Sunday, July 17, 2016

Menulis Itu...

Sebelum saya menulis tentang cinta-cintaan (lagi), rasanya ini waktu yang tepat untuk menulis tentang menulis. Sejak semakin banyak orang tahu saya bekerja untuk media online, semakin banyak juga yang mengutarakan keinginannya untuk belajar menulis ke saya. Setidaknya bertanya, gimana caranya menulis sesuatu yang menginspirasi, menggerakkan, atau apalah itu. Well, to be honest, saya tidak punya rahasianya. Seorang Ria Miranda pernah ditanya apakah ada suatu cara untuk membuat pakaian rancangannya menjadi booming, and she said she doesn’t know it! 

So I guess there is this one thing for sure: someone good in what she/he does doesn’t stop trying.

Tentu bakat bisa jadi sangat membantu. Misalnya Adele engga bakal jadi penyanyi setenar sekarang kalau suaranya seperti saya, walaupun jungkir balik les vokal sama Elfa Secioria (lah). 

Saya dulu belajar main piano dari umur enam sampai sebelas, but deep inside my heart I know it’s not something that I want to do for the rest of my life. Sebaliknya, saya punya teman yang di sela-sela kuliah kedokteran masih mampu main piano DAN belajar gitar DAN megang saxophone di band-nya. 

Ketika SD, saya sering mengikuti olimpiade matematika tapi ujung-ujungnya saya pikir ‘aduh, ngapain sih malu-maluin sekolah kalau kalah terus?’ Sementara teman kelompok belajar saya hanya perlu setengah dari waktu saya untuk bisa menguasai sebuah rumus. And there I was, cheering him below the stage ‘cause he always win.

Writing came naturally for me. Awalnya mama memberlakukan ‘tugas’ menulis buku harian agar bisa mengurangi hobi saya nonton TV. Dari buku harian, mama yang ibu bekerja dan ayah yang bekerja di luar kota bisa melihat perkembangan saya. And I liked it, beyond my piano course. Sebelum Rangga jadi idaman para perempuan karena puisinya, saya sudah lebih dulu melanglang buana dari satu lomba ke lomba yang lain untuk menulis dan membaca puisi. Saya bertemu dengan Taufik Ismail. Saya menerima piagam penghargaan dari Ibu Ainun Habibie. Semua karena menulis. 

Salah saya waktu itu, menulis itu bukan aktivitas yang keren. Teman-teman bilang saya cupu karena sering mojok di perpustakaan. Saya jadi bulan-bulanan di pelajaran olahraga karena tidak cekatan saat main kasti atau basket. I put myself too much in writing, not knowing that something is trending and followed by many cool kids.

And I want to be that cool kid. Maka ketika SMP saya masuk OSIS. Ikut klub bahasa Inggris. Nulis? Apa itu nulis? Padahal kalau dipikir-pikir sekarang, justru kesenangan saya akan menulis itu sangat membantu saya menjadi pemimpin yang baik. Bagaimana bisa saya menggerakkan massa (lebay...) kalau bukan lewat pidato yang saya tulis sendiri?

Long story short, you see me now. With this blog that have running for almost three years. Sebenarnya dulu saya punya tumblr dan menulis di blog lain sejak 2010. Jadi saya sudah menulis selama enam tahun. If someone said, you have to do 10,000 hours practice to have a specific skill, then I’m halfway to it. It took me my age to finally understand that writing is a skill that can be a blessing for myself and the entire universe. Jadi ingat Malala yang dapat Nobel Perdamaian karena berjuang mendapatkan pendidikan yang layak untuk perempuan di negaranya. She started it from a blog!

But I won’t tell you a lie. Tentu saja ada keringat, darah, dan air mata dibaliknya. Kalau Malala kembali jadi contoh, tahu kan bagaimana it almost costs her life just because she holds on to what she believes.

Hampir sama dengan balerina yang harus merelakan kakinya buruk rupa, atau gitaris yang jarinya bujel karena terus berlatih. Saya yakin Taylor Swift punya tim manicure kheuseus untuk menjaga kukunya tetap lentik. Kakinya aja diasuransikan senilai x milyar. #salahfokus


Pertama kali saya belajar menulis untuk ikut lomba, tangan saya sampai mati rasa karena zaman dulu kan belum ada komputer dan email. Saya menulis essay sepanjang delapan halaman folio bergaris, dan tulisan saya harus bagus. Now I am grateful for not giving up. Tapi waktu itu, huaaaaa, rasanya pingin lari ke lapangan. Biar deh jadi bully di tim kasti. Dear Ustadzah Tunik, I can not thank you enough for being truly patient to me.

Satu lagi. Never ever say that writing is just writing. Kerjaan kamu kan cuma menulis... Saya lempar kursi lho. Menulis itu engga ujug-ujug duduk, menulis, jadi tulisan. Menulis itu butuh banyak membaca. Dan yang saya bilang banyak itu buuuuuanyak beneran. You can’t write if you don’t read or observe. You have to know that what you write is based on fact. You need to see how public see this matter. 

You can’t write if you don’t listen. The voice inside your head. The real meaning of a conversation.

Last, you can’t write if you don’t have a reason. Ask yourself why it is important for you to write. Why it has to be this specific topic. Why it has to be now, not tomorrow or other days. Why you’re the one who has to write it, not somebody else. 

Bahkan ketika saya menulis untuk pekerjaan, saya tahu pasti alasan saya menulis artikel tersebut. 

Barangkali sama dengan Taylor Swift (#eaaa #lagilagi) yang menyanyi sebagai sarana curhat tentang pacar atau mantan pacarnya, but to make it as career she needs more than that. Kembali lagi ke awal blog post ini, that’s probably the reason I haven’t published a book yet. Latihan menulis saya belum sampai ke level menerbitkan buku. But just because I like it, and enjoy it, I will keep writing.

What about you?

Lots of love,
Prima

1 comment:

  1. Haa.. kurasa aku kudu bikin tulisan serupa haha. Me too, aku dulu selalu dikucilkan saat olahraga karena nggak bisa lari cepet bahaha. Kalau nulis, inget banget awal sukanya, sampe niat bikin mading seorang diri di SD (FYI: SD ku di kampung nggak ada madingnya) haha

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...