma saya jarang menang karena puisi saya seringnya panjaaang, ya udah saya ‘pindah’ kategori: bikin essay aja sekalian. Makanya sukanya yang panjang-panjang. Astaghfirullah, apa itu?

Anyway, Ayu Meutia adalah orang yang paling berjasa karena memperkenalkan posisi volunteer Ubud Writers & Readers Festival kepada saya. Kalau tahun 2013 dia engga pinjam mukenah saya, saya engga akan jadi MC di festival literasi terbesar se-Asia Tenggara ini. Hihihihihi.

Selain bekerja di sebuah creative agency, Ayu secara rutin mengadakan ‘acara baca puisi’ bertajuk Unmasked. Kalau dilihat dari pemberitaan di media, atau kesan orang-orang yang sudah pernah menghadiri Unmasked, acara ini keren banget banget. Seingat saya, tahun 2014 dan 2015, Ayu juga meramaikan poetry slam di UWRF. Meskipun saya engga sempat menontonnya (karena selalu full house), saya percaya Ayu pasti sudah sangat jago dalam masalah per-puisi-an. That’s why, ketika dia akhirnya mengisi sesi Book Launch di UWRF dan merilis buku puisinya, Tigress, saya senang sekali mendengarnya. (Plus nyesel karena engga bisa datang dan memberikan dukungan)

Buku Tigress ini terbagi dalam empat ‘bab’: “Wounds of Taming”, “Roar From Within”, “Tenderness That Cuts”, dan “From The Bones”.

Bagian yang paling saya suka jelas “Tenderness That Cuts” yang berisi puisi-puisi romantis tentang rindu atau bertepuk sebelah tangan. Coba baca kutipan-kutipan ini:


Although, it scares me enough
To know
That there are warmer graces you will meet along your journey
I still hope that I am not just another face you know
“Unsolicited”

Then,
I need no reason
To explain why am I jumping on the wagon
To the next town
To tell you
How much
I miss you.
“Uncountable Reasons”


Biarkan pasangan itu bercumbu mesra di bawah lampu temaram. Bodo amat, soal mantan yang naik pelaminan. Untuk sementara, aku mau berhenti mengemis romansa, aku mau berlari kemana mata angin membawa, meniupku hidup dalam rangkaian cerita.
“Love Letter #564”


Udah mau garuk-garuk aspal karena baper? :)))

Engga hanya puisi-puisi yang berpotensi bikin kamu nelepon mantan pacar dan ngemis minta balikan (seperti yang hampir saya pertimbangkan), banyak puisi Ayu yang membuat saya merenungkan tentang eksistensi diri di antara hiruk-pikuk aktivitas. Terlalu sibuk mengais rupiah kadang membuat kita lupa, untuk apa kita dihadirkan di dunia ini? Puisi-puisi Ayu sanggup memaksa saya berpikir tentang hal-hal ini.

Misalnya “Jakarta: A Love Story”, puisi sepanjang tiga halaman yang sedikit-banyak dirasakan oleh para perantau, ‘I do not wish to call this city a home, but I have to.’ Atau “Playboy City” yang menggambarkan Jakarta seperti gebetan – yang terlalu sayang kalau dilepaskan, tapi cinta pun sebenarnya engga. Read this: ‘Because both of us are gripping tight into each other/ so cowardly/ not expecting an exit.’ Yu, semoga interpretasiku benar ya. LOL.

Sementara “Settle Down” juga masih saya ambil dari bab 1: “Wounds of Taming”, adalah puisi sepanjang empat halaman yang menceritakan betapa kita saat ini hidup untuk memenuhi pengharapan orang lain. Bahkan lebih miris, hidup untuk menampilkan yang baik-baik saja di hadapan publik atau media sosial.

Maybe I should blame the city.
-for its fast entertainment
-a constructed self-imagery that tends to appear on our smartphone.
...
Like metaphor, they want me to conceal my weakness
And accentuate my strength
Or even fake some,
Construct a new identity that will fit
The right ideal
To be loved

Enam puisi memang belum bisa menggambarkan betapa bagusnya buku ini. I admire Ayu much more after reading the book, and I found this book brought us closer as we started to open more about ourselves to each other. So this book is not merely a book – or collection of poems. It’s your guide for life. To embrace every blessing that you have. To be more sympathetic towards the differences. To appreciate yourself as a human being, specifically to be proud of being a woman.

