Saturday, January 31, 2015

#1Day1Dream: It's Not Finish Yet..

Alhamdulillah, sampai juga di penghujung bulan Januari, yang artinya it’s time to close the #1Day1Dream project. Bulan ini, kita sudah belajar bermimpi, bahkan mungkin melampaui batas pemikiran kita. Banyak diantara kita pasti merasa ga yakin, bisa ga ya mencapai impian tersebut? Don’t worry, even Wright Brothers, they were once feel doubted.

Kita juga sudah mendapatkan suntikan semangat dari orang-orang yang telah mendahului kita dalam meraih impian mereka. If they can make it, there must be a way for us to achieve our dreams too!

Di hari terakhir ini, kita harus memilih satu impian yang benar-benar mau kita lakukan tahun ini. SULIT BANGET YA AMPUN. Seingat saya, saya punya banyak banget hal yang ingin diwujudkan tahun ini: mahir menyetir mobil, les bahasa Korea, mempersiapkan rencana International Islamic Literature Festival, semuanya sambil tetap mempertahankan nilai di studi S2. Fiuh *lap keringet*

Tapi, diatas semuanya, saya ingin tetap menulis blog. Saya ingin membuktikan pada diri sendiri, sekali lagi, bahwa saya mampu berkomitmen - dan melakukan apa yang memang saya sukai ini dengan persisten. Sementara memiliki penghasilan atau bekerjasama dengan sebuah brand mungkin masih butuh waktu, yang penting saya meningkatkan kemampuan menulis. Rezeki pasti mengikuti orang yang benar-benar berusaha kan :)

Untuk itu, saya punya beberapa target kecil yang bisa membantu saya mencapai impian menjadi blogger profesional, antara lain:
  • Menulis 200 post dalam setahun, checkpoint: 100 post pada tanggal 30 Juni 2015
  • Mencapai 200,000 views pada akhir 2015, checkpoint: 150,000 views pada tanggal 30 Agustus 2015
  • Membuat dua project lagi sepanjang tahun 2015. InsyaAllah the next project will be launching on April ;)

In the meantime, saya ingin melanjutkan #1Hari1Ayat dan #1Hari1Masjid – sebagaimana misi saya sejak awal: nge-blog untuk dakwah. Bukan hanya untuk teman-teman, tapi juga untuk saya sendiri.

So this is it.

“You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one..”


Kalau John Lennon bernyanyi demikian, saya harus setuju. Ternyata saya ga sendirian dalam hal menjadi pemimpi. Meski tadinya saya berharap pesertanya lebih banyak, tapi saya seneng banget dengan dedikasi para peserta. Post-nya bagus-bagus, ditulis dengan serius, dan sekarang saya bingung harus milih pemenangnya. Hahahahaha. Tunggu ya, insyaAllah sebelum tanggal 16 Februari sudah keluar pengumumannya.

Now what? Well, what are you waiting for?
Wake up and working on it!

Lots of love,
Prima

Friday, January 30, 2015

#1Day1Dream: Asy-Syifaa Halimatus Sa'diah

Syifa yang sebelah kanan. Imut kan.. ;)

This girl is so special for me. She’s cute, energetic, and have a lot of achievements. At top of that, she is a very dedicated girl towards her passion and activities. Her name is Syifa.

Sudah setahun saya mengenal dia, sejak project #1Hari1Ayat bulan Januari tahun lalu. Kedua kalinya kami berkolaborasi, adalah untuk #1Hari1Masjid pada bulan Ramadhan. Dia tidak hanya memberi satu tulisan, tapi DUA. Wow. Emejing. Lalu saat saya sedang di Bandung bulan Oktober lalu, saya mengajaknya bertemu. Tapi dia sedang sibuk seleksi apaaa gitu, yah memang belum berjodoh. Huhuhu.

Untuk remaja seumur Syifa, satu hal yang saya kagumi adalah kesiapannya untuk menjadi agent of change. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh negara ini. Lihat saja blognya, tulisan-tulisannya sangat positif dan bermakna. Belum lagi rangkaian kegiatannya, dari mulai sekolah, ekstrakurikuler, sampai lomba atau kompetisi. Meski saya gatau bagaimana nilai Syifa di sekolah, tapi saya yakin Syifa mahir mengatur waktu. Bener ga, Syifa? ;)

Syifa mengingatkan akan saya waktu SMP. Hampir setiap hari saya sampai rumah menjelang maghrib. Jamannya teman-teman saya cuma ikut dua ekskul, saya ikut EMPAT. Saya juga bergabung di OSIS, jadi pengurus kelas, dan alhamdulillah tetap bisa meraih peringkat lima besar di kelas.

Kadang, energi itu jauh berkurang ketika kita beranjak dewasa, entah kenapa. Mungkin perhatian kita banyak teralihkan untuk hal-hal duniawi. Let say, bills and bills. Perlahan kita melupakan hal-hal yang membuat kita bersemangat. Kehidupan kita menjadi monoton dan datar. Bangun-kerja-tidur, gitu aja terus setiap hari.

Berteman dengan Syifa memberikan energi baru di kehidupan saya, cieh. But it’s true. Melihatnya begitu bersemangat mengejar impiannya, mengingatkan saya bahwa saya juga punya impian. Yang sedikit terlupakan karena tertutup beban hidup #halah

Syifa juga sering mendukung saya, bahkan dia melakukan banyak hal untuk saya saat World Muslimah Award lalu. Saya berharap suatu saat juga bisa mendukungnya, tapi yang terdekat saat ini mungkin hanya doa. Semoga Syifa fokus berada di jalan yang lurus – hehehe - maksudnya jalan yang mendukung tercapainya segala impian. Terus share hal-hal positif ya sayang, we’ll meet soon ;)

Lots of love,
Prima

Thursday, January 29, 2015

#1Day1Dream: Mbak Ratis Dhuril

 
 
Hari ini, saya ingin mengajak sister berkenalan dengan kakak tingkat saya jaman kuliah. Konon latar belakang keluarga kami hampir serupa masalahnya, jadi sebagaimana saya, dia juga banyak melalui hal-hal yang kemudian membentuk ketegaran diri dan kerja keras.

Kakak cantik satu ini adalah pengoleksi Tupperware limited edition atau special collection (dan sering menjualnya juga). Tapi bukan cerita bagaimana dia bisa dapetin toples hello kitty yang hanya diproduksi sepuluh biji di dunia (#lebay) yang mau saya share kali ini. Kalau itu silakan tanya sendiri ke orangnya sih.

Nah, ceritanya sekitar sebulan yang lalu, saya melihat dia update foto di Facebook…dia baru saja membuka depo susu bernama Abraham’s Factory di kotanya di Mojokerto! Wow, pencapaian yang sangat besar hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Sebelumnya, mbak Ratis, begitu saya biasa memanggilnya, berjualan susu sapi keliling sendiri. Tiga bulan yang lalu, karena makin meningkatnya penjualan, mbak Ratis mulai mempekerjakan seorang kurir. Eh saya sempet berpikir, “hah ngapain mbak Ratis ini. Susah-susah kuliah komunikasi kok malah jualan susu.” Hahaha, pemikiran yang sangat cethek sekali pemirsa. Tapi justru dari situ saya jadi penasaran lho. Kenapa memilih berjualan susu? Monggo langsung disimak obrolan kami..

