Wednesday, May 16, 2018

Refleksi Ramadan 1439 H: Menjadi Muslim yang Lebih Berempati

“Kita enggak akan pernah tahu rasanya jadi minoritas kalau enggak pernah ngerasain.”

Saya baru tiba di Jakarta dan driver GoCar ini sudah mulai menceramahi saya. Saya – di sela-sela perasaan mabuk karena baru saja naik kereta dari Surabaya, lanjut KRL sampai Stasiun Pasar Minggu Baru – mengangguk-angguk. Mungkin ia merasa tak mendapat tanggapan, sehingga ia melanjutkan ceramahnya dengan berapi-api hingga kami tiba di kos teman saya di daerah Jati Padang.

What he didn’t know, I actually took some notes from what he said. I just never thought that it will be an urgent topic to discuss for, only two weeks after.

Saya, yang lahir sebagai seorang Muslim dan besar di Jawa, tidak pernah menyadari bahwa menjadi mayoritas adalah sebuah privilese. Sampai suatu waktu, seseorang berkewarganegaraan Amerika bertanya kepada saya, “how does it feels to be a Muslim in Indonesia?That American girl, now converted to Muslim, was the first person ever who reminded me that it’s GREAT to be a Muslim in Indonesia.

Tak lama sesudah pertanyaan itu muncul dan mengisi benak saya selama berhari-hari, saya menjalani karantina World Muslimah Award 2014. Bersama sekitar 17 finalis lain dari Inggris, Iran, India, Bangladesh, Trinidad & Tobago, Tunisia, Malaysia, Singapura, dan Nigeria; kami bertukar kisah tentang menjadi Muslim di negara masing-masing. And you know what? The hardest thing of being a Muslim is not receiving the poor treatment from non-Muslim, but from our own brother/sister. My roommate was Dina Tokio from England, and if you see her style, I won’t be shocked to know she is judged a lot by other British Muslims. Ya memang, sang pemenang, Fatma dari Tunisia, banyak menerima perlakuan tidak adil saat dia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Perancis. Dia sempat mengatakan, “betapa enaknya kalian Muslimah Indonesia bisa berhijab dengan santai dan tenang. I can’t.” Tapi selepas itu, perlakuan paling keras ‘biasanya’ adalah dari kalangan Muslim sendiri.

Saya pun merefleksikan pengalaman ini dengan hari-hari saya selama menjadi volunteer di Ubud Writers & Readers Festival. Entah kenapa, berinteraksi dengan rekan-rekan yang Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, tak beragama, tak bertuhan... terasa ‘alami’. Mungkin karena kami tidak pernah ‘menyenggol’ hal-hal yang bersifat prinsipil. Kamu mau nge-bir, terserah. Enggak nge-bir, ya enggak ada yang maksa juga. Pernah juga volunteer pada mau makan malam, nungguin saya dulu yang harus mengkhatamkan Alquran (nanggung nih, udah setengah jalan juz 30, hehe). Sekumpulan orang dewasa yang berkumpul dengan membawa prinsipnya masing-masing, tahu apa yang perlu dikatakan dan apa yang tidak.

Loncat ke peristiwa pengeboman di Surabaya, I was devastated. Really. Saya tak sanggup berkata-kata karena saya rasa kita semua tahu, Surabaya adalah salah satu kota paling damai di Indonesia. Candaan datang silih berganti, bahwa Surabaya adalah kota paling ‘seru’, karena di mana lagi Jawa-Madura-Cina-Arab-dan kelompok lain bisa hidup berdampingan dengan rukun? Sejak menjadi perwakilan Surabaya untuk World Scout Jamboree dan harus satu regu dengan anak pesantren PLUS anak Sekolah Ciputra PLUS anak Sekolah Al-Azhar, saya semakin mengerti perbedaan itu garis tipis yang menjadi pilihan: kita mau mempermasalahkannya atau tidak? Toh pada akhirnya kami makan sepiring dan tidur setenda. Bayangin kalau enggak saling percaya, bisa-bisa w kudu tidur di luar tenda.

Itulah yang kerap mengherankan saya. Kalau kata Koh Ryan Gozali, “orang sering salah memaksakan uniformity, sementara kita harusnya memperjuangkan unity.” Saya bukannya tidak menutup mata banyak anak yang didoktrin dengan keyakinan bahwa agama/kelompoknya adalah yang paling baik. And this is not only about Muslim. Dulu ada anak kecil yang sering ikut kegiatan Persema Malang (saat itu saya menulis skripsi tentang pesepakbola asing), yang tiba-tiba bilang ke saya, “Kak Prima, you should be a Christian. If not, you’ll go to hell.” Mamanya marah ke dia, saya sih ketawa santai aja.

Akan tetapi, saat kita tumbuh dewasa, bukankah seharusnya kita menjadi paham bahwa kita tidak bisa tidak membutuhkan orang lain – dalam artian, dari agama lain juga? Let say kamu ke rumah sakit dan menegaskan, “saya hanya mau ditangani dokter yang Muslim!” Wadaw, sedih kali w, secara operasi gigi geraham tiga kali w lakukan di Rumah Sakit Panti Rapih yang jelas-jelas rumah sakit katolik. Atau waktu kamu ngurus SIM dan ngomong, “saya hanya mau diuji oleh polisi yang Muslim!” Mbak, mas, pindah aja ke Suriah.

Berkebalikan dengan pandangan orang yang mengatakan teroris tidak punya agama, saya yakin setiap teroris PASTI punya agama. Kenapa saya bilang pasti? Karena mereka mengejar suatu ganjaran yang tidak ada di dunia. 72 bidadari adanya di mana? Surga adanya di mana? Itu kan kehidupan sesudah mati, dan umumnya yang percaya kehidupan sesudah mati itu yaaa orang-orang beragama. Tapi sebelum saya diprotes banyak orang, kemarin saya diingatkan oleh seorang pendeta, “mbak Prima, yang namanya ekstremis ada di semua agama kok.”

