Tuesday, November 5, 2013

In Search of a Mountain of Diamonds

Alkisah, di suatu pagi, seorang perempuan yang sedang dalam masa pemulihan pasca bed rest akibat infeksi paru, merasa gamang. Haruskah ia berangkat ke kajian? Ia masih sering sesak napas kalau kelelahan, dan hari ini tidak ada yang bisa mengantarnya, jadi ia harus berangkat sendiri. Tapi ia juga sedang gelisah karena beberapa masalah yang muncul belakangan ini. Satu yang ia yakini, kalau ia duduk diam begitu saja, ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Sedangkan jika ia menghadiri kajian, minimal ia mendapatkan ilmu baru.

Berangkatlah sang perempuan dengan segenap kekuatannya, dan ia pulang dengan wajah lebih berseri, dan juga hati yang lebih lapang.

Allah memberikan jawaban untuk permasalahan yang ia alami, lewat kajian tersebut.

---

Ya, itu memang cerita saya.

Saya selalu percaya, saat kita hendak berangkat menimba ilmu dan ada perasaan malas yang terbersit, itu bisikan setan. Pun hujan gerimis, cuaca terik, atau tempat kajian yang jauh dari rumah. Merugilah yang membatalkan niat untuk datang ke kajian agama hanya karena alasan ‘remeh’ seperti itu.

Alhamdulillah, karena selalu menguatkan diri, setiap pulang pengajian, saya selalu membawa ‘oleh-oleh’. Seolah-olah Allah berkata kepada saya, “kamu harus datang pengajian itu supaya masalahmu selesai.”

Tapi, bukankah orang-orang yang memelihara silaturrahmi memang selalu mendapat rahmat-Nya? Dan bukankah pengajian adalah salah satu cara untuk memelihara silaturrahmi? :)

Demikian, pulang dari pengajiannya Hijabee Surabaya yang bertajuk, “Muslimah Menjemput Rejeki”, saya makin yakin, ga boleh ragu sama yang namanya rejeki dari Allah. Pasti akan selalu dilimpahkan buat hamba-Nya yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya, dan berusaha melalui jalan yang halal.

Ustadz Imron yang memberi tausyiah orangnya lucu, tapi mungkin kebiasaan ngisi tausyiah untuk audiens laki-laki, becandaannya agak-agak kurang feminin *kayak apa itu* hehe. Tapi overall yang penting bisa nangkap maksudnya, dan lumayan cair dengan ketawa dikit-dikit. 



Beliau membuka tausyiah dengan ngiming-ngimingi kalau yang namanya jadi istri itu enak tenaaan. Bayangin aja, keringat yang keluar pas masak, imbalannya pahala. Berpandangan antara suami-istri, itu juga pahala. Byuh. Istilahnya kalau single gini, atau laki-laki, jihadnya itu perlu sesuatu yang besar. Tapi istri, nyuci bajunya suami aja lho berpahala…kalau ikhlas dan tulus, yes ;)
 
Sebelah saya serius nanya, saya serius dengerin sambil nyatet..

Nah, dengan adanya keutamaan seperti itu, muslimah tidak dilarang keluar rumah untuk berkarya; meski tetap ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, agar yang dikerjakan mendapat berkah dari Allah. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut..

1. Niat bekerja semata-mata hanya karena Allah; untuk yang sudah bersuami, tidak menggunakan alasan ‘menyaingi suami’ sebagai motivasi untuk memiliki penghasilan sendiri. Apalagi kalau mungkin suami penghasilannya tidak begitu besar, bersyukur itu pasti jauh lebih baik daripada mencerca, ya kan.. Kalau ternyata dalam perjalanan nantinya, gaji istri lebih besar daripada suami, tetap harus menghormati. Jika ingin membeli sesuatu yang tidak terjangkau oleh gaji suami, misalnya mau ganti gorden di ruang tamu, coba negosiasi dan tawarkan solusi membelinya secara patungan. Tapi, harus tetap santun yaaa..

2. Jika telah menikah, bekerja harus atas izin suami. Kalau masih single (seperti saya #promosi :p), harus atas izin orang tua. Gimana kalau ternyata keinginan kita berbeda dengan keinginan sang pemberi izin? Ini pertanyaan saya sih, hehe. Ditimbang saja baik-buruknya, dan bagaimana prospek kedepannya. Selama kedua pilihan masih berada dalam ranah islami, komunikasikan dengan baik-baik tentang latar belakang kita memilih pekerjaan A, dan tanyakan mengapa mereka menyarankan pekerjaan B. Memang sih, ridho Allah bergantung pada ridho suami dan ridho orang tua, jadi pastikan kita mendapatkan izin mereka untuk bekerja.

3. Pastikan sesuai dengan perilaku wanita, misalnya perempuan jadi tukang sapu jalanan, hmmm, sebenarnya kurang cocok. Tapi jika sangat terpaksa karena desakan ekonomi, mari kita lihat poin-poin selanjutnya.

4. Utamakan pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Oya, sebelum Ustadz Imron memberikan tausyiah, kita sempat mendengar sharing dari mbak Puput, salah satu anggota komite Hijabee Community. Mbak Puput sudah pernah mengalami bekerja dari rumah sebagai penerjemah, lalu membuka usaha online shop dan konveksi (yang akhirnya bangkrut, hiks). Saat ini, mbak Puput berprofesi sebagai make up artist, jadi jam kerjanya sangat fleksibel. Dengan bekerja dari rumah, istri tetap bisa memberikan perhatian penuh pada suami dan anak-anak; dan terhindar dari hal-hal yang menjauhkan dari Allah.

5. Tidak mengganggu tugas utama sebagai istri, yang sudah dijelaskan sedikit di atas..

6. Mengenakan baju muslimah, yaitu tertutup, berhijab, tidak ketat – pokoknya sesuai kaidah keislaman. Yup, tentu hal ini untuk menjaga perempuan itu sendiri, demi aman dan baiknya memang sudah seharusnya kita memakai baju yang sesuai dengan kodrat kita sebagai muslimah :)

Acara pengajian ditutup dengan doa, foto dan ngemil bersama. Serunya, di acara ini juga ada garage sale dan sebagian dari keuntungan penjualan diberikan untuk amal.
 
Say, "hija-bee.."

Subhanallah, mudah-mudahan apa yang saya dapat hari itu, juga bisa menjadi pelajaran untuk teman-teman yang membaca ini.. Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang membersihkan diri. Balasannya, ya itu.. rejeki berlipat ganda dari sisi-Nya, dan yang paling penting, barokah! ;)

Salam,
Prima

Foto: Facebook Hijabee Surabaya

2 comments:

  1. Yap.. bermanfaat sharingnya.. prima tgl di sby y?

    ReplyDelete
  2. waah baru baca niih.. Bagus review pengajiannya ukhti, terima kasiih udah bagi ke temen2 yang lain :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...