Thursday, November 19, 2015

Jogging di Campuhan

 
 
Photo courtesy of Gracia Ardiati.





Sejak kembali dari Bali, saya memutuskan untuk jogging setiap pagi. Alasannya, saya merasa sangat lelah dan tidak bugar, jadi saya pikir berolahraga akan mengembalikan kebugaran saya. Alhamdulillah, setelah dua minggu, saya ingin sekali bisa melanjutkannya secara rutin. Saya juga berharap bisa terus meningkatkan durasi dan mengombinasikan rute perjalanan supaya tidak bosan.

Ngomong-ngomong tentang jogging, waktu di Bali kemarin saya sempat mengunjungi Gunung Lebah, atau biasa dikenal orang dengan sebutan Bukit Campuhan. Yang pertama, saya pergi dengan Volunteers Coordinator yang juga roommate saya, Mutia. Yang kedua, saya pergi dengan beberapa teman volunteers dan seorang peserta. Pinginnya sih bisa kesana lebih sering, tapi kebetulan tempat saya menginap cukup jauh, jadi susah kalau mau bolak-balik dan harus standby di kantor sebelum pukul 08.30.

How to get there? Kalau sister datang dari timur, sebelum jembatan/Warung Murni, ada Warwick Ibah di kanan jalan. Masuk kesitu, dan kalau sister membawa motor, ada lahan kosong di belakang Mini Market. Di jalan tersebut ada sebuah SMA, tapi sebaiknya tidak parkir disana; karena bisa saja saat kembali, parkirannya sudah penuh, dan pastinya merepotkan kalau sister mau pulang.

Kemudian, pilih jalan di samping kanan jembatan, melewati bagian samping pura, dan sister akan menemukan jalan setapak. Ikuti saja jalan di sebelah sungai itu, nanti sister akan menemukan belokan ke kiri, lalu ke kanan, and then welcome to Campuhan :)

Pada saat saya di Bali, matahari terbit sekitar pukul enam WITA. Jadi kami jogging sekitar pukul setengah tujuh sampai setengah delapan. Menurut saya, jam segitu sudah cukup panas, tapi ketika kami pulang, Campuhan malah semakin ramai. Saya sempat bertemu dengan seorang bapak-bapak tour guide yang juga sedang jogging, beliau bilang bule lebih suka ke Campuhan pada pukul sembilan. Kalau warga lokal malah lebih senang nongkrong di Campuhan pada sore hari, apalagi yang muda-mudi. 'Banyak yang pacaran, mbak. Sampai kita kewalahan ngusirnya', ujar Pak Wayan. Oya, bukit tersebut sebenarnya adalah salah satu tempat suci di Ubud, jadi sudah sepatutnya untuk kita berperilaku yang baik ya.

Kelebihan dari Campuhan adalah, adanya tempat sampah yang disediakan, jadi ga perlu galau kalau mau bawa bayi minuman, you can simply put it in the trash bin. Tentang jarak, sebelum masuk Campuhan, ada plang penunjuk kafe, tapi saya sendiri tidak begitu memperhatikan lokasi kafenya. Katanya sih, kalau kita sampai ke kafe tersebut, artinya kita sudah menempuh jarak sejauh dua kilometer. Lalu, kalau kita jalan terus, jalan itu akan berujung di Jalan Sanggingan, dan jaraknya ke Warwick Ibah bisa sekitar enam atau tujuh kilometer. That's why kebanyakan orang lebih suka kembali lewat Campuhan lagi.

Uniknya, ada tradisi tidak tertulis di Campuhan, yaitu sister harus menyapa orang-orang yang papasan dengan sister. Tadinya saya kaget waktu disapa 'hi', 'morning', atau 'pagi' oleh orang-orang yang saya temui, tapi saya mengalaminya dengan semua orang; so at the next time, I do that and teach the volunteers who went with me. Senang deh bisa bikin orang tersenyum di pagi hari. Apalagi kalau bisa ngobrol dan minta nomer hape-nya si bule ganteng yang hobi jogging bertelanjang dada..... #eaaa  

'Aturan' lainnya di Campuhan sama saja dengan jogging dimanapun: lakukan pemanasan terlebih dahulu. Kalau sister jarang berolahraga, pelan-pelan saja, karena di awal jalannya memang nanjak abis. But make sure to take a lot of pictures, because the view is really beautiful!

Happy jogging,
Prima

2 comments:

  1. Seeing bule in topless? Oh my God, I can't resist! XD

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...