Tanggal pernikahanku sudah di depan mata. Tadi sore
aku melakukan fitting gaun pengantinku untuk yang terakhir kali. Semuanya sudah
pas, tinggal aku berjuang untuk mengempeskan perutku yang sedikit buncit.
Sebenarnya aku sudah cukup langsing – namun karena stres, akhir-akhir ini aku
cukup banyak makan makanan manis. Aku sudah membuat janji dengan personal
trainerku di gym. Mulai besok, aku akan menambah pola olahragaku agar aku bisa
tampil sempurna pada hari H.
Undangan sudah disebar. Beberapa teman berhalangan
hadir dan berpesan akan mengirimkan kado. Beberapa yang lain sangat excited dan
berkata akan segera memesan tiket ke Yogyakarta. Memang sulit ketika kamu
memiliki begitu banyak teman dari berbagai kota. Akan tetapi, aku ingin berbagi
kebahagiaanku dan kedatangan mereka akan sangat berkesan untukku, melebihi
apapun kado yang mereka berikan.
Bukannya aku tidak menghargai kado berupa barang.
Nanti sesudah aku menikah, aku akan pindah ke rumah suamiku yang sudah ia
tinggali dua tahun terakhir. Namanya juga lelaki. Sejauh ini aku lihat rumahnya
sangat rapi, atau bisa dibilang...kosong. Tempat tidur, lemari, meja makan,
kulkas, hanya sebatas itu perkakas yang ia miliki. Kalau saja aku bisa
mendapatkan mixer, oven, atau set pisau sebagai hadiah pernikahan, tentu aku
akan sangat senang. Aku memang hobi memasak, dan banyak teman yang memuji cake
buatanku.
Aku mengecek handphone dan hendak mengirim pesan
kepada sahabatku. Ia sudah berjanji menemaniku untuk mengambil souvenir yang
sedianya akan diberikan kepada para tamu yang datang pada malam pengajian. Saat
itulah sebuah pesan masuk.
“Kamu mau nikah kok engga bilang?”
Deg! Aku terkejut setengah mati. Nomer ini...nomer
handphone mantan pacarku. Aku sudah menghapusnya dari phone book, tapi aku akan
selalu mengingatnya. Balas...tidak...balas...tidak. Sebuah pesan lain masuk.
“Bolehkah aku bertemu denganmu untuk yang terakhir
kali?”
Terlambat, ia menelepon. Entah mengapa, aku langsung
memencet tombol hijau.
“Halo.”
Suara itu. Suara yang dulu – sepertinya sampai sekarang
– selalu membuatku luluh. Suara yang dulu – selalu menenangkan aku dan
membuatku tertawa. Suara yang dulu selalu membangunkan aku di pagi hari, dan
mengucapkan ‘have a nice dream’ setiap malam.
“Halo, apa kabar?”
Ia mengulanginya.
Sedetik kemudian, aku merutuki diriku sendiri yang
menjawab panggilan itu, merespon “baik”, lalu menanyakan kabarnya juga. Sejam
berikutnya, kami mengakhiri telepon, dan aku merasa sangat sangat bersalah.
***
Esok paginya, sahabatku muncul di ruang tamu.
“Aku minta maaf,” itu kalimat pertama yang keluar dari
mulutnya.
“Aku tidak tahu kalau dia mantan pacarmu. Aku pikir
dia hanya kolega kerjamu.”
Sahabatku yang memiliki networking yang luas, tak
sengaja bertemu dengan mantan pacarku pada sebuah event. Mengetahui bahwa kami
sedang melanjutkan kuliah di sekolah pascasarjana yang sama, mantan pacarku
bertanya dengan sederhana, apakah sahabatku mengenalku.
“Awalnya dia bercerita bahwa dia bekerja denganmu
untuk sebuah proyek, namun tiba-tiba kamu menarik diri dan sekarang dia menawarkan
posisi itu untukku.”
Ingin aku berteriak, ‘terus kenapa kamu bilang ke dia
kalau aku akan menikah?’
“Ya aku bilang casual saja, kamu sudah bertunangan dan
akan menikah, mungkin karena itu kamu berhenti bekerja.” Sahabatku bisa membaca
pikiranku. Bukan salahnya karena dia begitu ramah dan santai, justru karena
itulah aku cocok bersahabat dengannya. Aku membutuhkan orang seperti dia untuk
mengimbangi diriku yang mudah tegang dan perfeksionis.
