Sunday, December 24, 2017

Jumpa Orang Baik di NusantaRun Chapter 5

Dengan Bu Adita, photo by Telkomsel Runners
Dengan Pak Imam, photo by David
Dengan Pak Jumhardani
Dengan Kak Carla
Dengan Playon Jogja (nasib difoto banyak kamera sekaligus :p)
 
Akhir pekan yang lalu merupakan akhir pekan yang emosional bagi saya. Terharu, bangga, bahagia – bercampur jadi satu. Ya, saya menjadi relawan di NusantaRun Chapter 5. Buat sister yang follow Instagram saya mungkin sempat melihat perjalanannya melalui Insta-story. Yang belum, tenang! Sudah saya simpan di ‘sorot’ di bio saya. Luar biasa ya Instagram, buat saya yang hobi update lewat Insta-story tapi jarang nge-post di feed, fitur ini sangat membantu sekali, hihi.

Nah, gegara pada nonton Insta-story, banyak pertanyaan yang masuk ke DM atau Whatsapp. “Mbak prima kok tumben ikutan acara olahraga?” adalah pertanyaan pertama yang banyak muncul. Uhm, let me explain a bit. Sezuzurnya saya jaman kecil itu hobi banget berenang. Berhubung ada kolam renang di kantor mama, saya bisa berenang lima kali seminggu. Sampai mama ngedatangin instruktur khusus buat melatih saya, dan saya hampir jadi atlet. Waktu masuk SD, saya  bersekolah di sekolah Islam dan jadi malu buat menunjukkan aurat. Cieh, belum balig aja udah ngerti lho. Saya pun mengubur keinginan jadi atlet renang. Cumaaa berhubung waktu itu saya sering di-bully, ditolak terus pas masuk tim kasti (bahkan jadi sasaran lemparan bola supaya saya takut) atau tim basket, makanya saya lebih sering menghabiskan hari di perpustakaan.

Bertahun-tahun kemudian, proses penulisan skripsi ‘menjerumuskan’ saya ke dunia sepak bola. Ceritanya dosen pembimbing skripsi saya bilang kalau saya enggak cocok menulis tentang per-teori-an, terus disuruh cari objek penelitian yang praktis. Saya ditugaskan untuk menulis sesuatu – yang tidak hanya menambah khazanah ilmu komunikasi, tapi juga bermanfaat untuk masyarakat. Ya semua naskah akademik itu pasti berguna, but you know what I mean, right? Nah, berhubung saya enggak pingin sendirian waktu skripsi, saya pun ikutan teman nulis skripsi tentang klub sepak bola di Malang. Hehehe.
Eventually, I fell in love with human behavior. How people interact and use messages to obtain things in life, it mesmerizes me... But, why sport? For me, sport is life. You compete, you collaborate, you win or lose, you get prize or you keep practicing. Until the referee blows the whistle – or until you reach the finish line.

You just don’t give up in sport.

Monday, December 11, 2017

2017 Year in Review: From One Step Back To the Leap of Faith


MasyaAllah, it’s that time of the year where I should write something to summarize this year!!! Probably it’s a bit too early because last year I published the 2016 Year in Review on December 31. However, currently I am so so so exhausted and I promised myself to take some rest before end of year. I’ve been jumping here and there for the last three months. I haven’t stayed in one city for more than two weeks and I ran out of clothes very quickly. My laundry woman was pissed off but also very understanding as I keep texting her to finish it sooner than usual. I mean, what can we do without clean clothes, right?

In contrary with 2016, this year I feel like my life has been stopped at one point. I gave my ALL to accomplish my study yet I needed seven months to finally arrive at the thesis defense day. And by ALL, I really meant ALL: my time, my job, my savings, my health & beauty (I have never been that sick and got so many pimples before) – I even sacrificed my ‘relationship’ with a man. But yeah it was worthy, alhamdulillah!!!

Sister, please welcome: 

Primadita Rahma Ekida, S.I.Kom., M.A. 

Wednesday, November 22, 2017

Why Broken Heart Can Be Such A Beautiful Moment

I know I am supposed to work right now but I couldn’t help to think of this young woman. She broke up with her foreigner boyfriend some months ago and it affected her life thoroughly. I actually saw a bright hope here and there for her. But surely I know that getting separated with someone whom you shared everything with for years is just painful.

Some times ago, I finally stopped talking with two men I met from online dating website. Two? Yes, two. The thing is, as you might have assumed that I was emotionally attached with one man, we realized that we’re not meant to be together. So in one fine night not too long after I accomplished my thesis defense, we talked it out and we ended whatever-we-ever-had. Another man that came later was having a lot of problems in his life and he opened it up first, saying that he couldn’t handle an official relationship, moreover long distance AND intercultural relationship.

Tuesday, November 21, 2017

My Life After Graduation

Tak terasa baru sebulan sejak saya wisuda. Kenapa saya bilang ‘baru’? Karena sepertinya saya sudah melakukan banyaaaaak hal. And yes, it’s another excuse of why I couldn’t continue my birthday blog post. Hvft.

Here’s the story.

Saya wisuda pada hari Kamis, 19 Oktober 2017. Pada hari itu saya bangun pada pukul 03.00 untuk mencoba make up sendiri – lalu gagal – dan akhirnya ngibrit ke rumah sahabat untuk didandanin (cek IG-nya: Dias Kusumastuti). Karena jam sudah menunjukkan pukul 06.00, saya akhirnya mengenakan hijab sekadarnya dan meminta tante ngebut ke Grha Sabha Permana. Meskipun sebenarnya saya terhitung terlambat, untungnya wisudawan/ti masih boleh registrasi ulang dan memasuki barisan. Tak sampai setengah jam, kami memasuki GSP dengan perasaan berkecamuk. Happy sih, tapi agak sedikit senep teringat berapa banyak uang yang sudah kami ‘investasikan’. Eaaa. 

Prosesi wisuda di universitas tidak memakan waktu lama karena jumlah wisudawan/ti memang dibagi dua gelombang. Wisuda yang pertama sudah dilangsungkan sehari sebelumnya. Sekitar pukul 11.00 saya keluar gedung dan berfoto bersama ayah dan ibu, lalu saya melanjutkan wisuda fakultas bersama mama, adik, nenek, tante, dan roommate saya, mbak Diah. Kok bisa yang datang banyak? Ini adalah salah satu keuntungan punya tante yang berprofesi sebagai dosen, hehe. Well, besides my mom and my dad, of course I dedicated my graduation for my aunt as she has taught me a lot of important lessons and lift me up along the hard times.

Untuk foto, sejak awal saya merencanakan booking fotografer karena malas antri di studio dan takut ayah/mama ada yang iri. Berdasarkan rekomendasi teman (thank you Rika!), saya dikenalin sama Fandi. Alhamdulillah yaaaaa, dia sabar banget, asik diajakin kerja sama, dan ya itu pokoknya sabar. Saya sempat berpikir, ‘kok foto saya sedikit ya’, apalagi setelah tahu ada seorang teman yang fotonya mencapai 500. Busyet itu foto wisuda atau nikahan, haha. Tapi saya sudah puas foto-foto dan yang penting sudah bikin foto di dalam perpustakaan, saksi bisu perjuangan saya mengerjakan tesis dan berbagai kerjaan. Terima kasih UGM untuk perpustakaan yang lumayan nyaman, coba bikin sleeping corner biar makin asik. #yakale
 


Malamnya saya dan adik ngobrol di Tempo Gelato Jakal, terus lanjut ngobrol sama mama sampai kepala saya pusing. Saya baru tidur pukul 03.00 (it means I have been awake for 24 hours!!), jadi ketika mama dan adik pamit ke stasiun pukul 06.00, saya lanjut tidur lagi. Tapi sayangnya saya tidak bisa tidur lama karena harus beres-beres daaan packing. Yup, saya menghadiri Ubud Writers & Readers Festival lagi setelah tahun lalu skip karena ikut konferensi. Saya berangkat sama Akid, Chu, Oscar, dan Gehitto...naik mobil pada hari Sabtu malam. Gila? Iya. Sampai sekarang aja masih suka berasa capeknya, but it was really fun. Boleh kapan-kapan nyobain road trip lagi, misalnya dari Bali ke Aceh. Toh saya tinggal duduk manis karena tidak bisa menyetir mobil, mwahaha.

Tadinya saya ditelepon Bli Gustra untuk jadi moderator di Emerging Voice, ‘pecahan’ UWRF untuk audiens anak muda Indonesia. Saya akan memandu (memanduuu) sesi bersama Leila S. Chudori, Ahmad Fuadi, dan Anita dari Bitread.id (self publishing platform). Selain itu, saya juga akan membantu Akid, yang mengajak saya naik mobil ke Bali, di divisi Book Launch. Ternyata, karena saya sudah – ehem – berpengalaman, saya dipindahtugaskan ke International Writers Liaison. It wasn’t my first time being a liaison, like I told you here and here, but yeah it’s a bit different now.
With some of my writers.
Setelah delapan hari di Bali, saya kembali ke Jogja untuk mendampingi penulis VIP, Simon Winchester, pada Satellite Event yang disponsori US Embassy. Selain mengisi sesi di kampus UNY dan nDalem Natan Kotagede, Simon masih punya waktu tiga hari di Jogja. Ia pun meminta saya mengatur jadwal jalan-jalan karena dia ingin mengajak istrinya, Setsuko, melihat matahari terbit di Candi Borobudur. Cerita tentang UWRF dan Simon akan saya tuliskan nanti ya because there are many things I want to share – seperti biasa, kalau ingat *digetok pembaca*
With Simon Winchester & Setsuko.