Jadi, kalau kamu sedang butuh buku bacaan yang akan membuatmu lebih menghargai hidup, why don’t you contact Ayu directly to ask more about the book?

Lots of love,
Prima

Sunday, January 29, 2017

Weekend Journal #5

Should post it tonight because tomorrow I have a lot of appointments. Halah.

Guess where am I now? I am in Surabaya, unexpectedly. Iya, tadinya saya sudah ‘pamitan’ ke orangtua saya untuk tidak pulang kampung sampai lulus. Soalnya gimana ya, mudik itu engga hanya berat di ongkos, tapi sebagai anak pertama saya pasti ‘dimiskinkan secara paksa’ oleh adik-adik saya. *nangis di pojokan*

Tapi namanya mama dan adik kalau sudah kangen ada aja rayuan mautnya. Ceritanya adik saya tipes dari minggu lalu. Saya kira dia bedrest di rumah sakit, ternyata di rumah. Mungkin mama saya kecapekan menjaganya, sehingga mama saya ambruk dan harus diinfus. Pelajaran berharga, buat sister yang sedang menjaga anggota keluarga di rumah/rumah sakit: makan teratur, minum suplemen, dan jangan sampai dehidrasi. Rasanya hal ini lazim terjadi ya. Yang sakit lumayan baikan, yang ngejaga gantian sakit.

Saya pun pulang pada hari Jumat. Sampai Surabaya, mama dan adik udah cengengesan tuh -___-
Karena sudah telanjur beli tiket balik Jogja hari Selasa, ya sudah mari kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Salah satunya, mematangkan business plan bareng Adis. Kebetulan, dua partner bisnis saya namanya sama-sama Adis, tapi mereka engga saling kenal, hihi. Malam minggu, tahun baru Imlek, saya dan Adis C (satunya Adis S) nongkrong di sebuah kafe di bilangan Klampis. Hujan turun dengan syahdunya, bikin suasana semakin romantis. Apalagi saya sempat lihat mantan pacar pas SMP. Langsung pura-pura lihat ke arah lain deh, padahal dia duduk tepat di samping saya. Kayaknya dia engga ingat sama saya. Zzz.

Namanya ciwi-ciwi ngumpul, meeting dari jam setengah lima sampai jam setengah delapan! :p Itupun kalau engga diberhentikan, mungkin bisa sampai subuh. Nice to talk with you, Adis! Hopefully bisnis kami segera launching dalam hitungan beberapa minggu kedepan.

Tadi pagi saya baru sadar kalau saya engga menulis blog post selama seminggu yang lalu, soalnya saya memang fokus menyelesaikan pekerjaan di ZettaMedia. Alhamdulillah sekarang status saya resmi jadi pengangguran – alias kembali ke status sesungguhnya: mahasiswa! Yang tadinya mau ngebut ngerjain tesis, seminggu kedepan masih akan mondar-mandir sama pekerjaan freelance. Kalau di atas kertas, per tanggal 4 Februari saya akan STOP terima pekerjaan apapun kecuali akhir pekan. Lah kok masih ada ‘kecuali’, kamu serius ngerjain tesis atau engga sih? Nah itu dia. Di sisi lain, saya seharusnya bersyukur, namanya networking yang sudah dibina sekian lama selalu mendatangkan tawaran pekerjaan. Kadang sudah saya alihkan ke kenalan saya, mereka tetap maunya saya yang kerja dengan mereka. Gimana dong? Atau saya sebaiknya menyerahkan tesis saya ke jasa pengerjaan tesis? Hmmm, ide bagus *dikeplak orangtua*

Anyway, hari ini saya sempat menulis tiga blog post, dan satu tulisan buat guestblogging di blognya Ika. Tulisan-tulisan ini sebenarnya sudah lama ada di pikiran saya. Lalu ada beberapa topik lagi yang masih jadi PR, seperti review film La La Land yang saya tonton sendiri (bareng orang satu bioskop) pada hari Kamis lalu. Atau tentang ‘dua anak cukup’ yang sempat jadi perdebatan hangat di status Facebook saya.