Prima (P): Mbak, apa bedanya jualan susu lewat delivery dan sekarang buka depo?
Mbak Ratis (MR): Perbedaan yang paling terasa soal tanggung jawab yang semakin besar dibandingkan saat dulu masih delivery. Dulu, waktu masih pakai tenaga sendiri, apa-apa ujung-ujungnya memang buat diri sendiri, entah itu keuntungan atau kerugian. Pelajaran soal tanggung jawab dimulai saat saya punya tenaga kurir untuk mengantar susu. Mungkin orang menilai saya bakal enak-enakan bisa duduk-duduk manis karena sudah tidak nganter susu kemana-mana. Tapi saya justru harus lebih sering memutar otak. Setelah punya kurir, saya harus berpikir tentang menyejahterakan kurir. Jadi mikir bagaimana hasil produksi dan penjualan bisa lebih meningkat.
Apalagi sekarang ketika memutuskan punya depo. Memang, depo bagi saya hanyalah sebuah langkah kecil untuk mimpi besar. Tapi, tanggung jawab-nya jauh lebih besar lagi. Dan buatku itu tantangan yang menarik. Contohnya, saya harus menyusun ulang rencana pemasaran, bahkan dari NOL karena pasar sudah meluas. Saya juga harus memikirkan tentang penjagaan kualitas, dulu delivery lebih mudah karena langsung diantar ke rumah. Tapi kalau sekarang harus ready stock di depo. Saya juga belajar tentang manajemen SDM, pastinya semakin banyak karyawan, semakin sulit pengaturannya. Terakhir, manajemen keuangan. Rumit semuanya, tapi buat saya ini benih realisasi mimpi, dan depo susu saya jadikan ‘rumah kecambah’ untuk merawat benih-benih mimpi itu. 

 
P: Wow, luar biasa. Dari sesuatu yang kelihatannya sederhana ternyata perkembangannya bisa bermakna sangat besar. Kenapa sih mbak Ratis memilih menjadi pengusaha?

MR: Tak ada alasan, dan bukan sebuah pilihan. Lebih kepada sebuah panggilan, panggilan dari hati. Mungkin karena saya tumbuh di keluarga pedagang, jadi ada sifat yang menurun dan terbentuklah mindset pedagang. Saya jadi mencintai dunia wirausaha, karena bagi keluarga saya ini menjadi sebuah cara menikmati hidup.
 
P: Wuih, keren jawabannya nih. Selanjutnya, apa nih target mbak Ratis kedepannya?
MR: Jangka pendek tentunya peningkatan omset, karena tentu saya ingin bisa lebih menyejahterakan karyawan dan memperluas peluang kerja. Selain itu mau melengkapi kebutuhan depo. Kalau jangka panjang, lima tahun kedepan maksimal, harus punya depo yang lebih besar dan tempat baru di tengah kota. Menambah produk susu pasteurisasi dan bisa jadi oleh-oleh buat ke luar kota. Kalau impian lebih besarnya, punya peternakan sendiri, hehehe.

P: Amiiin, insyaAllah bisa. Terakhir nih, mbak Ratis ada pesan untuk teman-teman yang lagi mengejar mimpinya?
MR: Pertama, saya berterimakasih banyak sudah diwawancara, saya sih merasa belum pantas untuk sampai ke tahap menjadi inspirasi. Saya merasa belum mencapai mimpi-mimpi saya, perjalanan masih panjang. Tapi yang paling penting, harus fokus, perlahan-lahan menaiki anak tangga tapi kerja keras. Berdoa, dan yakinkan diri kalau apa yang kita lakukan haruslah bermanfaat bagi banyak orang. Kalau buat saya, tidak ada yang namanya sulit atau mudah, tapi Tuhan lebih tahu kemampuan kita seperti apa. Kalau kita tidak memaksakan kehendak, semua akan menjadi lebih ringan. Bersabar juga, kalau ada masukan dari orang lain, jadikan hal itu sebagai evaluasi. Terakhir, ikhlas atas keputusan yang sudah diambil. Semoga kita semua meraih apa yang kita impikan!
P: Amiiin, amiiin. Makasih banyak wejangannya mbak Ratis ;)

 
Buat teman-teman yang main ke Mojokerto, mampir ya ke Abraham Factory di Jl. Raya Lengkong , Mojoanyar, Mojokerto (arah ke Rolak Songo, setelah jalan turunan terowongan jembatan By Pass, kanan jalan). Kalau mau kontak mbak Ratis di nomer hp: 085755032555.

Lots of love,
Prima

Wednesday, January 28, 2015

#1Day1Dream: Erny Kurniawati

Pic from here.

Hai Erny!
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu denganku di sela-sela jadwalmu yang padat #cieh

Orang bisa bilang ini aneh, tapi nyatanya setelah ketemu beberapa orang, aku semakin percaya kalau orang-orang yang hanya berkenalan lewat online, bisa jadi lebih dekat daripada yang sudah bertatap muka bertahun-tahun. Tapi kalau aku sih ga berharap lebih dekat lagi, nanti ada yang marah :)))))

Anyway, ga nyangka kalau cerita hidupmu luar biasa. I was thinking that you are a happy-go-lucky girl. Tapi setelah denger ceritamu, wow, aku kagum sekali. You are doing a very good job in balancing campus life and working. Trust me, it is indeed uneasy. Aku pernah bekerja sebagai penyiar radio selama setahun di masa kuliah. Dan meskipun jadwalnya amat sangat fleksibel, tetap saja aku merasa kewalahan. Untung ada tukang ojek pacar (saat itu, sekarang sudah jadi mantan) :p

So, kalau aku boleh memberi saran (boleh ga boleh tetep aku kasih, haha), yang pertama: try to enjoy the show. Seperti kamu bilang ke aku, you are lucky to get everything that you have now. Don’t just take it for granted. Kamu dikaruniakan kesempatan untuk tidak hanya belajar – tapi mempraktikkan apa yang kamu pelajari. Ga semua mahasiswa punya kesempatan, dan kekuatan, untuk menjalaninya. Jadi Allah sudah kasih kamu karunia yang sangat besar sekali.

Yang kedua, make time for me-time. It helps you to keep sane. Mungkin jogging di pagi hari, mungkin bersepeda di akhir minggu, mungkin membaca buku favorit. Oya, idemu untuk bikin 1 Bulan 1 Buku brilian banget! Sangat realistis dan memotivasi. Semoga makin banyak yang ikutan ya.

Yang ketiga, set your priority. We can’t please everybody so the most important thing here is, we are happy with our decision. Dalam perjalanan hidup kita memang terkadang harus mengorbankan sesuatu – pasti ga enak -  tapi ingat tujuan utamamu. Jangan hanya lihat apa yang terjadi hari ini, tapi bayangkan apa yang kamu dapatkan di masa depan. Sulit? Ya iyalah. Kalau sukses itu gampang, motivational speaker ga laku. LOL.

Aku rasa udah kebanyakan. Takutnya semakin banyak nasihat yang aku berikan, terus ada penerbit yang baca, aku disuruh gantiin Merry Riana. Kan aku ga bisa nge-blog lagi #eaaa

Once again, remember: be happy ;)

Lots of love,
Prima

***Untuk membaca blog Erny, click here.

Tuesday, January 27, 2015

#1Day1Dream: Ika Hikmah Maulida

Pic from here.
Suatu siang beberapa bulan yang lalu, teman baikku di kantor berkata dengan sumringah, “ada yang mau ketemu sama kamu, prim. Dia pingin belajar banyak dari kamu.” Dari nada bicaranya saja aku tahu dia sedang falling in love. Jadi aku tidak perlu menebak-nebak siapa yang dia maksud. Pasti pacar barunya. Aku tersenyum dan mengiyakan. Mengingat sejarah hubunganku yang amat buruk dengan mantan pacarnya – dan aku benci bermusuhan dengan kekasih temanku – aku senang jika aku bisa berteman dengannya (-nya disini adalah pacar baru temanku #dijelasin).

