Sunday, January 4, 2015

#1Day1Dream: Mari Lari!

Pic from here.

Perkiraan Pencapaian: Oktober 2015 (!!!)

Salah satu hal yang biasanya jadi resolusi tiap orang ketika berganti tahun adalah... turun atau naik berat badan. Dan biasanya sih, gagal total soalnya ga ada langkah nyata yang diambil. *siul siul

Sayapun demikian. Rasanya yang namanya ‘berat badan ideal’ tidak pernah luput dari resolusi sejak beberapa puluh tahun yang lalu #lebay. Tapi yaaa namanya juga ga pernah olah raga, makan juga segitu-gitu ga ada pengurangan, jangan harap timbangan bisa berada di angka 50 (ups, sekarang berapa? La-ha-ci-a).

Pinginnya sih, tahun 2015 ini ada suatu terobosan baru di kehidupan saya; dalam artian, gaya hidup sehat yang benar-benar sehat deh. Ada beberapa langkah kecil yang ingin saya terapkan untuk hidup sehat versi saya:

1. Tidur lebih awal, maksimal jam22.00. Artinya jam21.30 udah harus naik ke tempat tidur.

2. Tidur malam yang berkualitas. Oya, saya seriiing banget mengalami mimpi buruk, entah kenapa :( Sudah baca doa sebelum tidur, ayat kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas.. tetep deh. Frekuensi mimpi buruknya seminggu bisa sampai tiga kali lho. Konon, hal ini disebabkan oleh kebanyakan pikiran, maklum ya orang sibuk. Tapi saya sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencari solusi. Doakan saya yaaa~

3. Tidak tidur lagi sesudah sholat subuh. Dulu, waktu masih kerja, hal ini cukup sulit karena saya masuk kantor jam08.00, dan perjalanan dari rumah ke kantor membutuhkan energi ekstra (untuk menghadapi kemacetan). Jadi, groook, saya bobok lagi deh habis tahajud dan subuhan. Dua hari terakhir, saya sudah mencoba untuk tidak tidur lagi setelah subuhan. Soalnya, saya lagi ngerjain essay untuk syarat daftar S2 dan saya membutuhkan suasana yang tenang, yang hanya bisa saya dapatkan di pagi hari. Mudah-mudahan bisa bertahan sampai besok, besoknya lagi, dan seterusnya. Amiiin.

4. Kalau mampu tidak tidur lagi, insyaAllah bisa jogging pagi hari. Kalau di rumah tante di Jogja, hal ini cukup sulit untuk dilakukan, mengingat udara sejuknya yang bikin mager (males gerak). Tapi harus berusaha! Demi perut dan paha yang lebih ramping! Ha!

5. Mengurangi ngemil; memperbanyak buah dan sayur. Ya Tuhan ini sulitnya bukan main untuk saya, huhuhu. Percayalah kalau porsi makan saya tuh ga banyak tapi mulut ini gatal kalau ga ngunyah. Padahal saya rawan diabetes jadi pola makan harus dibenerin sebelum terlambat, naudzubillah. Sekarang sih saya udah nyimpen nomer telepon untuk katering diet mayo dan green smoothies di Jogja. InsyaAllah kalau sudah mulai kuliah (yang artinya akan tinggal di dekat kampus), saya bisa berlangganan katering disini.

Selain langkah-langkah diatas, ada satu hal yang saya kejar di tahun ini, yaitu... mengikuti World Muslimah Run 2015 di Singapura. Seperti impian saya yaitu les bahasa Korea di Korea, ikut acara ini mengaplikasikan peribahasa ‘sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui’. Hihihi.

Pertama (dan terakhir kalinya) saya ke Singapura itu waktu tahun 2003. Pasti banyak banget yang sudah berubah. Saya pingin ke Garden by the Bay, Marina Bay Sands, dan lain-lain. Atau cuma nongkrong cantik di Orchard Road aja gapapa deh, yang penting ke Singapura. 

