Saturday, September 30, 2017

Bersyukur Tanpa Tapi


Minggu pagi menjelang siang, saya baru saja menyelesaikan pekerjaan di Grha Sabha Permana. Saya duduk-duduk di parkiran mobil sambil mengamati orang-orang yang sedang jogging. “I should have done it (jogging) more often,” pikir saya. Sedikit menyesal karena baru sadar kalau jogging di GSP sepertinya sangat menyenangkan...apalagi kalau ada temannya. YEEE. Realizing that it’s been more than one month since the last time I visited gym, I feel so unhealthy. I feel sooooo fat (kerasa dari celana panjang yang sudah susah dikancing -_-). But more than that, I feel so unhappy.

Seharusnya saya bersyukur karena sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum resmi lulus dari Universitas Gadjah Mada. Seharusnya saya bersyukur karena orangtua saya sangat mempedulikan masa depan saya – dengan caranya masing-masing. Seharusnya saya bersyukur karena dijauhkan dari lelaki(-lelaki) yang mungkin memang tidak pantas bersanding dengan saya (more stories on that later...).

But I feel so empty inside.

Saya sering nggerundel sendiri karena saya merasa bisa mendapatkan hal-hal yang lebih baik dari apa yang saya miliki saat ini. Dorongan dari orang-orang di sekitar saya mulai menjadi beban dan tekanan batin – yang bukannya membuat saya maju, malah justru membuat saya ingin lepas dan bebas.

Bersamaan dengan air mata yang hampir menetes, gerimis datang. Saya bergegas mengambil motor dan beranjak pulang. Dan dalam perjalanan pulang, saya menemukan pemandangan yang miris. Pertama, saat ada sepasang orang tua yang menjual keranjang dari bambu, yang biasanya dipakai buat meletakkan baju kotor itu lho. Mereka bergandengan tangan dan setengah berlari mencari tempat berteduh. Kedua, seseorang yang membawa kostum badut boneka, berusaha melindungi portable tape dari derasnya hujan. Mungkin dia menggunakan alat tersebut untuk mencari nafkah.

Sontak tangis saya pecah. Penderitaan yang saya rasakan bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka, dan jutaan orang lain yang lebih tidak beruntung. Saya lulusan S2...yang mana kesempatan untuk mengenyam (dan menyelesaikan) pendidikan tinggi itu sendiri adalah suatu berkah yang tak ternilai harganya. Sementara saya masih bisa pulang ke rumah yang nyaman, bagaimana dengan mereka?

Sorenya, sepupu saya bertanya apakah memang mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan sesulit itu? Terlebih dengan gelar S2 yang baru saja saya dapatkan. Saya tak bisa langsung menjawab, tapi kemudian saya berpikir, mungkin hanya belum waktunya saja. Dulu ketika saya lulus S1, saya menunggu dua bulan sebelum akhirnya mendapat pekerjaan. Alhamdulillah, saya bertahan pada pekerjaan itu hingga dua tahun-an, sebelum hengkang untuk mengikuti World Muslimah Award 2014.

To be honest, looking for a decent job these days indeed become more difficult than five years ago. Saingannya semakin banyak, dan kadang perusahaan engga ‘logis’ dalam menetapkan kriteria pelamar. Misalnya, pengalaman kerja minimal 5 tahun dan maksimal usia 25 tahun, plus harus cum laude pula. Gimana caraaaaa.

Akan tetapi, saya beneran harus banyak bersyukur karena sejak mulai kuliah S2, saya hampir selalu memiliki pekerjaan dan itu berasal dari networking – bukan melamar dari nol banget. And if now I have to start applying again, surely that will be all okay. Namanya ikhtiar kan tsaaay.

That’s why tiba-tiba ‘bersyukur tanpa tapi’ muncul di pikiran saya bak lampu yang menyala (‘eureka!’). Berapa banyak dari kita – bahkan saya sendiri – yang suka berkata, “bersyukur sih, tapi.....” Padahal yang namanya bersyukur ya bersyukur aja. Allah sendiri sudah menjamin, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu...” (Q.S.Ibrahim (14): 7).