Tuesday, October 10, 2017

#29 (Part One)

Tiga minggu terakhir ini adalah salah satu masa paling ‘penuh’ bagi saya dalam tahun ini. Ada masa dimana saya merasa gagal dalam semua yang saya kerjakan, kemudian hal itu berbalik menjadi keberuntungan, lalu berbalik lagi menjadi semakin buruk. Saya memang masih berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian saat ini, namun begitu perlahan saya merasa lebih kuat. Mengapa bisa demikian? Saya akan ceritakan di post terpisah.

Last three weeks were one of the most intense weeks for me in this year. There were some moments when I feel failed in everything that I do, then I got my luck, but then it gets worse. At this second I still feel ‘trapped’ in a situation full of uncertainty, but slowly I get stronger. How? I will share it in the separated post.

Minggu lalu mungkin merupakan puncaknya, saya mendapatkan tiga pelajaran sekaligus. Di satu sisi, hal-hal tersebut menampar saya...karena saya menjadi sadar betapa selama ini saya telah meragukan kebesaran-Nya. Di sisi lain, saya seperti diingatkan kembali bahwa memang sudah sepatutnya saya tidak bergantung kepada makhluk – yang tidak memiliki daya dan upaya apapun untuk menjadi tempat saya bernaung.

Last week might be the peak, as I got three important lessons. In one side, those accidents slapped me...because I finally realized that I have been doubt His greatness along these times. In other side, I got reminded that we are supposed to not depending on creature – who doesn’t have strength or power to be my shelter. 


Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya ‘baru tahu’ bahwa melamar pekerjaan untuk S2 tidak semudah yang saya harapkan. Saya punya harapan besar untuk terikat dengan perusahaan mapan selama setidaknya tiga tahun. Pada satu titik, saya mulai memahami kekhawatiran kedua orangtua saya – bahwa sebenarnya mereka hanya ingin saya bahagia.

As I have said before, I ‘just knew’ that Master degree doesn’t make job applications easier. I have a big hope to work in an established company and stick out for at least three years. In one point, I started to understand my parent’s worry – as they actually want me to be happy.


Nah, perjalanan saya menggapai harapan itu – dan ekspektasi orangtua saya – tentu saja tak sepenuhnya lancar.  Tapi, ada beberapa kejadian yang membuat saya merasa merasa pintu-pintu yang tadinya terkunci mulai terbuka. Saya bahkan menangis saat sedang naik Gojek karena tak menyangka mukjizat-Nya terasa sudah sangat dekat.

Well, of course the journey in reaching my hope – and my parent’s expectation – isn’t totally smooth. However, there were some events that convinced me that the locked doors started to open one by one. I even cried when I rode the motorcycle taxi because I couldn’t believe that His miracle had been so close to me.

Sayangnya, saya belum bisa memberikan kabar baik itu sekarang :p Sementara saya masih terus berdoa agar apa yang saya perjuangkan ini akan menjadi nyata dalam waktu dekat, inilah tiga pelajaran yang ‘memaksa’ saya untuk melangkah maju. 

Unfortunately, I can’t reveal any good news new :p While I am still praying so that the progress will be real in no time, these are three lessons that ‘force’ me to move forward.
 

1. Semua Manusia Pasti Punya Kesalahan (Everyone Makes Mistakes)
Saya senang mengamati, dan saya ‘senang’ belajar dari kesalahan orang lain karena saya berharap saya tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama. Bagaimanapun, sepanjang hidup saya, saya melihat bahwa orang-orang hanya bisa bertransformasi menjadi diri yang lebih baik, saat mereka berani mengakui bahwa mereka salah.

I like doing some observation, and I ‘like’ learning from other people’ mistakes so that I don’t need to repeat the same mistakes over again. However, all of my life, I saw people who have successfully transformed into a better person, it was because they admit that they have done some mistakes.  

Suatu waktu saya menulis caption di akun media sosial tempat saya bekerja: "Memenangkan sebuah pertandingan itu biasa, berbangga diri saat menang juga biasa. Tapi, bagaimana kita menghadapi kekalahan, itulah yang menunjukkan karakter diri kita sesungguhnya."

One time I wrote a caption at my company’ social media account: "Winning a match is common, being proud of getting that triumph is also common. But, how we face the defeat, that shows our real characters."

Saya menemukan orang-orang yang ‘berkubang’ dalam penolakannya terhadap kenyataan, dan bersikeras bahwa tidak ada yang perlu diperbaiki dari dirinya, terpaksa berada dalam situasi buruk itu terus-menerus.

I found that people who deny the reality, and insist that there is nothing that needs to be fixed from him/her, have to stay in that bad condition constantly.

Sebaliknya, saya melihat orang-orang rendah hati yang mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf – kepada dirinya sendiri, kepada orang-orang yang ia sakiti, dan kepada orang-orang yang peduli – akan segera menemukan jalan naik.

In contrary, I saw humble people who want to confess his/her mistakes and apologize – to him/herself, to people whom he/she hurt, and to people who care about him/her – will soon discover a way up.

Saya tidak mau menjadi orang egois yang merasa bahwa diri saya paling benar. Saya ingin orang-orang merasa nyaman berada di dekat saya karena tahu bahwa saya hanyalah manusia biasa. Dan manusia biasa itu mengenali kekurangannya dan menghargai kelebihan orang lain.

I don’t want to be a selfish person who thinks that I am the most righteous person in this world. I want people to feel comfort being with me because I am just a human. And a human knows his/her weaknesses and honor people’ strength.

Bahkan dalam Qur’an, tercantum ayat tentang larangan menjadi manusia sombong. Karena ketika seseorang dibutakan oleh kebesaran dirinya, dia akan sulit menerima kebenaran.

Even in Qur’an, it is mentioned some verses about prohibition of being an arrogant person. As when someone is blinded by his/her self, it will be difficult for him/her to see the truth. 

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (Q.S. Al-Isra' (17): 37)
   
"And do not walk upon the earth exultantly. Indeed, you will never tear the earth [apart], and you will never reach the mountains in height." (Q.S. Al-Isra' (17): 37) 

Jadi, kalau saat ini kamu merasa sedang terjebak dalam ‘kesialan’ yang tampak tak berujung, coba tanyakan kepada dirimu, apakah kamu pernah merasa terlalu tinggi dalam memandang orang lain?

So, if you are feeling stuck in endless bad luck, ask yourself, have you ever disrespect somebody?

Minta maaf-lah, bisa jadi dia memegang kunci kemajuanmu.

Ask for forgiveness, because he/she might holding your key.

- Bersambung [to be continued]-

Saturday, September 30, 2017

Bersyukur Tanpa Tapi


Minggu pagi menjelang siang, saya baru saja menyelesaikan pekerjaan di Grha Sabha Permana. Saya duduk-duduk di parkiran mobil sambil mengamati orang-orang yang sedang jogging. “I should have done it (jogging) more often,” pikir saya. Sedikit menyesal karena baru sadar kalau jogging di GSP sepertinya sangat menyenangkan...apalagi kalau ada temannya. YEEE. Realizing that it’s been more than one month since the last time I visited gym, I feel so unhealthy. I feel sooooo fat (kerasa dari celana panjang yang sudah susah dikancing -_-). But more than that, I feel so unhappy.

Seharusnya saya bersyukur karena sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum resmi lulus dari Universitas Gadjah Mada. Seharusnya saya bersyukur karena orangtua saya sangat mempedulikan masa depan saya – dengan caranya masing-masing. Seharusnya saya bersyukur karena dijauhkan dari lelaki(-lelaki) yang mungkin memang tidak pantas bersanding dengan saya (more stories on that later...).

But I feel so empty inside.

Saya sering nggerundel sendiri karena saya merasa bisa mendapatkan hal-hal yang lebih baik dari apa yang saya miliki saat ini. Dorongan dari orang-orang di sekitar saya mulai menjadi beban dan tekanan batin – yang bukannya membuat saya maju, malah justru membuat saya ingin lepas dan bebas.

Bersamaan dengan air mata yang hampir menetes, gerimis datang. Saya bergegas mengambil motor dan beranjak pulang. Dan dalam perjalanan pulang, saya menemukan pemandangan yang miris. Pertama, saat ada sepasang orang tua yang menjual keranjang dari bambu, yang biasanya dipakai buat meletakkan baju kotor itu lho. Mereka bergandengan tangan dan setengah berlari mencari tempat berteduh. Kedua, seseorang yang membawa kostum badut boneka, berusaha melindungi portable tape dari derasnya hujan. Mungkin dia menggunakan alat tersebut untuk mencari nafkah.

Sontak tangis saya pecah. Penderitaan yang saya rasakan bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka, dan jutaan orang lain yang lebih tidak beruntung. Saya lulusan S2...yang mana kesempatan untuk mengenyam (dan menyelesaikan) pendidikan tinggi itu sendiri adalah suatu berkah yang tak ternilai harganya. Sementara saya masih bisa pulang ke rumah yang nyaman, bagaimana dengan mereka?

Sorenya, sepupu saya bertanya apakah memang mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan sesulit itu? Terlebih dengan gelar S2 yang baru saja saya dapatkan. Saya tak bisa langsung menjawab, tapi kemudian saya berpikir, mungkin hanya belum waktunya saja. Dulu ketika saya lulus S1, saya menunggu dua bulan sebelum akhirnya mendapat pekerjaan. Alhamdulillah, saya bertahan pada pekerjaan itu hingga dua tahun-an, sebelum hengkang untuk mengikuti World Muslimah Award 2014.