Berminggu-minggu kemudian, aku baru bisa bertemu dengannya. Ika namanya. Dari pertemuan pertama itu, aku langsung tahu kalau dia mirip aku saat muda. Ceria, lincah, ramah, dan sedikit alay. Huahahaha. No, it’s not a bad thing as she really is still a teenager. Ga heran kalau di kemudian hari cukup sering berantem sama temanku. Temanku kan om-om jauh lebih tua daripada dia, bahkan lebih tua daripada aku.

Salah satu hal lain yang membuatku merasa dia mirip denganku adalah semangatnya. Melihatnya membuatku teringat, bahwa ternyata aku bisa berada di kehidupan yang setingkat lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, semua karena karunia dari Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang :’)

Kembali ke Ika, sejak kami bertemu, dia menunjukkan banyak sekali perkembangan positif. Dia selalu bilang kalau aku banyak menginspirasinya, tapi sebenarnya yang terjadi adalah kami saling menginspirasi. Satu yang jelas kelihatan, blognya. Dia semakin selektif dalam memilih tema, dan tulisannya juga semakin baik. Sssttt, diam-diam (dan sekarang semua tahu~) aku iri sama Ika yang bisa jauh lebih kreatif dalam hal nge-blog. Faktor usia kali ya #NgerasaTua -_-

Ika juga banyak meminta saran dari aku, dan saat-saat itulah aku juga mempelajari diri sendiri. Apakah aku cukup logis, apakah aku bisa memberikan saran yang baik untuknya, dan apakah aku sudah mampu menjadi pendengar yang baik? Dia yang curhat, aku juga dapat manfaat.

Saat ini, Ika sedang magang di Jogja. Dan hebatnya, dia ga berhenti nge-blog. Luar biasa *tepuk tangan* Sayangnya karena kami berdua sama-sama sibuk (dia aja sih sebenarnya, aku sih pengangguran banyak acara), kami belum sempat ketemu.

Yang kuat dan sabar ya, Ika. Aku percaya kamu bisa menghadapi tantangan-tantangan hidupmu selanjutnya. Cuma ya itu deeeh, yang sabar. You are lucky somebody has a big heart to always try understanding you, but you have to make it easier for him. Promise me that you can do it, okay? ;)

Lots of love,
Prima

***Untuk membaca blog Ika, click here.

Monday, January 26, 2015

#1Day1Dream: Rosalina Susanti

Pic from here.

Assalamu’alaikum,

Dear Rosa, apa kabar? Masih galau? #tetep :p

Kamu tahu kan, sebenarnya aku ingin main ke Semarang: jogging di Simpang Lima terus numpang sholat dhuha di masjid Baiturrahman, lunch cantik di kafe-kafe dekat Akpol (sambil berharap ada yang bisa digebet), lalu malemnya kita bakal ngobrol sampai subuh. Terus tepar.

It seems like we have known each other for years, don’t we? Bahkan dikarenakan umur dan frekuensi interaksi, rasanya aku udah nganggep kamu seperti adikku sendiri. Meski sayangnya, aku sadar kita berdua ga ada kemiripan sama sekali; dari mulai fisik, bahkan karakter. Untuk kebanyakan hal, terutama pemikiran, bahkan kita bertolak belakang. Tapi tetep aja kita bisa ngobrol ngalor-ngidul. Mungkin benar katamu, kita ditakdirkan bertemu untuk saling melengkapi #cieh

Aku lupa kapan pertama kali kita ‘bicara’. Tapi sebagaimana aku memandang para pembaca blog-ku yang lain, aku main ke blogmu dan aku suka. Kamu menulis dengan jujur dan blak-blakan, tidak dibuat-buat. Padahal tadinya aku berpikir kamu orangnya pendiam dan pemalu lho *apa hubungannya*

Tapi ternyata benar kan. Aku melihatnya ketika akhirnya kita bertemu di Jogja. Kamu orang yang lebih nyaman jika berada di kumpulan yang kamu kenal. Kamu menyenangi keterikatan. Kamu… susah move on. Hayo, bener ga? :)))

That’s why I feel so proud of you when you move to Semarang. It must be a very big step in your life. And I know that you might be scared and anxious everyday, but listen to me: remember why you started. It’s you dream, that bigger than what you got when you were still in Jepara. You are chasing something better. And you do it well.

How can I say that? Because I am feeling it too at the moment. The process when I move in to Jogja wasn’t as smooth as I expect it to be. It is painful, even until now. But everytime I feel like hopeless, I remember that I want to grow stronger. And this is exactly what I need.

Saya pernah ingat satu nasihat Kyai yang diberikan kepada para santri di Gontor (adikku sekolah disana, ingat kan?): ‘hidup ini dijalani, jangan lihat apa yang di depan mata sekarang. Kalau (tinggal di Gontor) tahun pertama belum betah, jalani sampai tahun kedua. Tahun kedua belum kerasan, jalani sampai tahun ketiga. Sampai nanti tidak terasa sudah mau lulus, dan kalian insyaAllah mengecap manisnya.’

Thank you for the lessons, Cha. Thank you for the reminders. Karena jadi yang lebih tua memang tidak selalu berarti jadi yang lebih bijaksana. Yang penting adalah mau belajar, dan mau diingatkan. And once again, you do it to me nicely.

Ini hadiah kecil untuk ulang tahunmu, meski sedikit terlambat. Doaku sederhana: semoga kamu selalu dijaga Allah dimanapun kamu berada, dan semoga kelak, kita berdua dipertemukan lagi di surga-Nya.

Lots of love,
Prima

***Untuk membaca blog Rosa, click here.

Sunday, January 25, 2015

#1Day1Dream: Safira dan Rumah di Tasikmalaya

Pic from here.

Fira sayangku, 

Kali ini kita samaan lagi deh. Gara-gara post-mu, saya jadi ingat kalau saya pingin punya rumah di kota kecil. Toss dulu :D

Jadi, jauh sejak sebelum saya kuliah di Malang, saya sudah tahu kalau saya punya rumah di Malang, tapi di pucuk gunung alias agak jauh dari kota. Nanti di sana saya akan punya ruang untuk menulis yang punya pemandangan perbukitan. Di sisi lain rumah saya, saya bisa melihat kerlip kota di malam hari. Ya ampun romantis banget ga sih *ngayal*

Sayangnya nih, Malang, maupun kota Batu udah padat banget sekarang. Mana kebanyakan kawasan perbukitan mulai dijamah oleh developer perumahan mewah nan elit jadi harga tanah makin mahal. Huhuhuhuhu.

Tapi impian ini tidak akan terhapus begitu saja. Siapa tahu kalau nanti saya bisa mewujudkannya, bukan di Malang atau Indonesia, tapi mungkin di Swiss atau salah satu kota kecil di Korea. Amin Ya Allah *ngayalnya kebangetan* :)))

Semangat bermimpi ya sayang, semangat juga untuk mewujudkannya! ;)

Lots of love,
Prima

Saturday, January 24, 2015

#1Day1Dream: Arifinda dan Sepatu Charlotte Olympia

Pic from here.

Arifinda (atau Ade?), post ini ga ngaco sama sekali kok ;)

Waktu saya beranjak dewasa, saya pingin banget punya tas Louis Vuitton. It's luxurious and gorgeous. Top banget deh pokoknya! Sampai sekarang pun saya masih pingin punya, meski kalau nanti ada uangnya, mungkin saya akan milih untuk membeli Michael Kors atau Kate Spade aja. Delapan belas juta untuk sebuah tas, sebentar saya tanya calon suamik dulu.

