Showing posts with label Prima Nonton Pilem. Show all posts
Showing posts with label Prima Nonton Pilem. Show all posts

Thursday, November 15, 2018

Review "Hanum & Rangga" & "A Man Called Ahok"

[DISCLAIMER: 1) Mari kita berbicara tentang FILM secara objektif. Kalau kita ngomongin perkara Ahok begini-begitu, Hanum begini-begitu, pastilah tidak ada habisnya. Akan tetapi, jika kita melihat hanya pada produk film, dengan begitu banyak orang yang bekerja di baliknya, yuk hargai karya anak bangsa! | 2) Saya membeli tiket dengan uang saya sendiri dan saya menonton kedua film atas keinginan sendiri tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.]

Hari Sabtu, 10 November 2018 saya ke Denpasar karena hendak mengajar ngaji. Berhubung saya memang berencana berangkat pagi (menghindari kepanasan di jalan) dan jadwal saya mengajar adalah pukul 16.30, saya berpikir… “nonton di bioskop ah.” Dan seperti biasa, berhubung saya jomblo, saya pun nonton sendiri. #ngenesamatprim

Jujur, pilihan pertama adalah A Man Called Ahok
– justru karena saya mendapatkan broadcast message di WhatsApp tentang betapa film Hanum & Rangga mengajarkan nilai-nilai kekeluargaan, sementara Ahok di dunia nyata kan bercerai. Saya enggak paham mengapa orang mau membandingkan film dan pribadi, sementara pada akhirnya toh Hanum Rais dalam tweet atau komentar di Instagram-nya menyatakan, karakter Hanum di film itu bukan dirinya, melainkan sebuah tokoh yang terinspirasi dari apa yang dia alami. Lagipula, dalam hal perceraian Ahok, rasa-rasanya kok bukan Ahok yang salah ya. Hmmm. Maka dari itu, saya ingin menonton kedua film dan membandingkannya secara seimbang. Sayangnya, Hanum & Rangga hanya diputar di Park 23, sedangkan saya waktu itu sedang berada di Level 21. Tapi karena sudah diniatkan, ya sudah saya ngebut ke Park 23.

Qadarullah, setelah selesai menonton Hanum & Rangga, saya dikabari bahwa murid saya mendadak sakit. Jadi saya pun segera kembali ke Level 21 untuk ‘bernapas’ dan mencerna film yang baru saja saya tonton. Selepas salat magrib, saya pun memasuki bioskop untuk menonton A Man Called Ahok. Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, silakan simak review saya untuk kedua film berikut.

Opening: Film Hanum & Rangga dibuka dengan clip kejadian 9/11 yang membuat saya nganga --- memang enggak ada isu lain yang lebih baru atau update ya? Kebijakan Trump, kisah-kisah islamophobia yang masih marak di berbagai belahan dunia, dan sebagainya. Lalu adegan loncat ke dialog Hanum, Azima, Rangga dan Philipus (di telepon) yang menyatakan betapa Hanum sangat berjasa dalam memberitakan kebenaran. WAIKI masalahnya saya kan enggak baca bukunya atau nonton film sebelumnya. Saya langsung terdiam sejenak dan berdoa agar ada penjelasan di belakang-belakangnya tentang siapa Azima dan siapa Philipus (…dan ternyata enggak ada -_-).

Sementara itu, film Ahok dibuka dengan dramatis: rekaman suara Ahok saat membacakan pidato pada hari dimana ada demonstrasi di markas Brimob tempatnya ditahan. Saya sempat berharap bahwa film ini akan memasukkan hal-hal ‘kontroversial’ berkenaan dengan penahanan Ahok, sehingga saya berusaha lebih konsentrasi dalam menonton (…dan ternyata enggak ada juga -_-).

Nilai-nilai Kekeluargaan: To my surprise, film Ahok sangat mengedepankan nilai-nilai ini, lebih daripada film Hanum. Bahkan saya merasa film Ahok seharusnya diberi judul “A Man Called Tauke (Papanya Ahok)”, hehehe. Soalnya kita dibuat memahami mengapa Ahok melakukan apa yang ia lakukan selama ia berbisnis atau memerintah. Sementara film Hanum terlalu fokus pada Hanum dan impiannya. Rasanya, penonton membutuhkan beberapa adegan atau dialog yang menggambarkan hubungan Hanum & Rangga dengan lebih baik. Mungkin bagaimana mereka dulu bertemu, kekaguman Rangga atas kegigihan Hanum, atau sebaliknya bagaimana Rangga selalu berusaha membantu Hanum (itu kalau saya baca dari buku berjudul I Am Sarahza). Pada film Hanum & Rangga, penonton seolah-olah dipaksakan untuk memahami bahwa Rangga sedang S3 di Eropa (whyyyyy mereka harus menyebut ‘Vienna’ instead of ‘Wina’???) tapi mereka sedang berada di Amerika Serikat, karena….. entahlah.

Monday, January 22, 2018

Susah Sinyal: Ketika Jarak Terjauh Adalah Di Antara Dua Hati


Mumpung masih bulan Januari, kalau saya ngucapin Happy (Belated) New Year, kira-kira gimana? *digetok pembaca* Tahun baru ini pun saya batal ngerayain, padahal tadinya sudah sempat merencanakan untuk pesta barbekyu sama teman-teman di Solo. Setelah dua kali usaha ngantri tiket Prameks enggak dapat juga, udah mikir mau go-show...ternyata tanggal 31 Desember pagi, ayah saya harus dilarikan ke rumah sakit karena asam uratnya kumat. Panik banget, karena saya jarang melihat ayah saya kesakitan seperti itu, dan sakitnya beneran pula (lah gimana). Saking parahnya, ayah saya harus disuntik supaya cepat sembuh.....dan beberapa jam setelah kembali ke rumah, mukanya bengkak karena alergi obat. Mau nangisss, akhirnya saya muter-muter buat nyari obat alternatif yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Mana sambil ngehindarin macet juga. Maghrib saya sampai rumah, ayah minum obat pengganti, dan alhamdulillah keadaannya lebih baik esok paginya.

Tanggal 1 Januari pun terlewati dengan agak hampa, dan enggak sampai satu minggu, gantian saya yang harus ke rumah sakit. Kali ini saya dirujuk oleh dokter umum dan psikolog ke dokter spesialis jiwa di Rumah Sakit Akademik UGM karena mengidap “severe depressive episode without psychotic syndrom.” ‘Penyakit’ apa itu? Nanti saya ceritakan di post terpisah kalau sudah siap ya. Yang jelas, ini adalah gangguan mental yang enggak keren sama sekali. But as I said on my Instagram post, pasti ada alasan kenapa Allah menganugerahkan hal ini kepada saya. Even when I knew that Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ‘dirayakan’ pada hari ulang tahun saya, saya ngerasa gimanaaa gitu. Hanya saja, ini ada hubungannya dengan film yang saya tonton akhir pekan lalu.

I am actually not a fans of Ernest Prakasa, saya lebih menggemari tulisan istrinya, Meira Anastasia. Kalau enggak salah, beberapa tahun yang lalu saya sering membaca blognya (tapi lupa alamatnya apa). Terus saya lupa juga siapa yang merekomendasikan film Susah Sinyal. Pas baca sinopsisnya, langsung kepikiran ngajak mama dan adik buat nonton karena kami lagi butuh bonding time. Sempat mengusulkan untuk nonton bareng tante, roommate, dan sepupu; tapi tante mah sibuknya kanmaen. Nonton pun tinggal wacana, hiks hiks.

Susah Sinyal merupakan film tentang Ellen (Adinia Wirasti), seorang single mother yang bekerja sebagai pengacara; dan anak perempuannya, Kiara (Aurora Ribero). Ceritanya, Ellen ‘mendadak’ harus PDKT sama Kiara karena ibunya meninggal, sementara selama ini Kiara memang sangat dekat dengan omanya itu. Waktu di awal film digambarkan kedekatan antara Kiara dengan omanya, saya dan mama langsung manggut-manggut secara saya sangat dekat dengan nenek saya. Saya pernah menceritakan hal ini di review film Moana. Bedanya, karena nenek saya adalah ibu dari ayah, jadi mama enggak dekat dengan nenek. Yang ada mereka malah sering berantem waktu saya kecil, karena saya selalu nangis kejer kalau dipaksa pulang dari rumah nenek. Sekarang sih hubungan mereka sudah lumayan baik. Mama pernah ngebeliin nenek seperangkat teko, gelas, dan mangkok T*pperware; maksud mama buat dipakai waktu Hari Raya Idul Fitri, eh malah nenek ngerasa sayang dan disimpan di lemari pajangan. Hihihi.

Thursday, January 5, 2017

Moana: How Far Will You Go?


