Sunday, January 12, 2014

#1Hari1Ayat: The Nearest Temptation



"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." 
(Q. S. An Nuur (24): 26)

Yak, post kedua hari ini. Prima juga manusia ya pemirsa, boleh kan ngerapel post *memohon belas kasihan para peserta #1Hari1Ayat*

Beberapa hari yang lalu, saya tsurhat sama sahabat saya, terus dia nyeletuk, “yah yang namanya cobaan itu macem-macem prim. Bisa aja dari orang terdekat” 

#Jleb – haha ekspresinya ga berubah dari post sebelumnya .________.

Iya ya, anak bisa menjadi cobaan untuk orang tua juga kan?

Terus gimana kalau ternyata cobaan kita adalah orang yang setiap malamnya berbagi tempat tidur sama kita (baca: suami/istri)?

Saya belum menikah sih, tapi saya cukup sering menemui seseorang yang menjadi cobaan bagi pasangannya. Kadang cobaan duniawi seperti istri yang boros, atau suami yang workaholic (eh workaholic itu salah lho kalau akhirnya ga bisa memperlakukan istri dengan benar) – sampai yang naudzubillah nih, membawa pasangannya sedikit demi sedikit ke neraka. 

Kok bisa? 

Ya bisa bangeeet. Istri yang tidak berhijab, istri yang sukanya ghibah, istri yang suka melawan suaminya. Atau suami yang tidak memberikan pendidikan agama kepada keluarganya, suami yang tidak memberikan nafkah, dan sebagainya.

Kita telah mengetahui sejarah Nabi Nuh dan Nabi Luth, keduanya memiliki istri yang membangkang. Atau Siti Asiah yang bersuamikan Firaun. Bukankah mereka itu contoh bahwa pasangan – jika kita izinkan – bisa membawa kita menjauhi Allah?

Maka dari itu, menggunakan landasan agama saat memilih pasangan hidup sangat penting. Bukan hanya sekedar muslim, tapi bagaimana ia mengaplikasikan agama dalam setiap aktivitasnya? 

Memiliki pasangan seiman tidak selalu berarti pernikahan akan adem-ayem. Tapi setidaknya dengan latar belakang agama yang kuat, kita tahu bahwa kita berdua akan sama-sama berusaha menciptakan pernikahan yang barokah dan penuh dengan kebahagiaan; bukan hanya kebahagiaan dunia, tapi juga di akhirat..

“Pernikahan adalah gerbang bagi suami istri menuju kehidupan baru yg penuh kebahagiaan atas kehendak mereka berdua, atau menuju kesengsaraan atas kehendak salah satunya atau kedua-duanya.” – Syaikh Fuad Shalih

2 comments:

  1. super sekali mbaak.. dalem banget pesannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngena yaaa, ngerasa ketonjok yaaa :p :p :p

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...