To be honest, looking for a decent job these days indeed become more difficult than five years ago. Saingannya semakin banyak, dan kadang perusahaan engga ‘logis’ dalam menetapkan kriteria pelamar. Misalnya, pengalaman kerja minimal 5 tahun dan maksimal usia 25 tahun, plus harus cum laude pula. Gimana caraaaaa.

Akan tetapi, saya beneran harus banyak bersyukur karena sejak mulai kuliah S2, saya hampir selalu memiliki pekerjaan dan itu berasal dari networking – bukan melamar dari nol banget. And if now I have to start applying again, surely that will be all okay. Namanya ikhtiar kan tsaaay.

That’s why tiba-tiba ‘bersyukur tanpa tapi’ muncul di pikiran saya bak lampu yang menyala (‘eureka!’). Berapa banyak dari kita – bahkan saya sendiri – yang suka berkata, “bersyukur sih, tapi.....” Padahal yang namanya bersyukur ya bersyukur aja. Allah sendiri sudah menjamin, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu...” (Q.S.Ibrahim (14): 7).

Bersyukur dan bersabar, ikhtiar dan tawakkal... jangan pernah terlepas salah satunya. Buat saya pribadi yang (mungkin) sudah punya jejaring yang cukup luas, saya tetap melamar pekerjaan kesana kemari kok. Because maybe a great job has waited for me somewhere. I just need to go out and try to reach it... even if it has to be step by step.

Malam itu saya berangkat tidur dengan perasaan lebih tenang daripada biasanya. Saya berusaha mengurangi pertanyaan ‘what about tomorrow?’, tapi mengucap banyak hamdalah karena saya diizinkan berada pada titik ini. My life is not perfect, and it might never be, but most important thing, I can finally see the light.

Lots of love,
Prima

Sunday, August 20, 2017

Freefall

Dear lovely sisters, I am hereby announcing that I have finally graduated as Master of Arts from Gadjah Mada University, alhamdulillah :) Belum wisuda resmi sih, insyaAllah nanti Oktober 2017 – jadi kalau ada yang mau ngasih bunga atau apa, sekalian bulan itu aja ya, hihi. Tapi iya seneng banget karena satu urusan selesai, dan engga perlu bayar SPP lagi :)))))

Terus kenapa sampai butuh lebih dari sebulan untuk menyampaikan kabar gembira ini di blog? Karena... saya (sepertinya) mengalami gejala depresi. Tahun lalu, saya juga mengalami hal ini, makanya sister jarang lihat tulisan saya kan. Tapi saya baru menyadarinya sekarang. Saya pikir waktu itu saya sedih biasa dan akan hilang kalau saya menemukan hiburan. Ternyata engga, I was constantly ‘sad’ for more than six months. Saya tetap beraktivitas seperti biasa; saya tersenyum, tertawa, ya normal-normal aja. Saya masih bisa makan, hanya kualitas tidur yang terganggu karena selalu bermimpi. Cuma parahnya, saya sering tiba-tiba nangis. Sampai pernah menangis meraung-raung...dan setiap kali menangis, saya selalu mencatatnya di kalender, untuk bisa melihat kapan dan kenapa saya menangis.

Thank God, tahun lalu bantuan hadir dalam wujud seorang psikolog. Dan saya kira masalahnya selesai saat itu. Apalagi ketika mulai bulan Oktober, kesibukan saya bertambah banyak. I didn’t have time to be sad because life gave me a lot of things to do. I feel energized...but the bad thing, I put aside those problems without knowing what actually my problem was.

Now it is happening again. I feel there is a big hole inside me and it eats me up. I don’t know what it is and I don’t know why, but I feel so so sad. Awalnya saya pikir saya cemas karena memikirkan masalah pekerjaan, but now that I have a job (two jobs actually), I still feel sad. And then masalah cinta, hahahahahaha, you know. But when I try to be realistic, I become more sad karena yaaa gitu deh (susah dijelasin). Yang paling berat, saya engga bisa menangis! Nangis sih nangis, tapi kayak nangis yang belum lega. Ada sesuatu yang benar-benar mengganjal dan saya tidak tahu apa.

Semua ini kemudian menjadi penyebab mengapa saya belum bisa nge-blog lagi. Saya tetap menulis, dan saya menulis dengan tangan di buku jurnal saya hampir setiap hari, tapi saya tidak pernah berani untuk mengklik ‘publish’. I typed, I clicked backspace a lot of times, until I never had a full blog post. 

Baru kali ini akhirnya saya berani kembali ke blog. Why so? Karena saya percaya ada teman-teman di luar sana yang juga membutuhkan bantuan dan dukungan. Saya belum tahu bagaimana saya akan menyembuhkan diri saya, tapi satu yang pasti, insyaAllah saya tidak akan menyerah. Please bear with me, as I wish I can help you too, someday.

Lots of love,
Prima

Sunday, July 2, 2017

What’s Up, Prima?

Assalamu’alaikum sister, first of all, let me say Taqabbalallahu minna wa minkum.. Walaupun terlambat, tapi daripada tidak sama sekali ya kan.. Gimana liburan sister? Sebenarnya saya belum masuk holiday mode sih, ujian tesis aja belum, tapi dinikmati dulu deh, masa-masa ‘istirahat’ karena kemarin toh sudah begadang berhari-hari buat menyelesaikan draft tesis.

Ternyata saya sudah tidak menulis blog selama tiga bulan, wow it’s quite long and I have to admit I kinda lose my personal touch in writing. Tadinya saya mau ngebiarin aja blog ini sampai saya sudah lulus jadi bisa share kabar gembira, engga ngeluh mulu kayak sekarang. Hanya saja, belajar dari tahun lalu, saya rasa baik juga untuk bikin catatan bulanan, dua-bulanan, atau setidaknya catatan tengah tahun. Memang idealnya kita melakukan introspeksi setiap saat – bahkan setiap hari sebelum tidur, hari ini saya ngapain aja ya. Apakah hari ini saya sudah berbuat baik, atau malah menyakiti seseorang? Lalu minta ampun kepada Allah, bersyukur atas karunia yang didapatkan pada hari tersebut, dan berdoa agar hari esok menjadi hari yang lebih baik.

Berhubung weekend journal yang sudah saya rencanakan pada awal tahun (dan sempat saya jalani selama beberapa minggu) tidak terlaksanakan dengan baik, at least saya ingin mempersembahkan refleksi enam bulan pertama pada tahun 2017 ini. Tujuannya ya sebagai bahan pembelajaran buat diri sendiri, dan juga teman-teman para pembaca.

Jadi, enam bulan ini prima kemana saja?

1. Mengerjakan Tesis
Saya ini lemah, sister. Mau ngerjain tesis aja kudu ambil full-time break dari kantor. Why so? Karena harapan dan pemikiran saya, semakin fokus saya mengerjakan tesis, semakin cepat saya selesai dan segera kembali ke pekerjaan. Kenyataan? Sampai sekarang saya belum ujian HAHAHA *miris*
No I don’t want to blame anyone. Sudah cukup saya nangis, komplain kesana kemari, it won’t change a thing. Saya tetap harus melewati tahap-tahap selayaknya mahasiswa yang mengerjakan tesis. Saya sampai capeeek ditanyain sama orang administrasi, staf perpus, sampai mas fotokopi di kampus (oh ya, istri dekan juga sempat nanya), “lho mbak prima kok belum lulus?” I WISH I KNOW WHY I HAVEN’T GRADUATED YET. Hayati lelah, Bang. Beneran lelah.
Tapi bukan prima namanya kalau tidak mengambil berkah dari kejadian ini. Jadi ceritanya saya kan ganti proposal 7 kali (iya, tujuh kali) karena menyesuaikan dengan kapasitas otak saya dan keinginan dosen pembimbing. Artinya saya diizinkan oleh Allah mempelajari beberapa teori komunikasi dan metode penelitian. Memang masih terhitung tingkatan dasar banget karena susah mau mendalami satu-persatu kalau harus ganti terus. But I believe this process is preparing me for bigger challenges on the workforce, insyaAllah.
Nah jadi sekarang tesis prima sudah sampai pada tahap apa? Sebelum libur hari raya, saya mengumpulkan full draft yang mudah-mudahan sudah memenuhi segala kriteria karya tulis akademis; dan juga sesuai dengan pengharapan dosen pembimbing. Mohon doa sister, begitu selesai libur minggu depan (atau minggu ini), tesis di-acc, lalu saya bisa segera ujian (dan lulus). Amiiin.