Beberapa orang punya branded stuff karena memang ingin menunjukkan kelas mereka; atau as simple as because the quality is very high. Tapi buat saya, kalau suatu hari saya mampu dan akhirnya membeli tas Louis Vuitton, hal itu adalah untuk mengingatkan saya akan kerja keras saya. Bukan hanya karena kemudian saya merasa pantas membeli tas itu, tapi juga untuk memotivasi diri untuk tidak berhenti dan terus berjuang. 

So, maybe you feel the same thing towards the Charlotte Olympia shoes. And, Anastasia Siantar is a very fabulous muse as well! ;)

Lots of love,
Prima

Friday, January 23, 2015

#1Day1Dream: Deby dan Aktif Nge-blog

Pic from here.

Hai Deby! Impian kita mirip-mirip ya: jadi blogger yang aktif.

Baca blog post-mu mengingatkan saya untuk satu rumus terpenting: banyak baca!

Soalnya nih, kalau kita ga banyak baca, yaaa apa juga yang mau kita tulis? Apa aja bisa kita baca untuk dapat ide nge-blog. Dari mulai buku bacaan favorit, majalah, atau bahkan buku kuliah. Semakin banyak baca, maka semakin terbuka pula pikiran kita. Biasanya, kalau saya mulai suntuk nge-blog, saya baca majalah-majalah lama. Ada beberapa tema mereka yang masih bisa dipakai sampai sekarang, tinggal saya olah dengan kreatifitas saya sendiri deh.

Saya juga sering mantengin timeline Twitter following saya. Mereka sering share yang mereka baca, dan biasanya menarik banget. Salah satu favorit saya adalah mbak Ollie (@salsabeela), she loves to shares a lot of inspirational articles about entrepreneurship or even life motivation.

Mencari inspirasi dari blog lain juga ga kalah penting, supaya kita bisa 'curi' ide kenapa blog mereka banyak yang baca. But, copy-paste is a big no no! Kita juga ga perlu menjiplak gaya mereka, karena setiap dari kita pasti punya ciri khas sendiri. 

Terakhir, kita juga harus komitmen sama waktu nge-blog. Buat saya, waktu terbaik adalah di pagi hari, sekitar jam05.30-06.30, atau malam jam20.00-21.00. Di waktu-waktu itu, saya masih fresh atau sudah tidak terlalu lelah setelah beraktivitas seharian. Cari idenya ya seharian dong, saya biasanya nulis ide-ide di notes hp atau notebook saya sepanjang hari itu. Begitu waktunya menghadap laptop, saya sudah siap nge-blog :)

I can't be happier to know that you have desire to share and spread the knowledge. Keep learning, and I am sure you'll be a great blogger in the future! 

Lots of love,
Prima

Thursday, January 22, 2015

#1Day1Dream: Zulfa dan Kue Ultah untuk Ortu

Pic from here.

This post is very very sweet.

Alhamdulillah, dua tahun terakhir ini saya diberi kesempatan untuk beliin mama saya makanan apa yang dia pingin. Dan alhamdulillah juga, mama saya ga aneh-aneh. Biasanya seminggu sekali minta dibeliin makan malam yang agak berbeda, seperti burger, pizza, brownies, terang bulan (martabak manis), wah daftarnya panjang juga ya. Hihihi. 

Kami adalah keluarga yang sederhana, bukan hanya karena 'terpaksa', tapi kebetulan mama bekerja sebagai konsultan makanan sehat jadi pola makan beliau cukup 'menyedihkan' untuk ukuran orang normal. Lalu sekitar satu tahun yang lalu, saya mengambil shift petang (yang biasanya kerja jam08.00-17.00 jadi jam09.00-18.00 atau 10.00-19.00). Kadang, bos atau teman sekantor membelikan makan malam. Tapi karena pekerjaan saya sudah selesai, maka makanan tersebut saya bawa pulang. Dan mulailah saya ajak mama 'mengkhianati' pola makan beliau. Hihihi. Anak yang bandel.

Dear Zulfa, untuk kesempatan spesial seperti ulang tahun orang tua, ada baiknya kamu menabung lebih awal. Atau, cobalah untuk bekerja di masa liburan kuliah. Nanti uangnya kamu simpan. 

Alternatif lain, kamu bisa belajar membuatnya. Tanya kepada teman-temanmu, siapa tahu ada yang mahir bikin kue. Wuih, orang tuamu pasti terkesan banget. 

Tapi tenang saja, apapun yang kamu usahakan, meski pada akhirnya kamu hanya bisa membeli black forest kecil seharga tiga puluh lima ribu dari mini market dekat rumah, saya yakin orang tua kamu tetap akan terharu. It's your effort they see, not the cake.

Semoga saran saya bermanfaat ya, sayang.

Salam untuk orang tuamu.

Love,
Prima 

Wednesday, January 21, 2015

#1Day1Dream: Christina dan S2 Jurusan Akuntansi


Pic from here.
I must be the worst project manager ever. Applause! #lho

Mau gimana lagi, koneksi internet bener-bener ga bisa diajak kerja sama Pergi ke warnet pun harus menyesuaikan dengan jadwal tante atau sepupu. Apapun itu, memang dalih saya ga akan berguna. Saya kecewa sama diri sendiri yang koar-koar bikin project ini untuk melatih konsistensi, dan ternyata, rapor saya malah paling jelek :(((((

Tapi, saya ga semudah itu menyerah. Saya salut banget sama Kawancut yang masih lanjut dan makin lama tulisannya makin terstruktur, rapi, mudah dimengerti, dan punya ciri khas. Thumbs up! 

And this it, I'll start the new batch: writing #1Day1Dream posts from other participants. And the first one will be...Christina dengan impiannya: Kuliah S2 Jurusan Akuntansi.

Why I take this post? Because I will be back to school in a few weeks from now! Yay!

Ya, alhamdulillah saya sudah diterima di S2 Ilmu Komunikasi, FISIPOL, UGM. Saat ini saya sedang proses registrasi dan verifikasi. Semoga lancar semuanya sampai mulai kuliah tanggal 16 Februari 2015. Wish me luck!

Makanya, saya bisa ngerasain apa yang dirasakan Christina. Tadinya, saya mau ambil jurusan Psikologi, karena saya pingin bisa memberikan saran psikologis secara profesional. Ceritanya mau jadi 'tukang terima curhat' di masa depan nih :p

Tapi, setelah saya banyak tanya sama teman-teman yang S2 atau kerjanya berhubungan dengan Ilmu Psikologi maupun Ilmu Komunikasi; saya memutuskan kembali ke 'jalan yang benar', yaitu Ilmu Komunikasi. Hehehe. Soalnya, jelas ilmu ini adalah passion saya, jauh daripada keinginan saya menjadi psikolog. Oh anyway, saya juga ga bisa jadi psikolog soalnya S1 saya bukan Psikologi. So... I'll stick with the Communication Science.

Jadi, apa yang dilakukan Christina sudah benar. Dia banyak bertanya pada teman-teman yang memiliki pekerjaan dengan latar belakang Akuntansi. Good job, dear!

Saya sendiri juga punya keyakinan, yaitu bekerja dulu sebelum mengambil S2. Waktu lulus S1, saya bukan hanya ingin mengumpulkan tabungan karena mesti membiayai S2 sendiri; tapi saya ingin memastikan apa yang saya pelajari di S2 nanti benar-benar sesuai dengan tujuan profesi saya secara umum. 

