Tuesday, September 1, 2015

5 Don't(s) Ketika Orang Tua Bercerai

Lagi rame banget ya, masalah perseteruan Aurel dan miminya. Tentu saja kita ga tau gimana duduk perkara sebenarnya, dan juga jangan sok tau terus komen-komen ga jelas gitu.. Apalagi di Instagram mereka, no no no! It's just, love can make us the stupidest person. Kalau ada yang bilang cinta itu buta, mungkin ini adalah salah satu contohnya. *salim sama Tante KD dan Om Raul*

Anyway, yang namanya perceraian itu dimana-mana pasti ga enak. Apalagi buat anak, yang udahlah ga bisa ngapa-ngapain, eeeh kena image buruk pula karena orangtuanya bercerai. Padahal anak-anak bisa apa kan ya?

Sebagai anak 'korban' perceraian, yang bisa kita lakukan sebenarnya banyak sekali, salah satunya adalah berdoa *digetok* Tapi beneran, kita ga pernah tahu kekuatan doa – karena siapa tahu, dengan panjangnya sujud dan khusyu'-nya ruku', Allah berkenan memberikan 'kesempatan kedua' untuk keluarga kita :)

Disamping berdoa, ada juga hal-hal yang perlu dihindari saat terjadi prahara dalam biduk rumah tangga orang tua kita (aish bahasa guweeeh), soalnya ketika perceraian itu terjadi, kita seringnya tidak berpikir dengan baik. Hal-hal dibawah ini akan memperburuk keadaan kita secara fisik maupun psikologis. What are those? Ini dia. 

1. DON'T ever think of smoking and alcohol beverages
Pada masa-masa seperti ini, akan sangat sulit bagi sister untuk berpikir jernih. Oleh karena itu, please please please jauhkan diri dari rokok dan alkohol. Mungkin sister akan merasa bahwa orang tua sister 'merusak masa depan sister', so jangan tergoda untuk turut merusak tubuh dan pikiran sister. Rokok dan alkohol itu enaknya cuma sebentar kok; tapi efeknya bisa jauh lebih buruk ketika keduanya menimbulkan kecanduan. Belum lagi, ga ada orang yang penampilannya jadi lebih baik karena rokok dan alkohol; yang ada sudah mata bengkak kebanyakan nangis, eh bau mulut dan bau badan pula. Kalau sister 'lemah' terhadap cokelat, es krim, cemilan; go for it. Makan sebanyak-banyaknya; jajan sesering mungkin. It's better to be fat than to be sick for this condition. 

2. DON'T get too close with your boyfriend
Don't yang kedua ini agak aneh ya? Bukannya pada situasi serba kalut, you will need someone to talk to? Tapi kembali lagi keatas, ketika sulit bagi sister untuk berpikir jernih, maka sister sedang mempertaruhkan hubungan sister – dengan siapapun yang berada di dekat sister. Sister akan kesulitan mengendalikan emosi dan kata-kata. Yang ada pinginnya marah-marah terus. Selain itu, ketika perceraian terjadi, akan sangat wajar jika sister kemudian apriori terhadap segala sesuatu bernama cinta dan romantisme. Anything that he does to make you feel better won't help.
Terakhir, sangat mungkin bahwa sister akan kehilangan kendali – dalam hal ini, ehem, sexual desire – mungkin sebenarnya bukan literally seksual tapi sesuatu yang mendorong sister mencari 'kehangatan'. Kalau pacar sister 'pandai memanfaatkan situasi', duh...saya ga berani membayangkannya. Naudzubillah. 

3. DON'T Talk to Your Family Members
Ketika perceraian sedang diproses dan masalahnya sedang hangat, setiap orang di keluarga sister (pakde, bude, nenek, kakek, dan lain-lain) akan memiliki pendapat yang berbeda-beda dan cenderung memihak. Why so? Because no one – I said, no one – experience what exactly happening. Kebanyakan dari mereka kan tidak tinggal dengan orang tua sister, ostomastis mereka hanya mendengar dan melihat dari luar. Ketika sister terlalu banyak menerima hal-hal yang kebenarannya patut dipertanyakan, saya khawatir sister tidak dapat memutuskan pendapat sendiri..

4. DON'T stay away from your siblings
Apapun posisi sister dalam keluarga, kakak atau adik sister pasti merasakan kepedihan yang sama. Ketika sister merasa kurang dapat memposisikan diri di antara ayah atau ibu, demikian juga dengan kakak dan adik sister. So hug them, tell them that you're sad and you all can facing this together. 

5. DON'T be mad with your mom/dad
Hal ini barangkali adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Tapi setelah bertahun-tahun, yakinlah, sister masih jauh lebih beruntung daripada sekian ribu anak yang bahkan tidak mengetahui siapa orang tua mereka – hanya semata karena mereka adalah anak yang tidak diinginkan. Kabar baiknya, ayah dan ibu sister pernah saling menyayangi; saling bahu-membahu bekerjasama; dan mereka berdua akan selalu berjuang untuk kebahagiaan sister, dengan cara apapun yang mereka anggap terbaik.

Maybe you'll understand it in 1-2 years. Maybe it'll takes forever.

Even me myself, still asking the same questions in more than 20 years: why my parent weren't meant to be? Why both of them won't meet again, even though it was for my graduation? Why do I have to choose where to celebrate Eid Fithr this year – because I can't be with both at the same time. Why? Why, Allah?

But to know that both of them, still here on earth: pay my tuition fee, wish me on my birthday, buy me the flight ticket when I want to travel to places, ask what I want to do with my career..... They are still fight for me, together – with their own way.

Now the best thing for me is, to see they are happy with their own choices. It makes me believe that one day, I can find my own happiness.  

And you can, too.

Hugs,
Prima

7 comments:

  1. Kena efek2 aurel nih kayaknya *ups* hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. aurel membawa berkah.....inspirasi nge-blog :)))

      Delete
  2. Great post kak Prim! Daripada nyela-nyela mending 'membuka kacamata' yang lebih positif ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin karena aku sendiri punya pengalaman ya, jadi bisa menyikapi dengan lebih proporsional.

      Delete
  3. duh jadi pgn ikut curhat..emang jd anak korban perceraian org tua itu rasanya sakit bgt mbak. apalagi kalo kita tau salah satu ortu kita mmg jls berkhianat tapi tetep aja merasa bener..duh.tapi memang nggak ada sih yg namanya mantan anak. seburuk apapun perilaku org tua, tapi sampai kpnpun mrk ya tetep ortu kita. karena merekalah kita ada *self reminder*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe iya mbak, kadang orang tua juga ga sadar kalau perilaku mereka belum menunjukkan kedewasaan. yang jadi tugas kita hanyalah berbakti, semoga Allah berikan yang terbaik untuk kita semua :)

      Delete
  4. Duh, Kak. Aku jadi pengen nangis ngebaca ini. Aku gak tahu apa yang bakal terjadi, tapi akhir-akhir ini aku memang sedang menyiapkan mental. Ketika salah satu mengutarakan pengen pisah, dan langsung ngasih tau aku, rasanya itu sakit banget. Tapi disaat bersamaan aku juga kudu mikir logis bahwa ada alasan kenapa mereka pengen pisah.

    Duh, jadi curhat :')

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...