Wednesday, September 21, 2016

Serba-Serbi Dicomblangin

Berlawanan dengan reaksi kebanyakan perempuan single diluar sana, saya termasuk orang yang tidak begitu menolak dijodohkan. Lebih tepatnya, dikenalkan atau dicomblangin. Kesannya kalau dijodohkan kayak dipaksa harus jadi gitu, sementara kalau kedua istilah berikutnya, biarlah semuanya berjalan dengan alami. Kalau memang ditakdirkan oleh Allah untuk bersama, alhamdulillah. Kalau tidak, bolehlah jadi saudara.

Biasanya kalau ada yang tanya apa saya sudah ada calon pasangan, saya langsung balik bertanya, “mau dikenalin ke siapa nih?” Biar engga terlalu sakit hati aja sih, dibuat santai, ye kan. Sejauh ini saya sudah pernah dicomblangin sebanyak empat kali, dan empat-empatnya belum jadi (ya iyalah, buktinya saya masih single). Begini ceritanya.

Yang pertama itu beberapa tahun yang lalu. Saya dikenalkan oleh mantan atasan saya kepada sahabatnya, dan kami merasa cocok saat berbincang via telepon. Dia pun terbang dari Jakarta ke Surabaya untuk menemui saya. Karena dari awal niatnya serius, langsung saya ajak ketemu sepupu lelaki saya (sebagai perwakilan ayah karena waktu itu ayah sedang dinas di Kalimantan). Pada saat yang sama, eh bude saya (ibunya sepupu) lagi belanja di mall, jadi saya kenalkan juga. Malamnya saya diceramahi panjang lebar oleh sepupu dan pakde-bude, mereka mempertanyakan keseriusan saya. Maklum saya baru lulus S1 jadi dimotivasi untuk menikmati masa kerja terlebih dahulu. Esoknya si mas ke rumah dan ketemu mama saya. Mama sih kelihatannya ketawa-ketiwi, tapi habis masnya pulang, saya diceramahi lagi. Bukannya tidak setuju, tapi mungkin mama saya masih belum melihat komitmen dari diri saya. Sayangnya karena si mas butuh jawaban segera – sedangkan saya minta waktu sekitar tiga-enam bulan untuk mempersiapkan diri dan berdoa lebih lama, proses ini harus terhenti. Pertama kali dicomblangin ini bikin saya berharap banyak (karena pada dasarnya ada chemistry) dan bikin saya agak segan sama yang mencomblangkan. Seingat saya, saya baru ‘berani’ ketemu mak comblang ini Idul Fitri yang lalu. Itupun engga membahas my love life, malah cerita ngalor-ngidul tentang teman-teman yang lain.

Selanjutnya, ayah saya turun tangan untuk ‘menyelamatkan’ status saya. This guy is his best friend’ nephew. Saya yang mulai rutin nge-blog bilang ke ayah untuk meminta si mas membaca blog saya. Biar si mas tahu kalau saya orangnya ceplas-ceplos, dan bisa mengira-ngira topik obrolan kesukaan saya. Entah gimana ceritanya, si mas malah menerjemahkan beberapa post saya sebagai tulisan yang kurang sopan, dan saya dimarahi habis-habisan oleh ayah saya. Saya ingat banget, saya menangis pada penerbangan dari Surabaya ke Denpasar waktu itu, because I feel bad as my dad didn’t trust me. Sementara si dia malah engga ngobrol sama saya, hanya sekali ngirim pesan whatsapp nanya jam berapa saya pulang kantor. Udah gitu doang. Mungkin karena kejadian ini, ayah jadi agak trauma mencomblangkan saya. 

Ketiga kalinya, ada mantan mahasiswi tante saya yang tertarik pada saya. Bukannya dia lesbi, dia tertarik untuk mengenalkan saya kepada temannya. Teman sekamar saya juga mengenalnya, bahkan punya CVnya karena mereka pernah bekerjasama untuk suatu proyek. Katanya sih, si mas mau S3 di Australia, saya kan fluent in English, bisalah mendampingi si mas. Tante bilang saya harus lulus S2 dulu, dan si mbak mantan mahasiswi ini bilang okelah, toh S3-nya juga masih tahun depan (2016). Nyatanya si mas engga pernah menghubungi saya (atau saya lupa ya?). Pernah ketemu di kampus, cuma lihat-lihatan saja karena memang belum pernah kenalan secara langsung. Terus si mbak mantan mahasiswi bilang kalau si mas mau mundur dari ‘perjodohan’ ini soalnya mau fokus ke persiapan kuliah. Eh, beberapa minggu yang lalu, si mbak mantan mahasiswi datang ke rumah tante. Dia cerita dengan emosional karena si mas ‘tiba-tiba’ menikah. Hahahahahahaha. Dia pun meminta maaf ke saya, yang saya respon dengan biasa saja karena toh saya belum suka-suka amat sama si mas.

