Wednesday, May 20, 2015

Maleficent: When a Broken Heart Woman Making Revenge

Pic from here.

Sebenarnya saya kepingin bagi review buku setiap hari rabu, tapi apa daya akhir-akhir ini yang dibaca buku-buku kuliah yaaa. Kira-kira ada gitu yang tertarik kalau saya bikin review buku Corporate Communication, The Reality of Mass Media, A First Look At Communication Theory, The Business of Media, dan sebagainya? Kalaupun ada yang tertarik sih, saya yang ga tertarik nulis review-nya disini, hihihihihi. Jadi, berhubung tidak ada review buku, kita gantikan dengan review film saja. Supaya isi blog ini ga serius-serius banget :p

Kali ini, saya menonton Maleficent yang menurut saya, wajib saya review karena it’s one of the best Disney movie ever. Maleficent bercerita tentang sebuah negeri Moors yang dihuni oleh para all those ‘special creatures’, yang berbatasan dengan kerajaan yang dihuni oleh manusia. Suatu hari, Stefan, seorang remaja bermaksud mencuri batuan berharga dari sebuah danau di Moors dan dihadapkan dengan Maleficent, peri terkuat yang juga remaja (should I say ‘seorang’?).

Mereka berdua kemudian ditautkan oleh sebuah perasaan, yang disebut oleh Stefan sebagai cinta sejati. Tapi, ketika beranjak dewasa, dia dibutakan oleh keinginannya menjadi raja, hingga dia tega memotong sayap Maleficent sebagai bukti kepada Raja Henry. Yes, Raja Henry menitahkan bahwa siapapun yang bisa membunuh Maleficent, akan dinobatkan menjadi raja selanjutnya dan berhak menikah dengan putrinya.

Saat itulah Maleficent murka, dan karena patah hati, dia mengangkat diri sebagai penguasa Moors dan menjadikan Moors negeri yang gelap dan tertutup. Kemudian cerita bergulir pada peristiwa dimana anak Stefan, Aurora, lahir – lalu Maleficent memberi ‘hadiah’ berupa kutukan…disini saya baru sadar, oh ini cerita serupa dengan Sleeping Beauty (telat banget prim).. Dan selanjutnya makin lama makin seru, apalagi masih dengan polemik antara Kerajaan dengan Negeri Moors.

Bagian paling amazing adalah ending-nya, yang tadinya saya pikir bakal happy ending buat Maleficent, ternyata happy ending juga sih…walau dengan cara yang berbeda. So, saya rasa film ini kasih beberapa pelajaran yang penting untuk kehidupan, seperti:

1. Don’t let the hatred eat you
Memberi energi pada rasa benci kadang sama artinya dengan kill yourself alive. Kayak udah ga ada semangat hidup gitu, menjalani hari-hari tanpa semangat yang positif. It’s tiring, exhausting, and making you look old. Lihat aja tulang pipi Maleficent yang makin lama makin menonjol, dan mukanya makin serem *sungkem sama Tante Angelina Jolie*
 
2. Mulutmu, harimaumu
Seandainya kita dapat ‘mukjizat’ bisa mengutuk orang seperti Maleficent, barangkali dunia ini udah sepi. Ketika marah, kita sering ga bisa mengendalikan apa yang keluar dari mulut kita, dan ujung-ujungnya jadi jelek banget. Untung Maleficent masih memberikan ‘penawar’ dari kutukannya, coba kalau engga, nyeselnya banget-banget kan Tante Maleficent?
 
3. Move on, please!!!
Setelah Aurora lahir, kerjaannya Maleficent ga penting banget, kepooo aja terus tiap harinya. Sama rasanya kayak udah ditolak gebetan terus tetep kepoin socmed-nya. Yang sakit mah kita (kitaaaaa), dianya biasa aja kan dia gatau sakitnya tuh disini. Jadi ya sutralah, cari kegiatan lain yang lebih penting deh. Kepoin blog saya, misalnya. Hehe.
 
4. Kebaikan (dengan izin scriptwriter) bisa mengalahkan kejahatan
Kalau lihat gimana Aurora meluluhkan hati Maleficent, duh terharu banget.. Waktu dia bilang “you’re my fairy godmother.” Itu kan pasti #jleb banget yaaa buat si Maleficent. Dan ketika Aurora akhirnya bangun karena dicium Maleficent, that’s how they define true love, I think it’s the sweetest thing in the world.

Untuk kelompok penonton dewasa, mungkin Maleficent agak terasa janggal di beberapa sisi, dari mulai cerita hingga karakter. Tapi untuk konsumsi remaja dan keluarga, buat saya film ini recommended banget. Apalagi yang jadi Diaval lumayan buat cuci mata #tetep :))

Next post, I’m gonna review an investigation movie which I think has a crrrazy storyline. Film apakah itu? Stay tune!

Love,
Prima

9 comments:

  1. Dari dulu aku penasaran kenapa Maleficent jahat. Eh terungkap di film ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku dulunya tertarik karena Angelina Jolie yang main, dan kelihatannya dark banget.. oh begitu ceritanya.. hehe.

      Delete
  2. Ahahaha, interesting perspective, Prima! Menurutku cerita Sleeping Beauty yang ini memang menarik banget, mungkin malahan jauh lebih menarik dibanding cerita aslinya, karena di sini karakternya Maleficent bener2 di explore, dan kita melihat betapa kompleksnya Maleficent ini--nggak sekadar melihat dia sebagai the traditional evil villain. Definitely worth the watch!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, dan dalam durasi yang tidak terlalu lama, masih enak untuk ditonton anak-anak, hihi.

      Delete
  3. I just fall in love with your blog. Tadi blog walking nyari review blogger ttg event CeweQuat Internationale Forum, then i read some of your posts! I love it! Just followed your blog! If you dont mind, lets keep in touch & kindly follow my blog. Keep posting xx

    http://julisapratiwi.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. awww, thank you dear, it means a lot to me!
      followed your blog xx

      Delete
  4. Makanya belajar ikhlas itu belajar seumur hidup ya.. aku coba emang susah (sampe skrg) *berdoa biar aku ga menjelma jadi tante maleficent* :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...