Wednesday, April 15, 2015

Don't Get Married (2)

H-2 deadline pengumpulan tugas UTS, dan otak saya rasanya sudah melepuh saking lelahnya #lebay

Beneran, semaleman cuma ubek-ubek footnote, reference, dan daftar pustaka aja.. ga kerasa dua jam udah lewat. Alhamdulillah ada dua yang siap print. Yang dua lainnya masih kurang printilan kecil-kecil. Hari ini kelar lah, AMIN YA ALLAH!

Anyway, akhir-akhir ini saya mulai keranjingan lagi sama Criminal Minds. Kalau weekend lalu, saya sempat menghabiskan sekitar tujuh episode season 10 dalam waktu tiga hari (niatnya selingan ngerjain tugas eh kebablasan…), kemarin saya udah download season 9. Banyak yang udah ditonton sih, tapi sambil menunggu rumah selesai direnovasi dan parabola dikembalikan pada tempatnya, yaudah ceu, nikmati aja.

Hai Mas Spence... ;)
Lucunya, saya ga ngerasa paranoid masalah ada orang yang jahatin saya. Pertama, orang tua saya jelas bukan pejabat pemerintahan atau orang kaya. So, kayaknya ga mungkin banget nyulik saya buat minta tebusan. Salah alamat, Mas. Kedua, saya ngerepotin banget! Makan susah (beda lho sama ngemil :p), mandi kudu di kamar mandi yang bersih, tidur kudu di kasur yang empuk. Ah, yang ada mah saya di-dor aja sama yang nyulik. Huahahahaha.

Menurut saya, apa yang digambarkan sama serial-serial investigasi itu adalah, you kill not because you have a chance. You kill because you are mentally sick. You kill because you hate somebody. You kill because you believe that your life can be more beautiful if abcdefghij and the list goes on.

Lumayan menghibur sih, jadi ga mungkin ada yang namanya ‘peluru nyasar’. Ya kemungkinannya sedikit, meski memang kita tetep harus sangat berhati-hati saat membuka profil diri ke orang lain. Dan pelajaran berharga adalah, be kind to everybody! You don’t know if there is somebody who think you’re ‘deserve’ to be tortured just because you once mocked him/her or so.

Saya nih, malah ngerasa paranoid… jangan-jangan one day I’m gonna marry a psycho. Or… will I be that psycho b*tch? Kalau di Criminal Minds, fokusnya Behavior kan, nah itu seru banget lho sister (buat saya, haha). Selalu ada pemicu pada setiap tindak pembunuhan. Nah, biasanya pemicu itu bukan tiba-tiba ada, tapi lebih kepada membangunkan sesuatu yang sudah lama ada di benak unsub (pelaku, bahasanya Criminal Minds, cieh).

So, why this blog post title is “don’t get married”?

Because, I believe we are not supposed to get married just because our life now is totally a mess. Misalnya, menikah karena keluarga kita tidak harmonis, menikah karena (maaf) kita miskin, menikah karena tugas kuliah banyak banget… itu mah saya #tsurhat

Big NO!

Menikah bukan solusi dari masalah yang ada di hidup kita sekarang. Ya, menikah memang insyaAllah membuat hidup kita menjadi lebih baik, Allah promises us that. Tapi membawa masalah hidup kita ke dalam sebuah pernikahan – dimana pasangan kita juga memiliki masalahnya sendiri – adalah salah satu ‘resep’ untuk membuat pernikahan bak neraka.

Saya pernah baca di dua buku, yang satu Sabtu Bersama Bapak karangan Adhitya Mulya, yang satu lupa judulnya tapi karangan Fufu Elmart dan Canun Kamil; dan saya menarik kesimpulan dari kedua buku itu: if I have a problem, I am the one who is responsible to heal myself. Not my spouse.

Terjemahannya: kalau saya punya masalah, sudah menjadi tanggung jawab pribadi saya untuk menyelesaikannya. Bukan tanggung jawab pasangan saya.

Jadi kalau kamu ngerasa, duh sekarang boros banget, nanti nikah pasti hemat kok. Atau, duh sekarang males banget, nanti nikah pasti rajin kok. Kayaknya, itu bakal jadi angan-angan semata deh.

Beruntunglah kamu yang sudah menikah dan ternyata memang menikah memang menjadikan kamu lebih baik. Tapi, gini lho, itu bukan sesuatu yang harus kamu limpahkan sepenuhnya ke pasangan kamu. Itu tugas kamu sendiri untuk jadi seseorang yang lebih baik.

I change because I want to, not because somebody asks me to.

Kayak gitu. Ngerti?

Hubungannya sama Criminal Minds apose kokondao prim? Ya itu tadi. You thought that marriage might makes your life better and then you forget about the problem in you. But suddenly comes a trigger and then boom, you kill someone.

Hahahahahaha, ekstrim banget yak contohnya. Tapi ga usah nunggu bunuh-bunuhan deh. Berapa banyak pasangan yang kemudian jadi ga harmonis hanya karena satu orang ngerasa punya masalah dalam dirinya?

Makanya, buat para singlewan-singlewati, coba deh kalau sekarang ngerasa punya banyak masalah, clean up your surroundings. Banyakin kumpul sama orang-orang positif. Think positive thoughts, talk positive words, do positive acts.   

Talk to Allah, seek help from professionals or trusted person. Saya percaya sebagaimana setiap penyakit itu ada obatnya, setiap masalah insyaAllah ada solusinya. Yang ada sekarang, dimana kamu mencari solusi itu?

Semoga dimudahkan Allah dalam mencari solusi yang baik dan benar, yang diridhoi oleh-Nya :)

Lots of love,
Prima

P.s.: gara-gara UTS, saya lagi stuck banget nih buat nge-blog. Ada yang mau sharing sama saya, nanti jawaban saya akan saya bagikan di blog. Jadi mungkin saran yang saya berikan bisa berguna juga buat pembaca yang lain.. Monggo email saya dengan subject: Ask Prima ke primadita1088@gmail.com. InsyaAllah kerahasiaan terjamin ;)

3 comments:

  1. Buku yang satunya itu Judulnya Jodoh Dunia Akhirat, mbaakk...

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...