Selain itu, saya pingin menguji kemampuan kesehatan saya. I hate running, but I know it’s good for my health. Bagi orang yang sering sesak napas seperti saya, saya harus melakukan sesuatu untuk meningkatkan kesehatan sistem pernapasan saya. Salah satunya adalah dengan berlatih lari. 

Target saya ga muluk-muluk kok. Saya hanya ingin menyelesaikan Fun Run sepanjang tiga kilometer. Tapi harus lari terus menerus ya, ga boleh curi jalan santai, hehehe. 

Kuncinya ya cuma satu sih, latihan! Badan ga pernah dibawa olahraga gini, bisa kaget lah kalau tiba-tiba disuruh lari jauh. Jadi mari kita merencanakan untuk latihan lari pada minggu pagi yang cerah di GSP UGM. Tapi sebelumnya, nabung dulu buat beli sepatu lari yang bagus #yeee #alesan

Anyway, salah satu motivasi lain kenapa saya pingin ikut World Muslimah Run adalah...saya ditunjuk sebagai representative untuk Indonesia!!! Gara-garanya sih waktu tahun lalu saya sempat kirim CV ke salah satu event organizer di Singapura untuk sebuah event, eh gataunya malah ditunjuk sekarang. Jadi, ini adalah satu kesempatan untuk menunjukkan reputasi saya, mwahahaha #ApaanSihPrim

I'm gonna tell you more once I get complete information about the event. Tapi, pada akhirnya, saya berharap setelah sukses lari sekali, saya bisa mempertahankannya, minimal seminggu sekali deh. Jadi gimana, ada yang mau kasih endorse sepatu lari? #tetep #ngarep :)))

Salam sehat,
Prima

Friday, January 2, 2015

#1Day1Dream: Memiliki Hotel Syariah

Berenang di The 1O1 Yogyakarta

Perkiraan Pencapaian: sebelum usia 50 (lima puluh) tahun, Tahun 2038

Saya amat sangat suka berenang. Padahal, saya tidak begitu suka berolahraga - faktor badan udah menggendut kali ya, dibawa ngapa-ngapain udah males #lhah. Selain itu, saya juga ga suka keringetan. Aneh deh, padahal dalam hati pingin juga bisa jago main tenis atau ikutan lari cantik biar jadi hipster.

Jadi, berenang adalah olahraga paling cocok untuk saya. Apalagi kalau sambil ngobrol dengan teman-teman di pinggir kolam, terus ngemil kentang goreng dan minum jus jambu, wah pasti tahan berjam-jam #MakinNgaco #SalahFokus

Menurut saya, tempat paling asyik buat berenang ya.. di hotel. Soalnya nih, kolam renang di hotel ga begitu ramai seperti di kolam renang umum, kecuali pada masa liburan. Hotel, terutama bintang tiga keatas, punya kolam renang yang ga cuma memenuhi standar keselamatan dan kebersihan; tapi desainnya juga cantik dan sangat nyaman, bahkan untuk kita sekedar rehat di tengah-tengah berenang atau duduk-duduk setelahnya.

Kalau ada peribahasa ‘sambil menyelam minum air’, berenang di hotel punya prinsip ‘sambil berenang bisa (bikin) foto-foto keren’. #eaaa

Sayangnya, di Indonesia, jarang banget ada hotel yang punya kolam renang khusus perempuan. Ya menurut ngana aja, profit bisa turun kalau kolam renang hotel cuma dibuka untuk perempuan. Selain itu, masalah dengan kolam renang khusus perempuan juga meliputi staf yang menjaga kolam renang tersebut; serta infrastruktur yang mendukung keberadaan kolam renang tersebut. Misalnya, kolam renang tersebut kemungkinan besar harus indoor. Kalaupun outdoor, di sekelilingnya tidak boleh ada bangunan yang lebih tinggi. Lha kalau bisa ngintip ke dalam kolam renang, sama aja bohong dong. Hehehe.