Kenyataannya, saya gagal nabung. Christina, waspadalah! Waspadalah! Perasaan punya gaji bisa bikin kita ngerasa berhak menghabiskan uangnya, karena "ini duitku, aku udah kerja keras, aku boleh nyenengin diriku sendiri." Jangan ya sayang, kalau perlu kamu pastiin kalau kamu punya tabungan sekitar 10% dari gaji. Lumayan lho, kalau kamu kerja setahun atau dua tahun.

Terus, bagaimana saya bisa sekolah sekarang? Hanya karena karunia dari Allah, serius. Allah Maha Baik menitipkan sedikit kelebihan rezeki ke orang-orang terdekat saya sehingga mereka bisa membiayai sekolah saya. Tapi tentu saja, saya ga berpangku tangan. Doakan saya segera punya pekerjaan paruh waktu atau dapat beasiswa ya! ;)

So, Christina, I wish you all the best for your job and study plan.

Semoga betah dengan pekerjaan yang sekarang, and remember: keep moving forward!

Lots of love,
Prima

Tuesday, January 20, 2015

#1Day1Dream: Performing Umrah with My Mom

Pic from here.

Perkiraan Pencapaian: As soon as possible!

Finally, last post for the dreams!

I have planned to dedicate this post to my lovely mom, but turns out it’s not as easy as I think. I always failed when I give surprise to my mom. One day, I bought her a wallet, luxurious and expensive one (at least for me); and she said she needs a bag. Another day, I bought her a make up palette as I thought she needs it; and she said she wants something else. After three times, I stopped giving surprise gifts and just ask, ‘what do you want me to buy you, mom?’ :)))

But this time, I am pretty sure that we’re gonna meet. She wants to perform umrah, three of us: me, my mom, and my sister. There’s another dream of her, which is performing umrah with all 11 of her siblings. Sadly, one of my uncle passed away last year so now her family is not complete anymore :(

She thinks performing umrah with me and my sister will be the last trip that we can do together, before I get married and my sister goes to college. And it makes sense, even though now I still don't have husband candidate, LOL. As performing hajj takes looooong time to queue for us Indonesians, so I think by the time I can perform hajj, I will go with my husband. AMIN YA ALLAH.

There was a ‘funny’ story between my mom and Ka’aba. My mom performed hajj when I was a kid. She said she wants to hearten herself after the divorce, so she insisted that she has to go that year. Thank Allah, everything went smoothly. She said there were some challenges like the application was already closed, her money were not enough to make the down payment, and she didn't get the permission from her boss. But, closer to the departure date, everything were solved. Subhanallah. 

In front of the Ka'aba door, or what we call, Multazam, she prayed. To not being separated with me, ever. No wonder, at that time, I was her only treasure. With a broken marriage, I was all she had. 

After years, she said it becomes a curse. She can't let me go away. When I study in Malang, she has to force herself to not moving to Malang too. Now, as I moving in to Jogja, she said she has to hold herself for calling me every minute, or visiting me every weekend. These things, not happening with my sister.

So when I win The Most Inspiring Muslimah and get Umrah as the prize, she ask to come in too. She said, 'kak, kita berdua harus berdoa di Multazam, berdoa supaya kakak segera lepas dari mama. Supaya kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing.' Drama, right? But it just shows how big my 'burden' is to make her proud. We love each other more than words can explain, even though we don't always show it. 

I hope my trip will come soon, so I can accomplish my mom' dream. 

Lots of love,
Prima

Monday, January 19, 2015

#1Day1Dream: 'Pindah Tidur' di Eropa

Kamar penginapan di Antwerpen, Belgia. Pic from here.
Perkiraan Pencapaian: Musim Dingin, Awal Tahun 2018

Okay, menjelang berakhirnya cerita-cerita tentang impian sendiri, saya mendadak bingung. Materi, sudah. Personal development, sudah. Spiritual, sudah. Apa lagi yaaa. Hehehe. Tentu masih banyak sekali hal yang ingin saya lakukan, seperti menerbitkan buku (impian dari jaman kapan nih, ahahahahaha); menguasai satu skill olahraga yang keren, seperti berkuda atau anggar (what?!); atau menikah. Tapi masalah menikah sudah sering saya bahas di blog ini, I don’t want to make you feel bored :)))

So, impian jalan-jalan (lagi) aja ya.. Sebagai seseorang yang traveler abal-abal, saya memang benci packing, apalagi unpacking. Saya ga suka traveling yang terencana, tapi juga ga suka yang terlalu tiba-tiba atau ngikutin mood. Saya ga terlalu suka ke pantai (males jadi item), tapi juga ga excited banget kalau ke gunung (males mendaki). Buat saya, namanya liburan itu males-malesan, gegoleran ga jelas, baca buku di tempat tidur. Intinya kudu rileks dan menikmati waktu yang berjalan begitu saja.

Makanya, kalau orang-orang mikir pergi ke Eropa itu biar bisa jalan-jalan atau belanja, saya mikir ‘asik ya kalau ke Eropa pas musim dingin. Bisa bobok-bobok sepuasnya.’ Huahahahahaha. Makanya lagi, kalau yang lain senang negara-negara yang 'mainstream'; saya lebih milih Belgia, Irlandia, Norwegia. Kayaknya cuaca dan suasana disana cocok banget buat tidur seharian.

Mungkin hal ini yang bikin kenapa saya belum berjodoh sekolah di Inggris. Kuliah di Malang aja susah bangunnya karena cuaca yang lumayan adem, apalagi di Inggris. Bisa-bisa dihukum terus karena telat masuk kelas :p

Impian ini memberikan inspirasi, agar suatu saat nanti bisa punya ruang baca di rumah. Ruang tempat saya bisa baca-nulis-bobok siang; tetep yaaa ujung-ujungnya.  A place where I can get my high quality rest so after that, I can optimize my time to do more. 

Yuk tidur lagi,
Prima

Sunday, January 18, 2015

#1Day1Dream: Jadi Doktor!

Pic from here.
Perkiraan Pencapaian: sebelum usia 40 tahun, tahun 2028

Seandainya duit itu jatuh dari langit, atau bisa dipetik dari pohon, I’d rather go study and study and study. Sayangnya realita tak seindah harapan. Untuk membuat keputusan sekolah S2 ini aja, sampai sekarang saya masih kurang yakin. Ada beberapa hal yang sebenarnya masih harus diprioritaskan, tapi waktu terus berjalan, hingga kadang saya berpikir, ‘egoiskah saya untuk kembali ke sekolah?’ Tapi saya percaya, Allah akan menolong hamba-Nya yang sedang menuntut ilmu :)

Saya suka sekolah, dan belajar. Mengerjakan tugas, bekerjasama dengan kelompok, mempresentasikan hasilnya di depan kelas; it makes me feel good. Mungkin ini ada hubungannya dengan ke-kurangcantik-an saya – sebaliknya sesuatu yang membutuhkan intelektualitas membuat saya pede. Like, this is my world. I can give my best. Ngerti kan perasaan seperti itu?

Dina Tokio, dan Nisa Bella, finalis World Muslimah Award 2014 dari Malaysia, punya kesan yang sama tentang saya. They call me ‘geek’, as I brought some books with me :D

Makanya saya kadang berpikir saya terobsesi sama Hermione Granger. Inget ga caranya dia jawab pertanyaan dari guru-gurunya? Oh, I wish I am that genius, hihi. Sayangnya engga, saya ga secerdas itu, that’s why saya mencoba untuk tekun. Toh semua orang punya potensinya masing-masing. Kalau semua jadi dokter, yang jadi pasien siapa? Kalau semua jadi bankir, yang jadi nasabah siapa? Semua orang punya perannya sendiri. 

