Tuesday, July 7, 2015

Akhirnya Ramadhan (Akan) Berakhir Juga.....

#lho

Eits, jangan salah. Namanya juga lagi ikutan IHB Blog Post Challenge yang diselenggarakan oleh Indonesian Hijab Blogger (indonesian-hijabblogger.com), jadi isinya harus berbeza, biar dimenangin gitu maksudnya. Lol. Nah, sebaiknya sister baca post ini sampai selesai. Apalagi dengan judul yang cukup provokatif, saya khawatir sister suudzon duluan. Bahaya, kalau sister masih puasa (saya sedang engga, HIKS), bisa habis pahala puasa sister. Hehe.

Jadi, yang namanya Ramadhan itu idealnya ditunggu sama kita-kita yang (insyaAllah) beriman. Apalagi di bulan ini, pahala diobral habis-habisan; dosapun didiskon sampai 100%! Diskon 50%+20% di department store ternama ga ada apa-apanya deh.

Sayangnya, bagi beberapa muslim – dan kebetulan saya masuk di kelompok ini – ada hal-hal yang cukup 'mengganggu' kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan. Diantara hal-hal tersebut, ada yang substansial, tapi ada juga yang kadarnya biasa saja. Bagi saya, setidaknya ada 5 (lima) hal, yaitu:

1. Kurma
Kurma adalah buah selain sawo yang kalau ga kepepet abis, ga bakal saya makan. 'Celakanya', dua-tiga minggu sebelum memasuki bulan Ramadhan, berpak-pak kurma sudah ready bahkan di lapak-lapak pasar kesayangan ibu sister. 'Celakanya' lagi, meski di rumah keluarga saya bukan fans berat kurma – jadi jarang punya stok kurma berlebih – saya melihat buah ini disajikan dimana-mana. Di masjid-masjid, restoran-restoran, dan sebagainya. Nightmare. Untungnya, ya, untungnya, kurma bukan buah dengan aroma pekat seperti durian – yang saya benci setengah mati – jadi saya masih bisa bernapas lega.
Anyway, saya sadar kok kalau kurma adalah buah yang dianjurkan oleh Rasulullah, apalagi nutrisi dan gulanya sangat bagus untuk mengembalikan energi kita seusai seharian puasa. Tapi gimana ya sister, tetep aja saya ga suka. Kalau satu boleh deh, kalau dua ya ngunyahnya mulai lambat, tiga? Engga deh, makasih banyak. Mending saya makan pizza seloyang aja #yeee #dasar
atau sebaliknya, ada yang ngerasa begini? :p - pic from here

2. Undangan Buka Bersama 

Honestly, saya serba salah menghadapi masalah satu ini. Ada beberapa latar belakang yang mendasari hal ini. Satu, begitu buka puasa, saya tidak terbiasa langsung makan besar. Kalaupun makan nasi dan lain-lain, cuma bisa satu atau dua sendok. Saya lebih memilih untuk makan besar sesudah taraweh karena makan besar saat maghrib berpotensi bikin ngantuk pas taraweh. Sebaliknya, makan besar sesudah taraweh bikin semangat nyelesaiin 'tanggungan' ngaji hari itu. Jadi, kalau saya diajak bukber, saya paling banter bisa makan cemilan atau penganan kecil saja. Menyiksa banget kan yaaa.
Dua, acara buka bersama berpotensi banget jadi ngaret dan akhirnya ga taraweh deh. Sebenarnya bisa disikapi kalau semua pada datang tepat waktu sekitar tiga puluh menit sebelum adzan. Namanya juga rumah makan, saat melayani tamu berbuka, pesanan bisa lamaaa banget datengnya – kecuali resto fast food tentunya. So, saya masih bisa mengatur hal ini dengan syarat, dua puluh menit sebelum jam adzan isya', kita semua harus kelar. Atau, cari rumah makan yang bersebelahan dengan masjid. Sholat maghrib terjaga, sholat isya' dan taraweh otomatis teringatkan.
Tiga, dan yang paling penting, menit-menit menjelang berbuka adalah waktu dimana doa diijabahi. Ini yang pasti sulit banget. Namanya ngumpul sama teman atau keluarga kan buat bercengkrama. Apalagi kalau sudah pakai embel-embel reuni. Duh, mana ingat sama berdoa? Bisa-bisa yang keluar dari mulut adalah hosip A, B, C. Astaghfirullah.
Jadi, kalau ada yang ngerasain jadi teman saya dan saya susah diajakin buka bareng, harap maklum. Kecuali sister mengundang buka bareng di rumah sister, sekaligus taraweh di masjid dekat rumah, nah itu insyaAllah saya mau banget, hihihi.
Enggaaa, sister ga gini kok yaaa XD - pic from here

