Saturday, February 18, 2017

Terjebak dalam Hubungan yang Rumit, Haruskah Bertahan?

I finally decided to write this post after weeks contemplating. Sebenarnya saya agak malu mengakui bahwa saya sedang dalam proses baikan dengan si mas Pangeran Dubai KW Premium (baca: si Ganteng dari Asia Selatan). Iya, setelah post saya berjudul What If, kami berkomunikasi lagi dan tiba-tiba saja semuanya seperti yang dulu. Ngobrol ngalor ngidul, ketawa sampai ngakak, dan ngegombal. Halaaah. Saya lemah.

I have to say that after 5 years being single, going back to a relationship (or at least approach phase) is really really hard. Saya tuh tipikal yang kalau udah suka, suka banget. Baper, berpikir kalau dia satu-satunya, dan membayangkan jauh ke depan. Terakhir saya mengalami perasaan suka ini akhir tahun 2014. Yang gila, saya menyatakan perasaan saya kepadanya dan ditolak!!! Hingga bulan September 2016, saya mengaku kepada seorang sahabat kalau saya susah move on karena dia memenuhi semua kriteria saya. Ngomongin kriteria lelaki idaman saya itu hal lain lagi. Memang dari lubuk hati terdalam saya masih berharap bisa menikah sama Pangeran Dubai yang beneran. Bahahahahak. Tapi kalau realita, saya senang dengan seorang lelaki yang passionate with his life, bertanggungjawab, dan suportif sama saya. Kalau sudah berinteraksi, nanti kelihatan apakah ada chemistry, dan bisakah kami saling membawa satu sama lain menjadi pribadi yang lebih baik. Sederhana, kan?

This man that I liked in circa 2014-2015 has everything that I need/want. But one: he doesn’t likes me back. Perih. Sekarang pun dia sudah bertunangan dengan entahlah siapa, and then saya langsung unfollow Instagramnya :)))

Nah, saya sudah pernah membocorkan beberapa cuplikan dari ‘hubungan’ saya dengan mas Pangeran Dubai KW Premium. Secara garis besar, sebenarnya dia kurang memenuhi kriteria yang saya inginkan. Di sisi lain, dia punya kualitas diri yang membuat saya berpikir “bisa dicoba lah.” Selain karena dia ganteng yaaa, hihihi. Namun kemudian, mungkin kami terlalu terburu-buru dan tibalah kami pada pertengkaran pertama yang cukup membuat saya terkejut. Ya iyalah, secara saya sudah lama tidak berhubungan serius dengan seorang lelaki, terus sekarang saya harus berkompromi dan memikirkan perasaannya. Kaget deh.

Untungnya, saya ditantang oleh seorang konsultan karir (dan ternyata konsultan cinta juga kayaknya, peace mbak Rani, hehehe) untuk bertahan selama minimal tiga bulan. Why so? Karena dia tahu saya tipikal orang yang kadang terlalu independen, sampai seolah-olah tidak membutuhkan orang lain – dalam hal ini, pasangan hidup. It was true, I could almost just go and say “hell-o, who the hell are you? Engga ada kamu, aku tuh baik-baik aja.”

But I didn’t do that. Saya merefleksikan apa yang terjadi dalam hubungan kami, meminta maaf, dan bertanya apa yang bisa saya lakukan agar hubungan kami lebih kondusif. Dia memang engga langsung menjawab dengan jelas, namun perlahan saya memahami apa yang kami butuhkan untuk memperbaiki hubungan ini.

Saya juga berkonsultasi dengan orang-orang yang saya anggap lebih berpengalaman, seperti konsultan pernikahan mas Wahyu ‘Wepe’ Pramudya, dan sahabat-sahabat saya yang sudah menikah, terutama yang menikah sama WNA. 

Sejauh ini, saya bisa menggambarkan ada dua tantangan inti dalam hubungan kami, yaitu:

“Seorang lelaki senang melihat perempuan yang cerdas dan mandiri, namun kemudian mulai ‘mencari masalah’ ketika perempuan seperti ini menjadi pasangannya.”
Sejak awal, si Pangeran Dubai KW Premium (fiuh, panjang) kagum dengan segala pencapaian dan aktivitas saya. After all, hal ini yang membuat kami bisa nyambung, karena saya berwawasan luas dan suka baca (cieh, memuji diri sendiri). Tapi hal ini ternyata bak pisau bermata dua. Dia mulai risau saat saya menunjukkan kemandirian saya. Saya bisa ini, saya bisa itu. Dia merasa, “wah repot ntar kalau menikah, bisa-bisa dia mengendalikan saya.” Something like that.

“Hubungan beda negara/ras/budaya itu kerumitannya lebih advanced.”
Saya orang yang berprinsip #differentisbeautiful, makanya saya bisa punya teman dari berbagai latar belakang. Namun, untuk hubungan yang harapannya berujung ke pelaminan, kesulitannya jauuuh lebih tinggi daripada sekadar “ih lucuk ya, bisa rukun sama orang-orang yang ‘beda’.” Si dia pernah mengaku frustrasi karena walaupun kami sama-sama muslim, kami punya banyak perbedaan yang engga masuk akal buat dia. 