Alih-alih marah dan mengusirnya dari rumah lalu
menenangkan diri di kamar, aku malah membuka semuanya ke sahabatku. Tentang
pertengkaran aku dan tunanganku, tekanan dari keluargaku, keinginan pribadiku
agar semuanya serba sempurna pada hari pernikahan...sampai hubunganku dengan
mantan pacarku.
“Tunggu, kamu sama tunanganmu kan sudah pacaran dua
tahun?” Ah iya, ada satu hal yang belum aku ceritakan ke dia.
“Kami tidak pernah putus secara baik-baik. Selama ini,
dia masih menganggap aku miliknya.” Mulut sahabatku membuka, tanda tak percaya.
“Tidak ada masalah mendasar diantara kami. Dia
memperlakukan aku dengan sangat baik, dia mendukung impianku...”
“Aku tahu dia seperti apa. He is a true gentleman and
you were lucky to be with him. Lalu?” Sahabatku memotong. Kalau ada satu
keahlian mantan pacarku yang aku benci adalah caranya menciptakan kesan pertama
yang sangat mempesona, apalagi di hadapan perempuan. Mungkin ia tak pernah
berniat menggoda, tetapi tetap saja perempuan bisa mengartikan lain.
“Kami hanya berbeda agama.”
Muka sahabatku pucat.
“Itu engga ‘hanya’... Itu sesuatu yang teramat besar
dan prinsipil.”
Kami terdiam sekian lama.
“Besok dia ke Jogja, kami akan membicarakan kelanjutan
proyeknya. Apa dia bilang ke kamu?”
Aku tidak menjawab.
“Jangan temui dia lagi. Apapun yang terjadi dengannya,
itu sudah berlalu. Sekarang kamu sudah memiliki seseorang yang siap membangun
masa depan denganmu. Kamu harus menghormatinya.”
Usai sahabatku berpamitan, aku mengetik pesan. Aku
akan segera mengirimnya sebelum berubah pikiran.
“Hai, sahabatku sudah menemuiku dan kamu harus
mempekerjakannya. Dia pekerja keras dan akan bisa membantu bisnismu untuk
berkembang. Tapi, maaf. Aku rasa kita tidak sebaiknya bertemu. Seperti
sahabatku bilang, aku akan menikah dan aku sangat mencintai calon suamiku. Aku
berdoa semoga kamu segera bertemu dengan seseorang yang akan mencintaimu lebih
dari aku dulu.”
Satu jam, dua jam, tiga jam. Tidak ada balasan. Hingga
berhari-hari kemudian, tidak ada balasan. Ketika aku melihat pertemuan
sahabatku dengannya di Path, aku menahan diri untuk tidak bertanya. Apapun yang
terjadi diantara kami sudah berakhir, dan aku siap memulai lembaran baru dengan
calon pasanganku. Meskipun mungkin mantan pacarku lebih baik darinya, pada
akhirnya calon pasanganku yang menawarkan komitmen dan tanggung jawab.
Sebagaimana calon pasanganku mau menerima kelebihan dan kekuranganku, akupun
harus bersedia melangkah bersamanya.
Besok aku akan melangsungkan pernikahan. Aku tidak
menerima balasan apapun dari mantan pacarku. Bukannya aku menunggu. Sahabatku
juga tidak pernah membicarakannya, walaupun sepertinya proyeknya lancar. Akupun
enggan bertanya. Benar kata orang bahwa mantan adalah salah satu godaan yang
akan muncul menjelang pernikahan. Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apa
yang akan terjadi jika aku mengizinkan diriku menemuinya. Apakah aku masih akan
berada disini hari ini. Namun, aku bersyukur aku masih kuat dan mampu berpikir
jernih.
Dear mantan, thank you for letting me go. Semoga
kamupun segera menemukan kebahagiaanmu sendiri.
Hmm... ternyata kamu berbakat juga bikin fiksi. Coba dibikin twist dikit di akhir cerita say, biar ada gregetnya, hehe. Btw, kenapa pas aku baca tentang si tokoh 'aku' ini, kayak sedikit menohok... suka masak, putus ga baik2 sama mantan.. he he he. Keep on moving! ;)
ReplyDeleteawww, makasih Kak. sayangnya karena bukan fiksi jadi enggga kepikiran bikin twist, next time deh :))
ReplyDelete