Thursday, January 9, 2014

#1Hari1Ayat: My Hijrah Story - 'Cause the World is Too Small Compared with His Heaven




Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [Al Ahzab (33): 43]
*****
Assalamu'alaikum saudara-saudariku,

Kali ini saya, melalui blog Prima, mengisi kolom Sister to Sister dengan satu cerita spesial. Mungkin bagi teman-teman yang membacanya akan terasa biasa saja, tapi bagi saya yang mengalami sendiri, saya selalu merasa bahwa saya sangat-sangat disayang oleh Allah. Maka dari itu, saya ingin sekali membagi cerita ini kepada lebih banyak orang.

Betapapun saya telah berlumur dosa, Allah masih memberikan waktu, dan terlebih lagi, melimpahkan kekuatan agar saya berani melangkah ke arah kehidupan yang lebih baik. Hijrah, kata Prima.

Saya yang dulu, adalah wanita yang terkesan 'bebas'. Rambut sepunggung saya yang pirang kecoklatan selalu tergerai bebas, dan pakaian favorit saya adalah tank top dan jeans ketat yang menunjukkan lekuk tubuh. Pergaulan saya pun tak banyak membantu, rata-rata mereka adalah model atau setidaknya memiliki kebiasaan yang sama seperti saya. Entah kenapa kok bisa Prima jadi teman saya ya, mungkin itu yang namanya hiburan dari Allah, hehehe.

Keluarga saya cukup ketat dalam masalah agama. Kadang justru itu yang membuat saya jengah, maka ketika saya kuliah jauh dari keluarga, saya memberontak dengan cara saya itu.

Tak pernah terbersit di pikiran saya untuk berhijab. Pertama, saat itu saya masih single dan takut hijab membuat tidak ada cowok yang mendekati saya. Untuk hal ini, Prima berkomentar, “jadi kamu mau dapet cowok yang liat kamu dari luarnya aja?” :(

Tak cukup hanya itu, saya senang sekali menyanyi. Bahkan saya pernah mencoba menjadi penyanyi kafe dan ikut ajang pemilihan idola di TV, yang alhamdulillah, tidak direstui oleh Allah. Saat itu saya belum paham bahwa 'halangan' dari Allah itu adalah tanda cinta-Nya pada saya. Bahkan saya meyakini hijab akan menghalangi saya mendapatkan pekerjaan yang saya suka. Maklum, dengan latar belakang entertainment yang kuat, dan kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik; saya berharap bisa bekerja di hotel, bank, atau perusahaan besar di ibu kota.

Untungnya, Allah masih membukakan pintu hati saya. Tiba-tiba saja saya memiliki rencana untuk berhijab sesudah menikah. Lalu Allah melancarkan jalannya untuk saya. Setahun yang lalu, saya dinikahi lelaki yang saya cintai :)

Tapi godaan setan kembali datang. Saya terombang-ambing oleh keinginan untuk segera bekerja, hingga saya terus menunda rencana untuk berhijab. Saya tetap meyakini bahwa hijab adalah penghalang saya dalam mencari pekerjaan. Sekali lagi, Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Berpuluh-puluh surat lamaran yang saya kirimkan tak mendapatkan respon positif. Karena kepepet, akhirnya saya membuat nazar, “kalau saya diterima bekerja, saya akan menggunakan gaji pertama saya untuk membeli pakaian yang lebih pantas (untuk berhijab)”

Tak lama, saya mendapatkan pekerjaan pertama saya. Saya langsung menunaikan janji saya, meski saya masih enggan berhijab karena pekerjaan ini tidak sesuai dengan harapan saya.

Selanjutnya, di bulan April, tiba-tiba kita semua dikejutkan oleh kabar wafatnya Uje. Musibah ini menyadarkan saya bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati. Malam itu, saya menangis meraung-raung mengingat dosa-dosa saya. Apakah 'tabungan' yang saya punya sudah cukup untuk menutupi dosa-dosa saya selama ini, jika saya sewaktu-waktu dipanggil oleh Allah? Gelisah dan ketakutan akan azab Allah, saya mencoba mengenakan hiijab sekenanya.

...

Resah, galau, dan gundah akibat ketidakjelasan pekerjaan memang masih sering menghantui saya. Tapi satu yang pasti, sejak berhijab, hati saya menjadi lebih tenang dan terang. 


Hingga beberapa bulan yang lalu, ada penerimaan CPNS besar-besaran. Setelah berkonsultasi dengan suami dan ibu, saya mendaftar di dua daerah: Jakarta, dan kota tempat tinggal saya. Jujur, saya berkecil hati dengan kesempatan saya menjadi PNS di kota tempat tinggal saya; terutama karena kuota kebutuhannya kecil dan budaya nepotisme masih tinggi.

Tapi ibu saya terus berdoa. Ia tak henti-hentinya menyemangati saya, agar saya ikhlas bekerja di kota tempat tinggal ini, tentu saja supaya saya dan suami selalu bersama.

Berbekal dzikir dan tawakkal, alhamdulillah ternyata saya terjaring sebagai PNS di kota tempat tinggal saya. Tercapailah harapan ibu saya, sehingga meski saya berkarya di luar rumah, saya tetap bisa menomorsatukan tugas saya sebagai istri :)

Saudara-saudariku, saya tak pernah menduga bahwa jalan hidup saya akan sampai di hari ini. Masa lalu saya yang kelam, belum lagi ketidakyakinan saya dan bagaimana saya 'menawar' berbagai ketentuan dari-Nya, bahkan saya mengingkari janji-janji saya sendiri. Betapa malu dan rendahnya diri saya ini..

Tapi Allah masih memberi saya kesempatan kedua untuk kembali ke jalan-Nya.
Memang tidak mudah menerima semua ini, namun sekarang saya percaya, “siapa yang mengejar akhirat, niscaya dunia juga akan datang padanya. Dan siapa yang hanya mengejar dunia, maka kehancuran akan datang padanya.” 
 
Disaat banyak orang rela melakukan apa saja, disaat banyak orang rela mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk bisa menjadi seorang pegawai negeri sipil, Allah memberikannya kepada saya secara cuma-cuma. Hanya karena mematuhi perintahNya untuk menutup aurat dan bersabar :)

*
seperti diceritakan MKI kepada Prima
Semoga Allah selalu merahmati kamu dan keluarga ya, dear :')

5 comments:

  1. MasyaAllah, bersyukurlah karena Allah SWT menyayangi dan mencitaimu... Semoga tetap Istiqomah

    ReplyDelete
  2. Subhanallah bagus sekali ceritanya, sampai saya ikutan nangis :) Teruslah istiqomah dlm berhijab. Karena berhijab bukan pilihan, tapi kewajiban bagi seluruh muslimah :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...