Thursday, March 2, 2017

Thought Catalog: Being a Lecturer, Is It For Me?

Hi sister! Sebagaimana saya janjikan di post ini, saya akan mulai menjawab pertanyaan dari Thought Catalog. Yaaa paling engga biar blog ini terisi sementara saya terus dikejar deadline ujian tesis (masih Bab 1 dan harus lulus akhir Mei nih, hiks hiks). Tadinya saya ingin menulis dalam bahasa Inggris, sayangnya mata sepet kebanyakan baca jurnal. Selain itu, saya sudah menulis dalam bahasa Inggris untuk 15 Day Music Challenge. Jadi kali ini biarkan saya menulis dalam bahasa Indonesia, please... For now, saya akan menjawab pertanyaan ini:

If money didn’t matter, what would your dream job be?

Sekitar seminggu yang lalu, ada info lowongan pekerjaan sebagai dosen di sebuah universitas swasta di Malang. Universitas ini baru buka tahun ajaran lalu, dan tahun ajaran depan akan menerima mahasiswa di Jurusan Ilmu Komunikasi. Sahabat saya, Yanny, menyemangati saya untuk mendaftar. Siapa tahu keterima, kan lumayan juga udah ada ‘pegangan’ sesudah lulus nanti.

Saya tidak langsung mengiyakan. Saya, jadi dosen? Kasihan mahasiswanya ntar jadi sasaran curhat saya, hehe. Saya pun kepo sama tante saya, karena pada dasarnya keluarga saya sangat mendukung jika saya bekerja sebagai dosen.

Dulu ketika saya baru lulus S1, bahkan sebelumnya, saya sempat ingin menjadi dosen. Seperti layaknya fresh graduate yang mau ‘berbakti’ di kampus tempat dia berkuliah, jalan pertama yang terbuka adalah menjadi asisten dosen. Waktu itu mama saya berkomentar, “kamu yakin mau jadi dosen? S2 saja belum, istilahnya mau nyetir tapi belum punya SIM.” Pada saat itu saya belum ada niat untuk S2 dengan serius, meskipun juga nyoba apply beasiswa di luar negeri (nah, mungkin karena itu engga ada yang gol?). Saat saya kembali ke kampus untuk minta surat referensi dari dosen-dosen, mereka justru menyarankan agar saya bekerja di korporasi terlebih dahulu. Selain untuk menambah pengalaman dan keahlian, kalaupun saya ingin jadi dosen, saya punya studi kasus yang lebih banyak.

Disamping itu, pada masa-masa sesudah lulus, saya sangat ingin punya uang sendiri (baca: gaji besar). Tuntutan ekonomi membuat saya mencoret ‘jadi dosen’ dari daftar cita-cita saya. At least at that moment, I thought.

Lima tahun kemudian yaitu sekarang, keinginan saya untuk memiliki gaji besar serta kesempatan bekerja (dan tinggal) di luar negeri masih sangat menggebu-gebu. Bekerja sebagai dosen pun semakin jauh dari pertimbangan saya.

Sebelum saya melangkah lebih jauh, saya ingin menegaskan bahwa dosen adalah pekerjaan yang sangat mulia dan bisa memberikan sister banyak keuntungan. Secara garis besar, dosen dituntut untuk mengajar, menulis/melakukan penelitian, dan mengabdi kepada masyarakat. Aktivitas spesifiknya tentu sangat banyak, tergantung minat dan keahlian. Jika sudah menemukan posisi dan peran yang sesuai, peluang untuk sekolah lagi, ikut konferensi di luar negeri, dan mengumpulkan pundi-pundi uang. I am serious. Pada akhirnya, dosen itu harus punya jiwa entrepreneurship. Dia tidak hanya berbagi ilmu, tapi juga mengolah ilmunya menjadi sesuatu yang bernilai. Semakin ahli, maka orang akan berani bayar mahal untuk wawasannya. Namun tentu saja, perlu diingat bahwa semua itu tidak instan sama sekali. Tante saya pun mencapai apa yang dia dapatkan saat ini dengan perjuangan selama usia saya (23 tahun... tapi boong). Jamannya beliau masih S2 dan S3 dulu, saya lihat finansial beliau serba mefet karena duit harus dibagi-bagi antara membayar SPP, ikut seminar di mana-mana (sebagai peserta), dan lain-lain.

Nah, apa hubungannya dengan pertanyaan di atas? Ini lucunya. Walaupun saya tidak berniat untuk jadi dosen, akan tetapi jika memungkinkan saya ingin menjadi pengajar. *lalu hening*

Begini, saya ingin jadi full-time traveler (siapa yang engga mau?). Tapi saya cenderung tidak mengunjungi suatu tempat dalam waktu yang singkat, minimal seminggu deh. Kecuali Kamboja, karena saya pikir tidak menarik (I have to admit I was wrong). Jadi saya harusnya bisa sambil melakukan sesuatu, misalnya mengajar.

Mengapa mengajar? Karena saya senang ngomong. Haha. Ini alasan pertama. Saya juga senang berbagi pengetahuan dan belajar lagi tentang apa yang harus saya ajarkan. Ketika saya mengikuti Kelas Inspirasi V di Malang, saya sangat menikmati aktivitas ini meskipun merasa kurang maksimal dan anak-anaknya masyaAllah... aktif banget.

Jika uang bukanlah masalah, hidup pasti enak banget yaaaaa. Namun kalaupun itu terjadi, saya ingin sekali bisa mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pemberdayaan masyarakat. My biggest dream is to solve the poverty problem in the world. Perbaikan pendidikan dan peningkatan ekonomi adalah koentji. Saya rasa saya bisa memberikan keduanya, atau setidaknya terus belajar agar bisa melakukannya.

But let’s get back to the reality. My family needs my support as much as I can give. Saya tahu pekerjaan mengajar itu banyak pahalanya dan pasti memberikan berkah yang teramat besar. Namun ada hal yang lebih mendesak, dan saya mencoba untuk tidak naif. Sudah cukup saya ‘egois’ selama 2,5 tahun ini, dan saya harus kembali memikirkan keluarga saya. Sekali lagi, bukannya jadi dosen itu tidak bisa memenuhi hal ini, but sadly I need more than that. Perhaps, saya akan menjadi dosen suatu hari nanti. Atau saya bisa mengajar di institusi pendidikan yang lain. Atau saya ‘hanya’ mampu berbagi ilmu lewat blog ini. We never know. Sekarang saya hanya ingin cepat menikah lulus, dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji sebesar-besarnya. I am ready to work hard. What about you?

Lots of love,
Prima

2 comments:

  1. Aku sendiri sebenernya bakal ada di posisi yang sama dengan Mbak Prima, saking di luar dugaan ternyata aku menikah di usia muda, jadi 'terselamatkan'. LOL

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm, terus aku kudu piye, nikah juga? :)))

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...