Kolam renang khusus perempuan tentu penting untuk saya yang berhijab, bahkan yang tidak berhijab pun rasanya juga akan senang dengan ide ini. Jujur, berenang dengan mengenakan bergo atau inner hijab seperti yang biasa saya lakukan, kurang nyaman. Apalagi, saya ngerasa kalau berenang pakai legging dan manset itu kurang tepat, meski biasanya saya tetap pakai kaos luaran lagi. Setelah basah, tetap ketat kan? 

Jikalau kita bisa menemukan cara untuk berenang dan tetap berhijab (agak) syar’i seperti yang dilakukan Fitri Aulia dengan basic dress-nya, rasanya tetap aneh berenang bareng para laki-laki. Tentu saja, kita kan ga bisa membatasi baju renang mereka. 

Setahu saya sih, di negara-negara seperti Uni Emirat Arab atau Qatar, mereka punya spa khusus perempuan, lengkap dengan pantainya! Yup, jadi di spa tersebut, mereka punya area pantai yang ditutup khusus untuk customer spa! Ngebayanginnya aja udah bikin saya hepi banget..

Selain kolam renang khusus perempuan, saya juga pingin punya hotelnya sekalian. Teman-teman mungkin sudah tahu bahwa saya sedang membantu tante untuk mengelola Griya Gunawan Sumodiningrat, yang bikin saya sadar bahwa industri penginapan di Indonesia ini laku banget lho. Terlebih, di kota-kota besar yang menjadi tujuan wisata, pendidikan, atau pusat pemerintahan. Sebut saja Yogyakarta dan Malang. Wuih, kayaknya hotel-hotel di kota ini pada pakai CV yang sama, CV. Bandung Bondowoso, jadi pembangunan hotelnya kelar dalam semalam #krik

Tapi, hotel di Indonesia punya masalah yang sama dengan kolam renang khusus perempuan. Saya ga paham kenapa staf hotel yang perempuan hampir selalu mengenakan baju yang cukup ketat dan mini. Kalau memang hal ini adalah untuk kepraktisan, jadi mereka bebas beraktivitas, hmmm mungkin ya.. Saya sih risih lihatnya, mohon maaf lahir bathin kalau teman-teman lain tidak merasakan hal yang sama, hehehehehe. 

Saya percaya, bisnis-bisnis islami juga lagi berkembang banget. That’s why, saya pingin punya hotel syariah yang tidak hanya bisa memberikan kenyamanan secara fasilitas, tapi juga ketenangan dalam hati. Saya tahu EastParc Hotel Yogyakarta tidak menjual minuman beralkohol di restoran, dan tentunya salut untuk mereka. EastParc Hotel adalah salah satu acuan saya; kebetulan pemiliknya juga berhijab dan saya pernah berbincang dengannya. 

Kenapa menunggu usia 50 tahun? Soalnya saya mau belajar terlebih dahulu, hihihi. Saya punya target pribadi untuk Griya Gunawan Sumodiningrat, dan sepertinya saya membutuhkan minimal 2-3 tahun untuk bisa membuatnya mandiri dan bisa didelegasikan. Selepas itu, saya juga butuh waktu untuk membuat rancang bangun, mencari lokasi, dan mengumpulkan modal. Mungkin, mungkin lho, kalau ada yang mau jadi investor, saya pingin membangun kolam renangnya duluan. Ya, insyaAllah dalam 10-15 tahun kedepan bisa lah ya.. 

Terakhir, harapan saya, hotel ini cukup besar untuk menampung banyak karyawati. Saya ingin sekali menekan angka TKW, terutama agar mereka lebih dekat dengan keluarga di Indonesia. Semoga ya ;)

Love,
Prima

Thursday, January 1, 2015

#1Day1Dream: (Minimal) Satu Kebaikan Setiap Hari


Sebelum saya menjabarkan impian-impian saya mulai besok, izinkan saya mengawalinya dengan impian terbesar saya, yaitu: meninggal dengan khusnul khotimah. Masalahnya, karena impian satu ini tidak diketahui tenggat waktunya dan kemudian menjadi terlalu luas serta absurd, maka saya merangkainya dengan kata-kata yang (insyaAllah) lebih baik: menjadi pengajar dan pelayan masyarakat seumur hidup.