2. Sakit, Kembali Sehat, dan insyaAllah Semakin Sehat
Untuk ukuran seseorang yang tidak sporty sama sekali, entah kenapa saya selalu kedapatan ‘rezeki’ mengerjakan penelitian tentang olahraga. Masih ingat skripsi saya tentang pesepakbola asing kan, sister? Kali ini saya menulis tesis tentang event charity run. Fokus saya tetap pada manajemen strategi komunikasi, tetapi semangat para informan – baik peserta kegiatan, pendiri yayasan, atau relawan – benar-benar menginspirasi saya. Bonusnya? Saya jadi penasaran apa yang bikin mereka segitunya banget sama olahraga lari. Bayangin aja, para peserta ini mau ‘disuruh’ lari sejauh 145 km plus ngumpulin donasi minimal Rp. 2,5juta. Buat kamu dan saya yang bukan pelari, pasti hal ini engga masuk di pikiran kita.
That’s why, saya kemudian mencemplungkan diri di gym dan berusaha untuk lari. Sebenarnya saya sudah berusaha lari pagi, tapi karena mager dan bangunnya telat mulu, yang ada malah sesak napas kalau lari di jalanan. Dengan datangnya bulan Ramadan, dan dibukanya gym yang terpisah cewek-cowok (yaaay), saya pun mendaftar jadi member. Saya pernah share info gym ini di Facebook. Namanya W Gym, lokasinya sekitar 500 meter barat Terminal Condongcatur. Nyaman banget, dan kamar mandinya luas.
Selain mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh informan saya, saya juga mengupayakan untuk meningkatkan ketahanan tubuh sesudah ambruk karena demam berdarah beberapa bulan yang lalu. Yang pasti sih, pada masa pemulihan pasca demam berdarah itu saya engga mengontrol apa yang saya makan, berat badan pun melambung dan badan rasanya lemah sekali. Makanya saya bersyukur banget ada W Gym yang bisa memfasilitasi keinginan saya untuk menjadi semakin sehat. Sesudah libur Lebaran ini, saya juga masih melanjutkan keanggotaan dan berniat untuk berolahraga lebih keras. Selain ingin menurunkan berat badan (motivasi #1), saya juga ingin memperbaiki endurance. Apa sih endurance itu, itu lho pokoknya biar engga gampang capek atau ngos-ngosan kalau harus kerja keras bagai kuda. Mengingat sebentar lagi saya akan pindah ke Jakarta. Hmmm, prima harus setrooong!

3. I am Back to the ‘Game’
Ngaku deh, sister pasti penasaran kisah cinta saya yang bak sinetron FTV kan? LOL. Setelah on-off sekian lama, pada beberapa titik saya baru menyadari bahwa saya mungkin menganggap hubungan ini terlalu serius. Padahal saya sering mengingatkan diri sendiri, bahwa ini adalah sebuah ‘open relationship’ dimana tidak ada komitmen yang mengikat kedua belah pihak. Everyone can go anytime they want to. Terlebih karena saya sendiri juga tidak kunjung bisa memberikan kepastian tentang rencana pertemuan kami, maka saya sepakat untuk cooling down. Refreshing, dan balik lagi ke tempat dimana saya ‘mendapatkannya’. Eh lha kok, saya ‘ketemu’ beberapa lelaki luar biasa – they are cool and kind!
Saya pun banyak belajar dari pengalaman ini. Kalau dulu pertama kali masuk ke online dating web sepertinya saya punya harapan untuk langsung dapat suamik, kali ini beda. Niat saya cari TEMAN. Titik (bukan titit #eaaa). And Allah bring them to me. Kalau dulu cuma dapat satu yang sepertinya berpeluang bagus, kali ini Allah kasih beberapa sekaligus. Bukan bermaksud rakus, tapi mau gimana lagi, kan sungkan kalau engga balas pesan #sombong #congkak
Saya engga bermaksud membandingkan satu persatu, masing-masing orang memberikan saya wawasan yang menarik dan mereka keren-keren. Yang ada saya malah pingin nyomblangin mereka ke teman-teman saya tapi tunggu ya, saya pilih dulu satu. Atau dua #lho. I am just trying to enjoy the time sebelum janur kuning melengkung. At least sebelum ada satu yang pop up the ‘it’ question. Daripada baper sama satu orang, mending baper sama banyak orang sekalian. Zzz.

Wah, nulis ‘beginian’ aja bisa sepanjang ini. Sebenarnya masih ada banyak cerita yang ingin saya bagikan, terutama hikmah apa saja yang saya rasakan selama bulan Ramadan, dan pelajaran apa saja yang dapatkan selama enam bulan terakhir. I’ll save that for the next post, may I? For now, have a nice Sunday dan selamat mempersiapkan masuk kerja lagi besok (sementara saya mau balik istirahat lagi) :)))

Lots of love,
Prima

Monday, April 3, 2017

Weekend Journal #14

Hmmm, semakin lama semakin jarang nge-blog ya. Ckckck. Habis gimana sister, saya sudah jenuh baca-ngetik-baca-ngetik buat tesis. Belum lagi ngetik transkrip wawancara. Primaaa, datang-datang kok mengeluh.

Pada saat seperti ini, saya sedikit menyesal karena menelantarkan tesis saya tahun lalu. Actually, CEO di tempat kerja saya sangat suportif dan mendorong saya untuk menyelesaikan tesis. Beliau pun bilang tidak menekan saya untuk kembali ke pekerjaan segera, tapi saya sudah mulai jenuh. Dua bulan penuh tidak bekerja, tapi pikiran engga bisa diberhentikan dari memikirkan rencana kerja, “nanti kalau aku back to work, aku mau bikin project A, B, C.” Melihat perusahaan dengan proyeknya yang semakin seru, kadang membuat saya ngomel dalam hati, “aduh, aku S2 ini sebenarnya buat apaaa...”

Di sisi lain, mulai ada secercah titik terang pada tesis saya, baru satu titik tapi alhamdulillah banget. Soalnya bulan April menandakan sisa dua bulan saja untuk menyelesaikan tesis sebelum membayar SPP lagi. Hadeeeeeh. Lalu saya ingat bahwa dulu waktu skripsi, saya bisa ngetik Bab IV sepanjang sekitar 60 halaman hanya dalam waktu tiga hari. Cuma bedanya, dulu saya sudah melakukan observasi selama enam bulan. Sementara sekarang, hari ini baru akan mulai turun lapangan.

That’s why saya mudik sejak minggu lalu. Saya katakan kepada mama saya, “ini kalau hitungan manusia, engga akan selesai. Tapi akan beda ceritanya kalau Allah sudah ‘ikut campur’.” Apa kunci agar Allah mau ikut membantu?

Ya, restu orangtua.

Berbeda dengan ayah saya yang mempercayakan ‘nasib’ saya sepenuhnya kepada Allah (dengan bantuan tante saya); seperti biasa, hubungan saya dengan mama naik-turun seperti nilai tukar mata uang asing (yaelah). To be honest, saya sampai takut ketemu mama saya karena hati ini rasanya tak tenang ketika berada di rumah.

Namanya sedang butuh, saya mengumpulkan keberanian untuk menemui beliau dan bersimpuh memohon maaf. Sumpah udah macem lagi sungkeman di nikahan aja, tapi yang ini banyak banget dramanya. Saya, mama, dan adik menangis selama beberapa jam; ditambah lagi saya menangis sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Malang. Sampai sekarang kepala saya masih pusing kalau mengenang kejadian kemarin.

I was so sad and still am, knowing that we should have supported each other, but in reality we feel deeply hurt by each other. Saya tidak bisa mendeskripsikan cerita kami di sini, tapi kemudian saya belajar untuk memaafkan diri sendiri dan mama, serta melepaskan semuanya. Saya pernah belajar melakukannya awal tahun lalu, dan rasanya cukup sukses. Hanya kadang ada satu-dua momen yang membuat kita jatuh, lalu kita harus mengingatkan diri sendiri untuk bangkit lagi. It’s hard, it’s really hard. But life must go on.

Saya menuliskan ini, meskipun seolah-olah seperti membuka aib keluarga sendiri, namun justru saya ingin sister ikut belajar. Sebenarnya saya tidak ingin menjadi manusia yang mudah menyerah. Kemarin saya hampir putus asa, berpikir bahwa saya tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Lalu seorang sahabat saya meyakinkan saya kalau saya bisa keluar dari ‘lingkaran setan’ ini, dan anak-anak saya pasti akan bangga memiliki saya sebagai ibu mereka. Thanks, Igna!

Saya pun mencoba untuk memahami keputusan-Nya. Dia percaya kepada saya, Dia tahu saya akan mampu melewati semua ini dan ‘lulus’ sebagai hamba yang lebih dekat dengan-Nya. Melalui kejadian ini, Dia meminta saya untuk introspeksi dan tidak hanya menuntut kesempurnaan. Mungkin selama ini saya terlalu egois dan hanya ingin menang sendiri. Atau mungkin, saya harus bekerja keras untuk tidak egois walaupun yang saya lihat contohnya demikian.

What I find it hardest is, it’s my mom whom I argued with. It’s not my boyfriend or my friend whom I can just leave and let go. Saya masih, dan akan terus bingung apa yang sebaiknya saya lakukan. Namun saya berpegang teguh pada Allah, He is the best guidance for me. Prinsip saya, selama saya tidak menyalahi hukumnya, Dia yang akan memutuskan. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar. Dia lebih tahu. 

Bismillah for another week! :)

Tuesday, March 21, 2017

Weekend Journal #12

Tiga minggu engga menulis weekend journal, kemana aja prim? Untung baru tiga pekan, belum tiga kali puasa – tiga kali lebaran. Bang Toyib, halo? :))

Dua minggu yang lalu saya berkunjung ke Jakarta untuk sharing di sebuah workshop. Saya berangkat dari Jogja hari Kamis malam, mengadakan LIMA appointment pada hari Jum’at, workshop pada hari Sabtu, bertemu informan penelitian saya pada hari Minggu, dan kembali ke Jogja hari Minggu malam.

Akhir pekan kemarin, saya volunteering di Festival Literasi KANCA yang dibuat oleh Writing Table/mbak Windy Ariestanty. Sebenarnya tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, malah saya ngerasa agak magabut. Tapi akhirnya saya tepar, kemarin Senin engga bisa bangun dari tempat tidur. Turned out I got my period coming. Makanya bukan hanya capek badan, tapi juga pingin nangis kenceng entah kenapa. Bukan, bukan karena berantem sama mas Pakistan lagi (iya sih, dia sedang ngambek. Saya yang period, kok dia yang PMS -_-).

