Monday, August 22, 2016

Kenaikan Harga Rokok dan Pesugihan

Good morning, sister! Ternyata saya sudah lama engga nge-blog. Yaaa, walaupun memang tahun ini saya lumayan sibuk (ceileh), saya masih punya target minimal 100 post sebelum 31 Desember 2016. I have a lot of things in my mind which I want to share to you, tapi kadang waktu mau nulis udah kecapekan dan besoknya lupa deh. Padahal banyak juga topik yang sudah ditulis di notes. Akhirnya, tema itu menurut saya udah basi dan engga asik lagi buat dibahas.

Sabtu lalu saya main ke kos teman dan dia menunjukkan sebuah gambar yang kayaknya sih editan. Di gambar itu, harga-harga rokok jadi tujuh sampai delapan kali lipat dari harga sebenarnya. Kayaknya ada yang harganya 118ribu rupiah deh. Pulangnya saya segera mengecek di mini market, ternyata harganya masih belum naik. Syukurlah #lho

Dulu waktu zaman SMP, awal-awal tahu ada teman yang merokok, saya tuh sempat bingung, ‘enaknya merokok itu dimana?’ Memang ayah saya perokok (dulu), tapi pikiran saya waktu itu ya, orang dewasa merokok itu biasa saja. Sedangkan remaja, yaelah, uang saku masih minta orangtua. Mending buat beli pentol – eh engga mending juga, mending uangnya buat main CS atau PS, eh engga deng, ditabung deh (pencitraan biar kelihatan bak anak sholehah).

Semakin heran lagi ketika ada teman yang habis liburan ke luar negeri, pulang bawa oleh-oleh...rokok! Dan dia membanggakan kalau rokok itu harganya mahal banget, jadi rasanya enak (?). 

Tapi namanya juga pergaulan, waktu SMA saya sempat mencoba merokok just for the sake to know what it feels like to smoke. Semoga ayah dan mama saya engga baca blog ini #eaaa But I don’t like it. Terutama saya engga suka kalau beli, karena masih berprinsip mending beli pentol. Hidup pentol!

Waktu berlalu, dan karena saya belum masuk golongan perokok, saya dengan mudah berhenti merokok. Lupa sama rokok dan segala permasalahannya, sampai saya magang di perusahaan rokok. Disini, saya sempat belajar tentang industri rokok dan cerutu. Kalau dulu saya mencoba merokok, sekarang saya mencoba menghisap cerutu. Tapi mahal bok! Bisa sekitar 50ribu-60ribu per batang. Jadi sekali lagi, mending duit segitu dibeliin apaaa? Yak, tepat sekali, pentol!

Lucunya, baru setelah lulus kuliah, saya baru sadar kalau Indonesia ini surga buat perokok. Tahu dong kalau sampai beberapa bulan yang lalu, orang masih bebas merokok di kereta kelas ekonomi dan stasiun. Saya mulai merasakan ‘neraka dunia’ karena saya sering menggunakan kereta untuk pergi keluar kota.

Tak hanya di stasiun. Di warung kaki lima sampai restoran kelas atas pun, sister bisa menemukan orang merokok. Di kampus! Ya Allah! Ini parah banget! Engga tau juga kemarin-kemarin saya ngapain aje, kok ya baru sadar kalau banyak mahasiswa nongkrong di kampus terus ngerokok dengan tenangnya. (Oh ya, waktu saya S1 dulu, kebanyakan teman saya tidak merokok, atau mungkin mereka merokok tapi tidak di depan saya.)

Sementara itu, asma saya semakin sering kambuh. And that’s how I hate smokers dan antek-anteknya. Sampai bersumpah pokoknya saya engga akan menikah dengan perokok. Kalau orang lain nanya sama gebetan, “kamu Islam?”, yang pertama saya tanyakan, “kamu merokok?” Engga lah, bercanda woy. Tapi segitu itu saya benci rokok, baunya, perokok, endebre endebre.