3. Bacaan Qur'an yang Diperdengarkan lewat Speaker Masjid
Ngomongin ini lebih miris lagi. Mau protes, kok kayaknya salah. Mau ga protes, tidur dan pekerjaan bisa terganggu. Mending kalau ngajinya syahdu seperti ustadz-ustadz dari Palestina (atau Fatih Seferagic, ehem); lah ini, ga jauh beda sama kumur-kumur. Belum lagi kalau semaleman, seperti yang terjadi di kampung saya di Jogja ini. Literally semaleman lho, dari sesudah taraweh sampai menjelang sahur. Kalau yang gampang molor mungkin ga masalah. Tapi tidak demikian dengan orang-orang seperti tante saya yang mudah terbangun. Baru seminggu pertama puasa tapi badan sudah seperti zombie gara-gara ga bisa tidur.
Apa sudah pernah berdiskusi dengan masjid setempat? Ya iyalah, tabayyun kan bahasa kerennya. Ngefek? Engga juga. Yang ada beberapa warga yang cukup berada malah ngungsi sementara waktu ke rumah mereka yang lain.
Untuk hal ini, sejujurnya saya ga begitu bermasalah dengan diri sendiri. Pakai earplug aja, masalah selesai. Tapi saya suka mikir perasaan tetangga yang non-muslim. Bahkan saya yang muslim tidak dapat menangkap makna dari bacaan Qur'an seperti itu; apalagi mereka? Toh mereka juga punya hak yang sama untuk beristirahat dan melakukan pekerjaannya (yang mungkin harus bekerja pada malam hari).
Kalau dengerin kamu ngaji seharian, adek rela bang.. #eaaa - pic from here

4. Belanja
Ketika saya kecil, mama selalu menjahitkan baju hari raya dari jauh-jauh hari. Ketika saya dan sepupu-sepupu beranjak remaja, nenek mengajak kami membeli keperluan hari raya beberapa hari sebelum puasa. Dulu sih alasannya supaya kami ga ngeluh kepanasan atau kecapekan lalu membatalkan puasa. Tapi beranjak dewasa, saya tahu itu ada benarnya juga.
Saya berhenti beli baju baru (yang khusus dipakai untuk hari raya) sejak beberapa tahun yang lalu, setelah keuangan keluarga kami memburuk. No more new dresses, we can just wear our best clothes. Tetapi ternyata kejadian juga sekitar dua atau ketiga tahun yang lalu, karena diluar rencana, sepatu cantik saya jebol dan baju yang sudah disiapkan adik kelunturan saat dicuci. Waktu itu, saya, mama, dan adik pergi ke sebuah plaza, lalu dilanjutkan ke ITC. Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim; cukup sekali aku merasaaaaaaaaaaaaa~~~~~ Kedua tempat tersebut penuh sesak. Saya sudah memegang sepatu incaran dan hendak meminta ukuran yang sesuai ketika mbak-mbak SPG hanya berseliweran didepan saya; dan di tangan mereka sudah ada bertumpuk-tumpuk boks sepatu. Pun, ketika saya berhasil menarik perhatian salah satu dari mereka, saya harus menunggu hingga hampir setengah jam. Beli baju lebih parah lagi, antri fitting room bagaikan antri sembako. Menjelang jam berbuka, kami pun bergerak ke food court dan ternyata bahkan jauuuh lebih rame. Forget it, saya mending pakai sepatu mama dan meminjamkan salah satu baju ke adik daripada begini caranya. But the biggest question in my mind back then was, 'orang-orang ini ga puasa? Ga tadarus? Ga taraweh?'  Hmmm.
Hermione aja tahu..... :p - pic from here