Dua kali akhir pekan ini, saya senang banget bisa bertemu teman lama, dan mendapatkan teman-teman baru. Salah satu orang yang temui di KANCA adalah Alexander Thian atau aMrazing. Saya dulu pernah bertemu dia pada tahun 2013 atau 2014 di Surabaya. He is so different and he has achieved a lot!

Buat yang sudah pernah baca bukunya Lexy, pasti tahu kalau ‘karier’ Lexy berawal dari counter hp. Boro-boro punya, dia bekerja sebagai penjaga counter hp! Saya agak lupa ceritanya, so please correct me if I am wrong. Lalu dia mencoba menulis skenario macem FTV atau film-film pendek gitu. Dengan berkembangnya networking dia, saat ini siapa sih engga tahu aMrazing? Follower Twitter-nya lebih dari setengah juta, sementara post-nya di Instagram – ya, yang sering mengundang decak kagum itu – pernah dikompilasi dalam sebuah pameran fotografi. Jangan kira dia berasal dari keluarga berada. After all, aMrazing bekerja sangat keras untuk bisa berada di posisinya saat ini.

Sosok lain yang membuat saya terinspirasi adalah Kak Jezzie Setiawan, bos saya di GandengTangan. Saya diajakin menginap di rumahnya waktu saya ke Jakarta, and her family is so lovely. Saya betah ngobrol dengan mama-papanya, kayak ngobrol sama orangtua sendiri gitu (wah, ngaku-ngaku :p). Hubungannya dengan suami, Bang Darul, juga bikin saya menginginkan pasangan seperti itu. Yang punya mimpi besar, dan mau bersama-sama berjuang mewujudkannya. Oh ya, hampir sama dengan pendiri Post Santa, Kak Maesy dan Kak Teddy, yang saya post di Instagram. Bedanya, saya engga begitu kenal dengan Kak Maesy dan Kak Teddy, sementara saya sudah bekerja dengan Kak Jezzie setahun terakhir.

Sesudah saya menginap di rumah Kak Jezzie, saya semakin takjub. Dia memang berasal dari keluarga terpandang, tapi dia mau ‘turun gunung’ untuk membantu menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia. Orangtuanya bisa memberikan fasilitas apa saja, tapi dia lebih memilih untuk mencari jalannya sendiri. Saya optimis kalau 2-3 tahun dari sekarang, nama Kak Jezzie akan lebih dikenal. Sekarang saja dia sudah mendapatkan beberapa penghargaan.
  
aMrazing dan Kak Jezzie memberikan contoh nyata bagi saya, bahwa kunci kesuksesan itu ada pada kerja keras diri sendiri. Dulu saya pikir, betapa beruntungnya seseorang yang sudah kaya ‘dari sananya’ dan tinggal melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orangtuanya. Pertanyaannya kemudian, apa benar orang-orang yang terlahir di keluarga biasa saja tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi hidup yang menyenangkan?

Lalu saya melihat orang-orang yang melepaskan diri dari latar belakangnya yang sulit, mencoba dan terus mencoba, hingga menemukan suatu jalan yang membawanya pada keberhasilan. BARANGKALI orang-orang yang tidak terbiasa untuk menerima hak istimewa, akan lebih kreatif dalam mencari cara untuk survive. Seperti saya, misalnya. Hahaha.

So what’s actually the moral story of this post? Jangan bersedih jika keadaan sister saat ini masih sulit. You may find something big if you keep trying. Sebaliknya, jangan terlena kalau orangtua sister menghujani dengan segala bentuk perhatian. Go out from your comfort zone. Make your own success as it will be more and more satisfying. 

Udah ah ceramahnya. Lanjut ngerjain tesis deh, biar bisa segera melangkah ke milestone selanjutnya. Best of luck for you who read it, keep doing the hard work!

Salam sukses,
Prima

Wednesday, March 15, 2017

Catatan Online Dating (1): Bule atau Lokal?

Jadi sister sudah tahu kalau saya mencoba online dating untuk mendapatkan calon suami. Hahahahaha, agak gimana gitu ya. I know what you think of me, nantinya kalau jadi atau engga, saya rasa saya harus tetap bersyukur karena pengalaman yang saya dapatkan. Mungkin sister (dan saya pribadi) sebagai orang Indonesia masih merasa jengah mendengar tentang online dating. Sementara tips dan trik online dating akan saya ceritakan beberapa bulan lagi sesudah saya benar-benar bertemu mas Pakistan, kali ini saya mau nanya sama sister.

Adakah di antara kalian yang pernah berpikir, “mbak Prima cocoknya sama bule.”

Kalau iya, percayalah sister tidak sendiri. Banyaaaaak orang yang sering ngomong begini sama saya. Padahal saya sendiri engga pernah mengkhususkan diri untuk mengejar hanya bule. Eh, Pangeran Dubai masuk bule kah? Untuk blog post ini, semua warga negara asing saya masukin ke kategori ‘bule’ ya, hanya untuk memudahkan saja.

Ceritanya, tadi malam saya ngobrol dengan si mas Pakistan. Kami membahas betapa generasi millennial jaman sekarang (termasuk kami), merasa lebih cool kalau ngobrol dalam bahasa Inggris. Waktu saya di Jakarta akhir pekan lalu, saya menghadiri sebuah workshop menulis dan hampir semua peserta bicara (dan menulis) dalam bahasa Inggris. I was surprised.

Dalam obrolan saya dan mas Pakistan, dia keukeuh mau ngajarin anaknya bahasa daerahnya dia – macam bahasa Jawa kalau buat saya. Memang saya engga bisa bahasa Jawa halus dan engga berbicara secara fasih. Sedangkan dia sehari-hari bicara dalam bahasa Pashtun, bukan bahasa nasional yaitu Urdu. Untungnya bahasa Inggris dia lancar banget sih, bahkan jauh lebih bagus dari saya.

Obrolan ngalor-ngidul itu membuat saya menceritakan kepada mas Pakistan tentang fenomena bule hunter. Lalu dia bertanya, “apa kamu bule hunter?” *diam sejenak*

Mohon maaf sebelumnya kalau salah, disini saya mendefinisikan bule hunter sebagai ‘perempuan yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pasangan bule, dengan kriteria apapun, yang penting bule.’ Nah, sebenarnya siiih, biarin aja orang punya hidup masing-masing. Cuma saya ingin sedikit meluruskan beberapa hal, terutama mengenai diri saya sendiri (ya iyalah ini kan blog saya).

Monday, March 6, 2017

I Want to Get Married

Being a single myself for almost 6 years now, I rarely ask “when will you get married?” to people, except to my friends whom I know well and I am sure they have boyfriend/girlfriend. I have known too many single women and men – and often I am a bit in doubt as I think...they are waaay older than me.

However, when I know the real age of this guy, I wonder what makes him still single until now. Probably, just like how some people seeing me. There must be something wrong about him, or me. For me, the assumptions can be sickening.

“Oh, you must have been always reject your parents’ suggestions.”
“Don’t be picky!”
“You work too hard.” – or – “You travel too much.”
“You are too independent, men are afraid of you.”
“You are not pious enough, pray more!”

Sadly, these kind of suspicion even contrary with what I am prepared to. As an adult, I have to be responsible to myself. It means, I have to work and earn money. Now that I am trying to escalate my career (or expand my work opportunity), I have to study and graduate. Everyone has his/her own priority, can’t you understand?

Sometimes I ask myself, have I ever prioritize marriage above anything else? My mind always occupied with many things I don’t even look for someone to date with. I thought my time will come someday, someday, someday; and suddenly I am 28 years old now. Did I miss something – or someone? Did I accidentally skip the right man?

Maybe that’s why I laughed at my boss idea about online dating. My boss is a lovely person and I know whoever with her is a lucky man. She is also a super busy entrepreneur, despite the fact that she might seems cold, her energy is derived by loving and caring people around her. But online dating? Why? I felt okay with myself. When she said that it might give me a better chance to meet my husband candidate, I thought she didn’t mean it. [First time she suggested me to create an account, it was end of 2015. Surely I declined the idea and forget it soon.]

Time goes by, we met again and she forced me. She said I deserve to be happy. And I responsed, “I AM happy.” She answered, “I know you are. But don’t you think that happiness meant to be shared?” I mumbled, but I let her installed online dating app and filled my profile.

I didn’t expect too much, so when I found myself emotionally attached to this guy from Pakistan, I was surprised. I almost quitted this app in only two weeks that time, but luckily I saw his profile at the very last time, right before I was about to click ‘disable account’. Up until now, it’s been three months. It doesn’t always smooth, to be honest. But I always hear a whisper saying, “it might works.”   

It doesn’t automatically diminishes my curiousity. If I was happy and alright with being single, why I still want to have a relationship? As I said, with all the hardship, I still got back to him, again and again. Am I just scared of being lonely?

I am not.

You might think I have warm personality and yes, I have a lot of friends. But I enjoy solitude more than other people. My roommate almost never been single because she doesn’t like to be alone. She constantly meet her friends while I can just refuse my friend’ invitation if I am not in the mood (thanks Allah for giving me such kind of understanding friends). I can turn off my phone for days and I don’t feel lost.

So why it has to be now? Why it has to be him? (uhm, perhaps it doesn't HAS TO BE now/him...)

Maybe, just maybe. Because after all this time, I have changed my mind about marriage. I thought at first we have to get married, no matter what. I thought it will be so pathetic to spend the rest of lifetime by myself. I thought having spouse and kids is everything – the only reason of happiness. While you don’t realize, marriage is NOT happily ever after. It requires hard work, every single day. It needs a lot of forgiveness and compassionate.