Intinya, kalau ada kesempatan, saya ingin sekolah setinggi-tingginya. Kalau sekarang S2 ambil Ilmu Komunikasi lagi, dan kemungkinan besar S3 nanti juga Ilmu Komunikasi; saya ga akan nolak kalau dikasih beasiswa sekolah bisnis, misalnya. Tapi, saat ini fokus saya adalah sebisa mungkin menyelesaikan S2 dalam waktu maksimal 2 tahun, lalu segera S3 dan menyelesaikannya dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya (kayak proklamasi yak, LOL). Fokus untuk kuliah pun sudah saya tentukan sejak sekarang, yaitu social marketing dan communication through new media (online media). Kalau masih ada waktu dan memungkinkan, paling saya ngebet pingin sekolah Islamic Studies, Creative Writing atau Bahasa Inggris. Oh, sama kursus bahasa Korea di Korea. Other than that, pokoke pingin sekolah setinggi mungkin. 

Selain bersekolah, tentunya saya berharap saya dikasih karunia sama Allah untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah dimiliki. Memang sih, ga harus nunggu punya banyak ilmu baru dibagiin. Dan sebaliknya, jangan cuma berbagi tapi lupa diisi. Karena ilmu berkembang, dan masih banyak sekali hal-hal menarik di luar sana yang menunggu untuk ditemukan. Menjadi pelajar, dan pengajar, adalah profesi seumur hidup. 

Lots of love,
Prima

Saturday, January 17, 2015

#1Day1Dream: Having a Party Decoration Company

Pic from here.
Perkiraan Pencapaian: Tahun 2016

Konon, ketika alam bawah sadar kita menginginkan sesuatu teramat sangat, semesta membantu kita untuk meraihnya. Atau setidaknya menunjukkan jalan kesana. Bagi saya, hal itu adalah kesempatan memiliki penghasilan. Saya percaya rezeki bisa datang dari mana saja, atau mungkin dititipkan Allah ke siapa saja. Tapi setelah terbiasa punya uang sendiri sejak sekitar pertengahan masa kuliah, tidak berpenghasilan selama hampir tiga bulan itu cukup mengganggu saya. 

Anyway, tenang saja. Saya tetap bersyukur bahwa ketika kemampuan tersebut sedang ‘dikurangi’ dari saya, Allah benar-benar menitipkannya ke orang-orang terdekat saya. Jadi.. Tolong didoakan agar mereka ikhlas membaginya kepada saya, hehehe. 

Salah satu alternatif untuk menghasilkan uang, selain bekerja di kantor, adalah dengan berbisnis. Jujur, saya sudah mencoba beberapa jenis usaha yang sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Jadi kemarin sepanjang tahun 2014, saya maju-mundur mikirin…apa iya jangan-jangan saya ga cocok jualan? Padahal, kerjaan saya di kantor waktu itu jelas-jelas jualan. Aneh kan? Apa mungkin bosen jualan terus? Atau bisa jadi gengsi kalau media jualannya ‘konvensional’ dan ‘tradisional’? Ah, bermacam-macam pikiran saya sepanjang tahun 2014.

Saya paham kalau ada banyak orang diluar sana akan berpikir, “tapi saya ga bakat jualan”. Gini ya manteman, apapun yang kita kerjakan, kita pasti sedang jualan. Jual ide minimal, atau rata-rata juga jual diri – ups, maksudnya jual skill kita. Kalau apapun yang dijual itu dikonversikan menjadi sebuah produk dalam bentuk nyata, kok tiba-tiba semua orang mundur teratur. Nah, ini juga ngomongnya sambil bercermin. Gimana, prim? Udah ketemu jawabannya? :)))

Tapi, kembali ke masalah alam semesta diatas, lucunya akhir-akhir ini saya banyak diketemukan sama teman-teman saya yang berani jualan – baik produk mereka sendiri ataupun bukan. Rata-rata ga selalu berhasil di tahun-tahun pertama kok. Ada yang masih merintis, ada yang sudah balik modal, ada yang mulai dapat laba yang lumayan; dan ada juga yang baru gagal dan mau mencoba lagi. Yang terakhir yang biasanya membuat saya tercengang, karena saya jelas tidak seberani mereka.

Teman-teman saya ini banyak yang memotivasi saya: dalam hidup, sukses-gagal itu biasa. Kalau gagal hari ini, kita coba lagi besok, lusa, dan seterusnya. Kita ga pernah tahu kapan Allah akan melimpahkan kesuksesan itu tapi Dia mau lihat usaha kita. Dan toh, memang kita yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki. Makanya ga ada cerita seseorang yang benar-benar kismin sampai ga ada apapun yang bisa dimakan, ga ada yang ngebantuin sama sekali. Pasti akan ada bantuan. 

So, saya sedang mengumpulkan keberanian, modal, dan juga lagi cari-cari ide. Tahun 2013, saya pernah punya rencana untuk bikin EO untuk pesta ulang tahun anak-anak. But I was too busy with my job and my partner candidate was busy with her kids who just entered the kindergarten. Ada kemungkinan saya akan menggarap konsepnya lagi tahun ini atau tahun depan. 

Ide kedua, yang masih dipertentangkan dalam hati saya adalah, fashion line untuk muslimah. Saya pernah bikin label, dan kekurangan saya waktu itu adalah tidak fokus. Jadi susah ngurusnya deh. Saya juga harus mengakui kalau fashion itu sebenarnya bukan passion saya. Tapi, saya tahu pasarnya berpotensi, dan sandang merupakan kebutuhan dasar manusia. So maybe I will collaborate with somebody who is more passionate than me. 

Target saya, lulus S2 tahun 2016, saya sudah harus punya satu usaha. Kalau bisa sih, saat itu sudah punya pekerja, meski baru 1-2 orang pekerja tidak masalah. Semoga tahun ini saya punya kesempatan untuk belajar lagi, dan benar-benar dapat modal untuk menjalankannya. Amiiin. 

Lots of love,
Prima

Friday, January 16, 2015

#1Day1Dream: Be a Professional Blogger

Pic from here.
Perkiraan Pencapaian: Tahun ini!

Agaknya saya masih belum bisa move on dari acara premiere film Hijab yang berlokasi di House of Balcony, Ambarrukmo Plaza; hari Kamis, 15 Januari 2014 yang lalu :)))

Saya teringat Kak Zaskia yang menceritakan bahwa Fifi Alvianto pernah punya penghasilan lebih dari 100 juta (!!!) sebulan dari nge-blog. Sesuatu yang membuat saya merenung beberapa hari terakhir ini. 

Bohong lah kalau saya ga pingin punya penghasilan dari nge-blog. Pertama, minimal saya pingin bayar internet dan beli laptop atau smartphone yang lebih bagus – yang ujung-ujung baliknya untuk blogging juga. Kedua, it’s good to see other bloggers endorsed by local products, or even collaborated with some famous brands. Dalam kerja sama seperti ini, saya ingin bisa menantang diri sendiri – yang memang kuliahnya komunikasi bisnis – untuk membantu merancang pesan pemasaran yang tepat sasaran. Serius amet prim. Tapi iya, kalau dikasih kesempatan kerja sama itu rasanya seperti mempertaruhkan harga diri gue nih, anak marcomm #lebay #drama

Ketiga, sebagaimana tujuan blogging itu sendiri yaitu informatif dan solutif, jadi blog saya mesti bisa digunakan oleh para pembaca untuk bertemu dengan apa yang mereka butuhkan. That’s why, saya ingin menulis lebih banyak review produk atau tempat di hari-hari selanjutnya, semoga bermanfaat ya. Syukur-syukur kalau promosinya dihargai dan dibayar :p

Hanya saja, masalah nge-blog untuk duit itu bisa jadi sangat sensitif dan rumit. Saya pernah baca post Diana Rikasari tentang kenapa ia mulai menghindari post berbayar. Karena, meskipun kita diminta berbagi tentang sebuah hal dengan bahasa kita sendiri, ada batasan dan harapan yang ditetapkan oleh brand tersebut. Sometimes it can be overwhelming, bahkan ga jarang kita harus mempromosikan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai pribadi atau blog kita. 

