Monday, July 18, 2016

From Dolly With Love

Siapa bilang awal minggu bukan waktu yang tepat untuk ngomongin cinta? After all, you love your job so you keep going to the office although you have to get through the traffic jam. Atau sister ‘hanya’ bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, tetap kan artinya sister mencintai diri dan keluarga sister. Semangat bekerja ya! Karena ada dosa-dosa yang hanya bisa ‘ditebus’ dengan bekerja dan mencari nafkah.

Anyway, I love romance movies. I grew up with Just My Luck, Maid in Manhattan, 13 Going on 30, The Notebook, the list can be long. Lalu saya pikir kalau adegan romantis itu hanya terjadi di film karena ada penulis naskah dan sutradara yang pintar dan berpengalaman (atau sebaliknya, baperan).

Tapi bayangkan saja dua adegan ini. 

Sister lagi jenuh banget sama tugas kuliah, terus tiba-tiba kekasih sister telepon. He said he is already downstairs/in front of your house, and he just want some minutes of you. Meski kesal karena konsentrasi terganggu, sister turun dan menemukan dia sudah membawakan makanan kesukaan sister (dalam kasus saya, pizza). Karena bulan sedang bersinar dengan terangnya, he took you dancing in the moonlight! As if it couldn’t be more perfect, the dance soundtrack was Close To You by Carpenter which he sang himself. 

Adegan selanjutnya. Seseorang yang sister sayangi sedang berulangtahun, dan sister bela-belain pergi ke kota tempat dia bekerja. Lalu sister bersekongkol sama teman-temannya untuk membuat kejutan. Dia sih malu-malu, but at the end of the day, he look at you in the eyes and said, ‘terima kasih sudah membuatku bahagia.’

Those two scenes happened in my life, a very long time ago (yaaah, ketahuan deh kalau jomblonya udah akut).

Kalau sekarang sih, adegan romantis yang saya tunggu sesederhana ijab qabul. Cuma yaaa, kalau bisa sama seseorang yang saya harapkan juga dong. Engga, engga mau bilang Pangeran Dubai. Pangeran Yordania aja boleh? #lah #gantiorang

Sayangnya, setelah cerita cinta zaman baheula, saya semakin sering melihat orang-orang yang menggunakan alasan cinta untuk sesuatu yang stupid. Coba baca cerita tentang sahabat saya disini. Waktu itu, saya tidak habis pikir ada orang yang mengorbankan akal sehat untuk cinta. Namun, saya sempat kena batunya. Kejadiannya cepat sekali sampai kalau saya pikir lagi sekarang, mungkin saat itu saya kena jampi-jampi. #yakali

Long story short, beberapa waktu yang lalu saya tiba-tiba penasaran, adakah kisah cinta yang dialami oleh ‘orang kecil’? Mungkin ada blog post lama saya tentang pendapat saya bahwa orang yang tinggal di pelosok desa terpencil tidak punya impian. Toh pada akhirnya anaknya tetangga nenek saya di desa bisa kuliah ke Jerman dengan beasiswa. 

Nenek dan kakek saya menikah atas dasar perjodohan because I think, they couldn’t afford the ‘expenses’ of falling in love. Mama dan ayah saya juga, there was no love story at all except the commitment that my dad offered at the first place, which sadly crashed after some years. Barangkali itu latar belakang yang bikin saya haus akan kisah romantis (halah), karena tahu kalau saya tidak ‘berhati-hati’, hati saya bisa jadi beku dan sedingin musim dingin di Kutub Selatan.

Kembali ke pokok bahasan, hari raya Idul Fitri kemarin saya bertemu dengan teman mama saya. Sebut saja namanya Om Haji. Om ini garang, mantan preman yang bertransformasi menjadi pendukung sebuah ormas Islam garis keras. Kalau bikin masalah sama beliau, siap-siap saja beliau datang membawa clurit. Tapi loyalitasnya sama teman juga tanpa batas – contohnya ya dukungan moral beliau kepada mama saya selama bertahun-tahun. 