Yang paling bikin sebel dari semua itu adalah, sebenarnya saya tidak masalah sama sekali ketika ada yang merokok. Tapi mbok ya, merokoknya jangan di depan orang-orang yang tidak merokok. Merokok itu hak asasi panjenengan, oke deh. Tapi saya juga punya hak akan udara yang bersih. Makanya ada yang paling ngeselin dari perokok, yaitu perokok yang egois dan berpikir dunia hanya miliknya seorang – yang lain ngontrak!

Terus kenapa judulnya ada kata ‘pesugihan’? Because I think it’s a tragical situation when too many people struggling for improving their financial situation (read: trying to be rich), but then burning their money in the forms of cigarettes.

Mungkin kamu bisa bilang ‘kamu sirik aja prim, itu kan duit mereka, beli rokok juga engga minta kamu.’ Iya bener banget, tapi kenyataan di lapangan menyebutkan bahwa begitu banyak orang masih hidup dibawah garis kemiskinan tapi mereka ngebelain buat beli rokok. Ujung-ujungnya, that thing kills their family. Engga nyadar kalau asap rokok yang bikin anaknya sakit-sakitan. Tahu sendiri kalau uang sepuluh-dua puluh ribu sangat berharga buat mereka, tapi mereka memilih untuk membakar uang itu demi kesenangan sesaat daripada buat ngebiayain anaknya sekolah.

And then, orang kaya boleh ngerokok, gitu maksudmu? Engga juga! Apalagi kalau kayanya lewat pesugihan. Asal tahu saja, syarat buat ngedapetin uang dari pesugihan itu banyak, berlapis, dan kadang rumit. Tapi ya mungkin juga karena uangnya udah terlanjur engga barokah, habisnya cepet. Zzz.

I know that changing habit is difficult, but sometimes I find smokers just too lazy to do that. Too ignorant. Too careless. Too selfish. Pertanyaan bertahun-tahun itu kan belum pernah terbantahkan, ‘kalau kamu yakin merokok itu sehat (atau setidaknya ada gunanya), why don’t you teach your kids to smoke?’ It’s because they are SURE that smoking is NOT HEALTHY AT ALL. Bahkan ayah saya yang akhirnya bisa berhenti setelah sekian tahun berjuang, sibuk melarang adik saya merokok. It’s because my dad loves my brother so much.

Memang saya belum punya jawaban jika kamu bertanya, ‘jika industri rokok mati, buruhnya harus kerja apa?’ walaupun saya yakin rezeki itu dari Allah. Pasti akan ada bantuan untuk orang-orang yang mengejar manfaat dan menghindari mudharat. Mungkin saya harus bikin pabrik (pentol) untuk menampung mereka. Mungkin saya harus memberikan pelatihan menulis supaya mereka bisa jadi copywriter and make money from that. Mungkin kamupun juga harus mulai memikirkan kontribusi apa yang harus kamu berikan agar Indonesia ini tidak jadi surganya perokok untuk selamanya.

But if you want to know, is there an urgent thing that has to be done NOW? I’d said, please support this project. Saudara/i muslim kita di Chiba, Jepang, sangat membutuhkan bantuan dana karena mereka hendak membeli gedung untuk dijadikan mushola dan halal shop secara semi permanen. Masih setengah jalan dari kebutuhan dana, dan waktunya kurang sekitar sebulan (sampai akhir September). Kalau kamu merokok dan mau menyisihkan dana rokokmu selama sebulan sebanyak lima puluh persen untuk diberikan ke project ini (syukur-syukur kalau bisa 100%), I believe it will be much better. Kamu pun jadi punya alasan untuk tidak merokok, dan lebih sehat karenanya. 

Pic from here.

Ingat juga untuk men-share link ini di media sosialmu. Berapapun bantuanmu, insyaAllah akan berguna. Semoga Allah berkenan menggenapkan dan melunasi hutang tersebut, agar saudara/i kita bisa sholat dengan tenang dan khusyu’. Amiiin.

Salam,
Prima

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...