Oh ya, buat yang nanya kabar (hati) saya, alhamdulillah saya sudah baikan. Terutama diri saya pribadi, kalau hubungan saya dan si ganteng dari Asia Selatan belum tahu juga. Jalan masih panjang, dan masih banyak ikan di laut pula. Santai sajaaa. Kalau jodoh engga akan lari kemana, betul? Ini juga perlu saya tuliskan menjadi satu blog post tersendiri, supaya jadi pelajaran buat sister yang pingin nyobain online dating juga :)))

In conclusion, you can make your plans, but still Allah knows best. Semoga pekan ini menyenangkan, keep fighting for you who still work. Hore, saya bisa bangun siang lagi! :)))

Lots of love,
Prima

Monday, January 23, 2017

Weekend Journal #4

Wuah, baru weekend keempat dan saya sudah nge-drop. Hahaha. Buat sister yang mengenal saya dengan baik, saya biasanya melakukan dua hal saat sedang sedih: menangis sepuasnya, atau nyari teman yang bisa bikin saya ketawa. And I will laugh out loud like there is nothing happen. Suatu hari, saya lagi ketawa ngakak sama teman-teman sekelas, dan salah satu teman nyeletuk, ‘mbak prima lagi sedih? Kok ketawanya puas banget.’ YEEE ngapain pake diingetin segala *timpuk si teman

Minggu lalu adalah minggu yang berat. Soalnya setelah beberapa lama (sepertinya terakhir tahun 2015), saya mulai menyukai seseorang lagi. Saat saya sedang menulis ini, saya hanya bisa mengingat hal-hal jelek dari dia, mikirin kenapa dia bisa begitu jahat sama saya, dan segala perdebatan kami. Bahkan saya jadi kepikiran, ‘kayaknya dari awal aku udah engga sreg sama dia.’ Tapi saya paksakan karena dia ganteng (yaelah). Selain itu, saya rasa koneksi di antara kami sangat kuat sehingga saya berharap apapun permasalahan yang mungkin timbul, kami akan bisa melaluinya.

Naaah, that’s the thing! Minggu kemarin saya belajar suatu pola yang cukup menyeramkan dari diri saya. Saya sering terburu-buru dalam memutuskan sesuatu!!! Ditambah lagi saya orang yang plin-plan dan ceplas-ceplos, jadilah kadang efek yang terjadi itu buruk banget. Oya, satu lagi, saya orang yang emosional. I feel like a monster now saying this about myself. 

"And man supplicates for evil as he supplicates for good, and man is ever hasty."
["Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa."]
Q.S. Al-Isra' (17): 11

Sebenarnya saya punya alasan saya sendiri. Karena saya orangnya perfeksionis, overthinker, dan kadang sering lambat dalam memberikan keputusan, saya berusaha mengubah hal ini. Sayangnya dalam beberapa situasi tertentu, hasilnya bisa ekstrem. Salah satunya, yang terjadi antara saya dengan si ganteng dari Asia Selatan ini (sebut saja begitu).

Fast forward ke akhir pekan, hari Sabtu pagi saya sudah kalang kabut. Saya mau kemana nih, lebih tepatnya ‘mau mengusir dia dari pikiran saya dengan cara apa?’ Jumat sore saya sudah sangat terhibur dengan zumba, senang banget deh. Tapi berhubung kami janjian untuk ngobrol hari Sabtu, duh saya harus mengalihkan perhatian supaya engga terus-terusan ngecek hp. Saya pun ke perpustakaan kampus dan berencana untuk bekerja. Engga tahunya, saya dapet dan langsung lemesssss. Saya menyempatkan manicure dan mewarnai kuku (sambil curhat habis-habisan ke terapisnya), lalu sampai rumah langsung tepar. Tapi karena sudah diniatkan, saya masih bisa bikin blog post untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke sahabat saya (walaupun terlambat sehari juga).

Hari berikutnya, saya pergi ke Pantai Drini bersama mbak Zeetha dan rombongan dari DM Fitness untuk...zumba on the beach! Sebenarnya zumbanya cuma enam atau tujuh lagu, itupun hanya goyang-goyang dikit secara di pantai, mau berdiri tegak aja susah kan. Saya jadi ngebayangin gimana rasanya main voli pantai. Voli bukan pantai aja saya gagal mulu, apalagi di pantai, bisa dipecat dari tim. Zzz.

