Thursday, February 4, 2016

Panduan Berwisata ke Batu (Bagian Dua)

 
 
 
 
 
 
 

Baca dulu dong, biar nyambung ;)

Sampai sekarang, saya masih ngerasa agak-agak 'lho kok bisa ya cepet gitu?' Padahal percayalah, saya menikmati setiap tempat dengan tenang. Memang sih saya ga nyobain semua atraksi atau wahana yang tersedia, apalagi saya juga ga begitu suka main. Tapi saya juga ga jalan cepet-cepet gitu, normal dan wajar layaknya wisatawan yang sedang berlibur deh pokoknya. Dari pengalaman saya, ada beberapa hal yang perlu sister perhatikan:

1. Museum Tubuh IS worth to visit
Meski saya datang di hari kerja, ternyata cukup banyak rombongan yang kesana, kebanyakan dari sekolah kesehatan. Mbak-mbak/mas-mas guide-nya pinter dan ramah; terus tempatnya cocok banget untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan rasa sayang sama tubuh sendiri. Hayuk ah prim, lebih rajin lagi untuk jaga kesehatan. Oya, sebenarnya alat peraganya banyak yang kelihatan 'murah', tapi karena pengelolanya sudah terpercaya, jadi keadaannya bersih dan lumayan lengkap. Semoga kedepannya lebih atraktif (saya sempat ngobrol sama mbak/mas guide tentang beberapa unit yang terlalu sedikit penjelasannya), dan tetap terjaga kelengkapannya.

2. Batu Secret Zoo (BSZ) vs Eco Green Park (EGP)
Sebelum kemarin itu, saya terakhir mengunjungi BSZ pada tahun 2011, dan EGP pada tahun 2013. Pertimbangan saya mengunjungi BSZ instead of EGP karena ya saya pingin lihat binatang. Menurut saya, BSZ dua kali lebih besar dan lebih menarik daripada EGP, tapi mungkin EGP juga akan menghibur untuk anak-anak dan remaja; atau buat sister yang suka foto-foto. Tips: kunjungi salah satu saja dalam satu hari, terutama karena tiket BSZ termasuk tiket Museum Satwa. Mau dua-duanya? Siap-siap bayar e-bike deh.....

3. Harga Makanan dan Minuman di BSZ
BSZ punya kolam renang yang lumayan gede dan bagus (tapi buat anak-anak sih..), jadi mungkin karena itu, banyak juga orang tua yang berusaha menyelundupkan rantang. Big no no lho ya! saya sendiri cuma bawa minum, dan memutuskan makan siang di dalam BSZ. Baksonya enak kok, standar lah, Rp. 15.000, plus air mineral 600 ml seharga Rp. 5.000. Saya juga sempat beli Milo di booth Milo, harganya Rp. 8.000. Sistem makan di food court BSZ adalah beli kartu, pilih deposit Rp. 50.000 supaya sisa saldonya dikembalikan semua. Selain itu banyak gerai es krim dan pop mie (Rp. 10.000) bertebaran, jadi ga perlu takut kelaparan. Di luar BSZ juga banyak food truck, dan ada CFC.

4. Masukkan Biaya Foto dengan Hewan/Memberi Makan Hewan ke Anggaran
Rata-rata foto bareng hewan (burung rangkong, anak macan, kuda poni, dan lain-lain) berbayar Rp. 5.000/hewan/foto. Tapi pihak BSZ juga memfotokan dengan kamera mereka – yang jelas lebih bagus hasilnya. saya ambil soft copy aja, Rp. 20.000/foto. Lumayan buat kenang-kenangan. Untuk memberi makan hewan, saya melakukannya saat Safari Farm, jadi bisa ngasih makan rusa, kuda, bison (?), dan lain-lain. Dengan Rp. 10.000 dapat satu cup potongan wortel. Oya, tenang saja, hewan-hewan itu ga mengandalkan makanan dari kita saja kok (ya kali...), jadi kalaupun sister ga mau membeli makanannya, ya gapapa juga sih. Tetap seru kok mengikuti Safari Farm (tapi siap-siap antri ya). 

5. Museum Angkut is So Expensive
Kemarin saya bayar Rp. 80.000 untuk tiket masuk weekend, plus bayar Rp. 30.000 untuk kamera digital (only free for phone camera). Memang kalau mau puas, harus sabar ngantri foto di spot-spot yang pasti ramai dengan pengunjung-pengunjung yang lain. Kan museumnya bukan punya sampeyan.. Tapi tetap aja menurut saya segitu itu mahal banget, 'cuma' buat foto-foto doang, haha. Kecuali kalau sister memang passionate banget sama alat transportasi dan sejarahnya. Kata sahabat saya, harga tiket masuknya digunakan untuk perawatan mobil-mobil yang sepertinya sih asli (bukan replika). But still, wisatawan kere protes..... Lol.