Terus kenapa Muslim disinyalir sebagai teroris? Karena, uhuk uhuk, kebetulan kita mayoritas di negeri ini. Mau menutup mata sampai kapanpun, kita akan selalu dengar berita orang bercadar dan bercelana cingkrang jadi pelaku pengeboman. It’s all about the numbers, karena kebanyakan pelakunya begitu. Bukan, bukan berarti saya menjustifikasi SEMUA orang bercadar begitu. Tapi, ada baiknya kita – terutama Muslim – mengintrospeksi diri sendiri. Have you ever realize that you got the privilege and it might hurt the minority a bit?

Mumpung kita akan memasuki Ramadan, ada baiknya kita (saya juga) mengindahkan beberapa hal berikut:

1. Inti Agama Islam Adalah: Hablumminallah dan Hablumminannas
Please, jangan dikurang-kurangi dengan meniadakan salah satunya. Hablumminallah itu penting, tapi hablumminannas tak kalah penting. Hablumminannas itu mendesak, tapi hablumminallah juga merupakan tanggung jawab kita kepada Sang Pencipta. ‘Penyakit’ orang Islam nih, maaf – sekali lagi maaf, kebanyakan mikir ibadah khusus, apalagi ngurusin ibadah khususnya orang lain. “Kamu enggak sholat/berhijab?” adalah pertanyaan yang lebih sering terdengar daripada, “kamu enggak berkata baik?” Kan pernah tuh ada yang menyindir, ‘giliran orang kumpul kebo aja rame, pas ada orang KDRT diem-diem bae katanya urusan masing-masing.’ Bukan saya tidak menganggap dakwah itu baik ya, tapi ajaran agama itu suatu kesatuan. You can’t pray and then you treat people poorly.

2. Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu Sifat Allah
Ayo, pelajari lagi asmaul husna... Kalau perlu bisa cek post-nya @muslimahsinau (hehehe, promosi). Maybe my mom can predict the future, that’s why she named me Rahma and my sister Rahmi. Makanya saya pengin mengasihi orang aja bawaannya, cuma yang mau dikasihi aja ga ada. Eaaa. Islam itu tegas, iya. Islam itu strict, iya. Tapi pada dasarnya Allah mengasihi dan menyayangi semua makhluk, dan Ia sering menegaskan itu dalam Alquran. Jadi kalau ada Muslim yang tidak kasih dan sayang, hmmm perlu dicek kembali.

3. Sholat itu Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar
Ini murni pemikiran saya yang sotoy ya, tapi saya pikir... Sholat dibuat lima kali sehari agar di antara waktu itu kita berusaha keras menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah. Sayang lah, sudah sholat masa berbuat zalim? Ya zalim ke diri sendiri, ke orang lain, ke lingkungan. Nyesek ga, kalau ada orang yang bilang, “woy ngapain lu sholat? Kenyataannya mulut dan kelakuan lu selalu nyakitin.” So, let’s check our prayer, shall we?
 
4. Perhatikan Pergaulanmu
Ini ya, kalau kamu hampir selalu curiga sama orang yang ‘berbeda’, you simply need a picnic. Yang jauh. Biar kamu tahu ada lho ‘bentukan’ manusia yang enggak kayak kita. Kalau kamu mikir yang namanya orang Papua itu pasti (maaf) terbelakang, dan orang kulit hitam pasti penyanyi hip-hop, mainmu kurang jauh saaay. Atau – kebanyakan temanmu pikirannya cupet pula.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” – Q.S. Ar-Rum (30): 22

No I don’t only pointing this to Muslim. Saya punya teman, yang dari mbrojol sampai kerja, enggak pernah punya teman selain Chinese atau Kristen. I was her FIRST Muslim friend, dan dia bilang, “selama ini aku kira Muslim itu enggak asyik, tapi kamu mengubah pemikiranku.” Cieh.

5. Kurangilah Menghakimi Orang yang Tidak Sama Denganmu
Hanya karena saya saat ini tidak belum berhijab syar’i, it doesn’t mean I am less Muslim than you are. Masa iya saya harus selalu mempertontonkan sholat, ngaji, dan sedekah saya? Yang bikin saya kzl, kalau saya yang ‘gini’ sudah dihakimi setengah mati, gimana yang belum berhijab? Saya enggak sanggup membayangkan. Kita ini saudara lho, saudara enggak menghujat satu sama lain. Allah saja meminta Nabi Musa berbicara dengan lembut kepada Fir’aun. Apakah saudaramu itu sudah sekafir Fir’aun?

“...maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.". (Q.S. Thaha 20: 44)

6. Cobalah Menjadi Minoritas
Kalau semua tips di atas enggak berhasil di kamu, coba tinggal sebulan di Timbuktu. Atau enggak usah jauh-jauh, di Bali deh. Yang pelosok ya, yang enggak ada masjid, yang susah untuk dapat makanan halal. Biar kepekaanmu bertumbuh dan bisa merasa empati ke orang-orang yang mengalami tekanan seumur hidupnya. Kalau sudah tahu enggak enak, insya Allah pikiranmu akan lebih terbuka.

Mungkin akan ada yang merasa, “buset, tulisan Prima kasar banget.” Baik, maafkan saya. Kadang manusia butuh ditampar terlebih dahulu untuk bisa melihat dengan lebih jelas. Dan ini, merupakan tamparan saya kepadamu, agar kita semua bisa hidup dengan damai di Indonesia. Remember, we only have ONE country, ONE place to live and die, ONE hope. IndONEsia.

Lots of love,
Prima

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...