Waktu saya berkunjung ke rumah beliau, beliau bercerita suatu waktu istrinya masuk rumah sakit. Sekeluarga sudah menduga kalau ada hubungan dengan sakit jantung, tapi alhamdulillah ‘hanya’ kondisi fisik yang menurun diperburuk dengan tekanan darah rendah. “Waktu tante masuk rumah sakit itu ya mbak, wah om gelap mata. Langit terasa rendah, om seperti kehilangan harapan hidup. Terus dokternya bilang ‘yang sabar Pak, kami akan mengusahakan yang terbaik’, duh pingin Om gampar itu dokternya.” (cerita aslinya lebih jenaka karena beliau ngomong dalam bahasa suroboyoan yang you know lah..)

Saya terperangah. Tampang preman, hati Hello Kitty, ya begini ini. Then I think he is so lucky to find a woman who accept him the way he is. More than that, she sees something that people don’t. She makes her husband became a better person in many ways. 

Cerita yang serupa saya dapatkan ketika saya menghadiri From Dolly with Love, acara yang diselenggarakan oleh Invention Co. Jadi Invention Co ini bikin yang namanya UniX, kelas kecil untuk belajar tentang banyak hal langsung dari pakarnya. Kali ini, mereka mengundang Melukis Harapan, untuk bicara tentang social entrepreneurship dan kaitannya dengan Dolly pasca penutupan lokalisasi. Seandainya saja saya belum propose ide tesis yang saya kerjakan sekarang, mungkin saya akan menulis tentang rebranding image Dolly. Menarik banget, dan saya baru sadar kalau saya engga terlalu update meskipun tercatat sebagai warga kota Surabaya.

Yang paling menarik tentu saja cerita dari Bang Jarwo dan Mbak Ifah. Bang Jarwo yang juga seorang mantan preman, hobinya mabuk-mabukan pun. Terus kalau kata Mbak Ifah, “status saja yang perjaka, tapi kalau besar dan tinggal di Dolly wah jangan harap.” LOL. Mbak Ifah pun mantan WTS yang terpaksa melakukannya karena terlilit hutang. Not my duty to judge what they did. But their love story, ketika Mbak Laksmi sebagai moderator bertanya kenapa keduanya ingin bersama...Intinya adalah mereka berdua tahu ketika mereka bersama, mereka bisa jadi pribadi yang lebih baik. Ketika melamar, Bang Jarwo berjanji pada Mbak Ifah akan berhenti mabuk-mabukan. And it has been proven. Meskipun sekarang dengan usahanya berjualan tempe, penghasilan yang didapat tentu jauh dari waktu Bang Jarwo berjualan kopi untuk para tamu wisma. Namun Bang Jarwo bilang, hatinya lebih tenang. Bahkan Bang Jarwo sudah mengenal kata-kata seperti barokah atau istiqomah. Luar biasa kan.


Mbak Ifah dan Bang Jarwo
Mbak Ifah, Bang Jarwo, dan Mas Dalu (pendiri Melukis Harapan)

with all participants of UniX
Photos courtesy of Invention Co

Jadi apa inti dari tulisan sepanjang ini? Someday you’ll understand that true love inspires and strengthen, bukan sebaliknya. Cinta sejati bukan yang membuatmu rusak atau harus mengorbankan kehidupanmu. Cinta yang benar itu yang mendekatkan dirimu pada kebaikan dan jalan Tuhan. Karena Dia sudah memberikan perasaan yang tulus ini, Dia pasti menuntunmu untuk mewujudkan suatu perubahan yang positif.

Maka pikirkan lagi tentang si dia yang saat ini sedang membersamaimu – atau sedang kamu kejar. Adakah dia membawamu menjadi pribadi yang lebih baik? Lebih peduli? Lebih welas asih? Lebih banyak bersyukur? 

I am asking the same question to myself right now :)

Lots of love,
Prima

*Yuk, dukung Bang Jarwo menciptakan kehidupan yang lebih baik dengan mendanai campaign-nya di Kitabisa.com, click here to see more.*

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...