My first post in 2017! Oh ya, sebelum sister kangen sama saya (uhuk uhuk), saya kasih bocoran ya, kalau kemungkinan saya akan jarang blogging di The Primadita untuk beberapa bulan kedepan. Sejak tanggal 1 kemarin saya mencanangkan sesuatu yang berbeda, yaitu menulis buku harian. Yes, buku harian! Awalnya saya menulis sebuah surat untuk orang terkasih seseorang nun jauh disana, ternyata saya jadi ketagihan menulis dengan tangan (biasanya kan mengetik). Sebelumnya saya juga sempat menulis (rewrite) kisah hidup saya (#ceileh) dibimbing oleh Kak Ollie, and it felt really good. Akhirnya saya coba memanfaatkan notebook yang saya beli beberapa bulan lalu, dimana secara kebetulan ada tulisan ‘The Prima’ di sampulnya. Sayapun menunggu waktu untuk menulisi buku harian lagi dan lagi karena perasaan saya jauh lebih lega setelah menuliskannya. Kalau tidak salah, terakhir kali saya menulis dengan tangan itu saat World Muslimah Award 2014. Ada perasaan yang berbeda saat menulis, meskipun tentu saja mengetik jauh lebih cepat dan efisien – engga pegel-pegel pula. Akan tetapi, saya usahakan akan tetap blogging setidaknya seminggu sekali karena saya tetap punya hal-hal yang ingin saya bagikan untuk sister.

Misalnya tentang film yang saya tonton di penghujung tahun lalu. I counted on Diva channel as they aired Princess Diaries, Bridget Jones’s Dairy, Love Actually, Notting Hill, and many more. Old but definitely gold. Tapi saya tetap penasaran sama Moana, jadi saya terpaksa melipir ke bioskop terdekat. Sendirian. Duh ngenes. 

Saya pertama kali tahu Moana karena Maudy Ayunda mengisi soundtrack versi bahasa Indonesia. Lalu instruktur zumba saya menggunakan soundtrack aslinya sebagai lagu untuk cooling down. Dia bilang filmnya bagus banget – terus saya pikir, ‘yah anak mbak kan SMA, jadi masih ‘masuk’ ke film itu’. Tapi saya pikir-pikir lagi, sejauh ini kesan saya tentang film Disney itu bukanlah film anak-anak, tapi film remaja atau dewasa muda (gimana sih). Soalnya kan engga jarang filmnya tentang cinta-cintaan tuh. Mana pas saya baca, ada Dwayne Johnson yang mengisi suara salah satu karakter. Siapa yang sempat mengira Moana bakal pacaran sama Maui, hayo?

To be honest, tanggal 29 Desember itu bukan waktu yang tepat untuk nonton, apalagi Moana. Secara filmnya masuk kategori ‘Semua Umur’, terus waktunya liburan anak sekolah pula, jeng jeng, studionya didominasi anak-anak dan keluarga. And you know lah namanya anak-anak gimana sih, dari yang mulai lari-lari – padahal studio kan gelap yak – sampai nangis karena kaget sama beberapa adegan. Saya berusaha fokus ke film tapi terkadang gagal dan pingin marah-marah jadinya.. Tapi tetep lho ada yang nonton sama pacarnya, contohnya sebelah saya. Jadi seperti biasa, mbak-mbak bioskop + para penonton yang duduk satu baris sama saya pada kaget, “nonton sendirian?” YAELAH EMANG NAPA. Nonton sendiri is so #2017, you should try it once, trust me. 

Hari itu, saya sedang sangat-sangat emosional, ditambah pingin marah ke anak-anak yang mengganggu kenikmatan saya beribadah menonton, yang ada saya nangis bombay dari awal sampai akhir film. Berikut tiga hal yang bikin saya terharu sama cerita Moana.

Monday, December 12, 2016

The Last Five Years: Is This Relationship Worth Fighting For?



Thanks to limited choices of movie in Premiere/Celestial/Red by HBO/Warner Bros TV, I keep watching same movies again and again. I won’t complain for Slumdog Millionaire and Harry Potter though, as I keep crying for those movies. Both of the movies taught me that there might be a huge secret purpose of why we were sent to this world. If you think that the life of Harry Potter are sequences of miserable events, who could have assumed that he will be one of the biggest wizard? He lost his parents, his aunt/uncle/cousin treated him like rubbish, yet he is not the brightest student. But J.K. Rowling trusted him to be ‘the man’. Same with Jamal Malik in Slumdog Millionaire. He never give up after everything that happened to his life until he won Rs20million. So prima, don’t lose hope. 'Everything will be okay in the end. If it's not okay, it's not the end.' – John Lennon

Why am I so mellow in the morning??? 

Is it because I dream about Dian Pelangi last night and wishing to give her marriage tips? (While I am not married yet...)

I guess it must have related to The Last Five Years, a musical romance movie starred by Anna Kendrick and Jeremy Jordan. I watched the movie start in the middle somewhere last week but I couldn’t understand the story. Turned out, Wikipedia said,
“..., it does not take place in chronological order: all of Cathy's songs begin after they have separated and move backwards in time to the beginning of their courtship, while Jamie's songs start when they have first met and proceeds through their crumbling marriage.”

So then I wait if Premiere will air it again. Lucky me, I got the chance to watch it from the beginning on Saturday night. I am in love-and-hate with musical movie. Last time I watched musical movie, it was Indonesian ‘Ini Kisah Tiga Dara’, kamu bisa baca review saya disini.

Wednesday, September 14, 2016

Ini Kisah Tiga Dara: Apa Alasan Perempuan Betah Melajang?



Hari Senin kemarin, setelah sholat Idul Adha dan tidur (haha), saya terbangun dan ngecek beberapa pekerjaan. Tiba-tiba ada dorongan kuat untuk bersepeda dan saya mencoba jalanan yang cukup menantang: jalan terus ke Kaliurang Atas. Cuma kuat DUA kilometer brooo, mau gimana memang nanjak abis dan saya sudah lama tidak bersepeda. Dalam keadaan sampai rumah menggos-menggos itu, ngecek Twitter @NontonYK dan sedang ada kuis nonton gratis Ini Kisah Tiga Dara. Berhubung belum nonton, yaudah mari coba peruntungan, ternyata rezeki anak sholehah... Habis mandi, ngibrit ke Ambarrukmo Plaza, ketemu pula sama Kak Lionychan~ Thank you @SAFilms_ :))

Ini bukan pertama kali nonton film sendiri (walaupun bareng orang satu bioskop, kan pada dasarnya sendirian juga). Terakhir saya nonton sendiri itu film Rudy Habibie, ketawa sendiri ngeliat akting Coach Timo. Eh filmnya bagus banget lho. 3 Srikandi juga bagus, review-nya udah ditulis tapi belum kelar. Hehe. Kali ini nonton sama @NontonYK dan ternyata seru juga nonton ‘rame-rame’. Sebelah saya cowok, menang kuis juga. Dia sih iya-iya aja sama komentar saya tentang film-nya, semoga engga terganggu ya mas.

Dari awal Kak Liony sudah memperingatkan kalau film ini artistik banget, dan akan sedikit ‘mengganggu’ untuk orang-orang metropolitan. Mungkin karena saya engga ngerasa ‘orang kota’, jadi engga begitu paham sama omongan Kak Liony. Justru yang saya perhatikan sejak awal, film ini ‘Jakarta’ banget, walaupun setting-nya sendiri di Maumere. Kalau di film gitu, Maumere indaaaaaaaaaaaaaah banget. Padahal waktu saya kesana berpuluh tahun yang lalu (ceileh), kayaknya biasa aja *ditempeleng orang Maumere*

Sunday, August 28, 2016

Bridesmaids: Siapa Sahabat Saya?


“Siapa sahabat paling dekatmu saat ini?”

Sekitar dua minggu yang lalu, seorang sahabat saya yang sedang tinggal di negara tetangga menanyakan hal ini kepada saya. Saya meresponnya dengan cepat. Tentu dia adalah salah satunya. Terus ada satu, dua, tiga, orang lain. Hanya, kalau dihitung-hitung lagi, sebenarnya sahabat saya lebih dari itu.

And then, apa arti sahabat buat saya? Namanya prima, apa-apa kan harus dipikir sampai berhari-hari. Saya bingung aja gitu, gimana harus mendefinisikan ‘sahabat’ karena buat saya artinya bisa luas, dan bisa jadi punya tujuan yang spesifik. Misalnya, kalau saya lagi pingin nyari nasehat masalah agama, ada sahabat A. Kalau saya lagi buntu masalah kuliah, ada sahabat B. Jadi persahabatan seperti ini ‘fungsional’. Mungkin sister akan merasa “lho, kalau gitu sesama sahabat saling memanfaatkan dong, datang kalau ada butuhnya aja?” Saya pribadi justru tidak merasa hal ini adalah suatu masalah yang besar. Why so? Karena saya senang kalau saya bisa memberi manfaat buat orang lain, apalagi kalau dia merasa nyaman berbagi suka dan duka dengan saya. Beberapa tahun yang lalu, ada seseorang yang ‘ternyata’ menganggap saya sahabatnya. Saya sampai takjub mendengarnya, karena saya tidak menyangka, berdasarkan latar belakang kami yang jauh berbeda, dia menganggap keberadaan saya di hidupnya sangat berarti. Sampai sekarang pun, dia masih sering curhat ke saya.