5. Pertemuan Keluarga dan Pertanyaan “Kapan.....?” 

Sesaat sesudah saya lulus SMA, saya menyadari hidup saya berubah – terutama setiap hari raya Idul Fitri. Yes pemirsa, karena mbah-mbah dan pakde-bude mulai menyadari harus ada kalimat sapaan lain yang menggantikan perkataan “prima udah gede ya..” Alternatifnya jatuh pada pertanyaan “kapan.....?”; baik kapan kuliah, kapan lulus, kapan kerja, dan (EHEM!) kapan nikah. Yang lebih repot lagi, di keluarga besar ayah saya, nenek saya adalah anak nomer dua - mbah nomer satu sudah meninggal - dan saya cucu pertama di keluarga nenek saya. Jadi, ayah saya selalu bagian kasih sambutan pada pertemuan keluarga besar. Pernah sekali pertanyaan “kapan mantu, le” ke ayah saya itu samar terdengar karena ada sepupu saya yang mendapatkan beasiswa S2 di Taiwan. Thank you, dik Intan! Orang-orang jadi lebih tertarik membahasnya. Tapi hal itu hanya terjadi sekali saja, karena tahun berikutnya, dik Intan yang notabene cucu kedua sudah dilamar; sehingga kembali semuanya menatap ayah saya kasihan. Duh, sakitnya tuh disini. Beneran. Makanya, tahun lalu, saya memutuskan kabur dari pertemuan tersebut, untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama ibu saya di Lombok. Sayangnya, tahun ini saya kurang beruntung karena saya harus ikut pertemuan tersebut – AAAAAK SOMEBODY HELEP MEEEEE!
ada-ada aja memenya............ - pic from here

Lantas, apa yang bisa saya lakukan untuk menghalau kelima hal tersebut?
Tidak lain hanyalah..... mengandalkan kekuatan dari Allah SWT *pandangan menerawang jauh*

Tahun demi tahun, saya berusaha untuk sedikit 'egois' agar bisa memanfaatkan waktu Ramadhan sebaik-baiknya. Sayang banget lho, berapa hari aja sih Ramadhan kalau dibandingkan jumlah hari dalam setahun? Pun pada pertemuan keluarga, yaelah cuma setahun sekali ini prim, pasang muka tebal aja sambil banyak-banyak istighfar dalam dada. Pokoknya, jangan sampai kita 'mengizinkan' hal-hal kecil merusak perasaan positif kita selama bulan Ramadhan dan Hari Raya. Apalagi merugikan kita dunia-akhirat, seperti hadits dibawah ini..
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar seraya berkata, “Amin! Amin! Amin!” Setelah itu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ditanya, “Apa yang tadi engkau lakukan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Jibril berkata kepadaku, ‘Mudah-mudahan Allah menghinakan seorang hamba yang telah memasuki Ramadhan tetapi dia tidak diampuni.’ Aku pun mengatakan, ‘Amin.’…”  (HR. Ibnu Khuzaimah di Shahih-nya, Ibnu Hibban di Shahih-nya dan yang lainnya. Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)

So, berhati-hati menjaga hati, sister. Di sisa-sisa hari yang tinggal sedikit ini, perbanyak istighfar, berdoa, bersedekah, mengaji, i'tikaf, bersilaturrahim dengan baik dan benar - pokoknya usahakan untuk 'menghabiskan' energi kita pada hal-hal yang insyaAllah mendekatkan diri kita pada ridho-Nya. Kalau mau nambah inspirasi, monggo baca #1Hari1Masjid yang saya selenggarakan pada Ramadhan tahun lalu; dan #1Hari1Hadits untuk Ramadhan tahun ini. Semoga, semoga, amal-ibadah kita selama Ramadhan tahun ini diterima; dan dosa kita diampuni oleh-Nya. 