Berhubung saya engga kenal banyak orang, saya pun jalan-jalan sama mbak Zeetha and the gang, terus berpisah. Oh ya, saya kan lagi dapet, jadi engga bisa nyemplung. Tapi saya menikmati berjalan ‘di bawah’ Pulau Drini, mendekati laut...sampai dicariin sama rombongan karena dikira hilang di laut :))

No I didn’t mean to commit suicide. Saya hanya mencoba menelusuri kapan semuanya tiba-tiba menjadi berantakan. Saya salah, satu kali. Saya pikir hanya satu kali itu saja. Saya minta maaf. Dia memaafkan. Namun esoknya, saya sudah tidak bisa memungut hatinya yang telah berserakan dan mengumpulkannya menjadi suatu hal yang utuh. Dia sudah memalingkan hatinya dari saya.

Cieh. Drama banget. #ahzeeek

Sebenarnya, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Bahkan dengan cara saya menuliskannya di blog seperti ini, justru bisa memperkeruh suasana walaupun dia engga bisa bahasa Indonesia (kan bisa Google Translate – lah kenapa saya kasih ide?). Sekali lagi, saya berpikir dan mengambil kesimpulan terlalu cepat.

It’s another week and I will start another chapter of life, back as a freelancer (baca: pengangguran) once again. Yes, I took unpaid leave from my workplace for two months. Minggu depan insyaAllah saya akan kembali berkuliah – supaya saya engga ada alasan untuk engga ke kampus. Semoga minggu ini berjalan dengan baik, kalau ada masalah yaaaaa semoga saya diberi jalan untuk menyelesaikannya. Capek bok, nangis terus.

And you, yes you! I hope you are happy :)

Lots of love,
Prima

Saturday, January 21, 2017

Being a Mother is Amazing, Being a Woman is Much More


Kemarin pagi, saya mendadak harus pergi ke ATM, mengambil uang untuk bayar SPP (ya Allah, sedih kaleeeee). Saat keluar dari mini market, saya melihat seorang ibu dengan dua anak perempuannya – yang satu masih TK, dan adiknya masih balita. Lucu sekali melihat tingkah mereka yang begitu aktif. Hampir saja ibu mereka kewalahan.

Kadang, ketika hal-hal seperti ini terjadi, saya bisa merasakan seorang anak kecil memanggil saya ‘mommy’. Memeluk saya dengan erat, merajuk saat saya menolak membelikannya permen, namun tetiba mengatakan ‘mommy, I love you’ di akhir hari. Iya, si anak bakal saya ajak ngomong bahasa Inggris dari kecil soalnya bapaknya bule. Engga usah didebat, diaminin aja. Hehe.

Life isn’t easy for a 28-year old Indonesian woman. Dimana kebanyakan sahabat, rekan kerja, teman kuliah, sampai tetangga pun melepas masa lajang dan memiliki anak. Don’t get me wrong. I am so happy for them. I hope I will never ever judged them for how they treat their babies because after all, it’s not mine.

Namun sering juga saya berpikir, apa mungkin Allah melihat saya belum siap? Di sisi lain, positive thinking-nya adalah, Allah ingin saya mencapai sesuatu terlebih dahulu. Yang lebih besar, belum tentu. Lulus kuliah dalam empat semester aja saya gagal, mau mikirin perdamaian dunia. Heeehhh, nanti dulu.

Saat-saat seperti ini, I look up to one of my best friend. Saya pernah bertanya apakah dia iri dengan pencapaian saya, dia bilang iya. Sementara dia terus-menerus berbagi cerita tentang bagaimana suaminya sangat romantis. Lalu sekarang dia sedang menunggu kelahiran bayinya sambil membaca buku-buku parenting. Hampir tiga tahun pertemanan kami, dia sudah berubah begitu banyak. Sedangkan saya merasa ‘masih di sini-sini aja’.

Beberapa waktu yang lalu, saya mulai membayangkan seorang lelaki ini yang akan menjadi bapaknya anak-anak saya. Engga, saya belum cinta sama dia, ketemu aja belum pernah. Saya hanya berpikir demikian karena saya rasa orangnya asyik. Iya, pemikiran saya cetek banget. Tapi itu semua terjadi sebelum kami kemudian bertengkar hebat dan...entahlah.