I finally came to a comprehension that marriage is another personal development, which you can have in order to upgrade yourself. You can find ways to grow, but with the support of someone (...you love and loves you back), you may cultivate further and faster.

I want to be the reason for someone to fight – and I want to have more reasons to keep doing better. This time, the strongest motivation is myself (or perhaps my family). But I once told my best friend, “I think there is no better feeling than looking at your kids’ eyes, then realize that all your sweat and tears are paid off.”

I want to please Allah without having to compromise myself. In life you keep making sacrifice and sometimes you worry if it is worthy. But I eventually believe that all you’ve done for Him, surely will be counted. And who can figure out if He has decide to give something big for you, not only here on earth but maybe later?

I am grateful to have this motivation again. I wish something bigger coming soon, as my best friend reminds me to have positive thoughts, especially towards Allah. I will, Put.

Bismillah.

Lots of love,
Prima 

Read also: Don't Get Married 

Sunday, March 5, 2017

Music Challenge: Summertime [SISTAR - Loving U, I Swear, Shake It]

Guess where I am right now? Yes, I am at the uni library. Right, on SUNDAY MORNING. I couldn’t work on my thsesis yesterday as I felt a bit headache and also heat stroke, although I spent all day long inside the house. I took medicine last night and I woke up feeling better, so why not celebrating this sunny day in the library?

It suits with today’s music challenge theme: summertime! I know, I know. Indonesians have to be grateful to be exposed with sun all year long – even in the raining season starts in November until now. I also know that because of the global warming, rain might just fall suddenly in the middle of June. And let’s not forget that in transition times between seasons, the weather is sooo bad your body might feel unwell (but I think it happens everywhere in the world). However, summertime always something that warmly greeted by many many people in other countries. Unexceptionally in Korea.

People say that SISTAR has been number 1 summer hit-maker. I don’t know since when, but most of their singles will be released close to summer. They also consider it carefully in terms of making the music video. They have these super energetic dances, colorful background, and fascinating scenes. No wonder myself almost wait for the summer after watching their music videos. Yeah, almost. Because I don’t fill my summertime with only sing, dance, and swim in the pool.

Sorry I can’t write much today, my hands are still trembling but I do the best I can to revise my thesis. Oh, I also want you to know that writing posts for music challenge has been entertaining me so much, it gives me pleasure and happiness. Hmm, or maybe it’s because I haven’t reached any mellow themes yet. Haha. Well then, have a nice Sunday!



 

Friday, March 3, 2017

Music Challenge: Song with Number in the Title [K.Will - Day 1]

Second post for Music Challenge, and you know what, I am already at the uni library. Speaking of high-speed WiFi connection so that I can watch any documentaries and Lion’ trailer..... Dev Patel, kalau buah kamu ini semakin matang ya, sukak deh lihatnya, hihihi.

Theme for today is “a song with number in the title”, and my mind went straight to ‘1, 2, 3, 4’ by Lee Hi. But I will save Lee Hi for another theme so I chose Day 1 by K.Will.

I love ALL K.Will songs, it’s no secret. Especially because most of his music videos are very cute I just can’t!!! But specifically, listening to this song which its music video was released in 25 June 2014 makes me feel warm. It almost remind me to my crush – almost. If I am not mistaken, when I listened to the song for the first time, I didn’t have any crush. Jadi gemes gitu, pingin ngebayangin siapa, ya sudah Pangeran Dubai aja deh :)))

As usual, K.Will shows a lot of admiration to his lady through this song. The lyrics also represent a man who feels shy, as he got a crush on a woman who deserves more than him, but he really wants to fight for her. Ladies, you should get a man who can adore you like K.Will. If this man can’t sing or make a song, make sure he does as shown below. 

..........

Then, ‘Day 1’ refers to the first day of their relationship. Well, I think in Korea and Indonesia are same, relationship should be official with the question popped up by the man, “do you want to be my girlfriend?” and an answer, “YES! YES! YES! I do!” Sorry, the woman here is quite emotional :p

Of all the ugly guys
I’m the best looking
What do I have to do to let you know how I feel?
Thinking of you drives me crazy

So I’m not that handsome
but I think I look cute when I smile
I’ll do better than all the guys out there, my love
I love you

Close your eyes and count to three
Now open and tell me what you see
Nothing? You don’t see your man?
It’s day 1 from today

I’ve never said that before
You’re my lady you’re my baby
But really, I’m not kidding
From today, from now
Will you be mine, baby


Btw, not too long after I saw the original music video, I also watched him perform the song in a music show. Although the coreography is a bit too cheesy (hmmm), but I like the part when he dance with a girl. It’s really nice. So now, let me continue my thesis and please enjoy K.Will – Day 1 (and have a nice weekend!).


Thursday, March 2, 2017

Thought Catalog: Being a Lecturer, Is It For Me?

Hi sister! Sebagaimana saya janjikan di post ini, saya akan mulai menjawab pertanyaan dari Thought Catalog. Yaaa paling engga biar blog ini terisi sementara saya terus dikejar deadline ujian tesis (masih Bab 1 dan harus lulus akhir Mei nih, hiks hiks). Tadinya saya ingin menulis dalam bahasa Inggris, sayangnya mata sepet kebanyakan baca jurnal. Selain itu, saya sudah menulis dalam bahasa Inggris untuk 15 Day Music Challenge. Jadi kali ini biarkan saya menulis dalam bahasa Indonesia, please... For now, saya akan menjawab pertanyaan ini:

If money didn’t matter, what would your dream job be?

Wednesday, March 1, 2017

Music Challenge: Song with a Color in the Title [Big Bang - Blue]

Oh my God, it’s March already and I haven’t done my research yet!!!
This week I was about to punish myself and not going outside the house if I don’t make any progress. Unluckily, my cousin use the library at home for English private course so I have to pick other place. I chose to go to library at university because if I come early, I can have a nice seat. Like what I am having now, I have my own private learning room where I can sleep type peacefully.

One of the benefits to work at the uni library is, I get the access for high-speed Internet connection. However, nowadays even the students have limits which is 5GB/person. Most probably there are students use the campus Internet to download Korean drama. Me? I don't, I can just copy movies from the nearest Internet cafes, it’s faster and more convenient. LOL.

Anyway, when I work at the uni, I like listening to YouTube videos because it has autoplay so it will recommend any good songs. Also, I don’t save songs on my laptop, there is no specific reason, I just prefer to not listening anything when I work at home (or radio/Channel V are okay). That’s why I count on YouTube videos to give me update about the most ‘hit’ songs lately.

However, most likely I just choose to replay some songs over and over again. When I saw the 30 Days Music Challenge on Twitter, I thought why don’t I write such thing on my blog. But 30 days are too long for me, I can’t even commit to write two posts a week. So I shorten it up and pick 15 themes that I am gonna write. Don’t worry, I will give you more than one song on my post if I can really think of the songs.

For the first post which is today, I have to post “a song with a color in the title”. I automatically think about ‘Blue’ by Big Bang. Now that I write it, I wonder why when you are sad, you said “I’m feeling blue”? When I googled it, I found this answer from Quora (validity can’t be guaranteed):
The use of blue to mean “sad” dates from the late 1300s. There are many references as to where this expression came from some being:

This is because blue was related to rain, or storms, and in Greek mythology, the god Zeus would make rain when he was sad (crying), and a storm when he was angry. Kyanos was a name used in Ancient Greek to refer to dark blue tile (in English it means blue-green or cyan).

The phrase "feeling blue" is linked also to a custom among many old deepwater sailing ships. If the ship lost the captain or any of the officers during its voyage, she would fly blue flags and have a blue band painted along her entire hull when returning to home port.

Even though you don’t speak Korean (neither do I), you will get the meaning behind the song if you watch the original music video. It talks about the separation, devastation after it, and how faith on love can’t be restored that easy. Below is some translation from the lyrics.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go


Okay then, I will leave you feeling ‘Blue’ with Big Bang now. To give you a bit entertainment, I also show you the performance version. Have a great day and see you on Saturday!


Monday, February 27, 2017

Weekend Journal #9

Akhir pekan kemarin adalah salah satu productive weekend yang sangat bermakna. Saya mendapat banyak suntikan semangat dan food for thought. Buat sister yang belum tahu, saya meneliti tentang faktor yang memotivasi donatur menyumbangkan uangnya di campaign NusantaRun Chapter 4 yang dipublikasikan di Kitabisa.com. [Ada yang jadi donatur? Kontak saya dong, email: primaditarahma at gmail dot com]

Makanya ketika saya melihat nama Alfatih Timur, CEO KitaBisa, sebagai salah satu pembicara di dYouthizen, saya langsung Whatsapp-an dan minta waktu untuk ketemu. Awalnya saya engga dapat konfirmasi untuk ikut seminar tersebut, tapi karena Timy (panggilannya) minta ketemu di seminar, saya pun tetap datang. Alhamdulillah saya bisa jadi peserta dan bisa dengerin mbak Melanie Subono berbagi inspirasi.

Saya pertama kali menyimak mbak Melanie di Surabaya Youth Carnival beberapa tahun lalu, and she is really really amazing (baca post ini). Ada dua poin penting yang dia share ke peserta dYouthizen. Yang pertama, ada dua tipe manusia di dunia ini: yang melakukan – dan yang tidak. Meskipun niat aja udah dapat pahala, tapi ‘mau’ aja engga cukup. You have to take action! Yang kedua, the best time to take action is NOW. Apalagi kalau habis datang seminar itu biasanya semangat lagi tinggi banget. Kalau nunggu besok, atau lusa.. bye deh. That’s why malam minggu itu saya sebenarnya berencana untuk langsung menuliskan transkrip wawancara sama Timy. Sayangnya ada keluarga jauh yang datang ke rumah dan yaaa masa saya engga nemenin (excuse melulu -_-).

