Wednesday, March 15, 2017

Catatan Online Dating (1): Bule atau Lokal?

Jadi sister sudah tahu kalau saya mencoba online dating untuk mendapatkan calon suami. Hahahahaha, agak gimana gitu ya. I know what you think of me, nantinya kalau jadi atau engga, saya rasa saya harus tetap bersyukur karena pengalaman yang saya dapatkan. Mungkin sister (dan saya pribadi) sebagai orang Indonesia masih merasa jengah mendengar tentang online dating. Sementara tips dan trik online dating akan saya ceritakan beberapa bulan lagi sesudah saya benar-benar bertemu mas Pakistan, kali ini saya mau nanya sama sister.

Adakah di antara kalian yang pernah berpikir, “mbak Prima cocoknya sama bule.”

Kalau iya, percayalah sister tidak sendiri. Banyaaaaak orang yang sering ngomong begini sama saya. Padahal saya sendiri engga pernah mengkhususkan diri untuk mengejar hanya bule. Eh, Pangeran Dubai masuk bule kah? Untuk blog post ini, semua warga negara asing saya masukin ke kategori ‘bule’ ya, hanya untuk memudahkan saja.

Ceritanya, tadi malam saya ngobrol dengan si mas Pakistan. Kami membahas betapa generasi millennial jaman sekarang (termasuk kami), merasa lebih cool kalau ngobrol dalam bahasa Inggris. Waktu saya di Jakarta akhir pekan lalu, saya menghadiri sebuah workshop menulis dan hampir semua peserta bicara (dan menulis) dalam bahasa Inggris. I was surprised.

Dalam obrolan saya dan mas Pakistan, dia keukeuh mau ngajarin anaknya bahasa daerahnya dia – macam bahasa Jawa kalau buat saya. Memang saya engga bisa bahasa Jawa halus dan engga berbicara secara fasih. Sedangkan dia sehari-hari bicara dalam bahasa Pashtun, bukan bahasa nasional yaitu Urdu. Untungnya bahasa Inggris dia lancar banget sih, bahkan jauh lebih bagus dari saya.

Obrolan ngalor-ngidul itu membuat saya menceritakan kepada mas Pakistan tentang fenomena bule hunter. Lalu dia bertanya, “apa kamu bule hunter?” *diam sejenak*

Mohon maaf sebelumnya kalau salah, disini saya mendefinisikan bule hunter sebagai ‘perempuan yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pasangan bule, dengan kriteria apapun, yang penting bule.’ Nah, sebenarnya siiih, biarin aja orang punya hidup masing-masing. Cuma saya ingin sedikit meluruskan beberapa hal, terutama mengenai diri saya sendiri (ya iyalah ini kan blog saya).

Pada dasarnya, setiap manusia punya kecenderungan untuk tampil lebih keren daripada orang lain. Kita pakai baju bagus, bawa mobil, pakai smartphone paling canggih, atau ngomong keminggris. Meskipun sedikit, pasti terbersit dalam hati kita, “eh aku tuh lebih keren daripada kamu.” Iya kan?

Bule hunter punya pandangan bahwa mengencani atau menikahi bule lebih cool daripada membersamai lelaki Indonesia. Entah karena mereka menganggap bule lebih kaya, lebih menghargai hak-hak perempuan, lebih hebat di ranjang (maybe...), dan masih banyak lagi. Kalau masalah lebih tampan, itu sangat-sangat subyektif. Seperti saya yang menganggap lelaki Timur Tengah lebih tampan dalam masalah jambang dan jenggot, sedangkan lelaki Indonesia... engga semua sih, ada yang jauh lebih cakep kalau engga berjambang. (kalau mas Pakistan ganteng aja sih, dengan atau tanpa jambang, hahahahaha, subyektif kan)

Masalahnya, saya sudah terlalu banyak mengenal bule untuk tahu engga semua bule itu kaya dan enak diajakin pacaran. Saya engga tahu apakah mereka lebih hebat di ranjang, engga nyobain juga :))) At the end of the day, ada bule yang baik, ada bule yang jahat. Ada bule yang romantis, ada yang bajingan (maaf). Ada bule yang bisa diajak ngobrol baik-baik, ada bule yang ngototan. Dan ya, banyak juga bule yang kere (maaf lagi). Sama seperti orang Indonesia pada umumnya.