To be honest, pertengkaran saya waktu itu didominasi perasaan saya yang engga karuan karena lagi PMS. Saya jadi marah-marah sama diri sendiri. Saya jadi benci menjadi perempuan. Kenapa saya harus merasakan penderitaan ini setiap bulan? Tahu sendiri kan, saat PMS, you can’t control what you say. Yang ada di pikiran apa, yang keluar dari mulut apa. Makanya saya sering lebih memilih mendekam sendiri di rumah biar engga kesenggol sama orang-orang. Although I know it’s not a solution karena biasanya justru bisa makin galau dan berpotensi untuk bunuh diri.

Lucunya, si lelaki ini sempat memberikan sebuah pernyataan yang hampir saja terdengar simpatik. Dia bilang gini, “makanya Allah selalu kasih perempuan waktu istirahat setiap bulan. Allah berikan ‘pekerjaan’ yang fokus kepada hal-hal yang sesuai dengan fitrah perempuan. Misal mengasuh anak, karena bagaimanapun karakter anak itu nurun dari ibunya.”

Sister kan engga tahu konteks pembicaraan kami, tapi pada akhirnya kami bertengkar karena cara dia mengatakan ini mengisyaratkan seolah-olah perempuan itu lemah banget. Padahal – saya merasa pekerjaan mengasuh anak itu sama sekali bukan pekerjaan ‘remeh’, tapi justru lebih besar daripada itu. Saya sadar bahwa ‘memiliki anak’ mungkin bukan tujuan semua perempuan di muka bumi ini. Namun saya kemudian sadar, bahwa apapun yang perempuan lakukan, it’s to raise a better generation.

Ya, menjadi (calon) ibu bukan hanya tentang belajar dari buku. Tapi juga tentang menjadi perempuan yang kuat, cerdas, mandiri, sabar – namun tetap menghargai dan menghormati pasangan.

And I learned it from you, dear Ocha. Terima kasih telah memberikan aku berbagai pelajaran hidup untuk menjadi perempuan yang seutuhnya – terlepas dari apapun statusku sekarang. Terima kasih telah membersamaiku dalam nasehat, doa, dan cerita-cerita konyol. Maaf, untuk sementara waktu aku belum bisa menuliskan pengalamanku dengan si mas bule di blogku seperti kamu minta :))) You will be a great mother, and always remember to keep being a good wife for your mas. He is lucky to have you and vice versa – so you have to show him ever single day that you are grateful to have him.

Lots of love,
Prima


***Tulisan-tulisan Ocha bisa dibaca disini.

Friday, January 20, 2017

Why We Argue?

Disclaimer: I write this solely to remind myself, to be more humble, to listen more to the people whom I care about, so that I don’t hurt them.

Ever since I had this blog, I have received a lot of comments, feedback, as well as critics. No matter how hard I try to be sincere and honest, somehow I still got ‘attacked’ for writing my OWN personal opinion, feeling, or experience. This is tough as my main purpose to write is to share some lessons to be learned, more often for myself.

As a communication graduate student, sometimes I feel like I failed everytime it happens. Why should I learn how to communicate until graduate school, if I keep making miscommunication with people surround me? Especially, people whom I love and care about.

The first principle of communication that I learned was to make recipient interpret the message as the communicator said. When I talk to you, do you get the same meaning as I do? If yes, that’s good. If no, we should work on it.

However, the more I learn communication,  the more I understand that this kind of situation is rarely achieved. It is happened in persuasive communication, when sellers sell something and the customers buy, or when you believe that Mario Teguh said the exact right thing despite what he has done. But after all, what if all communication is meant  to be persuasive?

Then, my mind wandering to the times when I was in high school and joined debate club. I really love that times! I really love arguing! I asked ‘why’ to every little things, and sometimes it becomes annoying to my mom or my friends. But my debate instructor and teammates thought it was great. We seeked the meaning of something and we tried to defend it. Only years after I left the debate stages, I found some deeper reasons why we – sometimes – have to argue.

It started with one thing: that we ARE different.
Me, my mom, my dad, my sisters, my brother, my ex-boyfriend(s), my boss(es). Everyone has different mind about many things. Even when you have twin, both of you can be just as different as you and your neighbors. We supposed to comprehend about this, so that we can think and feel what we want to say, right before we say it.

