Tuesday, August 22, 2017

Kursus Bahasa Inggris di Jogja dan Konsep Rezeki


Setelah post terakhir saya yang mellow abis, saya berusaha untuk bangkit karena berpikir bahwa sayang banget kalau menjalani hidup dalam kesedihan. Too much negative energy may kill you, right? Apalagi hari itu saya mendapatkan pelajaran berharga saat menemani tante ke pasar. 

Pasar yang kami datangi bukan seperti pasar tradisional pada umumnya. Tidak ada banyak lapak, bahkan dapat dihitung dengan jari tangan. Selain dua toko kelontong, ada beberapa penjual sayur – ada yang berjualan dengan cara menggelar barang dagangan di teras toko, ada yang punya warung sayurnya sendiri.

Tante saya membeli tempe dan wortel di warung, sayur-sayuran di salah satu penjual sayur, lalu buah-buahan di penjual yang lain. Namun begitu, saya baru memperhatikan kalau sebenarnya para penjual itu menjual barang-barang yang cenderung sama. Mereka semua menjual tempe merek yang sama; wortel, bayam, sawi yang sama; bahkan bumbu-bumbu yang sama. Ketika saya tanya mengapa tante membeli di penjual yang beda untuk barang-barang tersebut, beliau menjawab sekadarnya, “bagi-bagi rezeki saja.”

Saya jadi tersadar tentang apa yang diulang-ulang oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Bahwa Ia telah menjamin rezeki seseorang, dan dengan cara apapun kita mengusahakannya, rezeki itu tidak akan tertukar. Sekarang hanya tinggal bagaimana kita berikhtiar. Pada dasarnya, semua pekerjaan (yang halal of course) yang dikerjakan dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah bisa bernilai ibadah. Terutama kalau tujuan kita adalah untuk mempermudah kehidupan orang lain, insyaAllah bisa menjadi amal jariyah. 

Seperti yang sister ketahui dari blog post saya sebelumnya, saya sempat stres dengan masalah pekerjaan. Lalu tahukah sister, apa yang saya lakukan untuk mengurangi stres tersebut? Ngeliatin teman-teman saya yang lagi sibuk cari kerja. Hehehe. Kesannya jahat banget, tapi saya jadi lebih bersyukur mengingat setidaknya saya sudah memiliki pekerjaan. Tidak dapat dipungkiri kalau saya tetap mengejar beberapa pekerjaan yang saya impikan sejak dulu – but at least I can pay my own bills start from next month. Alhamdulillah banget kan.

Nah, daripada cuma ‘ngetawain’, saya pun bertanya kepada mereka, “adakah yang bisa saya bantu?” Lalu ‘tiba-tiba’ saja saya ngajarin mereka bahasa Inggris, which for me is quite an experience. I teach them not because I am an expert, but because I want to help and I love what I do.

Lalu kenapa saya berani buka kursus bahasa Inggris kali ini? Karena saya percaya, rezeki tidak akan tertukar. Kursus bahasa Inggris di luar sana banyak banget, dari yang murah meriah, ‘jualan’ bule, sampai mahalnya ngalahin SPP anak kuliahan. Macam-macam. Tapi dengan niat yang insyaAllah lurus, bismillah, saya ingin membantu orang-orang di Jogja khususnya yang baru lulus kuliah dan lagi cari kerja.

Kelebihan yang saya tawarkan tentunya pengalaman kerja (dan pengalaman cari kerja) saya yang lumayan banyak. Gagalnya sudah engga kehitung berapa kali, haha. Makanya saya engga mau kalau teman-teman gagal juga, justru harus lebih sukses daripada saya. Pada kursus yang akan saya fokuskan untuk para pencari kerja ini, saya akan sekaligus membagi tips seputar dunia kerja, dari mulai membuat CV yang menarik, sampai menjawab pertanyaan saat wawancara.

So, if you know someone who needs to polish his/her English speaking skill and based in Jogja, perhaps you can recommend my service to him/her? I will really appreciate it! :)


Lots of love,
Prima  

Sunday, August 20, 2017

Freefall

Dear lovely sisters, I am hereby announcing that I have finally graduated as Master of Arts from Gadjah Mada University, alhamdulillah :) Belum wisuda resmi sih, insyaAllah nanti Oktober 2017 – jadi kalau ada yang mau ngasih bunga atau apa, sekalian bulan itu aja ya, hihi. Tapi iya seneng banget karena satu urusan selesai, dan engga perlu bayar SPP lagi :)))))

Terus kenapa sampai butuh lebih dari sebulan untuk menyampaikan kabar gembira ini di blog? Karena... saya (sepertinya) mengalami gejala depresi. Tahun lalu, saya juga mengalami hal ini, makanya sister jarang lihat tulisan saya kan. Tapi saya baru menyadarinya sekarang. Saya pikir waktu itu saya sedih biasa dan akan hilang kalau saya menemukan hiburan. Ternyata engga, I was constantly ‘sad’ for more than six months. Saya tetap beraktivitas seperti biasa; saya tersenyum, tertawa, ya normal-normal aja. Saya masih bisa makan, hanya kualitas tidur yang terganggu karena selalu bermimpi. Cuma parahnya, saya sering tiba-tiba nangis. Sampai pernah menangis meraung-raung...dan setiap kali menangis, saya selalu mencatatnya di kalender, untuk bisa melihat kapan dan kenapa saya menangis.

Thank God, tahun lalu bantuan hadir dalam wujud seorang psikolog. Dan saya kira masalahnya selesai saat itu. Apalagi ketika mulai bulan Oktober, kesibukan saya bertambah banyak. I didn’t have time to be sad because life gave me a lot of things to do. I feel energized...but the bad thing, I put aside those problems without knowing what actually my problem was.

Now it is happening again. I feel there is a big hole inside me and it eats me up. I don’t know what it is and I don’t know why, but I feel so so sad. Awalnya saya pikir saya cemas karena memikirkan masalah pekerjaan, but now that I have a job (two jobs actually), I still feel sad. And then masalah cinta, hahahahahaha, you know. But when I try to be realistic, I become more sad karena yaaa gitu deh (susah dijelasin). Yang paling berat, saya engga bisa menangis! Nangis sih nangis, tapi kayak nangis yang belum lega. Ada sesuatu yang benar-benar mengganjal dan saya tidak tahu apa.

Semua ini kemudian menjadi penyebab mengapa saya belum bisa nge-blog lagi. Saya tetap menulis, dan saya menulis dengan tangan di buku jurnal saya hampir setiap hari, tapi saya tidak pernah berani untuk mengklik ‘publish’. I typed, I clicked backspace a lot of times, until I never had a full blog post. 

Baru kali ini akhirnya saya berani kembali ke blog. Why so? Karena saya percaya ada teman-teman di luar sana yang juga membutuhkan bantuan dan dukungan. Saya belum tahu bagaimana saya akan menyembuhkan diri saya, tapi satu yang pasti, insyaAllah saya tidak akan menyerah. Please bear with me, as I wish I can help you too, someday.

Lots of love,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...