6. Ngapain ke Selecta?

Biasanya orang ke Selecta itu berenang (tujuan nomer satu), tapi saya baru ngeh kalau kedalaman kolamnya 3 dan 4 meter. Jadi ya bukan berenang untuk 'lucu-lucuan', dan untuk anak-anak ada kolamnya sendiri. Waktu saya kesana kemarin, kolam anak-anaknya penuh kayak cendol. Terus, di Selecta ada hotel dan restoran – yang biasanya juga rame dengan event-nya orang. Jadi kalau kamu malu berenang dilihatin orang, kamu bisa foto-foto di kebun bunganya (tujuan nomer dua). Sedikit lebih baik daripada kebun amarylis di Jogja karena bunganya lebih banyak dan beragam, tapi kalau weekend juga...yang ada foto sama orang, bukan sama bunga. So, pertimbangkan baik-baik deh kalau mau ke Selecta.

7. Ada Apa di Coban Rondo?
Sebenarnya yang saya tahu dari dulu Coban Rondo itu air terjun, tapi saya udah lama banget ga kesana, sementara kemarin Ifa ga kepingin kesana. Jadi kami cuma ngeliat labirin gara-gara tergoda postingan anak gaul Instagram (...), terus main sama rusa di taman di belakang labirin. Selain itu ada juga ATV, panahan, memetik strawberry, dan wahana permainan anak-anak.

Wah, saya ga nyangka kalau postingan tentang kota Batu 'aja' bisa sepanjang ini. Sesekali menggunakan mindset 'traveler' aka turis ternyata sukses membuat saya melihat sisi lain dari kota yang sehari-harinya sudah terlampau 'biasa' untuk saya. Jadi pingin eksplorasi Surabaya, deh. Maybe next time ;) Semoga postingan ini berguna buat sister yang sedang berencana untuk berlibur ke Batu, and see you at the next #ThePrimTrip post!

Salam My Trip My Adventure (#eaaa),
Prima

*I didn't take pictures on the second day, banyakan difoto sama Ifa mumpung dese ada DSLR #eaaa

Wednesday, February 3, 2016

The Husband(s)

Yang paham geng-nya Hijabers/Hijabi Bloggers/Entrepreneur, pasti juga ngerti kalau mereka bisa jadi role model untuk masalah hubungan suami istri. At least, apa yang nampak dari luar adalah sesuatu yang baik dan bisa banget jadi pelajaran untuk kita.

Apakah itu?

Yup, dukungan suami untuk impian sang istri.

Fitri Aulia-Mulky Aulia, Dian Pelangi-Tito, Suci Utami-Budi hanya sedikit dari beberapa pasangan lain yang membangun kerajaan bisnis bersama-sama. Suami mereka adalah sahabat mereka, partner usaha mereka, pendukung utama mereka.

Kalau mau menambahkan bukti yang sudah saya ketahui dengan mata kepala saya sendiri, tentu saja Siti Juwariyah bersama suami. Ketika kak Siti melakukan talkshow dan fashion show untuk koleksi Kaffah Apparel di acara Hijabee Fest 2014, suaminya turun langsung untuk menjadi fotografernya, mengabadikan setiap gerak-gerik kak Siti yang gesit. Plus, sambil ngudang baby Gazi, demi ketenangan kak Siti.

Setiap pasangan punya pilihannya masing-masing. Tatkala seorang suami berpikir sang istri lebih baik full di rumah, that will be okay. Tapi ketika sang suami mengambil keputusan untuk mendukung impian sang istri, it can be good too. Tahu kenapa? Karena sang istri tidak perlu mencari-cari resource yang mereka butuhkan, terlebih jika sang suami juga ahli di bidangnya. Misalnya: mas Mulky Aulia yang seorang dosen Branding, atau mas Tito yang seorang videografer. Klop.

Maka tidak berlebihan rasanya jika muslimah modern di luar sana mendamba lelaki yang berbesar hati untuk memberi ruang gerak lebih pada istrinya.

Because it takes a real gentleman to be proud of his woman' achievement.

