Showing posts with label Weekend Journal. Show all posts
Showing posts with label Weekend Journal. Show all posts

Monday, April 3, 2017

Weekend Journal #14

Hmmm, semakin lama semakin jarang nge-blog ya. Ckckck. Habis gimana sister, saya sudah jenuh baca-ngetik-baca-ngetik buat tesis. Belum lagi ngetik transkrip wawancara. Primaaa, datang-datang kok mengeluh.

Pada saat seperti ini, saya sedikit menyesal karena menelantarkan tesis saya tahun lalu. Actually, CEO di tempat kerja saya sangat suportif dan mendorong saya untuk menyelesaikan tesis. Beliau pun bilang tidak menekan saya untuk kembali ke pekerjaan segera, tapi saya sudah mulai jenuh. Dua bulan penuh tidak bekerja, tapi pikiran engga bisa diberhentikan dari memikirkan rencana kerja, “nanti kalau aku back to work, aku mau bikin project A, B, C.” Melihat perusahaan dengan proyeknya yang semakin seru, kadang membuat saya ngomel dalam hati, “aduh, aku S2 ini sebenarnya buat apaaa...”

Di sisi lain, mulai ada secercah titik terang pada tesis saya, baru satu titik tapi alhamdulillah banget. Soalnya bulan April menandakan sisa dua bulan saja untuk menyelesaikan tesis sebelum membayar SPP lagi. Hadeeeeeh. Lalu saya ingat bahwa dulu waktu skripsi, saya bisa ngetik Bab IV sepanjang sekitar 60 halaman hanya dalam waktu tiga hari. Cuma bedanya, dulu saya sudah melakukan observasi selama enam bulan. Sementara sekarang, hari ini baru akan mulai turun lapangan.

That’s why saya mudik sejak minggu lalu. Saya katakan kepada mama saya, “ini kalau hitungan manusia, engga akan selesai. Tapi akan beda ceritanya kalau Allah sudah ‘ikut campur’.” Apa kunci agar Allah mau ikut membantu?

Ya, restu orangtua.

Berbeda dengan ayah saya yang mempercayakan ‘nasib’ saya sepenuhnya kepada Allah (dengan bantuan tante saya); seperti biasa, hubungan saya dengan mama naik-turun seperti nilai tukar mata uang asing (yaelah). To be honest, saya sampai takut ketemu mama saya karena hati ini rasanya tak tenang ketika berada di rumah.

Namanya sedang butuh, saya mengumpulkan keberanian untuk menemui beliau dan bersimpuh memohon maaf. Sumpah udah macem lagi sungkeman di nikahan aja, tapi yang ini banyak banget dramanya. Saya, mama, dan adik menangis selama beberapa jam; ditambah lagi saya menangis sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Malang. Sampai sekarang kepala saya masih pusing kalau mengenang kejadian kemarin.

I was so sad and still am, knowing that we should have supported each other, but in reality we feel deeply hurt by each other. Saya tidak bisa mendeskripsikan cerita kami di sini, tapi kemudian saya belajar untuk memaafkan diri sendiri dan mama, serta melepaskan semuanya. Saya pernah belajar melakukannya awal tahun lalu, dan rasanya cukup sukses. Hanya kadang ada satu-dua momen yang membuat kita jatuh, lalu kita harus mengingatkan diri sendiri untuk bangkit lagi. It’s hard, it’s really hard. But life must go on.

Saya menuliskan ini, meskipun seolah-olah seperti membuka aib keluarga sendiri, namun justru saya ingin sister ikut belajar. Sebenarnya saya tidak ingin menjadi manusia yang mudah menyerah. Kemarin saya hampir putus asa, berpikir bahwa saya tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Lalu seorang sahabat saya meyakinkan saya kalau saya bisa keluar dari ‘lingkaran setan’ ini, dan anak-anak saya pasti akan bangga memiliki saya sebagai ibu mereka. Thanks, Igna!

