Wednesday, September 10, 2014

Vini, Vidi, (InsyaAllah) Vici

Registrasi World Muslimah Award 2014 sudah ditutup tanggal 7 September kemarin. And I couldn't be happier to see the participants :)

Memang saya ga liatin satu-satu (kayak yang nganggur dije aje..), tapi sekilas saya melihat beberapa partisipan yang punya prestasi bejibun, bikin saya makin optimis sama masa depan dunia, atau Indonesia khususnya. Because you know, just like they said, “Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik maka negara akan baik dan apabila wanita rusak maka negarapun akan ikut rusak.”

Semoga siapapun yang menang nanti, bisa menjadi inspirasi untuk wanita muslimah all around the world; terutama untuk syiar dakwah dan mencitrakan bahwa muslimah idealnya memang shaleha, smart, and stylish ;)

Teman-teman tentu sudah tahu jika saya menjadi peserta tahun ini, dan sejak saya mendaftar hingga kini, masih banyak sekali yang bertanya pada saya kenapa saya mau ikut World Muslimah Award.. Salah satu alasan saya bisa dibaca disini. Berhubung post tersebut dalam bahasa Inggris, banyak yang minta dibikinin versi bahasa Indonesia-nya. Okay, jadi saya tambahin beberapa alasan lain yang lebih umum, yaitu..

1. Pengalaman itu mahal harganya
Terakhir saya ikut kontes 'begini', it was Kakang-Mbakyu Kota Malang, tahun 2010 atau 2011 kalau ga salah. No, I didn't make it to be semifinalist, but the experience is priceless. Seingat saya, waktu itu ada tes tentang pengetahuan umum, pariwisata Malang, kepribadian, dan catwalk. Jadi bisa ngira kan saya gagalnya dimana? Hihihi.
Waktu itu saya pakai persiapan juga lho, sempet latihan catwalk ekspress juga sama teman saya yang memang model :))) Terus baca-baca koran juga, tapi saya rasa pengetahuan yang diujikan adalah 'makanan' sehari-hari kok, apalagi Malang juga bukan kota yang asing buat saya meski saya bukan asli orang sana. Kecuali saya ikut Abang-None Jakarta, nah itu you can question it, haha.
Secara umum, saya pikir saya punya chance untuk dipertimbangkan #pede. Tapi memang ketika ikut ini, saya bener-bener pingin tahu aja, apa sih kriteria pemenangannya. Coba ya, kapan lagi bisa nyoba menguji pengetahuan dan kemampuan kita kalau kita ga ikut kontes begini. Kalau menang, alhamdulillah bisa dimasukin ke CV. Kalau belum menang, ya setidaknya sudah ngalamin. See, pengalaman itu mahal harganya :D


2. Belajar berkompetisi itu perlu
Setiap dari kita, sejak proses 'pembuatan' saja adalah hasil dari kompetisi – oke, semua tahu kisah ini, haha. Ketika bertumbuh, kita bersaing dan terus bersaing. Yang paling terasa biasanya sih ujian masuk sekolah atau perguruan tinggi, dan masuk kerja.
Yang lain? Buanyaaak. Beberapa yang saya bisa ingat, saya peringkat ketujuh NEM tertinggi di SD saya; juara menulis tingkat nasional; juara lomba debat bahasa Inggris tingkat SMA se-Surabaya; penerima beasiswa tugas akhir dari ITC-TOEIC Indonesia; dan masih banyak lagi.
Yang kalah? Lebih buuuanyaaak lagi. Ketika saya lulus kuliah, saya melamar pekerjaan ke 11 perusahaan, dan hanya 3 yang memanggil saya untuk tes dan interview. Saya apply beasiswa ke Korea, gagal. Saya ikut Kakang-Mbakyu Kota Malang, gagal. Saya melamar kerja ke Qatar, belum berhasil juga.
Barangkali perbandingan kegagalan dan keberhasilan saya bisa 2:1 atau 3:1, atau bahkan hanya 20% yang berhasil dari segala kompetisi yang saya ikuti. Competition is natural for us, especially competition with ourself. Apakah tahun ini kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada tahun lalu? Apakah hari ini kita menjadi insan yang lebih bermanfaat untuk lingkungan kita?
Kadang, hanya dengan (mengikuti) kompetisi, kita bisa membuktikan sesuatu.

 
3. Menang-kalah itu bukan jaminan
Saya pernah berkata kepada sahabat saya, “here we go. Let me prove to myself that I can do it. That, once again, I will push my limit and give 1000% of my efforts.”
Seperti Kak Ocha bilang disini, yang penting adalah persiapan kita, sisanya itu benar-benar faktor eksternal yang tidak dapat kita kontrol.
So, sama dengan menikah (yeee.. ujung-ujungnya kesini lagi), kita hanya bisa menyiapkan diri dengan sebaik mungkin. Some of you might heard of this: 

 
I can't agree more, but after all, remember this:





So, still need more reasons to compete and fight?

Go ahead, look for it! ;)

Lots of love,
Prima

5 comments:

  1. Aku setuju sekali dengan pendapatnya bahwa belajar berkompetisi itu perlu... Dalam hal ini aku pegang prinsip ini untuk mengikuti berbagai kompetisi menulis bagi para blogger.. Walaupun lebih banyak gak menang daripada menangnya namun aku merasa senang dan punya arti saat bisa berkompetisi dengan blogger kondang lainnya... Kalau tulisanku belum masuk kriteria yang menang yah wajar saja... Wong saingannya blogger keren yang sudah mumpuni dalam ajang lomba menulis... Btw, selamat mengikuti kompetisi semoga membuahkan hasil seperti yang diharapkan... InsyaAlah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, iya mbak :)
      yang penting berani dulu, nanti lama-lama kemampuan bisa meningkat :)

      Delete
  2. semoga menang mbak Prim, i always support you

    ReplyDelete
  3. Setuju banget tuh. Tapi yang harus diinget juga. Belajar itu dapetin ilmu, bukan untuk nyari musuh baru. Hahaha... Btw, kunjungin gue balik ya.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...