Lots of love,
Prima

Tuesday, February 2, 2016

Doraemon and the Story that Lasts Forever

 
 
 
 
 
 
 

Tahun 2015 lalu, saya berkesempatan menonton Ramayana Theater di Candi Prambanan dua kali. Yang pertama bareng Rotaract saat Asia Pacific Regional Rotaract Conference (APRRC), dan yang kedua bareng Stamford American International School (SAIM) Singapore saat experiential project bersama JUMP! Foundation. Saya ga bakal cerita banyak tentang pagelaran-nya karena kisahnya sendiri masih membingungkan untuk saya – but it is worth to watch though, the dance is really really beautiful. Nah, di kali kedua saya menonton Ramayana Theater, Frank, salah satu fasilitator JUMP! bertanya, apa sih yang membuat cerita seperti Ramayana dikenang sepanjang masa? Bagaimana dengan hidupmu? Apakah dirimu pantas untuk dikenang oleh orang-orang di sekitarmu? Kalau iya, bagus – dan kalau tidak, apa yang harus dilakukan? Kalimat-kalimat itu terus berada di benak saya, dan saya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya kepada sister.

Hari Jum'at lalu, saya mengunjungi Doraemon Expo bersama sepupu saya, Intan. (tungguin vlognya ya! #tetep). Doraemon Expo ini adalah pameran 100 alat-alat Doraemon – kalau ga salah, (patung) Doraemon-nya juga berjumlah 100 biji, walau saya baru sempat menghitung sampai 60-an. GEMES banget sih, pingin bawa pulang 1 pleaseee.

Kebetulan saya pakai Debit BCA, jadi saya mendapat promo Buy 1 Get 1 Free. Dengan harga Rp. 99.000 (Rp. 90.000 plus PPN 10%), saya dapat tiket yang berlaku untuk dua orang. Ini hanya berlaku untuk weekday ya; kalau weekend promo BCA tetap ada, tapi cuma diskon 20%. Saya merekomendasikan sister datang, kalau: 1) sister punya BCA (dan punya saldo yang cukup di rekeningnya/kartu kredit lagi ga limit.....); 2) datang saat weekday jadi lumayan sepi; 3) sister memang nge-fans abis dengan cerita-cerita Doraemon. Sebenarnya saya pribadi lebih nge-fans dengan Hello Kitty, tapi secara Hello Kitty sendiri komiknya ga booming banget, jadi saya gatau apakah kalau saya datang ke pameran serupa tapi Hello Kitty akan lebih happy. Oya, di Doraemon Expo ada penjualan merchandise asli Doraemon; harganya beragam, dari yang masih bisa terbeli sampai ga logis (ini berlaku untuk bed cover/bedding sheet yang harganya jutaan).

Terus, hubungannya Doraemon dengan perkataan Frank diatas tadi apa?

Saya cukup kaget ketika secara umum, saya banyak memahami kegunaan alat-alat Doraemon yang dipajang pada pameran itu. Beberapa dari alat-alat itu, saya bahkan mengingat dimana atau gimana ceritanya di komik. Entah saya yang memang sangat ter-expose dengan Doraemon (halo kegiatan rutin Minggu pagi saat masih anak-anak), atau memang Fujiko F. Fujio-nya pinter banget untuk bikin sesuatu yang easily memorized.

Saya jadi meng-introspeksi diri sendiri, apa ya, yang orang-orang ingat dari saya? Bagaimana mereka memiliki kesan terhadap seorang Primadita Rahma Ekida? Is it good or bad memories they have with me? Is it fun or sad stories they remember from me? Dan apakah saya masih mampu (dan punya waktu) untuk mengubahnya menjadi lebih positif?

Mungkin menurut sister, ah hal itu ga penting. Kan kita tidak bisa mengontrol pendapat orang terhadap kita. Betul, betul sekali. Jangankan saya yang butiran debu, Doraemon which we are talking about in this post, bisa aja punya haters – atau paling engga, ada orang-orang yang barangkali 'iya, tahu kalau Doraemon exist in this world but so what? I prefer Marvel comics.' Ya gapapa juga, selera orang beda-beda. Tapi maksud saya, kalau kita memang selama ini (berusaha) jadi orang baik, idealnya kebanyakan orang juga berpikir hal demikian. Jika ternyata sejauh ini kebaikan kita diterima dengan interpretasi yang kurang baik, ya itu tadi, kita harus introspeksi diri.

There are some humans who always bring positive energy, dan karena itu kehadiran mereka selalu dinantikan. Sebaliknya, ada juga manusia-manusia yang baru muncul bau-baunya aja, orang-orang udah antipati. Kita pasti punya teman yang masuk kategori pertama atau kedua. Sementara teman kategori pertama nyenengin banget; teman kategori kedua itu bisa-bisa kita sumpahin, 'udah jelek, hidup pula.' Hahaha. So what about us? Find out about it and make a change if needed ;)

For the love of Doraemon,
Prima

*100 Doraemon Secret Gadgets Expo ada di Grand City Surabaya, sampai tanggal 14 Februari 2016.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...