Saya juga tidak membatasi sahabat saya hanya karena masalah kuantitas, dalam hal ini, frekuensi perjumpaan, atau lama persahabatan. Dari – katakan saja ada sepuluh orang ini – mereka, ada yang saya kenal hanya dalam hitungan dua tahun terakhir. But our feeling of needing each other is mutual.  Jangan salah, engga hanya PDKT ke calon pacar doang yang butuh mutual feeling. We need to make sure that our best friend also feel the same way towards us.

Baru-baru ini, saya merasa kehilangan seorang sahabat. Saya sangat-sangat merasakan jarak di antara kami berdua and I am so sad about that. Saya sudah merasakannya sejak bertahun-tahun yang lalu, that we grow into different direction. Kami tidak se-nyambung dan se-cocok dulu. Meskipun beberapa tahun yang lalu kami sempat dekat lagi, but still, I know I am not her first priority. Saya pun curhat ke sahabat yang nanyain pertanyaan diatas itu. Lalu kami berdua sadar, kami telah tumbuh dewasa. It sucks but we have to admit that in life, some people stay, some people leave. Kita tidak bisa terus terkungkung dalam suatu lingkaran jika kita ingin berkembang. Memang kadang kita harus berusaha mempertahankan beberapa orang yang we can’t live without, tapi selebihnya...kalau kata orang Jawa, kita tidak boleh dan tidak bisa nggoceli seseorang. Sama seperti mungkin juga orang-orang – siapapun itu – tidak boleh dan tidak bisa nggoceli kita kalau kita sudah memutuskan untuk pergi. Eh prim, ini bukan ngomongin mantan pacar kan? #eaaa #ujungujungnyacurcol

After all, hidup akan mempertemukan kita dengan orang-orang baru yang engga kalah lucuk dan menggemaskan (ini sahabat atau puppy ya?). Yang pasti, insyaAllah lebih memahami situasi diri kita saat ini. 

Barusan saja saya nonton film Bridesmaids. Keren banget! Banyak pemerannya yang terkenal, dan seperti sister tahu, saya kan suka film drama, jadi mewek gitu deh. Bukan karena pingin nikah (saya pingin ngerasain fitting baju bridesmaid – and I am making one now for my best friend’s wedding in November, yay!), tapi karena saya teringat sahabat-sahabat saya. Berhubung jumlahnya lumayan, mungkin saya harus tega untuk menyaring siapa saja yang akan jadi bridesmaid saya kalau saya menikah sama Pangeran Dubai nanti. Ah engga usah deh, kalau beneran nikah sama Pangeran Dubai, semua sahabat saya bakal berangkat as my bridesmaid. 

Sayangnya saya kelewatan setengah jam awal film ini, jadi saya sempat bingung. Premis film ini agak unik, kalau biasanya yang jadi menggila menjelang pernikahan itu calon pengantin perempuannya, di film ini yang engga ‘asik’ adalah para pengiring pengantin. Ada aja masalahnya, tapi yang paling terasa ya antara Helen dan Annie. Gara-garanya, mereka bersaing untuk membuat the bride, Lillian, bahagia selama persiapan pernikahan. Si Annie keukeuh karena merasa mengenal sahabatnya sejak lama, sementara Helen merasa punya selera yang bagus sehingga bisa membuat Lillian tampak cantik dan mempesona. Akhirnya Annie merasa keberadaannya tidak dihargai dan bertengkar habis-habisan dengan Lillian. Tipikal film drama Hollywood juga sih ending-nya, tapi tetep menarik untuk ditonton. Apalagi Nathan, aduh dia cute banget, itu lho gayanya cowok yang naksir ke cewek tapi malu-malu. Waktu nulis ini aja, saya jadi senyum-senyum sendiri. Untung sepupu saya yang lagi nonton TV di sebelah saya engga sadar. Hahaha.

Nah, kalau berdasarkan film Bridesmaids ini, pada dasarnya definisi sahabat adalah seseorang yang sudah mengerti jeleknya kita. Mereka juga engga ngetawain hal itu (ketawa sih, tapi di depan kita), tapi ngomong di depan kita: ‘hey, ini lho ada yang perlu diperbaiki dari dirimu.’ Kita pun engga ngerasa risih berbagi hal-hal jelek itu karena tahu sahabat engga akan menghakimi. Contohnya tuh, sahabat saya yang bilang kalau saya gendutan. Terus jangan dikira kalau saya ngumpul sama sahabat saya ngomongnya yang manis-manis, engga. Kadang juga bisa kasar banget sampai orang yang dengar mungkin berpikir ‘ini lagi ngapain sih?’ Tapi kami berdua tahu engga bakal menyakiti satu sama lain, udah ngerti batasnya. Ya kalau memang sakit hati tinggal bilang, ‘aku engga suka kamu ngomong gitu’, terus minta maaf dan engga diulangi lagi.

So~ lewat blog post ini, saya mau minta maaf ke sahabat-sahabat saya buat every little thing that I did wrong. Saya juga minta maaf kalau ada yang merasa saya ‘berbeda’ atau menjauh, I never meant to. I am just trying to catch up with my personal target, like you who are moving forward with getting married, and so on. Semoga suatu masa nanti, pada kesempatan yang lebih baik, our path will cross again.

Lots of love,
Prima

Thursday, November 26, 2015

Mamma Mia: I Feel Incomplete Without My Dad


Katanya, tanggal 12 November yang lalu diperingati sebagai Hari Ayah ya? Namun, bukannya mengucapkan kepada ayah tercinta, saya dan beberapa teman di sebuah grup Whatsapp malah memperdebatkan tanggal Hari Ayah yang sebenarnya – menurut internasional atau nasional. Halah, ga penting banget. Oya, saya juga tidak terpikir untuk mengucapkannya, karena ayah saya bukanlah orang yang 'seru' diajak gombal-gombal begitu, tapi yang penting doaku untukmu Yah, forever and for always :)

Hari itu, saya membaca sebuah blog post dan saya jadi teringat film Mamma Mia yang saya tonton beberapa hari sebelumnya – kebetulan nontonnya sama ayah. Filmnya menarik, dulu saya sudah pernah nonton, dan overall I like every detail in the movie.

Lucunya, sementara ayah saya tertawa dengan lepas, saya malah menahan air mata. Saya sangat memahami perasaan Sophie Seridan (Amanda Seyfried) yang ingin mengetahui siapa ayahnya. Meski ia bahagia dengan ibu dan calon suaminya (apalagi bisa tinggal di Yunani yang eksotis gitu, wow); ia tetap merasa kehilangan suatu kepingan hidupnya yang berharga.

Saya tercenung. Persis sekali seperti perasaan saya selama sebagian besar tahun-tahun kehidupan saya. Dulu, saya hampir tidak pernah merasa utuh. Yang saya tahu, seharusnya orang tua itu ada dua: ibu dan ayah; dan seharusnya keduanya bersama saya. Kenyataannya, sejak saya berusia empat tahun, saya harus menerima keadaan bahwa saya hanya memiliki salah satu dari mereka di hadapan saya. Yang lain? Ada juga, tapi tidak selalu bersama saya.

Hal ini berubah pada sekitar tiga-empat tahun terakhir. Saya mulai mengumpulkan keberanian untuk memulai hubungan yang serius dan berorientasi kepada pernikahan. Jadi, saya tidak boleh merasa pantas 'bermanja-manja'. Ayah dan ibu saya sudah lama meninggalkan masa lalu; saya harus mengejar kebahagiaan saya sendiri – ekstrimnya, dengan atau tanpa mereka. Saat itulah saya melihat di sekeliling saya, banyak sekali orang-orang yang latar belakang orangtuanya lebih tragis daripada saya, dan mereka baik-baik saja. Saya harus bersyukur, kedua orang tua saya masih ada, dan secara umum, kami tidak memiliki suatu masalah yang pelik.

Selain itu, sister pernah dengar kan, kalau kita tidak akan bisa mencintai orang lain jika belum mencintai diri sendiri? Nah disitulah transformasi diri saya. Saya mencoba mencintai diri saya sendiri, dengan segala yang saya miliki – termasuk dengan apa yang tidak saya miliki. Saya pantas untuk dicintai, bagaimanapun latar belakang orang tua saya. Saya ingin merasa utuh dengan diri saya sendiri, and I know I will.

Barangkali hal ini kemudian mengubah cara pandang saya terhadap pasangan. Saya berharap tidak mencari orang dengan tujuan melengkapi saya; melainkan dengan adanya dia, saya ingin merasa lebih kuat, dan bisa memberi lebih banyak manfaat bagi sekitar kami. Hal ini ga mudah untuk dilakukan, tapi mohon doa sister ya :)

Lots of love,
Prima

Tuesday, November 17, 2015

Air Mata Surga: Apakah Tujuan Menikah Hanya untuk Memiliki Anak?