Keep calm and happy fasting,
Prima 



Monday, July 6, 2015

Gendut vs Ibadah

“Yang paling aku khawatirkan (terjadi) pada umatku adalah perut gendut, banyak tidur, malas dan lemah keyakinan.” (HR. Daruquthni)

Buat yang kenal dan pernah ketemu saya – minimal pernah nonton video saya – pasti tahu kalau badan saya jauh dari kriteria langsing. Bahkan kata 'semampai' buat saya artinya '(satu) setengah meter tak sampai' #BoongDeng #SayaSatuSetengahMeterLebihDikiiit #TetepAja -_______-

Akhir-akhir ini, saya mulai khawatir lagi dengan berat badan yang semakin tak terkontrol. Soalnya, sejak mulai kuliah S2, yang namanya buka buku = buka toples cemilan. Udah berusaha diganti buah, tapi tetep aja, saya bisa makan tiga buah apel ukuran kecil hanya dalam beberapa menit. Rasanya bukan hanya kemampuan berpikir saja yang meningkat, tapi juga kemampuan mengunyah. *nangis di pojokan*

Mama dan tante tahu betul saya terobsesi dengan 'menjadi kurus' meski pada kenyataannya hal tersebut hanya wacana. Mama malah tidak mendukung sama sekali dengan mengatakan energi saya sedang terkuras habis karena belajar, jadi makan dan nyemil malah dianjurkan. Tante apalagi, di rumah selalu ada susu, keju, jus buah, dan segudang cemilan lainnya. Saya sih pernah menonton BBC Knowledge, dimana sedang dibahas sebuah fakta bahwa otak menghabiskan sekitar 20% dari total energi. No wonder you can be so tired after accomplishing a day full of classes.

Masalahnya, saya pingin banget menurunkan berat badan karena saya tahu kegemukan (seringnya) berbanding lurus dengan kemalasan. Badan segede gini aja udah berat dibawa jogging, apalagi kalau lebih besar lagi? Honestly, saya juga takut banget kalau semakin gemuk saya, semakin berat untuk mengerjakan sholat. Perut segini aja udah sakit kalau duduk diantara dua sujud, apalagi kalau lipatannya lebih banyak lagi?

Post ini tentu saja tidak bisa digunakan untuk melakukan generalisasi. Adik saya yang masih SMP badannya sebesar saya, dengan tinggi yang sedikit lebih pendek daripada saya; tapi dia masih sering bersepeda. Mungkin karena nafsu makannya aja yang agak susah dikendalikan. Tapi justru itu, kalau dia aja masih semangat, saya yang 'baru segini' harusnya lebih semangat.

Makanya, saya lagi rajin skipping, pagi DAN sore. Jogging juga perlahan-lahan ditingkatkan durasinya, ditambah pakai jaket tebal segala biar keringatnya banyak. Hahahahaha. Terus sekarang jadi agak menjauh sama dapur. Kalau buka magic jar pelan-pelan, dan mencamkan pada diri sendiri, “Segini cukup! Segini kenyang!” Yang paling heboh, kalau dulu panggilan saya di rumah adalah 'paus mini', sekarang saya minta diganti 'jerapah mini'. Ya Allah, mau langsing aja ngerepotin orang banyak, prim? :)))

Mensana in corporesano.
 
Dan saya tentu berharap, dalam tubuh yang fit, ada iman yang semakin meningkat dan ibadah yang semakin membaik.

AMIN!

Doakan saya ya :)

Love,
Prima

Daftar Pustaka 

Kunnah, Mu'awiyah Abdurrahim dan Abdullah bin Jarullah Al-Jarullah. 2011. Kiat Tidur Sehat dan Berpahala: Bagaimana agar Tidur Anda Berbuah Pahala dan Menyehatkan Jiwa-Raga. Solo: Kiswah Media

Sunday, July 5, 2015

100,000 Views, Alhamdulillah!

Ali r.a. Berkata, “Hendaklah kamu menasehati orang lain sesuai kemampuan mereka. Adakah kamu semua senang sekiranya Allah dan Rasul-Nya itu didustakan sebab kurangnya pengertian yang ada pada mereka itu?” (HR. Bukhari)

First thing first, apa kabar semuaaaaa? Sudah khatam Al-Qur'an berapa kali nih? ;)
I'm back again, setelah kemarin tersiksa jiwa dan raga karena UAS, ngeliat laptop tuh jadi males banget.. Yah, walaupun tetep ngetik barang satu-dua paragraf, tapi tidak ada minat untuk menyalakan koneksi internet dan nge-post. Haha. 

