Wednesday, September 11, 2013

#PeopleAroundUs: (Not So) Parentless



Kami baru selesai sholat dzuhur saat Ibu mengingatkan bahwa hari ini akan ada acara buka puasa bersama dengan sebuah komunitas. Jadi sekitar sejam lagi kami harus mengantri mandi, berbaju rapi, sholat ashar berjamaah lalu berangkat ke mall tempat buka puasa bersama tersebut diadakan. Aku membuka lemari dan memilih baju dengan malas, sebenarnya aku lebih suka di rumah supaya selepas sholat tarawih nanti bisa melatih tilawatil al-Qur’an-ku. Aku akan mewakili sekolahku ke sebuah lomba MTQ dua minggu setelah idul fitri, dan aku harus mempersiapkan diri.

Tentu saja aku sangat ingin menang. Jika aku menang, mungkin gengnya Rika tidak akan mengolok-olokku lagi. Aku memandangi lemariku yang berisi kemeja putih yang sudah mulai menguning, dan rok biru yang sedikit kedodoran. Iya, ini semua sumbangan dari donatur. Dan ini yang sering dipermasalahkan oleh Rika. Dasar jahat!

Aku mengeluarkan beberapa kerudung, mematutnya dengan baju dan celana jins yang akan aku pakai sore ini. Kerudung warna ungu, dan kemeja kotak-kotak warna ungu. Oke, cukup serasi. Aku siap untuk sore ini.

Aku melihat Dinda tampak sumringah. Dia adalah teman satu tempat tidur denganku, dia tidur di bagian atas, sedangkan aku dibawahnya. 

“Seneng banget, Din?”
“Iya mbak, kan biasanya makanannya enak.”
“Udah berapa kali ya kita buka puasa bersama gini tahun ini?”
“Ini yang keenam. Yang pertama kita makan mekdi, kedua ka ef si, ketiga-keempat restoran tapi baguuus, oh waktu itu mbak ga ikut, lagi sakit. Kelima, mekdi lagi. Hehehe.”
Dia melanjutkan, “kalo bulan Ramadhan gini banyak orang tiba-tiba baik ya mbak. Yang pertama itu kan kita dapat sangu 50ribu tiap orang.” Dia terkekeh.

Dinda benar. Bulan Ramadhan bisa dibilang bulan perbaikan gizi untuk anak-anak panti asuhan seperti kami. Bukannya sehari-hari tidak makan enak sih, rawon buatan ibu nomer satu di dunia menurutku, tapi karena keterbatasan, ya biasanya sih kurang bisa puas makannya. Apalagi yang sudah mulai SMP sepertiku, pasti memprioritaskan adik-adik kami, contohnya Dinda yang baru naik kelas 3 SD.

Tapi.. sejak mulai dewasa ini *halah* aku juga mulai kurang nyaman dengan acara-acara seperti ini. Aku seperti menjadi badut di acara-acara tersebut. Mereka mengundang kami, dengan harapan doa kami yang katanya makbul. Nanti di acara itu akan ada games, lalu kami harus bermain, harus terlihat gembira dan senang karena sudah diundang ke acara itu..
Padahal, siapa sih yang tidak iri melihat orang-orang yang mengundang kami memegang HP, atau kamera, atau kadang tampak mengutak-atik laptop saat mempersiapkan acara.. Terus baju mereka bagus-bagus sekali, dan mereka wangi, pasti parfum mereka mahal.. Sedangkan aku harus puas dengan bedak deodoran yang dibelikan ibu di warung dekat panti..

Seseorang menepuk bahuku. Kak Ranti, salah satu pengurus panti yang baru saja masuk kuliah menanyaiku, “eh ngelamun? Ayo antri mandi. Ntar ketinggalan lagi.”

Aku meringis dan beranjak menuju kamar mandi.

Aku sedikit melirik kak Ranti. Dia juga menghabiskan sepanjang hidupnya di sini, tapi jarang sekali dia terlihat bersedih. Dia aktif di sekolah, ikut pramuka, klub bahasa Inggris, dan karena nilainya selalu bagus, dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jurusan Pendidikan. Cita-citanya menjadi guru. Mulia sekali kan..

Yah, mungkin aku hanya perlu lebih bersyukur. Kalau orang-orang punya orang tua kandung, aku juga punya Ibu Fatimah dan Pak Salim yang menyayangiku seperti anak sendiri. 

Aku tersenyum dan membisikkan doa, “Ya Allah, mudah-mudahan hari ini buka puasanya ka ef si, lagi kepingin koka kola nih..”  
 
Difotoin sama kak Prima, yang bantuin tim kita waktu games ^^



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...