I can't believe that there is a book/movie representing what I really think about polygamy exactly the way I think. Okay, bukan masalah latar belakang atau alasan melakukan poligami-nya, tapi 'bentuk' poligami sebagai 'solusi' yang ditawarkan untuk permasalahan pernikahan tersebut. Mungkin hal ini yang menyebabkan saya tidak menangis saat menonton – padahal filmnya mengharu-biru banget, karena penggambaran poligami-nya seperti apa yang ada di pikiran saya.

Air Mata Surga bercerita tentang rumah tangga Fisha (Dewi Sandra) dan Fikri (Richard Kevin) yang tak kunjung dikaruniai anak. Maka setelah prahara dengan mamanya Fikri, mereka memutuskan bahwa poligami adalah jalan terbaik untuk kebahagiaan.........tapi pertanyaannya, kebahagiaan siapa?

Dulu, saya hampir selalu berpikir bahwa yang namanya menikah itu supaya punya keturunan. Titik. Secara memang Rasulullah mensabdakan agar muslim memperbanyak keturunan dan meliputi dunia dengan orang-orang yang saleh.

Tapi kemudian, ketika saya beranjak dewasa, saya bertemu dengan orang-orang yang secara dewasa menunda untuk punya anak, atau mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Beda ya, dengan tidak mampu atau tidak bisa punya anak; tetapi kelompok ini berpikir dengan serius tentang pola asuh, pendidikan, masa depan, dan sebagainya. Saya tidak merasa perlu untuk menghakimi mereka, karena kita semua pasti punya sebuah keputusan besar dalam hidup yang sudah dipertimbangkan dengan matang. Lagipula, siapalah kita, maksa mereka punya anak? Memang kalau mereka sudah punya anak, kita mau membantu mengurusi? Engga kan, so just keep calm and take care of your own business, please.

Yang saya sesalkan, ketika 'tidak bisa punya anak' ternyata adalah suatu 'berkah' yang Allah titipkan kepada suatu pasangan; lalu salah satu dari mereka (biasanya suami) menggunakannya untuk menyakiti pasangannya (biasanya istri). Ya iyalah menyakiti bok, memangnya perempuan itu kucing??? Cuma buat dititipi benih doang???

The thing is, coba pikirkan perasaan perempuan tersebut. Betul, hanya perempuan yang memiliki keistimewaan untuk hamil, melahirkan, dan menyusui – tapi bukan berarti hal itu bisa menjadi justifikasi, bahwa ketika seorang perempuan tidak bisa melakukannya, ia tidak utuh sebagai seorang perempuan. TIDAK. Sama sekali TIDAK. Seorang perempuan tetaplah perempuan, terlepas dari apa yang bisa dan ia bisa lakukan.

Sebaliknya, jika yang memiliki masalah adalah laki-laki, mungkinkah perempuan mendapat 'hak pilih'-nya untuk bercerai dan mencari laki-laki yang 'lebih baik'? Saya yakin kebanyakan akan meminta sang perempuan untuk bersabar. Karena semua orang tahu, seorang laki-laki tetaplah laki-laki, terlepas dari apa yang bisa dan ia bisa lakukan.

Kembali ke film Air Mata Surga, film yang banyak mengambil setting di Yogyakarta ini, mungkin sebaiknya ditonton oleh yang sudah membaca bukunya. Untuk saya dan teman-teman yang mendapat tiket nonton gratis dari Wardah, dari awal hingga tengah film rasanya bingung banget. Ini siapa ya? Jadi ceritanya apa? Hubungannya ini dan ini apa? Kok bisa karakternya melakukan hal ini? Kebetulan kami memang tidak mau googling terlebih dulu, supaya surprise gitu. Huehehehe.

Hal paling menghibur dari film ini justru baju-baju Dewi Sandra yang masyaAllah bagus-bagus! Kami sampai nunggu kredit selesai untuk menemukan brand yang mensponsori :))) Morgan Oey juga berakting dengan luar biasa, bahkan seorang teman nyeletuk, “duh dia pantes banget jadi orang Islam.” Hahahahahaha, jangan diambil hati ya Ko!

Intinya, film ini saya rekomendasikan sebagai bahan diskusi dengan suami atau calon pasangan. Bukannya berpikir yang tidak-tidak, tapi hanya agar kita lebih menghargai dan merasa empati pada orang-orang di sekitar kita yang mungkin mengalaminya. Semoga, Allah selalu membantu kita untuk berprasangka baik pada orang lain - dan alih-alih mencerca keadaannya – mendoakan yang lebih baik untuknya.

Salam,
Prima

Wednesday, August 5, 2015

Yuk Nonton: Catatan Akhir Kuliah The Movie






Hari Kamis, 30 Juli 2015, adalah hari yang membahagiakan untuk Muhadkly Acho, Ajun Perwira, dan para pemain Catatan Akhir Kuliah The Movie. Hari itu, mereka resmi ‘diwisuda’; atau dengan kata lain, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karangan Sam Maulana ini, diputar secara serentak di berbagai bioskop di Indonesia.

Film-nya tentang apa sih? Ini alur ceritanya yang saya kutip dari website Cinema XXI..
Film Catatan Akhir Kuliah diangkat dari novel karya Sam Maulana. Film ini menceritakan kehidupan penulis dimasa perkuliahan. Sam (Muhadkly Acho), Sobari (Ajun Perwira), Ajeb (Abdur Arsyad) membuat sebuah janji akan wisuda bersama, yang diyakini sebagai janji persahabatan mereka.

Seiring perjalanan perkuliahan persahabatan mereka dipertaruhkan. Ternyata hingga menjelang batas perkuliahan , hanya Sam yang belum menyelesaikan tugas akhir (Skripsi).

Kesedihan Sam semakin komplit setelah mengetahui Kodok (Anjani Dina) cewek yang ia kagumi sudah memiliki pacar bernama Iwan (Andovi da Lopez).

Pengalaman cinta ditolak seperti terulang kembali saat Sam menembak Wibi (Elizya Mulachela) yang lebih memilih setia dengan kekasihnya dikampung halaman. Cinta Sam selalu terjebak dalam situasi Friendzone.

Sam berada di titik terbawah dalam hidupnya. Sam harus bangkit berjuang menyelesaikan atau harus merelakan semuanya dan menjadi mahasiswa gagal.
Apaaa? Film tentang skripsi??? Hahaha, harusnya saya juga bikin ya, film tentang kisah dibalik skripsi saya. Ups, buka cerita lama nih ya. Haha. But anyway, lucky me, saya dapat kesempatan untuk mengulik sedikit tentang film ini langsung dari salah satu bintang. Please welcome, Natasha Chairani!
 



Di film ini, Natasha – yang pada tahun 2011 berperan sebagai Meli di film Tendangan dari Langit The Movie – berperan sebagai WRP a.k.a Wahyuni Rani Puspitasari. Namanya mengingatkan kita akan sesuatu ya, hehehe. WRP adalah mahasiswi super pede dan kepo-an banget! WRP adalah sahabat Kodok (Anjani Dina), cewek yang sedang digebet oleh Sam. Tapi, bukan WRP namanya, kalau ga minta ‘bayaran’ atas bantuannya. So, dia minta Sam untuk balik nyomblangin dia dengan Sobari (Ajun Perwira). Tanpa perlu berpanjang-lebar, yuk denger (eh, baca) langsung excitement dari Natasha tentang film ini.

Prima (P): Hai, Natasha. Apa aja nih persiapan menjelang wisuda?*
Natasha (N): Menjelang wisuda persiapanku dan pemain lain kurang lebih sama, hehe. Siap-siap mental dan banyak berdoa! Berdoa semoga karya kita diterima di hati pecinta film Indonesia :) Dan yang pasti sibuk promo dan nobar kesana-kemari.

P: Sebutkan tiga kata yang bisa menggambarkan film ini dong!
N: REAL, FUN, and full of motivation.

P: Apa aja nih, pengalaman menarik selama syuting?
N: Tentu saja banyak pengalaman menarik selama syuting! Yang pasti kita semua dekat seperti keluarga (even sampai hari ini). Sering banget kumpul-kumpul dan selalu seru kalau udah sama-sama, jadi nunggu take gak berasa dan rasanya malah agak males untuk ninggalin lokasi, hahahahaha.

P: Oke deh, kayaknya memang keseruan ini bisa juga kita lihat di instagram-mu (@natashachairani), dan juga instagram para pemain lain yes. Pertanyaan terakhir, apa kenangan paling menyenangkan waktu kamu kuliah dulu?

N: Hmmm paling seru kalau di hari pertama masuk sekolah setelah libur sih! Kangen mixed feelings-nya, antara excited untuk ketemu sama temen-temen plus perasaan males karena masih pengen lanjut libur :))))) Kalau waktu kuliah pengalaman paling seru adalah berbagi dan ketemu berbagai macam budaya dari banyak Negara, karena dua kali kuliah Natasha diluar semua, di Singapore dan di Taiwan.