Yang paling baru, mama saya punya kenalan seorang Kyai terkemuka (sekarang sudah almarhum). Dari sejak saya kuliah, Pak Kyai sudah menanyakan ke mama saya apa saya sudah punya calon. Mungkin beliau dan Bu Nyai geregetan sama sikap santai mama, mereka menyuruh anaknya menghubungi saya lewat Facebook. Niat amat yak. Singkat cerita, ada satu ustadz yang dikenalkan ke saya. Awal saya ngobrol lewat Facebook messenger sebenarnya agak gimana gitu, mungkin karena saya terlalu ‘bebas’ dan dia lulusan pesantren. Akan tetapi, saya sangat respek pada perjuangannya dan berpikir, apa salahnya dicoba. Namanya juga ikhtiar. Ternyata saya punya ‘cela’ di matanya yang membuat saya diinterogasi oleh mama (sepertinya si akhi ngomong sama si mbak anak Kyai, terus si mbak anak Kyai lapor ke mama). Buat saya kejadiannya sepele. Percakapannya seperti ini:
Si Akhi: nanti habis lulus S2, rencananya apa?
Saya: saya sih pinginnya kerja diluar negeri, udah impian dari dulu sih mas. Minimal jadi volunteer di Piala Dunia.
Si Akhi: ke Korea kah? (kayaknya dia baca status Facebook atau blog saya) Seperti adik saya dong, dia juga pingin (kerja) di Korea.
Saya: hahaha engga mas. Kalau kerja pinginnya ke Dubai atau Qatar.

And then, si akhi menginterpretasikannya sebagai “belum berpikir untuk menikah, soalnya belum ada rencana pulang ke Surabaya.” Harus diperjelas nih ya. Buat saya, saya engga mungkin jawab, “pulang ke Surabaya, nunggu ada yang ngelamar terus menikah,” because I won’t do that! Anybody think saya engga ngirim ‘kode’, I did. Saya mengirim ‘kode’ kepada si akhi yang berencana jadi dosen dengan mengirim info lowongan kerja jadi dosen di Yogyakarta. I mean, hello, please read the code, you can think of moving here if you want to marry me. Tentu saja dia engga membahas lowongan itu dan malah sekarang dia menghilang dari Facebook saya. Hmmm.

Intinya apa, cerita sepanjang ini? Sister harus tahu setiap orang punya perjuangannya masing-masing dalam menjemput jodoh. Belum ada gandengan bukan berarti saya duduk diam menunggu calon suami jatuh dari langit, engga seperti kucing (kebetulan tadi siang ada kucing jatuh dari langit-langit kamar tante, kayaknya dia tersangkut di atap terus tinggal diatas situ dan mencari jalan keluar --- cerita selingan). Saya juga membuktikan bahwa saya tidak menutup diri. Sini semua dikenalin ke saya, saya mah ayo aja. Why so? Karena saya selalu berasumsi positif bahwa yang mencomblangkan sudah mengenal saya, jadi mereka tahu orang seperti apa yang sebaiknya dikenalkan kepada saya. Logikanya orang engga akan mengenalkan anak/saudara/teman baiknya ke orang lewat kan?

Saya pun belajar dari pengalaman, mencoba melihat kesalahan saya, dan berusaha lebih merendah lagi pada kejadian berikutnya. Hanya saja memang syarat paling mudah bagi saya untuk bersedia dicomblangin adalah...”mbak/mas, tolong itu dia baca blog saya dulu, nggih?” Supaya kami sama-sama tidak ‘buang waktu’. Dia bisa mundur kalau memang engga sreg sama Primadita yang saya citrakan melalui tulisan saya. If he move forward, artinya dia mau ambil peluang untuk mengenal diri saya yang lebih nyata. Kalau baca tulisan saya aja udah males, gimana dia bakal ngizinin saya nge-blog semisal nanti memang jadi?

Semoga tulisan ini menghibur seorang sahabat saya yang sedang dirundung galau karena masalah dicomblangin. I am proud of you to try and not giving up! You are my inspiration! Keep smile and never lose hope :)

Lots of love,
Prima

9 comments:

  1. Nice post!

    1st question: kucing yang jatuh itu selamat kan?
    2nd question: apa sahabat yang kamu hibur ini sudah cerita bahwa mungkin saja dia bernasib sama denganmu Prim?

    :) anyway.. tetap optimis ya, siapa tau bsk-bsk kamu dicomblangin sama Pangeran Dubai!

    ReplyDelete
    Replies
    1. (1st question: kucing yang jatuh itu selamat kan?)
      Kaaaaaaaaaaak *cubit* alhamdulillah selamat. udah sempat kami miliki selama beberapa jam, terus dijemput ibunya hiks hiks.

      Delete
  2. wah , begitu ya, apa bisa untuk lebih banyak berteman juag ya dengan mengikuti banyak komunitas yang kita suka. mungkin bisa jadi salah satu usaha. Dan gak perlu kita pikirin ya , suatu saaat pasti ketemu jdohnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, tapi jangan banyak2 juga nanti bingung :)))

      Delete
  3. Sebenernya aku juga ingin ngenalin mbak Prim ke kakak sepupuku yang lagi S2 di UGM juga. Tapi sekarang dia lagi sibuk praktek jadi yaaa
    hahaha

    ReplyDelete
  4. klo menurut gw, masalah jodoh cuma tinggal tunggu waktu aja kok mba. gw yakin Allah pasti ngasih pilihan terbaikNya buat mba.. save the best for last! keep smiling aja mba.. mana kita tau klo ada yg kesemsem di tempat yg tak terduga..

    gw suka deh sama tulisan2 mba Prima. link blognya tak masukin List yaaa.. hihihi

    ReplyDelete
  5. Terkadang lucu dan seru perihal ta'arufan gini. Ada yg bikin biasa2 aja, kesenengan, bahkan bisa jadi ujung2nya malah sedih lagi sedih lagi. Mau sampai kapan bisa dptin jodohnya kalau pake kapok kenalan sama orang? mau cepet nikah tapi ogah2an dikenalinnya. Bener katamu prim: bismillah aja. Namanya juga ikhtiar kan. Kalau gak dipaksa mau, gak akan tahu hasilnya akan gimana. Letih sih, tapi ya mau gmna lagi? ^^

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...