Wednesday, September 5, 2018

Tentang Investasi Akhirat

Saya memandangi surat Al-Qari’ah yang terpatri di dinding pagar Masjid Ramlie Musofa, Jakarta Utara. Jauh amat mainnya, Prim. He eh, sebagai anak gaul Jaksel (halah), saya sempat merasa bangga dengan ‘pencapaian’ saya walaupun sebenarnya untuk bisa tiba di Sunter masih jauh lebih mudah daripada ke Mall Kelapa Gading.

“Kenapa Al-Qari’ah?”, saya bertanya kepada Qowi, teman yang saya paksa buat nemenin ke Masjid Ramlie Musofa – berhubung memang rumahnya dekat banget sama masjid ini.

“Entahlah… Mungkin surat itu yang menginspirasi Pak Haji untuk masuk Islam?”

Masjid yang sepintas mirip Taj Mahal ini memang didirikan oleh seorang mualaf keturunan Tionghoa. Denger-denger sih, ‘Ramlie’ adalah nama dari ‘Pak Haji’, sedangkan Musofa merupakan singkatan dari ketiga anak dari Haji Ramlie, yakni Muhammad, Sopian, dan Fabian.

Despite the fact that the mosque is indeed beautiful and I highly recommend you to come here; I can’t help but think about the surah. Ketika saya bertolak dari Malang ke Bali dengan bus, saya punya cukup banyak waktu di perjalanan untuk bengong. Daripada kesambet, mending saya ngaji tipis-tipis ye kan, mumpung masih lumayan terang juga. Berhubung saya agak pusing kalau baca Alquran di bus (kalau di kereta atau pesawat masih gapapa), saya pun membaca buku saku Juz ‘Amma, sambil melancarkan hafalan surat yang masih gitu-gitu aja. Tepat sebelum matahari terbenam, saya mengakhiri bacaan saya pada surat Al-Qari’ah.

1. Hari Kiamat,
2. apakah hari Kiamat itu?
3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
 

10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.

Ayat 6 sampai 9 terngiang-ngiang di kepala saya hingga saya tiba di Bali. Karena tak henti-hentinya surat Al-Qari’ah ‘menghantui’ saya, saya pun memutuskan untuk membaca surat ini pada salat wajib, minimal sehari sekali. Surat ini menampar saya, di samping satu kejadian pada malam bulan Ramadan 1439 H.

Saya merasa bulan Ramadan tahun ini adalah salah satu Ramadan terbaik sepanjang hidup saya karena saya lumayan berfokus pada ibadah. TAPI, jujur hal ini membuat saya sedikit jumawa, as I had the feeling of accomplishment. Dan tepat pada saat saya menunggu momen Lailatul Qadar, Allah ‘menyentil’ saya.

Tidak biasanya, malam itu masjid dekat rumah saya menghadirkan imam yang ‘berbeda’. Lantunan ngajinya indah, suaranya juga berat dan menggetarkan jiwa (ahzeeek). Uniknya, beliau memberikan ceramah yang singkat dan padat:

““Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”* Sehingga kita akan dinilai dari saat kita menghadap kepada Allah nanti: khusnul khotimah atau su’ul khotimah.” 
*(HR. Bukhari, no. 6607)

Udah, gitu doang ceramahnya, Pemirsa.

Lalu beliau meminta kerelaan kami, para jemaah, untuk bersiap menghadapi salat tarawih yang agak panjang karena beliau akan membacakan Surat Ar-Rahman. ‘Yaelah, Ar-Rahman ‘doang’ mah saya juga biasa 10 menit kelar’, begitu pikir saya.

Tak dinyana, entah di rakaat ke-berapa, saya tiba-tiba menangis kencang sampai hampir kehabisan napas! It was a moment when he read ayat 43-44 which translated: “Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya.”