Nah, ga cuma Natasha aja dong, tapi saya juga sudah merangkum berbagai komentar tentang film ini dari Twitter. Here are some of them:

Dimas (@dimasbaguss) --- "Baru nonton "Catatan Akhir Kuliah" dan itu film keren banget! Apalagi soundtracknya dapet banget, selamat!"

Nidiya (@nidiyaaa) --- "Baru nonton.kocak tapi sekaligus merinding.jd kebayang wisuda yang beberapa tahun lg wkwk"

Trya (‏@tria_adel) --- "Catatan akhir kuliah, alur cerita yang maju mundur sama kejadian yang bener" real dialami mahasiswa tingkat akhir buat film ini bagus bget!"

Kabar baiknya, kamu bisa nonton bareng sama para pemeran Catatan Akhir Kuliah! What? I know, sounds great, right? Ini dia jadwalnya:


Botani Square XXI - Bogor -- 07 Agustus 2015
Jogjakarta -- 09 Agustus 2015
Solo -- 09 Agustus 2015
Semarang -- 10 Agustus 2015
Bandung -- 11 Agustus 2015
Cirebon -- 12 Agustus 2015

Caranya gimana? Cek aja di Twitter Fallisto: @cs_fallisto atau Official Twitter Catatan Akhir Kuliah: @CAKTheMovie.

So, tunggu apa lagi? Mau ngejadwalin buat nonton CAK The Movie akhir pekan ini, atau mau janjian sama teman-teman sekelas pulang kuliah besok? Enjoy!

Love,
Prima

***wawancaranya dilakukan minggu lalu, hehe

Wednesday, July 29, 2015

Hello Stranger: Never Ever Fall In Love When You Travel

Pic from here

Minggu siang kemarin, berhubung sedang mager (males gerak) banget, akhirnya saya menonton ulang Hello Stranger. Dulu rasanya saya pernah menonton film drama-komedi Thailand yang dirilis tahun 2010 ini, tapi saya lupa apa saya nonton sampai selesai. Kali ini, saya lebih menikmatinya, mungkin karena sekarang (sejak beberapa tahun lalu sih) kepingin banget ke Korea. Oke deh, mari serius menabung! #NgemengDoang :|

Hello Stranger bercerita tentang May (Nuengthida Sophon) dan Dang (Chantavit Dhanasevi) yang tidak sengaja bertemu saat berlibur di Korea. Petualangan mereka seru banget, dari mulai ke Pulau Nami, menghadiri pernikahan teman May, Min'a, hingga memenangkan grand prize saat berjudi. Setiap harinya memunculkan perasaan ketertarikan antara keduanya, meski May sudah memiliki pacar, dan Dang sedang berusaha memenangkan hati mantan pacarnya. Saya sempat nyeletuk ke sepupu, “saking serunya film ini, apapun ending-nya ga masalah deh.” Dan ternyata, ending-nya agak-agak bikin “yaaah, kok gini.” Huahahaha, ga konsisten banget sih kamu, prim!

But anyway, pernah kebayang ga kalau hal ini terjadi pada kita? Apalagi solo traveling lebih nge-tren pada tahun-tahun terakhir, and whatever happens in holiday times, stay there. Hanya saja, saya merasa, jatuh cinta saat traveling, apalagi keluar negeri itu agak riskan. Why so?

1. Kita Tidak Tahu Profil Diri Si Lelaki yang Sebenarnya
Kebetulan di hari sebelumnya, saya menonton Lucy. Itu lho, film dimana Scarlett Johansson jadi kurir narkoba lintas negara, yang malah membuat tubuhnya terluka tapi di sisi lain, kemampuan otaknya meningkat; menjadikan dirinya punya kemampuan super. Kalau sister memperhatikan awalnya, Scarlett dijebak oleh seseorang yang ia kencani di Taipei, kota dimana ia bersekolah.
Serem? Banget. Memang kejadian ini tidak hanya mungkin terjadi di luar kota atau luar negeri, tapi kemungkinannya jelas lebih besar, terutama ketika kita solo traveling, without any friend at all. Saya percaya banyak sekali orang-orang baik yang dikirim Allah untuk mengamankan perjalanan kita (seperti saya, dengan kisah pesta pernikahan di Kamboja). Tapi saya juga sadar ga semua orang sebaik itu. Especially if we got drunk, udah deh bisa habis kita.
Jadi, jatuh cinta saat traveling, apalagi kalau ketemunya – atau kemudian nge-date-nya - di tempat-tempat hiburan (malam), so not highly recommended. Masih ada tempat-tempat dimana kita (insyaAllah) bisa menemukan cowok baik-baik. Museum, maybe? Atau siapa tahu kita jatuh cinta dengan sesama traveler ketika sholat di masjid setempat.
Meski demikian, tetap saja kita perlu berhati-hati. Maybe he is a good person, he is fun to be with, he knows things to do in the city; but we don't know his marital status. Nanya? Duh, ga enak dong, baru kenal ini. Nyesek kan, kalau kitanya udah terlanjur cinta, eh ternyata dia punya pacar/tunangan/istri yang menunggu di rumah.

2. Kita Juga Tidak Seharusnya Membuka Diri kepada Orang Asing
Sebaliknya, karena perjalanan yang seru, kita banyak bercerita tentang diri, keluarga, pekerjaan, dan sebagainya. Kembali ke resiko nomer satu, iya kalau dia orang baik-baik dan terkesan dengan cerita kita. Bisa jadi lho, kita ketemu orang jahat yang memanfaatkan situasi dengan menelepon orang rumah, mengatakan bahwa kita dalam situasi darurat, dan meminta sejumlah uang. Kok ngeri gitu, prim? Hel-lo, hal ini sangat mungkin terjadi karena kita sendiri tidak selalu bisa dihubungi saat diluar negeri, iya kan?
Nyatanya, tidak perlu menunggu traveling, banyak sekali kejadian perempuan yang diperas karena terlalu membuka diri kepada temannya di social media – yang ternyata penjahat. So, pikir-pikir lagi deh, sebelum menceritakan sesuatu kepada orang yang benar-benar masih asing.

3. Kita Menghadapi Resiko bahwa Hubungan tersebut tidak Akan Berjalan Lancar Seusai Liburan
Seandainya kedua resiko diatas tidak terjadi – let's say this person is really really good – kita tetap dihadapkan pada dua pilihan: melanjutkan hubungan tersebut dengan segala konsekuensinya, atau memutuskan untuk menjadi teman biasa saja. Tentu akan sulit memilih yang pertama jika ada perbedaan seperti domisili, pekerjaan, dan lain-lain. Apapun pilihannya, jangan sampai terjebak dalam situasi PHP ya. Seorang lelaki yang ditakdirkan oleh Allah untuk sister akan menunjukkan keseriusannya, tidak sekedar memberikan janji-janji kosong.

Bagaimana dengan saya? Sebenarnya saya merasa lebih baik menghindari jatuh cinta saat traveling, meski tentu saya sangat senang jika bisa punya teman-teman baru, baik perempuan maupun laki-laki. Tapi nih, duluuuu sekali, tahun 2002, saya pernah cinlok (cinta monyet sih, maklum umur berapa tuh, haha) saat mengikuti World Scout Jamboree di Thailand. Cowok Inggris ini awalnya memandang saya sebelah mata karena hijab saya, tapi kami akhirnya berteman dan di hari terakhir, it feels so difficult to take off his hand. Rotfl. Sampai beberapa bulan sesudahnya, kami masih saling mengirim email, tapi kemudian, semua hilang begitu saja. Saya masih ingat, namanya Gary Smith dan ia berasal dari Durham, Inggris Utara. Tapi gatau ya, apa yang dia rasakan ke saya, saya kok pede banget, hahahahaha.

Bukannya tidak mungkin jodoh kita dikirim lewat traveling, karena toh ada saja teman saya yang menikah dengan seseorang yang ia temui saat bepergian ke Eropa. Tetapi seperti saya kemukakan diatas, jauh lebih baik jika kita berhati-hati. Perjalanan menyenangkan, pulang pun dengan selamat sentosa tanpa kurang suatu apapun. Happy traveling!

Lots of love,
Prima

Wednesday, June 17, 2015

The Secret Life of Walter Mitty: Small People Matters


Assalamu'alaikum sister,

Gimana nih persiapan taraweh hari pertama? *brb setrika mukenah kesayangan*

Tahun lalu, ya, Ramadhan tahun lalu, doa saya cuma satu: boleh dong kalau jadi Ramadhan terakhir sebagai single. Eh, ternyata belum diizinin sama Allah. Yaudin doanya diganti deh: single atau tidak, semoga jalanku adalah jalan yang membawaku lebih dekat dengan-Mu, dan apa yang aku kerjakan – bekerja atau sekolah – membawa manfaat untuk ummat. Aminin yah #maksa :)))

Sebelum kita memasuki (insyaAllah) #1Hari1Hadits, saya mau cerita tentang satu film yang menurut  saya bagus banget.. Film lama sih, tahun 2013, judulnya The Secret Life of Walter Mitty. Apa? Udah basi? Yaudah kalau gitu ga jadi aja.. #lol

I left speechless when the movie finished, because I believe the movie relates with a lot of people. Terutama saya, yang kemarin ceritanya lagi bikin paper buat salah satu mata kuliah, dengan tema yang serupa, yaitu “Masa Depan Majalah Gaya Hidup di Indonesia”. Cieh. Keren ga, sister? :p

Pertama, saya rasa rata-rata dari kita tumbuh bersama produk media massa tertentu. Dunia dalam Berita, Si Unyil, Berpacu dalam Melodi, majalah Bobo, lalu Keluarga Cemara, majalah Gadis atau Kawanku, atau siapa yang bacaannya Aneka Yess!?