Saya pun mencoba untuk memahami keputusan-Nya. Dia percaya kepada saya, Dia tahu saya akan mampu melewati semua ini dan ‘lulus’ sebagai hamba yang lebih dekat dengan-Nya. Melalui kejadian ini, Dia meminta saya untuk introspeksi dan tidak hanya menuntut kesempurnaan. Mungkin selama ini saya terlalu egois dan hanya ingin menang sendiri. Atau mungkin, saya harus bekerja keras untuk tidak egois walaupun yang saya lihat contohnya demikian.

What I find it hardest is, it’s my mom whom I argued with. It’s not my boyfriend or my friend whom I can just leave and let go. Saya masih, dan akan terus bingung apa yang sebaiknya saya lakukan. Namun saya berpegang teguh pada Allah, He is the best guidance for me. Prinsip saya, selama saya tidak menyalahi hukumnya, Dia yang akan memutuskan. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar. Dia lebih tahu. 

Bismillah for another week! :)

Tuesday, March 21, 2017

Weekend Journal #12

Tiga minggu engga menulis weekend journal, kemana aja prim? Untung baru tiga pekan, belum tiga kali puasa – tiga kali lebaran. Bang Toyib, halo? :))

Dua minggu yang lalu saya berkunjung ke Jakarta untuk sharing di sebuah workshop. Saya berangkat dari Jogja hari Kamis malam, mengadakan LIMA appointment pada hari Jum’at, workshop pada hari Sabtu, bertemu informan penelitian saya pada hari Minggu, dan kembali ke Jogja hari Minggu malam.

Akhir pekan kemarin, saya volunteering di Festival Literasi KANCA yang dibuat oleh Writing Table/mbak Windy Ariestanty. Sebenarnya tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, malah saya ngerasa agak magabut. Tapi akhirnya saya tepar, kemarin Senin engga bisa bangun dari tempat tidur. Turned out I got my period coming. Makanya bukan hanya capek badan, tapi juga pingin nangis kenceng entah kenapa. Bukan, bukan karena berantem sama mas Pakistan lagi (iya sih, dia sedang ngambek. Saya yang period, kok dia yang PMS -_-).

Dua kali akhir pekan ini, saya senang banget bisa bertemu teman lama, dan mendapatkan teman-teman baru. Salah satu orang yang temui di KANCA adalah Alexander Thian atau aMrazing. Saya dulu pernah bertemu dia pada tahun 2013 atau 2014 di Surabaya. He is so different and he has achieved a lot!

Buat yang sudah pernah baca bukunya Lexy, pasti tahu kalau ‘karier’ Lexy berawal dari counter hp. Boro-boro punya, dia bekerja sebagai penjaga counter hp! Saya agak lupa ceritanya, so please correct me if I am wrong. Lalu dia mencoba menulis skenario macem FTV atau film-film pendek gitu. Dengan berkembangnya networking dia, saat ini siapa sih engga tahu aMrazing? Follower Twitter-nya lebih dari setengah juta, sementara post-nya di Instagram – ya, yang sering mengundang decak kagum itu – pernah dikompilasi dalam sebuah pameran fotografi. Jangan kira dia berasal dari keluarga berada. After all, aMrazing bekerja sangat keras untuk bisa berada di posisinya saat ini.

Sosok lain yang membuat saya terinspirasi adalah Kak Jezzie Setiawan, bos saya di GandengTangan. Saya diajakin menginap di rumahnya waktu saya ke Jakarta, and her family is so lovely. Saya betah ngobrol dengan mama-papanya, kayak ngobrol sama orangtua sendiri gitu (wah, ngaku-ngaku :p). Hubungannya dengan suami, Bang Darul, juga bikin saya menginginkan pasangan seperti itu. Yang punya mimpi besar, dan mau bersama-sama berjuang mewujudkannya. Oh ya, hampir sama dengan pendiri Post Santa, Kak Maesy dan Kak Teddy, yang saya post di Instagram. Bedanya, saya engga begitu kenal dengan Kak Maesy dan Kak Teddy, sementara saya sudah bekerja dengan Kak Jezzie setahun terakhir.