Sumpah malu banget sama jemaah sebelah-sebelah saya, bahkan adik saya menyenggol saya dengan sikunya. Tapi masalahnya, saya TAHU arti ayat itu, karena selama Ramadan saya mengulang-ulang YouTube video-nya Fatih Seferagic membacakan Ar-Rahman (perhatikan bahwa pada menit ke 06:21 dia mengulang kata "haadzihi jahannam" DUA KALI). Sehari bisa lebih dari tiga kali saya dengerin surat itu, makanya saya pelajari terjemahannya sekalian.

Selesai salat, ibu-ibu mengerubungi saya dan menawarkan minum. Saat saya sudah bisa menguasai diri, saya hanya sanggup mengatakan dengan lirih, “saya belum siap mati, saya takut masuk neraka. Itu tadi ayatnya tentang neraka Jahanam…” Mereka pun mafhum dan beberapa di antaranya malah ikut menangis.

Setibanya di rumah, saya langsung bersimpuh mohon maaf ke ayah dan ibu, karena sadar punya banyaaaaak dosa kepada mereka. Malam itu suasana rumah haru-biru, seolah-olah kami berangkat tidur dengan harap cemas, apakah masih bisa bangun keesokan hari untuk menebus semuanya.

Paginya, ayah saya mengajak saya berbincang. Ia mengatakan, “Nduk, bersyukurlah kamu sudah mengerti agama sejak usia yang masih cukup muda. Soalnya kita… Mau hidup kita mulai hari ini sampai mati diisi salat dan ngaji thok, belum tentu kita masuk surga. Bagaimanapun, dosa kita tetap jauh lebih banyak daripada amalan kita… Meski mungkin masih ada harapan, karena Allah Maha Pengampun… Tapi tabungan akhirat kita, masih amat sangat sedikit, Nduk…”

*kembali berderai air mata*

Maka ketika saya pada saat ini di Ubud, mengajar ngaji Selasa, Rabu, dan Kamis malam; menyiapkan konten dan proyek Muslimah Sinau (Alhamdulillah, ada 4 orang Ukhmin yang membantu saya); mikirin tema dan browsing bahan Dawn2Dusk; dan masih harus PP ke Denpasar setiap hari Minggu untuk menimba ilmu PLUS ikut kajian di Whatsapp group seminggu tiga kali (ada PR-nya juga lho)… Itu karena setiap saat, kehidupan akhirat membayangi saya. Iya kalau saya meninggal pada usia 70 tahun, katakan saya baru ‘hijrah’ pada usia 25 tahun dan berlaku baik terus, saya akan punya tabungan amal sebanyak 45 tahun. Lha kalau meninggal 5 tahun dari sekarang, atau tahun depan?

Saya berharap, dengan mengadakan investasi akhirat pada orang lain, pundi-pundi tabungan akhirat saya pun bisa lebih cepat bertambah. Untuk setiap like yang kami terima di post Muslimah Sinau, we pray that someone really read it, remember it, apply it, and even share it. Untuk setiap Al-Fatihah yang dibaca murid-murid ngaji saya, saya berdoa agar mereka menghayatinya dan semakin dekat dengan Allah. Untuk setiap satu pesan yang ditangkap dari podcast, saya berdoa semoga mereka tergerak untuk mempelajari islam. Dan untuk setiap teman yang saya temui dan salami di pengajian, saya benar-benar bilang ke mereka, “Mbak, kalau nanti Mbak tidak menemukan saya di surga, tolong sampaikan kepada Allah bahwa saya pernah duduk di samping Mbak saat pengajian.”

Ya, jangan pernah berjuang sendirian karena dua belah tangan yang kamu miliki tak akan sanggup mengubah dunia. Mengubah diri sendiri pun mungkin tak mampu pula. Cari sebanyak-banyaknya teman hijrah, buat sebanyak-banyaknya kesempatan berbagi, dan luruskan niat. Tak akan habis dunia dikejar: seandainya kamu punya satu gunung emas, kamu pasti ingin punya yang kedua. Tapi hari perhitungan menanti kita mempertanggungjawabkan segalanya. Dengan sebaik-baik reward dan seburuk-buruk punishment yang sudah Allah siapkan. Adakah timbangan kita akan berat ke kanan?

Mari merenung.

Salam,
Prima  

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...