Bagi saya, nge-blog bisa jadi masalah yang lebih pelik. Saya paham niche blog saya ga terlalu mainstream. I don’t really write about fashion, beauty, craft, or even traveling. Maunya saya sih kalau bisa rutin menulis tentang keislaman dengan bahasa yang ringan, seperti tujuan utama saya nge-blog. Cuma ya harus diakui kalau pemahaman saya tidak begitu mendalam – harus banyak belajar deh. Who wants to ‘hire’ me to write such posts? I am still wondering ‘til now. 

Di sisi lain, saya pingin bisa menunjukkan kalau blogging – atau umumnya menulis – bisa membantu saya memenuhi kebutuhan diri sendiri. Sesuatu yang butuh waktu, tapi orang-orang terdekat saya minta pembuktian segera. Biasa deh, seperti manteman yang mungkin pingin jadi pelukis atau pemusik, I feel you *pukpuk*

Becoming a professional blogger is actually my resolution last year. But, turns out, I feel like I am not ready yet. I still have to train my consistency, persistence, and ‘voice’. Saya juga pingin lebih menajamkan ciri khas saya dan membentuk personal branding – yang masih saya cari. Seperti Fifi Alvianto, yang pernah cerita bawa dia belajar fotografi dan desain grafis sampai ‘berdarah-darah’. Tapi sekarang, siapa hijaber yang tidak pernah mendengar namanya, Casa Elana, atau Laiqa? 

Mudah-mudahan, impian yang satu ini ga terlalu muluk, dan sudah cukup dekat untuk saya raih. Boleh minta doanya ya supaya disegerakan oleh Allah? ;)

Lots of love,
Prima

Thursday, January 15, 2015

#1Day1Dream: Zaskia Adya Mecca dan Film 'Hijab'

Pic from here.
Sebenarnya premis film Hijab ini cukup sederhana, yaitu: semua orang memiliki impian.

Makanya saya bikin #1Day1Dream #lho #SalahFokus

Film Hijab sendiri adalah sebuah impian kak Zaskia. Coba dengar keinginannya saat pertama kali mengutarakan ide untuk membuat film, “aku pingin berkarya, karena aku bosen jadi bonekanya orang yang bikin karya.” Wow.

Lalu mulailah ia memvisualisasikan idenya, yaitu film yang meng-capture kehidupan perempuan, yang memfokuskan pada permasalahan seputar ‘hijab’. Alkisah (#halah), ada empat sahabat: Bia (Carissa Puteri), Sari (Zaskia Adya Mecca), Tata (Tika Bravani), dan Anin (Natasha Rizky). Bia mengenakan hijab yang stylish; Sari mengenakan hijab syar’i; Tata berturban; dan Anin belum memikirkan hal tersebut.

Cerita dalam film sih, lebih kepada bagaimana Bia, Sari, dan Tata berusaha menyeimbangkan kehidupan keluarga dan bisnis pakaian muslimah yang sedang mereka kembangkan; sedangkan Anin, yang sebenarnya memiliki posisi yang cukup krusial dalam bisnis tersebut masih meragu tentang hubungannya dengan Chaky, pacarnya. 

Here’s the thing about each character’ dream:
  1. Bia yang dulunya aktris biasa-biasa aja, ingin menanggalkan predikat ‘gadis hidayah’, sebutan yang ia terima ketika ia ‘tidak sengaja’ mengenakan hijab saat menghadiri seminar islami. Oh, dia juga ingin lepas dari bayang-bayang suaminya, Matnur (Nino Fernandez), aktor sinetron tenar; namun di kemudian hari harus casting kesana kemari karena sinetronnya berhenti tayang.
  2. Sari punya bakat dagang, tapi setelah menikah, ia dilarang bekerja oleh suaminya yang keturunan Arab.
  3. Tata, yang ingin mengaktualisasikan diri, setelah kebanyakan kegiatannya selepas menikah adalah ngurus rumah dan anak. Padahal, dulunya dia adalah Ketua Panitia Ospek (or something like that). It makes her as a leader here in the ‘Meccanism’ business.
  4. Anin is crazy about France, yang akhirnya mempertemukan ia dengan seorang lelaki blasteran Perancis – anak dari investor utama bisnis ‘Meccanism’. Sepenglihatan saya, satu-satunya ‘keterikatan’ antara Anin dengan bisnis tersebut adalah ketika Meccanism ditunjuk oleh majalah Soi dari Perancis, untuk mengikuti Djakarta International Fashion Week.  
Sementara saya menitikkan air mata dan tertawa getir pada beberapa scene (dan tertawa di kebanyakan scene awal); saya teringat akan ‘ajaran’ Sheryl Sandberg: make your partner a real partner. Ada satu kalimat Anin yang menohok: “kenapa setelah menikah kalian ga bisa jadi diri sendiri?!” Well, rasanya saya harus banyak belajar mengenai peran dan fungsi suami dan istri dalam sebuah pernikahan. Tapi, IMHO, kalau anak sih, mestinya jadi urusan berdua. Makanya saya kesel lihat Tata disalahkan oleh suaminya ketika anaknya mengalami malnutrisi. Di waktu yang sama, suaminya Tata lagi ‘sibuk’ dangdutan ga jelas. Hello?

Selain itu, saya sedikit ngerasa ga sreg dengan gambaran perempuan yang hobi belanja. Soalnya saya sama sekali engga begitu, yang kayak gimanaaa gitu pas ada pembukaan butik atau sale. Terus keempat-empatnya nih pada jualan. Mungkin, misalnya Anin digambarkan pegang strategi marketing, tapi pekerjaannya adalah freelance writer di majalah, nah itu lebih bisa mewakili para perempuan. Karena meski kebanyakan perempuan ingin tetap bekerja/memiliki penghasilan sendiri/mengaktualisasikan diri, ga semua perempuan suka jualan. IMHO, sekali lagi.

Terus nih, saya sempat bertanya-tanya sama diri sendiri, apa iya kita akan sulit menemukan seorang muslimah yang berhijab murni karena Allah? Hehehe. Justru saya melihat hal itu di sosok Anin, yang di akhir cerita memutuskan untuk belajar berhijab (tapi masih rangkul-rangkul pacarnya…). Ya gak apa-apa deh, namanya juga masih proses. Tapi, buat saya ini justru momen terbaik, dimana hidayah itu harus diusahakan, salah satunya dengan berteman dengan orang-orang yang sedang berjalan ke arah kebaikan, amiiin insyaAllah.

Meski demikian, I like the movie so much. Kak Zaskia benar, bahwa ia ingin menunjukkan sebuah realita yang dekat dengan masyarakat. Nobody’s perfect, but every human has a right, and has a potential to make achievements. And oh, hati-hati salah fokus sama sepatu-sepatu cantiknya UP dan lucunya Sybil dan Kala – anak-anak Kak Zaskia yang ikut nongol di film ini :))) 

Terakhir, saya cenderung merekomendasikan pasangan muda dan newbie hijabi untuk menonton ini – karena di mata saya film ini not-so-teenager. Takutnya ga paham candaan di film ini. Paling seru nonton ini bareng sahabat, apalagi akting para pemerannya alami banget. Lucky me, saya nonton bareng sahabat-sahabat baru saya, Indonesian Hijab Blogger regional Jogja. We had a lot of fun, thank Allah we got a chance to be invited for the premiere and also meet ‘n greet with Kak Zaskia, Mas Hanung, and Haykal Kamil. Super yay!

