Monday, March 9, 2015

S2, Pentingkah?

 

Meski baru dua minggu bersekolah, rasanya tidak perlu waktu lama untuk tahu that I’m at the right place. Belum, saya belum tahu nanti kedepannya mau gimana. Jadi akademisi atau dosen pun belum masuk ke daftar pilihan saya. Honestly, my first plan after graduating is work at a company that can gives me high salary, mwahahaha. Lagipula, dari diskusi saya dengan tante saya, mindset saya lebih condong ke menjadi konsultan: orientasinya adalah solusi, bukan landasan filosofis atau teoritis. So, we’ll see later about that ;)

Tentu, ada banyak sekali perbedaan. Sepintas, bekerja lebih terasa mudah untuk saya. Jam kerjanya pasti: jam09.00-18.00. Walau tidak sepenuhnya bebas di malam hari dan akhir pekan (kadang saya masih menjawab e-mail dari klien), tapi pikiran saya tidak ‘terpasung’ pada pekerjaan. Sementara kuliah? Boro-boro. Rasa-rasanya, ibu-bapak dosen saya seliweran di dalam mimpi saya. Pulang kuliah, ngerjain tugas. Pagi hari, mempersiapkan materi kuliah hari itu. Akhir pekan, baca-baca materi. Sekali lagi, baru dua minggu ini sih, tapi saya yakin, beberapa bulan kedepan akan begitu terus sampai bisa belajar mengatur waktu dengan lebih baik.

Somehow, I enjoy it. Saya bagaikan anak kecil baru masuk SD, tiap malam begitu bersemangat nyiapin isi tas, kadang bajunya sekalian. Doakan semangat ini bisa bertahan lama ya, toh kuliahnya cuma dua semester ini. Sisanya…tesis. Hih, dengernya udah bikin bulu kuduk merinding, hahahahaha #lebay

Salah satu obrolan saya dengan teman-teman sekelas di awal perkenalan biasanya adalah, ‘kenapa kok kuliah lagi?’ Rata-rata sih memang pingin jadi dosen, tapi saya jadi mikir.. Kenapa ya, saya sekolah lagi? Kenapa nih, sister? Ada yang bisa bantu saya? #lho

Ada seorang teman saya, Putri namanya. Dia bilang dia kuliah S2 karena berprinsip bahwa perempuan itu harus pintar. Saya setuju sekali, karena menurut 8fact(dot)com, tingkat intelijensi seorang anak didapatkan dari ibu. Masih menurut 8fact(dot)com, ayah menurunkan tinggi badan. Alhamdulillah Ya Allah, kasihan anak saya deh kalau diturunin tingginya saya, mana bantet pula. Jadi PR-nya kudu cari suami yang tingginya minimal 175 cm lah ya #BukanKode #TapiKodepunGapapaDehYa :)))

Seorang sepupu saya yang sekarang sedang kuliah S3 (dan dia dua tahun lebih muda daripada saya!!!) pernah berkata, bahwa saat ini, sebisa mungkin kita melakukan (studi) S2. Kalau orientasinya ke pekerjaan, meski belum sepenuhnya terbukti di lapangan, perusahaan umumnya lebih memperhatikan lulusan S2. Memang di sisi lain hal tersebut memberikan pertimbangan seperti biasanya lulusan S2 menuntut gaji dan posisi yang lebih tinggi daripada lulusan S1, tapi kalau bisa memberikan usaha 1000%, kenapa hanya memberikan 100%?

Sebaliknya, orang-orang dengan mindset ‘pengalaman jauh lebih penting daripada gelar’ sama sekali tidak salah. Karena saya mengamininya. Latar belakang pengalaman kerja selama 2,5 tahun harusnya memberikan saya wawasan aplikasi ilmu yang sedikit lebih luas, daripada teman-teman saya yang baru lulus S1 dan langsung lanjut S2.

Namun begitu, saya memahami perasaan teman-teman saya yang langsung lanjut S2. Pertimbangan pertama tentu semangat belajar yang masih besar. Berat lho jadi saya, setelah 2,5 tahun kerja, terus harus kembali ke sekolah dan tidak memiliki penghasilan tetap. Terus, kerasa kayak culture shock gitu, dari yang biasanya harus bikin keputusan cepat (dan tepat), sekarang harus cerdas menganalisis landasan teoritis. 

Pertimbangan kedua, umur. Saya pernah ngobrol sama seseorang di rumah sakit, “Wah mbak umur 26 sekarang? Sekolah dua tahun, umur 28. Yaaa semoga dapat jodoh pas kuliah ya mbak.” Amiiin, begitu kata saya dalam hati. Di sisi lain, mungkin memang trennya aja, bahwa usia mahasiswa/i S2 semakin muda. Seingat saya, ada mamanya sahabat saya baru mengambil S2 sekitar empat tahun yang lalu. Meski hal itu adalah untuk jabatan, tentu akan ada pengaruhnya pada kecepatan belajar dan proses komunikasi dengan teman-teman sekelas.