Bersyukur dan bersabar, ikhtiar dan tawakkal... jangan pernah terlepas salah satunya. Buat saya pribadi yang (mungkin) sudah punya jejaring yang cukup luas, saya tetap melamar pekerjaan kesana kemari kok. Because maybe a great job has waited for me somewhere. I just need to go out and try to reach it... even if it has to be step by step.

Malam itu saya berangkat tidur dengan perasaan lebih tenang daripada biasanya. Saya berusaha mengurangi pertanyaan ‘what about tomorrow?’, tapi mengucap banyak hamdalah karena saya diizinkan berada pada titik ini. My life is not perfect, and it might never be, but most important thing, I can finally see the light.

Lots of love,
Prima

Sunday, August 20, 2017

Freefall

Dear lovely sisters, I am hereby announcing that I have finally graduated as Master of Arts from Gadjah Mada University, alhamdulillah :) Belum wisuda resmi sih, insyaAllah nanti Oktober 2017 – jadi kalau ada yang mau ngasih bunga atau apa, sekalian bulan itu aja ya, hihi. Tapi iya seneng banget karena satu urusan selesai, dan engga perlu bayar SPP lagi :)))))

Terus kenapa sampai butuh lebih dari sebulan untuk menyampaikan kabar gembira ini di blog? Karena... saya (sepertinya) mengalami gejala depresi. Tahun lalu, saya juga mengalami hal ini, makanya sister jarang lihat tulisan saya kan. Tapi saya baru menyadarinya sekarang. Saya pikir waktu itu saya sedih biasa dan akan hilang kalau saya menemukan hiburan. Ternyata engga, I was constantly ‘sad’ for more than six months. Saya tetap beraktivitas seperti biasa; saya tersenyum, tertawa, ya normal-normal aja. Saya masih bisa makan, hanya kualitas tidur yang terganggu karena selalu bermimpi. Cuma parahnya, saya sering tiba-tiba nangis. Sampai pernah menangis meraung-raung...dan setiap kali menangis, saya selalu mencatatnya di kalender, untuk bisa melihat kapan dan kenapa saya menangis.

Thank God, tahun lalu bantuan hadir dalam wujud seorang psikolog. Dan saya kira masalahnya selesai saat itu. Apalagi ketika mulai bulan Oktober, kesibukan saya bertambah banyak. I didn’t have time to be sad because life gave me a lot of things to do. I feel energized...but the bad thing, I put aside those problems without knowing what actually my problem was.

Now it is happening again. I feel there is a big hole inside me and it eats me up. I don’t know what it is and I don’t know why, but I feel so so sad. Awalnya saya pikir saya cemas karena memikirkan masalah pekerjaan, but now that I have a job (two jobs actually), I still feel sad. And then masalah cinta, hahahahahaha, you know. But when I try to be realistic, I become more sad karena yaaa gitu deh (susah dijelasin). Yang paling berat, saya engga bisa menangis! Nangis sih nangis, tapi kayak nangis yang belum lega. Ada sesuatu yang benar-benar mengganjal dan saya tidak tahu apa.

Semua ini kemudian menjadi penyebab mengapa saya belum bisa nge-blog lagi. Saya tetap menulis, dan saya menulis dengan tangan di buku jurnal saya hampir setiap hari, tapi saya tidak pernah berani untuk mengklik ‘publish’. I typed, I clicked backspace a lot of times, until I never had a full blog post. 

Baru kali ini akhirnya saya berani kembali ke blog. Why so? Karena saya percaya ada teman-teman di luar sana yang juga membutuhkan bantuan dan dukungan. Saya belum tahu bagaimana saya akan menyembuhkan diri saya, tapi satu yang pasti, insyaAllah saya tidak akan menyerah. Please bear with me, as I wish I can help you too, someday.

Lots of love,
Prima

Sunday, July 2, 2017

What’s Up, Prima?

Assalamu’alaikum sister, first of all, let me say Taqabbalallahu minna wa minkum.. Walaupun terlambat, tapi daripada tidak sama sekali ya kan.. Gimana liburan sister? Sebenarnya saya belum masuk holiday mode sih, ujian tesis aja belum, tapi dinikmati dulu deh, masa-masa ‘istirahat’ karena kemarin toh sudah begadang berhari-hari buat menyelesaikan draft tesis.