Sesudah saya sholat dzuhur, saya ketemu Timy lagi buat ngobrol. Eh ternyata, sesi berikutnya adalah sesinya ko Yansen Kamto dari Kibar.id. Orangnya narsis abis, tapi penjelasannya warbiyasak keren! Nah, kami pun sepakat untuk memperhatikan materinya ko Yansen. Oya, untuk cerita dari ko Yansen, kayaknya lebih baik dibikin blog post tersendiri deh.

Oleh karena waktu Timy yang terbatas, saya justru ditawari ikut dia dan istri makan siang (tapi udah jam 3 sore..), sekalian mengantar mereka ke hotel tempat mereka menginap malam itu. Allah baik banget.. saya pun dapat waktu eksklusif buat konsultasi tentang tesis saya, bahkan bisa berdebat tentang banyak hal. Dari mulai transportasi online (istrinya kerja sebagai Marketing Analyst di GoJek), masalah kemiskinan di Indonesia, dan tren gaya hidup sehat.

Timy banyak memberikan saya pengetahuan dan wawasan, yang pastinya membantu tesis saya. Kalau saya mengetahui hipotesis atau asumsi dari teori dan observasi, Timy sudah memahaminya lebih dulu. Cuma yaaaaa, trial and error selama hampir 4 tahun sejak KitaBisa berdiri. Setara dengan S3 kan.

Selain Timy sendiri, caranya berinteraksi dengan istrinya jadi #RelationshipGoals buat saya. Mungkin karena sama-sama bekerja di start-up, obrolan mereka nyambung banget. Mereka juga satu jurusan di UI, hanya beda angkatan. Engga nyangka, mereka sudah menikah 3 tahun lho. Istrinya ini manis manja gitu. Gara-gara banyak peserta perempuan yang minta foto bareng, waktu di mobil istrinya tanya ke Timy, “abang udah dapat nomer handphone cewek berapa?” :)))))

Meskipun saya engga banyak tahu tentang mereka, istrinya Timy sempat cerita kalau dia S2 di Amerika Serikat. Mereka pun menjalani long distance marriage selama 1,5 tahun. Balik ke Indonesia, Timy masih semangat banget dengan Kitabisa. Istrinya tetap mendampingi dan percaya dengan mimpi-mimpi Timy. Even for them both, saya ngeliat..... gampang kalau naksir sama Timy yang sekarang, secara KitaBisa udah ‘membukukan’ donasi sebanyak Rp. 73 Miliar dari 4000-an campaign. Tapi dulu waktu baru mulai? I can’t imagine the challenges and difficulties.

Saya pun merefleksikan hal ini kepada diri sendiri. Kira-kira, apakah saya siap untuk menjadi suami yang masih membangun, belum kelihatan masa depannya gimana, dan punya mimpi teramat besar which is unthinkable for common people. 

Dulu saya pernah didekati oleh seorang yang baru mendirikan start-up dan saya khawatir sama rencana keuangannya. Bedanya dengan Timy, saya melihat dia tidak punya fighting spirit. Orangnya agak ‘menggampangkan’ dan saya jadi mikir, apakah dia berkomitmen untuk membahagiakan saya?

See, ketemu orang-orang yang inspiratif selalu bikin merenung. So grateful to meet Timy and wife, dan sekarang mari lanjut ngerjain tesis karena Timy pun menunggu hasil penelitian saya :D

Have a great week ahead!

Lots of love,
Prima

Wednesday, February 22, 2017

Back to Blog

Akhir-akhir ini, saya seperti diingatkan untuk kembali nge-blog secara rutin karena beberapa kejadian. Yang pertama ada Addy McTague, seorang mualaf yang berasal dari Chicago. Dulu dia mendapat wawasan tentang Islam, salah satunya dari blog saya (baca post ini), dan kami sempat berkirim email. Setelah saling follow di Instagram, kami juga bertukar nomer WhatsApp. Berhubung dia sedang berada di Tiongkok, dia bilang akan senang sekali kalau bisa mengunjungi Indonesia tahun ini (enaknya jadi warga negara Amerika Serikat, she doesn’t need visa to enter Indonesia). Somehow, dia mengingatkan saya untuk menulis lagi tentang #1Hari1Ayat, atau #1Hari1Hadits.

Yang kedua, Selasa kemarin saya ikut syuting program Ragam Manfaat di Trans7 sebagai narasumber. Engga syuting yang gimana sih, cuma memberikan testimonial tentang penggunaan honey lemon shot. Kru Trans7 memang menghubungi saya lewat post ini, dan saya sempat membantu mencarikan kontak narasumber yang lain. Nanti saya kabari kalau sudah akan tayang (cieh), dan perhatikan baik-baik ya, karena saya hanya akan muncul selama... SATU menit :)))

Yang ketiga, kemarin saya juga mendapat email dari Office of International Affairs UGM. Kantor ini menyediakan informasi beasiswa untuk mahasiswa (atau alumni) UGM, dan mereka berjasa menyekolahkan saya selama dua semester. Pakai beasiswa dari Tokyo Foundation sih, hehe. Saya jadi ingat waktu tes interview beasiswa ini. Saya banyak ditanya tentang blog saya, mengapa saya menulis blog, dan manfaat apa saja yang pernah saya dapatkan dari blogging. Salah satu jawaban yang terus membekas di pikiran saya adalah, ‘saya tidak pernah menyangka kalau tulisan saya bisa mengubah kehidupan seseorang yang tidak saya kenal.’ Kebetulan, saya menceritakan tentang Addy McTague.

I have to admit, the case of Addy was one of the biggest achievements in my blogging career. Blog tidak hanya memberikan saya pekerjaan dan penghidupan. Membawa saya kepada kesempatan besar seperti World Muslimah Award 2014. Menjadikan saya narasumber di berbagai acara. It’s not just that. Tanpa bermaksud mengecilkan hal-hal lain yang sudah saya dapatkan dari blog, ‘dipercaya oleh Allah untuk mengubah kehidupan seseorang’ is something reaaaaally big. Saya mah apa atuh, hanya butiran debu di kehidupan yang fana ini. But He trusted me to write and change people’s lives.

Ada orang yang diberikan karunia kekayaan dan bisa membantu orang-orang di sekitarnya lewat amal yang ia berikan. Ada orang yang diberikan anugerah kecerdasan dan jadi guru/dosen/ilmuwan. Ada orang yang diberikan berkah naluri kepedulian dan membaktikan hidupnya sebagai pekerja sosial.

What’s your blessing?

Saya masih ‘betah’ menjadi seorang blogger yang menuliskan refleksi diri dan pengalaman. Saya masih belum berorientasi untuk menjadikan blog ini lebih komersil. Saya masih nyaman bercerita tentang lika-liku kehidupan untuk sister, terutama untuk diri sendiri. Sehingga suatu saat nanti ketika saya (insyaAllah) mencapai puncak, saya tidak tinggi hati.

Saya sudah punya beberapa pertanyaan untuk dijawab di blog ini. Saya mendapatkan bahannya dari Thought Catalog – suka banget sama website ini, it opens my mind and encourages me to hear my inner voice more.

Sampai jumpa di post berikutnya!

Lots of love,
Prima

Monday, February 20, 2017

Weekend Journal #8

Aloha, good morning! Ya Allah, sudah tanggal 20 Februari, artinya saya sudah ambil break dari pekerjaan selama tiga minggu lebih. Rasanya sudah tiga tahun (lebay) saya engga berinteraksi sama orang masalah deadline, dan engga ada penghasilan. Sediiih, pingin jalan-jalan – padahal minggu lalu baru nge-trip ke Kalibiru – pingin belanja, pingin ini itu banyak sekali. Maybe this is why saya diliputi kekhawatiran yang luar biasa. Kalau kata orang, salah satu sumber ketidakbahagiaan yang paling utama adalah ketika kita tidak hidup untuk hari ini, tapi terlalu banyak berangan-angan ke masa depan yang masih jauh.

Contohnya saya yang saat ini masih single, terus ngebayangin “enak kali ya punya suami, ada yang ngebantuin diskusi tesis.” Padahal belum tentu juga, kenyataannya nih, teman-teman sekelas saya yang sudah menikah, malah tesisnya berhenti karena keasyikan ngurus rumah tangga.

Atau contoh lagi, masih tentang saya yang sedang mengerjakan tesis. Setiap kali saya lihat lowongan pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan hubungan internasional, saya sering berharap sudah lulus dan tiba-tiba bekerja di instansi terkait. Padahal kembali bekerja full time di kantor mungkin engga seindah yang saya harapkan. Segala macam tuntutan ada di depan mata untuk membuktikan apakah kita cukup profesional dan produktif. Apalagi orangtua akan tutup mata: engga peduli gajimu berapa, kamu harus bisa survive. Anyway, British Embassy buka lowongan lho: [Digital Media Officer]

Makanya sekarang saya berusaha fokus pada hari demi hari. Setiap pagi, saya mengingatkan diri sendiri untuk membuat kemajuan dengan tesis. Mau harus baca bahan selama dua jam nonstop (satu jam aja deh...); ngetik 1000 kata (hitungannya sedikit, tapi kalau buat tesis, malasnya kanmaen); atau browsing case study (believe me, it can take a lot of time).