Kalau buat saya pribadi nih, sebenarnya saya ga mau menggunakan gaji atau posisi sebagai tujuan utama saya sekolah lagi. Menurut saya, kalau nanti saya kembali bekerja, saya merasa pantas dibayar lebih karena saya bukan fresh graduate S1 – I have working experiences - bukan hanya karena sudah S2. But still, I don’t really care. Gaji dan posisi itu relatif. Saya bersyukur saya pernah berkesempatan bekerja di sebuah perusahaan yang gajinya lumayan banget, jadi saya bisa bilang kalau sekarang itu bukan tujuan utama saya. Dengan kenyataan bahwa ilmu saya (insyaAllah) lebih banyak daripada ketika saya lulus S1, saya lebih berharap bahwa hal ini memberikan saya modal untuk memberikan kontribusi lebih banyak kepada masyarakat. Kalau hal itu dapat diterjemahkan sebagai ‘bekerja pada posisi strategis (a.k.a manajerial atau dekat dengan pengambil keputusan) dalam sebuah perusahaan’, ya itu bagus.

Repot banget kalau mau kerja tapi orientasinya (hanya) uang, atau kuliah tapi orientasinya (hanya) gelar. Saya khawatir kalau hal ini menjadikan kita menghalalkan semua cara untuk meraihnya. Rasanya hidup lebih santai kalau tujuan bekerja adalah ibadah, dan tujuan sekolah adalah untuk mendapatkan ilmu. Selow gitu deh bro..

Nah, buat yang membaca tulisan ini dan kebetulan sedang berniat untuk melanjutkan sekolah, I just want to remind you to consider that it will costs you a lot of money. Katakan untuk biaya sekolahnya bisa dapat beasiswa, tapi untuk sehari-hari seperti fotokopi, print tugas, dan ikut seminar (hey, ini penting juga) harus dihitung juga. Saya bukan mau menakut-nakuti, but I totally forgot this stuff when I plan to go back to school some months ago. So don’t follow me, you should have consider it carefully. 

Gimana buat sister yang pingin menambah ilmu tapi belum ada biaya atau kesempatan? Don’t worry! Ilmu ga hanya bisa didapat dari bangku sekolah formal kok. Coba follow Akademi Berbagi di kotamu. Mereka sering bikin acara bagi ilmu yang praktis dan ga makan waktu lama. Atau kalau yang di Surabaya, bisa lihat-lihat timeline Gerakan Mahasiswa Surabaya. Pembicaranya kece-kece lho (termasuk saya, hihihi).

Terakhir, sister.. Semua itu baru ilmu duniawi. Kalau untuk dunia aja, kita bisa terpikir untuk S2, S3, atau bahkan S4 (emang ada? LOL), semestinya kita memberikan usaha yang lebih, atau paling tidak sama, untuk ilmu akhirat. Sama seperti menambah ilmu dunia, ga perlu repot kalau memang belum tahu kelompok pengajian mana yang cocok sama kita. Ikut aja ‘pengajian’ di timeline Twitter. Tapi, harus hati-hati dalam memilah dan memilih ya, jangan menafsirkan sharing Ustadz/ah hanya dari satu-dua tweet saja, tapi harus dari keseluruhan.

Wuih ga kerasa curhat saya hari ini panjang banget, hihi. Semoga ga bosenin yah, sister! Semangat buat sister – baik yang masih seneng-senengnya kerja, atau juga lagi mulai kuliah seperti saya. InsyaAllah selama niat kita baik, apapun itu akan diridhoi oleh Allah :)

Lots of love,
Prima  

6 comments:

  1. Ibuku bilang kalo aku mau sekolah lagi, harus udah nikah dulu katanya, mbak. -,-'

    ReplyDelete
  2. Aku malah kalo bisa pengen ngulang S1 dari awal lagi, kak. Abisnya beneran ga sehati (ga seotak juga hihiii) sama Fisika. Kalo S2nya ga linier, takutnya ga guna :(

    ReplyDelete
  3. Saya juga berminat nih lanjutin S2, semoga ada rejekinya, aamiin

    ReplyDelete
  4. Yeey tulisan ini mengingatkanku yang semula pengen ngulang kuliah S1 untuk nyabet gelar doang. Tapi kalo dipikir-pikir, akan lebih terasa manfaatnya bila untuk mengembangkan potensi diri. Jadi ujung-ujungnya gak melulu orientasi pada uang, melainkan juga rasa untuk berbagi ilmu. :)

    Kayaknya aku pengen kuliah lagi di jurusan ikom ambil peminatan public relation. :D

    ReplyDelete
  5. artikel yang memberikan kesan yang bagus
    poin4d

    ReplyDelete
  6. Wah beruntung banget Saya singgah di blog ini, galau bangeeet S2 apa enggak, lagi nyari pertimbangan, Saya sudah bekerja 1 tahun di perusahaan swasta di Bogor, pengen kuliah pengen dapet beasiswa tapi masih pengen kerja/punya penghasilan juga.. haaa galau.. Oya terima kasih banyak link akademi berbagi-nya ya Mbak..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...