Ternyata saya sudah tidak menulis blog selama tiga bulan, wow it’s quite long and I have to admit I kinda lose my personal touch in writing. Tadinya saya mau ngebiarin aja blog ini sampai saya sudah lulus jadi bisa share kabar gembira, engga ngeluh mulu kayak sekarang. Hanya saja, belajar dari tahun lalu, saya rasa baik juga untuk bikin catatan bulanan, dua-bulanan, atau setidaknya catatan tengah tahun. Memang idealnya kita melakukan introspeksi setiap saat – bahkan setiap hari sebelum tidur, hari ini saya ngapain aja ya. Apakah hari ini saya sudah berbuat baik, atau malah menyakiti seseorang? Lalu minta ampun kepada Allah, bersyukur atas karunia yang didapatkan pada hari tersebut, dan berdoa agar hari esok menjadi hari yang lebih baik.

Berhubung weekend journal yang sudah saya rencanakan pada awal tahun (dan sempat saya jalani selama beberapa minggu) tidak terlaksanakan dengan baik, at least saya ingin mempersembahkan refleksi enam bulan pertama pada tahun 2017 ini. Tujuannya ya sebagai bahan pembelajaran buat diri sendiri, dan juga teman-teman para pembaca.

Jadi, enam bulan ini prima kemana saja?

1. Mengerjakan Tesis
Saya ini lemah, sister. Mau ngerjain tesis aja kudu ambil full-time break dari kantor. Why so? Karena harapan dan pemikiran saya, semakin fokus saya mengerjakan tesis, semakin cepat saya selesai dan segera kembali ke pekerjaan. Kenyataan? Sampai sekarang saya belum ujian HAHAHA *miris*
No I don’t want to blame anyone. Sudah cukup saya nangis, komplain kesana kemari, it won’t change a thing. Saya tetap harus melewati tahap-tahap selayaknya mahasiswa yang mengerjakan tesis. Saya sampai capeeek ditanyain sama orang administrasi, staf perpus, sampai mas fotokopi di kampus (oh ya, istri dekan juga sempat nanya), “lho mbak prima kok belum lulus?” I WISH I KNOW WHY I HAVEN’T GRADUATED YET. Hayati lelah, Bang. Beneran lelah.
Tapi bukan prima namanya kalau tidak mengambil berkah dari kejadian ini. Jadi ceritanya saya kan ganti proposal 7 kali (iya, tujuh kali) karena menyesuaikan dengan kapasitas otak saya dan keinginan dosen pembimbing. Artinya saya diizinkan oleh Allah mempelajari beberapa teori komunikasi dan metode penelitian. Memang masih terhitung tingkatan dasar banget karena susah mau mendalami satu-persatu kalau harus ganti terus. But I believe this process is preparing me for bigger challenges on the workforce, insyaAllah.
Nah jadi sekarang tesis prima sudah sampai pada tahap apa? Sebelum libur hari raya, saya mengumpulkan full draft yang mudah-mudahan sudah memenuhi segala kriteria karya tulis akademis; dan juga sesuai dengan pengharapan dosen pembimbing. Mohon doa sister, begitu selesai libur minggu depan (atau minggu ini), tesis di-acc, lalu saya bisa segera ujian (dan lulus). Amiiin.