Ketika saya mulai menuliskan impian saya satu persatu, jujur saya merasa terlalu egois. Saya ingin ini-itu, banyak sekali. Bahkan, kalau dilihat secara garis besar, tidak ada yang berhubungan satu sama lainnya. Bingung kan? Saya juga. Seolah-olah saya tidak memiliki fokus dalam hidup ini, hihihi.

Masalahnya, memang saya ingin melakukan banyak hal dalam hidup ini. Rasanya hidup ini terlalu hambar untuk hanya bisa melakukan satu hal saja. Saya mengagumi mbak Ollie (@salsabeela), hampir semua orang tahu itu. Dia penulis 26 buku, pemilik beberapa bisnis, pembicara, brand ambassador, dan banyak lagi. Apakah dia mencurahkan semua perhatiannya hanya di satu bidang? Tidak sama sekali.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya saya cari di hidup ini? Dan saya menemukan jawabannya, yaitu 3: ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan doa anak yang saleh. Sementara saya belum punya anak – partner beranak aja masih nyari ya bok, maka saya memfokuskan diri ke dua hal pertama.

Mungkin saya bukan orang yang paling pintar, wong ternyata waktu Tes Potensi Akademik kemarin, saya ga bisa ngerjain 10 soal aritmatika dari 40 soal. Bahkan sesuatu yang sering saya banggakan, yaitu skill bahasa Inggris, grammar-nya masih kaccchawww.

Mungkin saya bukan orang yang paling kaya, wah ini jelas bukan sih. Namanya juga sedang jadi pengangguran. Untuk hidup masih amat sangat mengandalkan rezeki dari Allah yang Maha Kaya (kepada siapa lagi?), yang seringnya memberi dari tempat yang tidak disangka-sangka.

Tapi saya mau, setiap ada yang datang kepada saya untuk minta tolong, saya bilang ‘iya’ terlebih dahulu. Masalah cara, dipikir nanti. Yang penting niat nolongin dulu. Saya percaya Allah akan selalu menolong orang yang punya niat baik. That’s why salah satu doa saya adalah, “Ya Allah, jadikanlah saya orang kaya; jika dengan kekayaan itu, saya bisa membantu lebih banyak orang.” Amin dong..

Maka menjadi pengajar bukan hanya tentang menjadi guru dengan sertifikat dan ijazah. Maka menjadi pelayan masyarakat tidak harus menunggu punya gelar Anggota DPRD atau Pejabat Pemerintah (mereka pelayan kita kan..). 

Salah satu pertanyaan pada babak Top 5 di World Muslimah Award 2014 berbunyi, “Apa arti bahagia menurutmu?” Pertanyaan ini digubah oleh salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi UB (tampaknya dia nonton Grand Final WMA2014, hehehe) ketika saya melakukan campus visit dalam rangka Lustrum beberapa minggu yang lalu, “apa arti sukses menurut kakak?”

Bahagia, sukses – simpel buat saya. Makan cukup, tidur cukup, belanja cukup – eh – saya bukan orang yang tamak. Tapi ada satu hal yang lebih besar. Saya tidak tahu apakah saya bisa bangun lagi esok hari, maka hari ini, satu hari yang saya punya, saya ingin berbuat sebaik-baiknya. Membantu orang sebanyak-banyaknya, mendorong orang untuk melanjutkan kebaikan yang telah saya terima, menyampaikan kabar gembira seluas-luasnya. If life has treat us well, then we have to spread the goodness.

Be the candle, or be the mirror that can passing on the light.

Lots of love,
Prima 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...