Lantas, misalnya sister juga mengalami hal seperti ini, haruskah bertahan? Coba perhatikan poin-poin berikut:

1. Apakah Hubungan ini Berjalan Dua Arah?
Waktu saya curhat ke sahabat saya, dia tanya, “ini bukan bertepuk sebelah tangan kan?” Saya menjawab dengan tegas, “nope, we really like each other.” Saya mau ‘kembali’ ke hubungan ini karena tampak gelagat si dia menunjukkan itikad baik lagi. Sakit demam berdarah kemarin bawa ‘berkah’ karena dia sangat khawatir akan saya dan katanya sih, takut kehilangan saya. Wuidih. That’s why I think I will give it another shot. Buat kamu yang merasa stuck dalam sebuah hubungan, coba perhatikan lagi, siapa yang lebih sering berusaha? Kalaupun kamu kebetulan memberikan usaha ekstra, apakah dia menghargainya?

2. Apakah Hubungan ini Membawa Pengaruh Buruk?
Pada kasus saya, jawabannya ‘tidak’ (barangkali untuk saat ini). Saya tetaplah saya yang dulu, meskipun mungkin nantinya harus bersedia berkompromi terhadap beberapa hal. Wajar sih, namanya juga mau naik kelas ke level kehidupan yang lebih tinggi. Kalau kata sahabat saya, hubungan itu PASTI membawa perubahan kepada orang-orang yang menjalaninya. Akan tetapi, perubahan seperti apa? Apakah kita ikhlas menjalani perubahan itu, dan sadar bahwa perubahan itu memang kita butuhkan dalam hidup? Selama perubahan itu baik, mungkin ada baiknya untuk bertahan.

3. Apakah Hubungan ini Memberimu Perspektif yang Lebih Baik tentang Sebuah Hubungan?

Jadi gini, ada suatu hubungan yang saking negatifnya, bikin seseorang trauma. Buat saya, hubungan yang sedang saya jalani ini justru memberi saya pelajaran-pelajaran berharga. Jujur, saya engga takut sama sekali untuk mencoba dengan WNA lagi misal yang ini engga berlanjut *amit-amit, getok-getok meja* Despite the fact that we argued terribly, saya menikmati hubungan ini.

Now, speaking about the next challenge, kami ‘dituntut’ untuk membuktikan bahwa kami memang menginginkan hubungan ini. Namun begitu, saya bilang ke roommate saya kalau saya engga mau bertindak terlalu cepat. Kemarin kami butuh waktu satu bulan untuk berbaikan, dan saya masih sedikit ragu apakah kami bisa menghadapi prahara selanjutnya. Rencana pertemuan kami masih harus diutak-atik karena ada hal-hal yang lebih prioritas. Jadi saya hanya bisa mengatur pengharapan pribadi agar tidak melambung tinggi, ikhtiar untuk menjadi ‘kekasih’ yang baik buat dia, dan berdoa. Optimis dulu deh, kalau memang takdir nanti kan ada jalannya :)

Semoga sharing ini berguna buat sister yang sedang menjalani situasi sulit dengan pasangan/calon pasangan. I am not the best person when it comes to relationship, but I do hope everyone who reads it find your true love at the right time.

Lots of love,
Prima  

4 comments:

  1. Dear Prima, Agreed with 3 points di atas. Dan menurutku kita sebagai perempuan (apalagi single) sah-sah aja sih terlihat mandiri di depan laki-laki. Tapi ya itu, pinter-pinternya kita meng-adjust kemandirian kita di depan laki-laki. Ada kalanya mereka bangga melihat perempuan yang "ditaksirnya" mandiri, ada kalanya mereka ingin merasa dibutuhkan oleh si perempuan ini. Tarik ulur laah hahaha.

    Ada juga yang mengalami yang namanya "minder" dengan kelebihan (atau bahkan kekurangan) diri sendiri. Misal, jangan-jangan karena gue terlalu pinter, atau terlalu cerdas, atau terlalu menarik, dia jadi kapok sama gue, dan sebagainya.. kalau di situasi seperti itu, jangan menurunkan standar kamu, be yourself, tapi tetap menjadi perempuan yang humble, cerdas dan berwawasan dan hal positif lainnya. Ibaratnya, jinak-jinak merpati lah hahaha. Karena kata Allah SWT di surat An-Nur ayat 26, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya.

    Semangat yaaaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so so much for your feedback Put!
      Aku pernah mengalami tanggapan paragraf keduamu. Aku pernah ngerasa bersalah karena cowok yang naksir aku bilang aku bukan perempuan yang akan jadi istri sholehah karena terlalu ambisius! Duh sedih deh, tapi ya sudahlah, kalau visi dan misinya engga sama kan engga bisa dipaksakan :)

      Delete
  2. "siapa yang lebih sering berusaha? Kalaupun kamu kebetulan memberikan usaha ekstra, apakah dia menghargainya?"

    sebuah pertanyaan yang bagus bagi diri saya sendiri, mba Prima.:")

    mungkin umur saya belum begitu mendekati perihal membuat hubungan yang serius, tapi terkadang hal-hal mengenai perasaan baik itu masa lalu dan masa depan memang perlu ada pembicaraan. terlebih lagi masa lalu, perlu dituntaskan setuntas-tuntasnya untuk menjaga hal-hal di masa depan.

    nice, mba Prima! ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmm gimana ya, aku kurang bisa memberi masukan tentang masa lalu, karena aku merasa pembelajaran masa lalu itu tanggung jawab untuk diri sendiri. ada hal-hal yang engga perlu dibahas sama calon pasangan karena beberapa pertimbangan. tapi itu aku ya :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...