Sesudah saya menginap di rumah Kak Jezzie, saya semakin takjub. Dia memang berasal dari keluarga terpandang, tapi dia mau ‘turun gunung’ untuk membantu menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia. Orangtuanya bisa memberikan fasilitas apa saja, tapi dia lebih memilih untuk mencari jalannya sendiri. Saya optimis kalau 2-3 tahun dari sekarang, nama Kak Jezzie akan lebih dikenal. Sekarang saja dia sudah mendapatkan beberapa penghargaan.
  
aMrazing dan Kak Jezzie memberikan contoh nyata bagi saya, bahwa kunci kesuksesan itu ada pada kerja keras diri sendiri. Dulu saya pikir, betapa beruntungnya seseorang yang sudah kaya ‘dari sananya’ dan tinggal melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orangtuanya. Pertanyaannya kemudian, apa benar orang-orang yang terlahir di keluarga biasa saja tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi hidup yang menyenangkan?

Lalu saya melihat orang-orang yang melepaskan diri dari latar belakangnya yang sulit, mencoba dan terus mencoba, hingga menemukan suatu jalan yang membawanya pada keberhasilan. BARANGKALI orang-orang yang tidak terbiasa untuk menerima hak istimewa, akan lebih kreatif dalam mencari cara untuk survive. Seperti saya, misalnya. Hahaha.

So what’s actually the moral story of this post? Jangan bersedih jika keadaan sister saat ini masih sulit. You may find something big if you keep trying. Sebaliknya, jangan terlena kalau orangtua sister menghujani dengan segala bentuk perhatian. Go out from your comfort zone. Make your own success as it will be more and more satisfying. 

Udah ah ceramahnya. Lanjut ngerjain tesis deh, biar bisa segera melangkah ke milestone selanjutnya. Best of luck for you who read it, keep doing the hard work!

Salam sukses,
Prima

Monday, February 27, 2017

Weekend Journal #9

Akhir pekan kemarin adalah salah satu productive weekend yang sangat bermakna. Saya mendapat banyak suntikan semangat dan food for thought. Buat sister yang belum tahu, saya meneliti tentang faktor yang memotivasi donatur menyumbangkan uangnya di campaign NusantaRun Chapter 4 yang dipublikasikan di Kitabisa.com. [Ada yang jadi donatur? Kontak saya dong, email: primaditarahma at gmail dot com]

Makanya ketika saya melihat nama Alfatih Timur, CEO KitaBisa, sebagai salah satu pembicara di dYouthizen, saya langsung Whatsapp-an dan minta waktu untuk ketemu. Awalnya saya engga dapat konfirmasi untuk ikut seminar tersebut, tapi karena Timy (panggilannya) minta ketemu di seminar, saya pun tetap datang. Alhamdulillah saya bisa jadi peserta dan bisa dengerin mbak Melanie Subono berbagi inspirasi.

Saya pertama kali menyimak mbak Melanie di Surabaya Youth Carnival beberapa tahun lalu, and she is really really amazing (baca post ini). Ada dua poin penting yang dia share ke peserta dYouthizen. Yang pertama, ada dua tipe manusia di dunia ini: yang melakukan – dan yang tidak. Meskipun niat aja udah dapat pahala, tapi ‘mau’ aja engga cukup. You have to take action! Yang kedua, the best time to take action is NOW. Apalagi kalau habis datang seminar itu biasanya semangat lagi tinggi banget. Kalau nunggu besok, atau lusa.. bye deh. That’s why malam minggu itu saya sebenarnya berencana untuk langsung menuliskan transkrip wawancara sama Timy. Sayangnya ada keluarga jauh yang datang ke rumah dan yaaa masa saya engga nemenin (excuse melulu -_-).