Ketika saya memasuki dunia online dating, saya dihadapkan pada lebih banyak pilihan. Saya – dengan naifnya – memberikan tanda centang pada hampir semua ras. Saya hanya menekankan pada kategori yang prinsipil misalnya agama harus Islam, engga merokok, engga minum alkohol, dan statusnya single (duda boleh kok, asal single). Perkara yang muncul ternyata bule, bule, bule, bule, bule – it was out of my control. Barangkali karena situs ini menggunakan algoritma yang menemukan kecocokan di antara saya dan para lelaki, berdasarkan kriteria yang kami inginkan. User juga harus menjawab sejumlah pertanyaan, dan nantinya saya akan mendapatkan ‘match’ yang memberikan jawaban sama atas suatu pertanyaan. Anyway, match level saya dan mas Pakistan cuma sekitar 70%. Ada lho yang maunya sama yang diatas 90%, biar engga harus mengeluarkan usaha ekstra dalam menyesuaikan diri.

Kemudian, beberapa minggu yang lalu, saya mengobrol dengan seorang lelaki Indonesia di situs ini. Dia berkata, “kamu pasti lebih tertarik sama cowok bule daripada cowok Indonesia.” Pernyataan ini membuat saya kepikiran. Why is this happening to me? Sejak awal saya menggunakan situs ini, saya hampir tidak pernah bertukar nomor handphone dengan lelaki Indonesia. Apakah saya memang meniatkannya?

Here’s the thing. Pada halaman ‘Match’, sebetulnya saya jarang mendapatkan lelaki Asia. Saya lebih banyak melihat lelaki kulit putih (White) dan Timur Tengah (Middle Eastern). Kok bisa mas Pakistan nyangkut? Mungkin ini yang namanya takdir (cieh – aminin dong). Selanjutnya, ada perbedaan yang sangat mendasar dari perilaku lelaki bule dan lelaki Indonesia saat menggunakan online dating. (Kebanyakan) lelaki bule menyapa dengan kalimat yang menggambarkan bahwa dia telah membaca profil saya, and they have more creative pick-up lines. Lelaki Indonesia menyapa dengan, “hai, boleh kenalan?” I was like... please deh.

Belum lagi profilnya. Sebagian lelaki bule mengisi profil dengan detail, yang menampakkan bahwa setidaknya mereka datang dengan keseriusan. (Kebanyakan) lelaki Indonesia lebih sering membiarkan profil mereka kosong melompong. Kalaupun ada, banyak typo yang kurang-lebih menandakan mereka hanya ingin main-main.

Dari segi obrolan, somehow lelaki bule lebih punya banyak topik dan pengetahuan. Saya juga memahami jika mungkin ada subyektifitas, karena bisa saja perbedaan menjadi hal yang menarik. Maksud saya, misalnya saya mengencani lelaki Indonesia kan yaaa gitu-gitu aja. Sementara ada cerita-cerita baru yang akan saya dapatkan dari lelaki bule, hehe.

Saat saya mengetik ini, saya juga bertanya-tanya, apa saya ‘apes’ aja karena belum ketemu lelaki Indonesia yang berkualitas di situs ini. Mungkin lelaki Indonesia yang lebih serius akan lebih mudah untuk ditemukan di situs lain, seperti Setipe dot com? Entahlah, saya tidak menggunakannya.

However, saya hanya ingin mengklarifikasi bahwa pada awal dan akhirnya, saya tidak pernah melihat satu ras/suku lebih baik daripada yang lain. Some people have narrow mind thinking that their race/ethnic is the best, while I personally don’t think that way.

I don’t know where life will takes me, but I know for sure that the best thing in life is not marrying someone handsome/rich/comes from specific race/ethnic.

It’s marrying someone who loves and appreciate you, pay high respect on you, and will do what it takes for the happiness of you and him – this IS everything.

Lots of love,
Prima

2 comments:

  1. Saya aminin ya kak prim.

    Amiiiin :D

    Suka baca baca tulisan kak prima yang kayak gini.
    Seringnya aku manggut manggut.

    Mungkin bener juga, lelaki indonesia yang pakai situs itu lebih banyak yang main main. Pengen nyoba aja.
    Ya tp setuju jg sih, bukan mau memojokkan lelaki indonesia juga.

    ReplyDelete
  2. Haiii, maaf ya aku tak mampu komen dalam bahasa Indonesia sepenuhnya :)

    Kufikirkan bule itu ialah 'foreigners'? Ada juga rakan-rakannya yang maukan pasangan foreigner. Dan aku jugak seperti kamu, ada ciri2 yang aku letak sekiranya mau yang foreigner. Ku fikir lelaki di Indonesia & Malaysia ada persamaan kerana kita hidup dalam suasana yang hampir sama. Aku sendiri bila sudah belajar di luar negara, ada banyak perbezaan dapat aku lihat. Dari gaya mereka melayan perempuan (ladies first sangat digunakan).

    hanisamanina.com

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...