2. Sakit, Kembali Sehat, dan insyaAllah Semakin Sehat
Untuk ukuran seseorang yang tidak sporty sama sekali, entah kenapa saya selalu kedapatan ‘rezeki’ mengerjakan penelitian tentang olahraga. Masih ingat skripsi saya tentang pesepakbola asing kan, sister? Kali ini saya menulis tesis tentang event charity run. Fokus saya tetap pada manajemen strategi komunikasi, tetapi semangat para informan – baik peserta kegiatan, pendiri yayasan, atau relawan – benar-benar menginspirasi saya. Bonusnya? Saya jadi penasaran apa yang bikin mereka segitunya banget sama olahraga lari. Bayangin aja, para peserta ini mau ‘disuruh’ lari sejauh 145 km plus ngumpulin donasi minimal Rp. 2,5juta. Buat kamu dan saya yang bukan pelari, pasti hal ini engga masuk di pikiran kita.
That’s why, saya kemudian mencemplungkan diri di gym dan berusaha untuk lari. Sebenarnya saya sudah berusaha lari pagi, tapi karena mager dan bangunnya telat mulu, yang ada malah sesak napas kalau lari di jalanan. Dengan datangnya bulan Ramadan, dan dibukanya gym yang terpisah cewek-cowok (yaaay), saya pun mendaftar jadi member. Saya pernah share info gym ini di Facebook. Namanya W Gym, lokasinya sekitar 500 meter barat Terminal Condongcatur. Nyaman banget, dan kamar mandinya luas.
Selain mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh informan saya, saya juga mengupayakan untuk meningkatkan ketahanan tubuh sesudah ambruk karena demam berdarah beberapa bulan yang lalu. Yang pasti sih, pada masa pemulihan pasca demam berdarah itu saya engga mengontrol apa yang saya makan, berat badan pun melambung dan badan rasanya lemah sekali. Makanya saya bersyukur banget ada W Gym yang bisa memfasilitasi keinginan saya untuk menjadi semakin sehat. Sesudah libur Lebaran ini, saya juga masih melanjutkan keanggotaan dan berniat untuk berolahraga lebih keras. Selain ingin menurunkan berat badan (motivasi #1), saya juga ingin memperbaiki endurance. Apa sih endurance itu, itu lho pokoknya biar engga gampang capek atau ngos-ngosan kalau harus kerja keras bagai kuda. Mengingat sebentar lagi saya akan pindah ke Jakarta. Hmmm, prima harus setrooong!

3. I am Back to the ‘Game’
Ngaku deh, sister pasti penasaran kisah cinta saya yang bak sinetron FTV kan? LOL. Setelah on-off sekian lama, pada beberapa titik saya baru menyadari bahwa saya mungkin menganggap hubungan ini terlalu serius. Padahal saya sering mengingatkan diri sendiri, bahwa ini adalah sebuah ‘open relationship’ dimana tidak ada komitmen yang mengikat kedua belah pihak. Everyone can go anytime they want to. Terlebih karena saya sendiri juga tidak kunjung bisa memberikan kepastian tentang rencana pertemuan kami, maka saya sepakat untuk cooling down. Refreshing, dan balik lagi ke tempat dimana saya ‘mendapatkannya’. Eh lha kok, saya ‘ketemu’ beberapa lelaki luar biasa – they are cool and kind!
Saya pun banyak belajar dari pengalaman ini. Kalau dulu pertama kali masuk ke online dating web sepertinya saya punya harapan untuk langsung dapat suamik, kali ini beda. Niat saya cari TEMAN. Titik (bukan titit #eaaa). And Allah bring them to me. Kalau dulu cuma dapat satu yang sepertinya berpeluang bagus, kali ini Allah kasih beberapa sekaligus. Bukan bermaksud rakus, tapi mau gimana lagi, kan sungkan kalau engga balas pesan #sombong #congkak
Saya engga bermaksud membandingkan satu persatu, masing-masing orang memberikan saya wawasan yang menarik dan mereka keren-keren. Yang ada saya malah pingin nyomblangin mereka ke teman-teman saya tapi tunggu ya, saya pilih dulu satu. Atau dua #lho. I am just trying to enjoy the time sebelum janur kuning melengkung. At least sebelum ada satu yang pop up the ‘it’ question. Daripada baper sama satu orang, mending baper sama banyak orang sekalian. Zzz.

Wah, nulis ‘beginian’ aja bisa sepanjang ini. Sebenarnya masih ada banyak cerita yang ingin saya bagikan, terutama hikmah apa saja yang saya rasakan selama bulan Ramadan, dan pelajaran apa saja yang dapatkan selama enam bulan terakhir. I’ll save that for the next post, may I? For now, have a nice Sunday dan selamat mempersiapkan masuk kerja lagi besok (sementara saya mau balik istirahat lagi) :)))

Lots of love,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...