Terlebih lagi, ketika saya mulai kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, saya makin memperhatikan produk-produk media massa. Yah meskipun saya ga ambil peminatan media, dan bahasan ilmu komunikasi itu luas banget.. Tapi tetep aja, I think I know how 'nyesek' to be Walter Mitty. 17 tahun untuk sebuah pekerjaan, dan kemudian dipecat karena what-so-called 'perkembangan teknologi'.

Nah, that's the second point. We can't stop the advancement of life. Hidup kita pastinya bergerak terus, dan siapa yang tidak bisa berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman, ya itulah... yang kira-kira akan 'game over'.

Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol sama teman sekamar saya. Funny when we are proud to see babies hold mobile phones, while in fact the kids of Bill Gates and Steve Jobs don't even have one. #KatanyaSihGitu #MaapKaloNgasal

Saya pertama kali punya handphone ketika SMA kelas 1, tapi karena saya ogah ribet, saya males bawa kemana-mana. Years goes by, dan saya sempat ngerasain yang namanya ketergantungan sama HP karena pekerjaan saya membuat saya harus selalu online and available for the clients. Baru sejak bulan lalu, saya mencoba mengurangi ketergantungan saya akan HP dengan cara.....tidak membeli paket data! Yes, ekstrim. Jadi agak susah sih kalau mau dihubungi, tapi hidup jadi tenang dan damai :')

Soalnya manusia ini kadang suka kebangetan. Sama HP dan internet aja setengah mati butuhnya, sama ngaji setengah mati.....malesnya -____-

Kembali ke cerita Walter Mitty. Poin ketiga, kadang di lubuk hati yang terdalam, kita punya banyak imajinasi yang luwar biyasak. Saya pingin banget tuh kayak Walter yang bisa 'tiba-tiba' naik pesawat kemanaaa gitu, seru kali yah. Mana tujuannya Greenland dan Iceland pula. Whoaaaaah. Tapi seru juga buat dompet yak, haha.

But the most important thing from the overall story is, always, always, always give your best. Pelajaran dari film ini dalem banget lho, saya awalnya ga bisa ngebayangin ini ceritanya sebenarnya gimana; tapi waktu Walter Mitty ketemu sama Sean O'Connell, baru ooo, bagus banget filosofi filmnya. Ada satu adegan dimana ibunya Walter bilang bahwa Walter – si pegawai rendahan yang kerjaannya 'cuma' meng-afdruk (masih pada inget istilah ini ga sih?) foto hasil karya Sean – berperan sangat besar untuk majalah Life. Dan Sean menghargai setiap pekerjaan Walter, sesuatu yang bikin saya, 'masa siiih ada orang kayak gini di dunia ini?'

Begitulah, kadang kita lupa bahwa karir kita yang cemerlang ga akan se-mentereng ini, kalau ga ada tim sukses, bahkan OB di kantor yang bagian bersihin ruangan dan bikinin kopi di pagi hari... mereka punya andil besar dalam pekerjaan kita. Emang mau bersihin ruangan sendiri? Hayo? Hayo?

So look around, say thanks to those kind of people.
Bersyukurlah karena ada mereka, bersyukurlah karena pekerjaan kita (mungkin) sedikit lebih baik daripada mereka, dan bersyukurlah pada Allah, jika kita diberi kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengan Ramadhan. Amin, insyaAllah, dan bismillahirrahmanirrahim :)

Salam,
Prima

Wednesday, June 3, 2015

The King's Speech: When Public Speaking Skill Doesn't Comes Naturally


Hai hai, apa kabar para pembaca yang budiman? :)))

Maaf ya, ternyata saya belum sempat menuliskan review film yang saya janjikan dua minggu yang lalu. Hiks. Tugas-tugas UAS sudah membayangi, dan meskipun kami baru akan masuk masa UAS secara resmi minggu depan, kami sudah mengerjakan dengan kecepatan penuh mulai senin minggu lalu. Kadang saya heran kenapa seminggu sebelum UAS disebut pekan sunyi atau minggu tenang, sementara pada kenyataannya jelas minggu tersebut adalah minggu panik? Hahaha, ga penting sekali lah prim.

Anyway, beberapa minggu yang lalu, saya menonton film The King's Speech yang dibintangi oleh Colin Firth, Helena Bonham Carter dan Geoffrey Rush. Kalau sudah pernah menonton King's Speech, sister tentu tahu bahwa ceritanya adalah tentang Raja George VI - anak dari Raja George V dari Inggris – yang didapuk untuk melanjutkan kekuasaannya. Sayangnya, anak ini, punya satu kekurangan teramat besar: gagap.

Bagi rakyat jelata seperti kita (kitaaaaa), gagap mungkin bukanlah suatu masalah yang krusial. Tapi bagi seorang pemimpin, tentu saja malu-maluin banget kalau ga bisa bicara didepan publik. Bayangin kalau disuruh pidato kenegaraan, membuka pameran atau konferensi, menyambut tamu-tamu diplomatik; banyak deh pokoknya tugas-tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan public speaking.

Lahir sebagai seorang yang pinter ngomong (#preketek), dulu saya berpikir bahwa public speaking is just natural for everybody. Bukankah sejak SD kita sering dapat tugas bercerita didepan kelas? Apalagi jaman sekarang, murid-murid SMP udah dapat tugas presentasi, wuih.. Pake slide powerpoint segala.. Ckckck.

Pandangan ini justru berubah ketika saya masuk Jurusan Ilmu Komunikasi di S1. Waktu itu, pernah ada yang bertanya kepada saya, “kayak apa tuh ramenya kelasmu? Pada suka ngomong semua..” Dan saya ga pernah ngerasa kalau kelas saya seriuh itu. Semakin banyak semester, kami semakin memahami bahwa skill terbaik yang dibutuhkan dalam komunikasi adalah listening (semoga). Bahkan, saya punya seorang teman sekelas yang tidak bersuara sama sekali di kelas hingga semester IV. Kami baru mendengar suaranya saat ia mempresentasikan sebuah tugas, kalau ga salah film dokumenter, and his work was incredibly amazing.

Sejak saat itulah saya makin tertarik dengan public speaking, karena meski bagi sebagian orang hal ini erat kaitannya dengan 'omong kosong', saya merasa ada banyak hal yang bisa didapatkan dari public speaking yang baik. Soekarno tentu adalah one of the world' class public speaker. Mario Teguh aja ga ada apa-apanya #lhah

A good public speaker can influence the audience, a great public speaker can change the world – only by his/her voice!

But I do know it can be a big problem for some people, even for me, sssttt saya masih sering gemetar kalau mau bicara didepan orang banyak kok. So, kali ini saya mau bagi sedikit tips untuk membantu sister memperbaiki kemampuan public speaking.

1. Persiapan Materi
Hal ini mutlak adalah hal yang paling penting dalam public speaking. Meski dalam pidato kita mengenal teknik impromptu atau spontan, tapi hal ini tidak disarankan terutama pada event yang sangat penting dan besar. Menurut saya, kecuali sister paham 100% mengenai materi yang akan disampaikan, dan 100% pede, jangan coba-coba dengan teknik impromptu. Soalnya, teknik impromptu hanya bisa mempertahankan ide pada beberapa menit pertama. Sisanya.. good luck aja deh.

Saya  juga kudu mengutip pembahasan dari Aristoteles tentang teori retorika nih, yaitu:
a. Ethos: karakter, intelegensi, dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara; atau secara umum dipahami sebagai 'keterpercayaan' atau 'kejujuran'. Contohnya, pada sebuah seminar tentang kewirausahaan, kita akan lebih terbuka pada pembicara yang memang seorang pengusaha, daripada jika pembicaranya tidak pernah berbisnis sama sekali. 

b. Logos: penggunaan argumen dan bukti dalam sebuah pidato. Perhatikan contoh dibawah ini:

“Sister yang dirahmati Allah, bahkan Rasulullah telah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang. Profesi pengusaha memberikan kita kesempatan untuk menggeluti apa yang menjadi hobi atau passion kita, memaksimalkan potensi penghasilan, dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.”

“Sister yang dirahmati Allah, menjadi pengusaha memberikan dorongan yang lebih besar agar kita terus berusaha menggapai langit, mencetak pundi-pundi emas, dan meningkatkan hajat hidup orang banyak.”