Second: argument is basically not bad, as it gives us the whole perspective about something.
We can’t be right about EVERYTHING. Sometimes we know a thing better than somebody else, sometimes we are just clueless like somebody else. We need to argue so that we know that there are some other things outside our narrow mind. Why I say ‘narrow’? As I said, our knowledge is limited, and like it or not, I think it is made on purpose by God so that we need other people to help us gaining our knowledge. All those years of debating, I learn to listen and accept that I might be wrong about something. I was taught to open my mouth only if I know the senses, or have prepared the logic behind my opinion. If my lines aren’t strong, I will be lose.

Third: most likely, we debate because we care about others’ opinion.
I personally think that if I care about somebody, I want to know his/her thought. I want him/her to open his feeling towards me. If I don’t care, I can just walk away and go. But I want to understand you, that’s why I debated you.
You may agree or disagree. There are some people who thinks like this “if you trust me, you won’t questioning me.” But after all, if you trust me, you will appreciate that I have mind and feeling. I am not a dead body. Although I do believe that there are some things that meant to be solved by one person and this person needs trust from everybody. Such as, when you are in a ship, you have to fully trust the helmsman, right. 

As I grow older and getting more subjects in communication, I learned a new thing: that communication meant to be the bridge for the differences. My favorite subject is intercultural communication and it’s a challenging subject, even for me who have friends from all over the world (cieh). And in this subject, the main principle is: never assume. As something that happened in your position, might be applied differently in other parts of the world. It’s not bad or good, it’s just some differences we have to embrace.

So, what’s the relation between all of this lecture and why do I have to write this in very early morning? Because now I have to apprehend that how hard I try to be right, there will be someone out there stands on different point of view. I know it is real, but for now, it is getting more real. Sometimes it is scary, but I have to defend my right to speak and to be heard. Or sometimes it is because the relationship is really meaningful, and I want to do my best to keep it on track.

Lots of love,
Prima

Thursday, January 19, 2017

Jangan Katakan Ini Kepada Sahabatmu yang Baru Patah Hati

Okay, here’s the thing. Saya tidak tahu apakah saya baru mengalami putus cinta atau tidak, karena pada dasarnya saya sedang menjalani hubungan tanpa status dengan seseorang yang nun jauh disana. Mengapa dan bagaimana prosesnya tidak bisa saya rinci disini, akan tetapi saya memasuki hubungan ini dengan penuh kesadaran bahwa bisa saja semuanya berubah dengan tiba-tiba. Toh, hubungan dengan status saja bisa putus, saya mengalaminya sendiri setelah hampir 3,5 tahun pacaran, ingat?

Nah, tapi memang saya merasa patah hati yang teramat dalam tadi malam. It doesn’t feel good, you know. Saya menangis sampai mata bengkak. Padahal – atau untungnya – saya harus menghadiri wisuda teman sekelas tadi pagi. Ternyata mata bengkak bisa ditutupi dengan bedak setebal satu meter (halah), dan luka hati bisa sedikit hilang karena nge-bully teman sampai ngakak.

Akan tetapi, ketika saya mengirim pesan ke beberapa sahabat, reaksinya cukup beragam. Ada yang menenangkan, ada juga yang bikin saya ngerasa kayak “are you really my friend?” Engga lah, mungkin ini karena saya sedang sangat emosional aja. Jadi pingin nonjok muka orang gitu, hahaha. Kalau bisa sih muka dia yang udah bikin mata saya bengkak. Tapi jauh. Ongkos pesawat bolak-balik bisa dipakai buat bayar SPP. Lol.

Anyway, dari respon teman-teman saya itu, saya berefleksi ke diri sendiri. Pernahkah saya nyeletuk kurang ajar kepada teman yang baru patah hati? Saya sadar bahwa APAPUN yang kita katakan saat itu, sangat sulit untuk dicerna dengan baik. Macem mama/papa sahabat baru saja meninggal, lalu kita juga engga bisa ngomong apa-apa kan? APAPUN yang kita katakan tidak akan mengubah keadaan, TAPI mungkin bisa membuat perasaan sahabat sedikiiit lebih lega. So, kalau kamu tahu ada sahabatmu yang baru patah hati, JANGAN pernah mengatakan hal-hal dibawah ini:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...