So, langsung tonton filmnya sendiri deh, di bioskop kesayangan kamu! ;)

Lots of love,
Prima 

Wednesday, January 14, 2015

#1Day1Dream: Malala Yousufzai

 
Pic from here.

Beberapa minggu lalu, dalam sebuah perjalanan dari Surabaya ke Malang dengan bis, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda. Bukan, bukan kemudian kami saling naksir, FTV yah itu.. Tapi dari yang awalnya pertanyaan paling standar, “turun mana, mbak?” kami mulai mengobrol tentang banyak hal, termasuk perkuliahan.

Si adik kemudian bercerita tentang kakak-kakak mahasiswa yang sedang KKN di desanya, ditutup dengan sebuah pertanyaan (atau pernyataan?), “ah sama aja mbak, kalau sarjana tapi ujung-ujungnya nganggur..”

Let’s just leaving that case. Saya tidak berusaha menyanggahnya, karena mungkin secara idealisme, saya berpikir kuliah itu bisa menghasilkan lebih dari sekedar gelar yang bisa digunakan untuk mencari pekerjaan. Pendidikan lebih dari sekedar itu.

Itu, yang pernah diperjuangkan Malala Yousufzai hingga Taliban memburu dan menembaknya dalam sebuah insiden. Something that we take for granted: as we go to school because our parents said so, not because we want to. Sementara di belahan dunia lainnya, Taliban hanyalah contoh kecil dari larangan untuk anak perempuan bersekolah, dan seorang Malala harus membayar mahal.

Ayah Malala menawarkan Malala untuk sebuah proyek dokumenter BBC, so she blogged anonymously to write her daily stories. Yep, she was a blogger *toss dulu sama Malala*

Betapa tragis, karena untuk seorang remaja Indonesia yang bisa amat sangat demanding hanya demi sebuah gadget terbaru, Malala (dan ratusan anak perempuan di Lembah Swat, Pakistan) hanya ingin kembali ke sekolah. Suatu waktu, Malala menuliskan perasaannya yang hampa, karena ia dan teman-temannya tetap belajar untuk ujian semester – yang mereka sendiri ga tahu apa ujian itu akan diadakan.

Hal ini benar-benar menjadi pelajaran untuk saya, apa sih tujuan saya mengejar S2? Apa demi gengsi semata? Yang tahu sebenarnya hanya saya dan Allah.

Tapi, tapi nih.. Inilah yang saya katakan kepada si pemuda di bis, “kesempatan belajar itu tanggung jawab. Untuk diri sendiri, orang tua, dan masyarakat. Ketika kita beruntung untuk bisa sekolah, ingatlah bahwa begitu banyak orang yang amat sangat ingin bersekolah tapi tidak bisa. Bersyukurlah, dan bekerja keraslah untuk menciptakan perubahan baik – dengan apapun ilmumu.”

Love,
Prima

Tuesday, January 13, 2015

#1Day1Dream: Alex Ferguson

Pic from here.
“Seseorang pernah bertanya mengapa ia tidak pernah melihat Sir Alex tersenyum? Saya katakan, ‘saya kesini untuk menang, bukan untuk tersenyum.’”

Saya sedang membaca autobiografi Sir Alex Ferguson, dan saya tak bisa berhenti berdecak kagum. Oya, saya baca versi bahasa Indonesia-nya, dan saya sarankan, kalau ada, mending baca versi bahasa Inggris. Beberapa kalimat sepertinya lebih bisa dipahami jika menggunakan bahasa Inggris, seperti kutipan, candaan, dan lain-lain.

Anyway, saya bukan penggila bola, meski pernah menghabiskan waktu setahun untuk menulis skripsi tentang pesepakbola. Diluar minat saya yang cukup besar, merasakan semangat dalam industri sepak bola… I can’t explain it. No wonder some people say football is a religion. You have faith in it, which you can’t question about.

Ketika membaca biografi Sir Alex, kita akan tahu bagaimana beliau membuat MU menjadi sebuah klub bintang. Bagaimana beliau merancang setiap permainan MU menjadi sebuah hiburan. It’s not only about the goals and the players, but it’s about making an unforgettable match. Beliau tidak menakar kebahagiaan dari sekedar menang atau kalah, tapi seberapa besar rasa puasnya ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. 

Kerja keras, loyalitas, dan kerja tim.

Semua harus mengakui bahwa Sir Alex sendiri adalah pahlawan untuk MU, tapi seperti yang saya pelajari selama skripsi, sebuah tim sepak bola terdiri dari 11 orang pemain, pelatih, staf, penonton, media, dan lain-lain. There are a lot of people who get involved. Artinya, banyak pendapat yang harus didengar; banyak perasaan yang harus dijaga.

Dan Sir Alex melakukannya dengan amat sangat baik. 

Sir Alex mengajarkan bagaimana mendelegasikan tugas, menyemangati pemain, mengkomunikasikan pemikiran kepada tim direktur.. Wuih, pokoknya nih, walaupun kalian bukan penggemar MU, kalian harus baca buku ini!

Sir Alex, you make me dreaming to not only watching MU game at Old Trafford, but to talk with you in person – oh, actually, you were one of the reason I applied to Supreme Committee for Delivery and Legacy (the 2022 World Cup in Qatar). You make me dream big, and I know I can achieve it!

Salam olahraga,
Prima

Monday, January 12, 2015

#1Day1Dream: Michelle Phan

Pic from here.
Michelle Phan.

Rata-rata perempuan pasti pernah mendengar namanya. Beauty guru dengan lebih dari 7 juta (!!!) pelanggan di channel YouTube-nya.

Saya teringat salah satu blog post saya tentang video Michelle beberapa waktu silam, sssttt video itu adalah satu-satunya video Michelle yang pernah saya tonton.

Yep, as some of you know that I’m not really interested with make up. Meski saya sekarang mulai terbiasa pakai pensil alis dan eyeliner, saya ga pernah punya niatan untuk belajar make up lebih dari itu. Bahkan, hadiah make up palette seharga Rp. 750.000 dari Wardah, yang saya terima karena menjadi finalis World Muslimah Award, belum pernah saya buka. Ada yang berminat untuk beli? Nego tipis, gan.. #eh 

Kembali ke Michelle. Meski saya tidak tertarik dengan video tutorial makeup-nya, saya sering baca artikel-artikel di website-nya. Sebenarnya sih kebanyakan artikelnya menarik dan ditulis seperti di majalah, tapi entah kenapa saya pikir bukan dia sendiri yang nulis. Hahaha. *ditendang fans Michelle*

Di video itu, Michelle membuka kisah tentang keluarganya yang cukup pilu. Tentu saja hal tersebut membuat saya tersentak. Selalu ada kisah tragis dibalik kesuksesan seseorang. Tapi dia bisa bangkit, dan justru menjadikan keadaan keluarganya itu sebagai motivasi untuk terus maju. Now, look at her, we might never thought that she has ever been a homeless.

Melihat kisah keluarga Michelle, terang saja saya menjadi banyak bersyukur. InsyaAllah keadaan keluarga saya jauh lebih baik dari Michelle. Artinya, saya juga bisa sesukses dia. Saya hanya harus bekerja lebih keras. Someday, I’ll find my way to shine.

Lots of love,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...