Yang kedua memang bikin “apose kokondao, prim?” Simpelnya, dibutuhkan dasar bagi kita memberikan pendapat dengan jelas, lugas, dan ringkas. 

c. Pathos: emosi yang dimunculkan dari para pendengar. Misalnya, ketika kita menyampaikan pidato tentang pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja, kita akan bercerita dengan penuh keprihatinan, ga mungkin haha-hihi ketawa-ketiwi.. Bisa-bisa ditabok audiens kan.

Persiapan juga melibatkan audiens khalayak, makanya kalau ada ustadz/ustadzah yang berceramah di kalangan orang tua, lebih sering menggunakan bahasa daerah. Atau kalau di hadapan kalangan akademisi, maka fakta-fakta numerik akan dipaparkan sedemikian rupa. Use the language of the audience, so they understand more of what we are talking about.

2. Persiapan Fisik
Materi siap, maka waktunya kita mengolah tubuh agar siap melakukan pidato. Bagaimana kita berdiri, bagaimana kita menggerakkan tangan-kepala-pundak-lutut-kaki-lutut-kaki (lah, kok jadi nyanyi sih :p), bagaimana kita melakukan improvisasi pada volume suara kita – hal-hal ini sangat fisik dan dapat mempengaruhi kenyamanan kita sendiri sebagai pembicara. Kalau posisi kita berdiri kurang enak, kita ga bisa 'bertahan lama', pasti rasanya limbung.
Tentang suara, ada baiknya kita melakukan olah pernapasan agar kita tidak terdengar terengah-engah atau berhenti di tengah pembicaraan. Google aja gimana melakukan olah pernapasan yang baik dan benar.

3. Persiapan Mental
Materi siap, fisik oke, audiens sudah didepan mata, telapak tangan dan kaki kok rasanya dingin? Tenang, itu wajar, hehehe. Take a deep breath, hitung angka satu sampai lima (jangan sampai seratus, kasihan audiens pada nunggu :D), dan sampaikan kalimat pertamamu dengan lantang untuk memberanikan dirimu sendiri. Kabar baiknya, meskipun kamu sebenarnya ga pede, audiens ga akan tahu kalau kamu ga menunjukkannya. Berikan jeda pada tiap paragraf, agar kamu bisa memberi waktu untuk menstabilkan suaramu (yup, kalau kamu ga pede, suaramu akan terdengar bergetar). Jujur, kalau saya lagi minder berat untuk menghadapi audiens, saya lepas kacamata (dan ga pake soft lens juga) supaya saya ga bisa ngeliat wajah audiens. Saya anggap aja semua audiens ini boneka jadi saya bebas ngomong apa aja. Hihihi, if you wear glasses, you might wanna try that!

Percayalah bahwa public speaking bisa banget untuk dipelajari dan dilatih. Semua dari kita ga tiba-tiba bisa masak/nyuci/nyapu/ngepel dari lahir kan? Again, it might be natural for some people and difficult for some others, tapi ga ada ruginya untuk mencoba karena kemampuan ini insyaAllah akan berguna di masa depan.

Semoga tips dari saya berguna untuk sister, kalau mau nambahin trik-trik lain boleh lho ;)

Lots of love,
Prima

Wednesday, May 20, 2015

Maleficent: When a Broken Heart Woman Making Revenge

Pic from here.

Sebenarnya saya kepingin bagi review buku setiap hari rabu, tapi apa daya akhir-akhir ini yang dibaca buku-buku kuliah yaaa. Kira-kira ada gitu yang tertarik kalau saya bikin review buku Corporate Communication, The Reality of Mass Media, A First Look At Communication Theory, The Business of Media, dan sebagainya? Kalaupun ada yang tertarik sih, saya yang ga tertarik nulis review-nya disini, hihihihihi. Jadi, berhubung tidak ada review buku, kita gantikan dengan review film saja. Supaya isi blog ini ga serius-serius banget :p

Kali ini, saya menonton Maleficent yang menurut saya, wajib saya review karena it’s one of the best Disney movie ever. Maleficent bercerita tentang sebuah negeri Moors yang dihuni oleh para all those ‘special creatures’, yang berbatasan dengan kerajaan yang dihuni oleh manusia. Suatu hari, Stefan, seorang remaja bermaksud mencuri batuan berharga dari sebuah danau di Moors dan dihadapkan dengan Maleficent, peri terkuat yang juga remaja (should I say ‘seorang’?).

Mereka berdua kemudian ditautkan oleh sebuah perasaan, yang disebut oleh Stefan sebagai cinta sejati. Tapi, ketika beranjak dewasa, dia dibutakan oleh keinginannya menjadi raja, hingga dia tega memotong sayap Maleficent sebagai bukti kepada Raja Henry. Yes, Raja Henry menitahkan bahwa siapapun yang bisa membunuh Maleficent, akan dinobatkan menjadi raja selanjutnya dan berhak menikah dengan putrinya.

Saat itulah Maleficent murka, dan karena patah hati, dia mengangkat diri sebagai penguasa Moors dan menjadikan Moors negeri yang gelap dan tertutup. Kemudian cerita bergulir pada peristiwa dimana anak Stefan, Aurora, lahir – lalu Maleficent memberi ‘hadiah’ berupa kutukan…disini saya baru sadar, oh ini cerita serupa dengan Sleeping Beauty (telat banget prim).. Dan selanjutnya makin lama makin seru, apalagi masih dengan polemik antara Kerajaan dengan Negeri Moors.

Bagian paling amazing adalah ending-nya, yang tadinya saya pikir bakal happy ending buat Maleficent, ternyata happy ending juga sih…walau dengan cara yang berbeda. So, saya rasa film ini kasih beberapa pelajaran yang penting untuk kehidupan, seperti:

1. Don’t let the hatred eat you
Memberi energi pada rasa benci kadang sama artinya dengan kill yourself alive. Kayak udah ga ada semangat hidup gitu, menjalani hari-hari tanpa semangat yang positif. It’s tiring, exhausting, and making you look old. Lihat aja tulang pipi Maleficent yang makin lama makin menonjol, dan mukanya makin serem *sungkem sama Tante Angelina Jolie*
 
2. Mulutmu, harimaumu
Seandainya kita dapat ‘mukjizat’ bisa mengutuk orang seperti Maleficent, barangkali dunia ini udah sepi. Ketika marah, kita sering ga bisa mengendalikan apa yang keluar dari mulut kita, dan ujung-ujungnya jadi jelek banget. Untung Maleficent masih memberikan ‘penawar’ dari kutukannya, coba kalau engga, nyeselnya banget-banget kan Tante Maleficent?
 
3. Move on, please!!!
Setelah Aurora lahir, kerjaannya Maleficent ga penting banget, kepooo aja terus tiap harinya. Sama rasanya kayak udah ditolak gebetan terus tetep kepoin socmed-nya. Yang sakit mah kita (kitaaaaa), dianya biasa aja kan dia gatau sakitnya tuh disini. Jadi ya sutralah, cari kegiatan lain yang lebih penting deh. Kepoin blog saya, misalnya. Hehe.
 
4. Kebaikan (dengan izin scriptwriter) bisa mengalahkan kejahatan
Kalau lihat gimana Aurora meluluhkan hati Maleficent, duh terharu banget.. Waktu dia bilang “you’re my fairy godmother.” Itu kan pasti #jleb banget yaaa buat si Maleficent. Dan ketika Aurora akhirnya bangun karena dicium Maleficent, that’s how they define true love, I think it’s the sweetest thing in the world.

Untuk kelompok penonton dewasa, mungkin Maleficent agak terasa janggal di beberapa sisi, dari mulai cerita hingga karakter. Tapi untuk konsumsi remaja dan keluarga, buat saya film ini recommended banget. Apalagi yang jadi Diaval lumayan buat cuci mata #tetep :))

Next post, I’m gonna review an investigation movie which I think has a crrrazy storyline. Film apakah itu? Stay tune!

Love,
Prima

Wednesday, May 13, 2015

Guru Besar Tjokroaminoto: Filmnya Tak Sebesar Namanya

 

“Setinggi-tinggi ilmu
Sepintar-pintar siasat
Semurni-murni tauhid”

Kalau ada satu film yang bisa bikin kita betah nonton selama hampir tiga jam, bahkan tanpa kita paham jalan ceritanya, that will be Guru Besar Tjokroaminoto. Why so? Garin Nugroho mah gitu orangnya, LOL. Setting, pemilihan pemain - dari mulai pemain utama sampai yang cuma lewat di belakang aja -, soundtrack, kostum, most of it, awesome! Bahkan logat dan aktingnya pemain-pemain pendukung dapet banget lho. Biasanya kan ada tuh, film yang berhubung pemain utamanya keren banget, yang lain jadi jomplang. Tapi di film ini engga. Bahkan menurut saya, pamor Christine Hakim kalah sama seorang rewang (asisten rumah tangga) istrinya Tjokro. Oya, ibu-ibu berjarik ini pada akhirnya terlihat sedikit mendominasi mulai dari pertengahan film. Kayaknya dimana-mana muncul, hehehehehe. Tapi ya itu tadi, saya rasa dia orang Surabaya totok (aseli seli) deh.. Saya aja ga semedhok itu Bu.. :))

Kembali ke cerita, ternyata Garin Nugroho pun mengakui hal tersebut (baca disini). Seingat saya, ini film biopik pertama yang saya tonton dalam tiga tahun terakhir. Dan mungkin, kekurangannya memang disitu.. Yes, alur ceritanya sangat-sangat lemah. Kalau yang nonton film Habibie & Ainun (saya malah belum nonton), pasti paham kalau disitu yang jadi fokus adalah kisah cinta Habibie & Ainun.