Anyway, syukur alhamdulillah, blog saya yang masih amburadul disana-sini ini, sudah mencapai 100,000 views. Pencapaian yang teramat luar biasa untuk blogger sekelas saya, saya mah apa atuh, butchiran dhebu. Hihihi. Sebenarnya tadinya saya sempat menargetkan kalau 100,000 views itu bisa saya dapatkan setelah satu tahun nge-blog, ternyata meleset jauh karena faktor-faktor seperti kurang promosi, tulisannya kurang happening, dan sebagainya. Tapi gapapa, karena seseorang pernah bilang ke saya, “don't focus on having great blog. Focus on having a blog that's great for your readers – Brian Clark” (thank you kak Nissa! ;))”

Saya sudah sangaaaaaaaaaaaaaaat bahagia kalau ada yang baca, apalagi komen dan bilang kalau post-nya sesuai dengan apa yang dia alami atau rasakan. Just. Enough. Buat saya, yang paling penting dari apapun yang saya kerjakan; mau itu something that I say or something that I do – menjadi penghapus dosa dan penambah amal saya. Demikian juga dengan blog saya ini.

Saya juga sangat-sangat bahagia, melihat rekan nge-blog saya makin lama makin berkembang dengan blog mereka masing-masing. Ada Ocha, Ika, mbak Ika, Fira, sepupu saya Intan, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu; terutama dari tiga komunitas blogger yang saya tahu: Kancut Keblenger, Kumpulan Emak Blogger, dan Indonesian Hijab Blogger. I do believe we inspire each other :)

Saya sih berharap, makin banyak blogger yang menyasar konten dakwah di masa depan. Bukan semata karena kepingin kelihatan religius – atau keren – atau keren dan religius – bukan, bukan sama sekali. Tapi saya ingat beberapa hari yang lalu, seorang kenalan yang juga blogger, namanya mbak Dessy, nge-tweet sesuatu yang intinya seperti ini, “kalau memang punya ilmu agama dan ga mau dibagiin, gapapa juga.. tapi ntar masuk surga, ajak-ajak ya.”

Nah, blogger dengan konten dakwah dan inspiratif tidak otomatis memiliki perilaku yang 'lurus' dibandingkan blogger yang kontennya 'semacam have fun' doang. Tapi sebenarnya, bukankah inti dari blogging itu sendiri adalah berbagi? Kebetulan yang bisa dibagi adalah ayat Al-Qur'an atau hadits yang baru dibaca; atau isi kajian yang baru dihadiri; ya alhamdulillah kan..

Ketika melihat hadits diatas, saya jadi makin semangat membagikan kalam Allah lewat blog. Menurut saya, di zaman serba cepat dan aktivitas serba padat ini, tidak semua orang mampu dan mungkin meluangkan waktu untuk menghadiri kajian. Jangan suudzon dulu; mungkin memang kesempatannya belum cocok – ketika dianya ada waktu, eh lagi ga ada kajian yang bisa dihadiri. Seperti itu.. Saya juga sering mengalaminya kok.

That's why kita sangat membutuhkan blog yang merangkum pesan-pesan yang dapat mengingatkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apalagi kalau blogger-nya sama-sama perempuan, dan seumuran (saya seumuran sama Ika dan Fira lho, berapa sih? 20-an kan? Ya lebih-lebih dikit lah :p); disitu bahasanya bisa klik, insyaAllah.

Tentu saja blog hanyalah permulaan, yang sebenarnya justru berfungsi sebagai penggerak seseorang untuk membaca Al-Qur'an dan kumpulan hadits yang sesungguhnya. Misal kita baca blognya Febrianti Almeera, terus disitu dia mencatut sebuah ayat Al-Qur'an, baiknya kita buka Al-Qur'an beneran juga dong. Jadi bisa sama-sama mengonfirmasi pemahaman masing-masing.

MasyaAllah, indahnya sebuah hobi yang tadinya kita pikir cuma happy-happy aja, ternyata bisa jadi pembuka jalan kita ke surga. Amiiin insyaAllah.

Keep writing then!

Lots of love,
Prima

Daftar Pustaka
Syaamil Al-Qur'an (Al-Qur'anulKarim): Miracle The Reference, Halaman 146
Penerbit: Sygma Publishing, Bandung
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...