Demi menjaga kewarasan, saya memaksakan diri untuk keluar rumah paling tidak dua hari sekali. Saya orangnya suka mager, tapi engga bagus untuk kesehatan mental karena saya orang yang sangat people person. Saya harus tetap ketemu orang agar tidak stres.

Saya juga berusaha untuk tidak melirik kalender atau agenda. Saya membuat jadwal maksimal seminggu ke depan agar tidak memberati pikiran saya sendiri. Hal ini ternyata berguna karena saya jadi melakukan evaluasi setiap hari. Seperti akhir pekan kemarin, saya merasa bersalah karena gagal membaca 5 jurnal dan mengetik 1500 kata untuk kerangka pemikiran. Saya pun harus ‘membayar hutang’ tersebut pada hari ini dan besok. Di sisi lain, saya masih harus banyak istirahat karena badan belum pulih seratus persen. I also attended my classmate’s wedding and turned out it was really fun. Namanya mahasiswa kalau udah ngerjain tesis, cuma bisa reunian kalau lagi bimbingan (itupun beda dosen pembimbing) dan ada yang menikah. I definitely enjoyed last weekend but still feel guilty for my thesis.

Jadi, buat kamu yang sering merasa gelisah, coba lihat lagi apakah kamu tipikal orang yang suka berandai-andai dan justru mengabaikan masa sekarang? Saya pernah baca salah satu cara agar sholat kita lebih khusyu’ adalah dengan membayangkan jika sholat ini adalah sholat terakhir yang kita lakukan. Dalam hidup, saya merasa akan lebih mudah untuk berjuang jika kamu tahu hari ini adalah hari terakhir kamu berada di dunia. After all, kita engga tahu apakah kita masih akan hidup keesokan hari. So, do your best today and make the most of your happiness!     

Love,
Prima

Saturday, February 18, 2017

Terjebak dalam Hubungan yang Rumit, Haruskah Bertahan?

I finally decided to write this post after weeks contemplating. Sebenarnya saya agak malu mengakui bahwa saya sedang dalam proses baikan dengan si mas Pangeran Dubai KW Premium (baca: si Ganteng dari Asia Selatan). Iya, setelah post saya berjudul What If, kami berkomunikasi lagi dan tiba-tiba saja semuanya seperti yang dulu. Ngobrol ngalor ngidul, ketawa sampai ngakak, dan ngegombal. Halaaah. Saya lemah.

I have to say that after 5 years being single, going back to a relationship (or at least approach phase) is really really hard. Saya tuh tipikal yang kalau udah suka, suka banget. Baper, berpikir kalau dia satu-satunya, dan membayangkan jauh ke depan. Terakhir saya mengalami perasaan suka ini akhir tahun 2014. Yang gila, saya menyatakan perasaan saya kepadanya dan ditolak!!! Hingga bulan September 2016, saya mengaku kepada seorang sahabat kalau saya susah move on karena dia memenuhi semua kriteria saya. Ngomongin kriteria lelaki idaman saya itu hal lain lagi. Memang dari lubuk hati terdalam saya masih berharap bisa menikah sama Pangeran Dubai yang beneran. Bahahahahak. Tapi kalau realita, saya senang dengan seorang lelaki yang passionate with his life, bertanggungjawab, dan suportif sama saya. Kalau sudah berinteraksi, nanti kelihatan apakah ada chemistry, dan bisakah kami saling membawa satu sama lain menjadi pribadi yang lebih baik. Sederhana, kan?

This man that I liked in circa 2014-2015 has everything that I need/want. But one: he doesn’t likes me back. Perih. Sekarang pun dia sudah bertunangan dengan entahlah siapa, and then saya langsung unfollow Instagramnya :)))

Nah, saya sudah pernah membocorkan beberapa cuplikan dari ‘hubungan’ saya dengan mas Pangeran Dubai KW Premium. Secara garis besar, sebenarnya dia kurang memenuhi kriteria yang saya inginkan. Di sisi lain, dia punya kualitas diri yang membuat saya berpikir “bisa dicoba lah.” Selain karena dia ganteng yaaa, hihihi. Namun kemudian, mungkin kami terlalu terburu-buru dan tibalah kami pada pertengkaran pertama yang cukup membuat saya terkejut. Ya iyalah, secara saya sudah lama tidak berhubungan serius dengan seorang lelaki, terus sekarang saya harus berkompromi dan memikirkan perasaannya. Kaget deh.

Untungnya, saya ditantang oleh seorang konsultan karir (dan ternyata konsultan cinta juga kayaknya, peace mbak Rani, hehehe) untuk bertahan selama minimal tiga bulan. Why so? Karena dia tahu saya tipikal orang yang kadang terlalu independen, sampai seolah-olah tidak membutuhkan orang lain – dalam hal ini, pasangan hidup. It was true, I could almost just go and say “hell-o, who the hell are you? Engga ada kamu, aku tuh baik-baik aja.”

But I didn’t do that. Saya merefleksikan apa yang terjadi dalam hubungan kami, meminta maaf, dan bertanya apa yang bisa saya lakukan agar hubungan kami lebih kondusif. Dia memang engga langsung menjawab dengan jelas, namun perlahan saya memahami apa yang kami butuhkan untuk memperbaiki hubungan ini.

Saya juga berkonsultasi dengan orang-orang yang saya anggap lebih berpengalaman, seperti konsultan pernikahan mas Wahyu ‘Wepe’ Pramudya, dan sahabat-sahabat saya yang sudah menikah, terutama yang menikah sama WNA. 

Friday, February 17, 2017

A New Page on My Thesis

It’s all about your mindset. Cukup lama saya berjibaku dengan pikiran negatif saya tentang tesis. Tadinya saya pikir suatu hari akan ada ‘aha moment’ – semacam lampu yang tiba-tiba menyala di dekat kepala saya, lalu ide tentang tesis akan tertulis secara lancar.  Nyatanya, sampai akhir tahun 2016, saya tak kunjung mendapatkan ‘gong’ tersebut. Sampai dosen pembimbing saya mengadakan panggilan khusus dan memaksa para mahasiswa yang belum pernah mengumpulkan progress sama sekali untuk konsultasi. Termasuk saya.

Jumlah teman sekelas yang tidak banyak, membuat kami mengetahui apa yang terjadi dengan tesis semua mahasiswa sekelas. Kami pun kerap curhat, padahal yang dibahas itu-itu aja. Jadilah ada kesepakatan kalau di grup WhatsApp engga boleh bahas tesis. Kalau ada yang ngomongin tesis, artinya dia ‘ngomong jorok’. LOL.

Hingga minggu lalu, sebenarnya pikiran saya masih kemana-mana. Baca, ngetik, baca, ngetik; tapi ada perasaan yang kurang sreg. Satu hal yang sering mengganjal adalah dosen pembimbing. Sejak awal beliau bilang kurang begitu menguasai tentang komunikasi pemasaran. Saya pun sempat ilfil sama beliau, ups. Namun, setelah berkali-kali diingatkan oleh teman-teman sekelas, saya kemudian menyadari bahwa saya sangat beruntung.

Dosen pembimbing saya memang cukup sibuk (who doesn’t?), tapi beliau sangat perhatian dan komunikatif. Dalam artian, beliau mudah dihubungi dan siap sedia merespon pertanyaan kami lewat WhatsApp. Beliau bahkan membuat grup WhatsApp untuk mahasiswa bimbingannya, dan memiliki jadwal bimbingan yang jelas. Kebetulan tanggung jawab beliau di luar mengajar masih berkisar di seputaran administrasi Jurusan Ilmu Komunikasi dan FISIPOL UGM. Beliau tentu masih punya aktivitas di luar kampus, tapi engga sesibuk dosen-dosen lain. Alhamdulillah banget deh pokoknya.

Saya jadi ingat zaman saya magang dan skripsi waktu S1. Dosen penguji laporan magang saya adalah seseorang yang luar biasa teliti. Saya sempat sebal karena beliau suka mempermasalahkan hal-hal yang menurut saya remeh. Nyatanya, bertahun-tahun berikutnya, saya justru mengikuti jejak beliau dengan menjadi editor di ZettaMedia. Ajaran beliau waktu itu banyak saya aplikasikan pada pekerjaan saya. She taught me so much about writing perfectly. Karena beliau, mata saya jadi ‘sakit’ kalau melihat susunan kalimat yang kacau, atau salah ketik yang teramat banyak. And it is good, very good. Right?

Saat skripsi, tantangannya berbeda. Dosen pembimbing saya baru pulang sekolah dari Belanda dan beliau sangat bersemangat membantu saya. Pada saat pengerjaan skripsi itu, saya berdarah-darah untuk bisa memenuhi ekspektasi yang sangat tinggi. Dosen pembimbing kedua dari Jurusan Psikologi juga punya harapannya sendiri. Namun begitu, skripsi saya menjadi sempurna. I never thought that I can write that great, and I am proud of it. Bukan hanya saya yang mengatakannya, tapi setiap orang yang membaca skripsi saya pasti akan memuji kedalaman penelitian itu – terutama untuk ukuran skripsi.

Melalui proses seperti itu beberapa tahun yang lalu, menjadi refleksi bahwa seberat apapun hari-hari ini, this too shall pass. At the end of the day, I will smile. Saya akan mengenakan toga, berpanas-panas antri di dalam Grha Sabha Pramana, bersalaman dengan rektor (atau cuma dekan? – engga apa-apa juga, bapak dekan FISIPOL ganteng banget lho), and I will make my parents proud of me. AND I WILL MAKE IT ON THIS SEMESTER! #PrimaWisudaJuli2017!!!!!

Salam pejuang tesis,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...