Sedangkan di film ini, kita ga bisa mendapatkan chemistry dari film karena terlalu banyak hal yang ingin dimasukkan oleh Garin. Dari mulai pernikahan Tjokro, perjalanan Tjokro ke Semarang, perpindahan Tjokro dan istri ke Surabaya; lalu pergerakan Tjokro bersama Samanhudi, DAN Agus Salim pada periode yang berbeda; hingga pemberontakan Serikat Islam (Merah) dan bahkan ada kisahnya Soekarno muda (pemerannya ganteng banget, ya Allah lemah iman hayati, bang..) yang menimba ilmu di rumah Tjokro. Nah lho, kebayang kan betapa rumitnya film ini. Ga kaget kalau kemudian adegannya loncat-loncat. Penonton harus merangkai sendiri kepingan-kepingan puzzle tersebut untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang perjuangan Tjokro.

Sebenarnya saya menonton film ini karena dosen meminta kami, para mahasiswa, menonton. Menurut beliau, kami akan bisa memahami esensi gerakan sosial, baik revolusi maupun evolusi. Yah, namanya juga mahasiswa S2, kita mah gitu orangnya (lagi prim? Zzz). Memang kemudian kami melihat “oooh, Tjokro berjuang lewat koran..” dan hal ini bikin pede kami sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi. Tapi, saya sempat mikir, lha katanya kan apa-apa dilarang di masa Hindia-Belanda, kok bisa dia punya mesin percetakan, kertas, dan tinta? Terus korannya ga dibredel pula? Jadi salah siapa? Salah guweh, salah teman-teman guweh? #GagalPaham

Udah gitu nih, berhubung rata-rata dari kami jongkok banget pelajaran sejarahnya, begitu ada yang seliweran, terus dipanggil “Semaoen”, “Moeso”, dan siapalah para pemuda yang ngekos di rumah Tjokro; kami langsung lihat-lihatan satu sama lain. Iki sopo reeeeek. #MakinGagalPaham

Yang paling #jengjeng pasti kemunculannya Chelsea Islan, like… who the hell is she? Misterinya baru ada di akhir-akhir..

‘Hiburan’ sesungguhnya di film ini bagi kami justru ketika kami melihat pacar teman sekelas, si bule berambut kuning, berperan jadi salah satu serdadu Belanda. Woohoo, sadis nih yeee mas Sanders. Ditambah lagi, ada orang yang saya kenal, yaitu koordinator divisi saya waktu syuting film Tendangan dari Langit. Mas Ibnu, namanya, lumayan sering muncul karena dia adalah salah satu pemuda yang mendampingi golongannya Semaoen dll. Jadi ketawa deh saya :p

The thing is, buat saya film ini masih jauuuuuh berkelas daripada nonton film yang you-know-what-lah. Tentu saja seharusnya film ini membuat kita MALU sebagai rakyat Indonesia yang diam berpangku tangan. Kesimpulan dari film ini, kita sebenarnya belum merdeka, sister. Selama kita masih iya-iya aja kalau dicekoki apapun dari luar negeri, we haven’t become an independent nation yet. Kalau kata dosen saya (yang lain), seandainya kita berani bilang ‘tidak’ sama hal-hal impor, yang harus kita lakukan adalah menyiapkan substitusi produk yang paling tidak berkualitas sama. Tapi yang paling penting sih mindset, duh sedih deh pokoknya kalau kita meresapi nilai-nilai dari perjuangan Tjokro.

So, if you have any time this weekend (and the theaters still play it), please try enjoying the movie. Trust me, it is a high quality movie after all.

For the love of Indonesian movie,
Prima

Monday, April 20, 2015

Furious 7: It's All About the Brotherhood


It was a nice Thursday afternoon as I have collected my mid-test essays. I feel so freeeeeeee.. I believe I can fly~~~~~~ *jump off from my college building* :)))

As I have said before, our deadline is actually Friday but I finished mostly everything on Tuesday. Too bad, I met one of my lecturer on Wednesday and I have to work on some revisions on Thursday morning. Argh. But enough is enough. Kalau kata teman-teman sekelas, prinsipnya anak S2 itu simpel: #YangPentingKelar. Duh, ga kebayang gimana masa depan bangsa ini kalau begini ceritanya, huahahahaha.

Back to the lovely Thursday. As I didn’t give a deym care for those assignments – I mean, I have squeezed my brain so hard, so yes I deserve a break. No, not only KitKat (krik krik). But… it’s movie time!

Last time I watch movie on theatre, it was Hijab, with my fellow Indonesian Hijab Blogger friends. This time, me and Kina, my pretty classmate, arguing for the movie choices. I definitely think about Furious 7, because it’s everywhere. Gw mah mau jadi anak gaul gitu orangnya. But when we see the 21 website and find out that Cinderella still on, we plan to watch it. Turns out, the one that being shown in Jogja City Mall is Beauty and the Beast, which makes us like…what?! So yes, we decided to watch Furious 7.

I didn’t have any expectation for this sequel. I know nothing about the storyline, especially because I stop watching the franchise after Tokyo Drift. But one thing I know, it is good. Like, really good. What I can remember mostly is, it’s not a common race movie. It has everything audiences want: the plot, the characters, the cars (and here they have a $3,4M car, phew), and… the chemistry. Seriously, even though I’m not their fans – I personally don’t feel like a fans of Vin Diesel, Paul Walker, or anybody else, but the connection between each other is worth the tears. That’s why I left the studio with blurry eyes…..

Kina herself, never watched The Fast and The Furious, she said. She kinda shocked to see girls with ‘improper clothes’. Oh, I forgot telling you that Kina dress syar’i-ly. Later then, she said she enjoy the movie. Alhamdulillah #eh :p

If the story is not too appealing for you (or for me too, and because of that, I almost googling at some first minutes), just enjoy the race and the fight.. For me, it’s getting more awesome when they have to take ‘the important stuff’ in Abu Dhabi. After Mission Impossible taking scene in Burj Al-Khalifa, it seems like the government of Abu Dhabi got a little bit jealous. They ‘provide’ not just one or two buildings, but THREE Etihad towers (sponsor alert!!!), to be destroyed by the ‘flying car’ rode by Dominic (Vin Diesel) and Brian (Paul Walker). The scene makes me remember Brian’ statement (and repeated by Brian’ son) at the beginning, “cars don’t fly.” Anyway, they made it. Make the cars fly, I mean.

However, right before the scene of flying car, I kinda disgusted by a scene where they attend a party run by a Jordanian prince. Okay okay, Arabic princes are many. But my imagination of Prince Ali, the Crown Prince of Jordanian, almost ruined by this movie. I have read a based-on-true-story novel tells the life of the Arabic royal family so I wasn’t too shocked. But I do hope my husband candidate a.k.a the Crown Prince of Dubai never hold this kind of party. No way, he is too busy with horse riding, skydiving, and photographing the giraffes somewhere in Africa.

Ehem, back to the movie. Besides that Abu Dhabi thing, the rest is just so… The Fast and the Furious, and I’m sure you know what I mean. Of course I can’t spill too many details as I don’t know who direct the movie and put some ‘innovation’. For some ‘technical’ stuffs like that, I recommend you to read this review. The writer is insane, I warn you.

By saying that the movie is just so-so, doesn’t mean that I don’t like it. Otherwise, I looove it and proud of myself who makes the decision to watch the movie. The ending part is just too sweet, it takes my breath away. Later I found that Paul Walker has been CGI-ed in some scenes – it makes me scared and try to remember if I can see the differences. But no, I let myself cry at the ending, especially when Dominic said, “that bond will never be broke and the love will never get lost” and then they drive to separate way.

It’s just good to know that Paul Walker is remembered that way instead of others, like suicide or other bad story. Car accident is also bad, too bad for an actor in a car-related movie. But, ah, I can’t even say another word to describe my painful feeling..

So, yes, I highly recommend you to watch Furious 7, even though I still amazed by the way Hobbs (Dwayne Johnson) cracked his arm bandage. Badan gede amat om, sarapannya kayu jati? #abaikan

That’s all from me, and have a great week ahead – assignments are coming (again, sigh).

For Paul,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...