Sesudah saya sholat dzuhur, saya ketemu Timy lagi buat ngobrol. Eh ternyata, sesi berikutnya adalah sesinya ko Yansen Kamto dari Kibar.id. Orangnya narsis abis, tapi penjelasannya warbiyasak keren! Nah, kami pun sepakat untuk memperhatikan materinya ko Yansen. Oya, untuk cerita dari ko Yansen, kayaknya lebih baik dibikin blog post tersendiri deh.

Oleh karena waktu Timy yang terbatas, saya justru ditawari ikut dia dan istri makan siang (tapi udah jam 3 sore..), sekalian mengantar mereka ke hotel tempat mereka menginap malam itu. Allah baik banget.. saya pun dapat waktu eksklusif buat konsultasi tentang tesis saya, bahkan bisa berdebat tentang banyak hal. Dari mulai transportasi online (istrinya kerja sebagai Marketing Analyst di GoJek), masalah kemiskinan di Indonesia, dan tren gaya hidup sehat.

Timy banyak memberikan saya pengetahuan dan wawasan, yang pastinya membantu tesis saya. Kalau saya mengetahui hipotesis atau asumsi dari teori dan observasi, Timy sudah memahaminya lebih dulu. Cuma yaaaaa, trial and error selama hampir 4 tahun sejak KitaBisa berdiri. Setara dengan S3 kan.

Selain Timy sendiri, caranya berinteraksi dengan istrinya jadi #RelationshipGoals buat saya. Mungkin karena sama-sama bekerja di start-up, obrolan mereka nyambung banget. Mereka juga satu jurusan di UI, hanya beda angkatan. Engga nyangka, mereka sudah menikah 3 tahun lho. Istrinya ini manis manja gitu. Gara-gara banyak peserta perempuan yang minta foto bareng, waktu di mobil istrinya tanya ke Timy, “abang udah dapat nomer handphone cewek berapa?” :)))))

Meskipun saya engga banyak tahu tentang mereka, istrinya Timy sempat cerita kalau dia S2 di Amerika Serikat. Mereka pun menjalani long distance marriage selama 1,5 tahun. Balik ke Indonesia, Timy masih semangat banget dengan Kitabisa. Istrinya tetap mendampingi dan percaya dengan mimpi-mimpi Timy. Even for them both, saya ngeliat..... gampang kalau naksir sama Timy yang sekarang, secara KitaBisa udah ‘membukukan’ donasi sebanyak Rp. 73 Miliar dari 4000-an campaign. Tapi dulu waktu baru mulai? I can’t imagine the challenges and difficulties.

Saya pun merefleksikan hal ini kepada diri sendiri. Kira-kira, apakah saya siap untuk menjadi suami yang masih membangun, belum kelihatan masa depannya gimana, dan punya mimpi teramat besar which is unthinkable for common people. 

Dulu saya pernah didekati oleh seorang yang baru mendirikan start-up dan saya khawatir sama rencana keuangannya. Bedanya dengan Timy, saya melihat dia tidak punya fighting spirit. Orangnya agak ‘menggampangkan’ dan saya jadi mikir, apakah dia berkomitmen untuk membahagiakan saya?

See, ketemu orang-orang yang inspiratif selalu bikin merenung. So grateful to meet Timy and wife, dan sekarang mari lanjut ngerjain tesis karena Timy pun menunggu hasil penelitian saya :D

Have a great week ahead!

Lots of love,
Prima

Monday, February 20, 2017

Weekend Journal #8

Aloha, good morning! Ya Allah, sudah tanggal 20 Februari, artinya saya sudah ambil break dari pekerjaan selama tiga minggu lebih. Rasanya sudah tiga tahun (lebay) saya engga berinteraksi sama orang masalah deadline, dan engga ada penghasilan. Sediiih, pingin jalan-jalan – padahal minggu lalu baru nge-trip ke Kalibiru – pingin belanja, pingin ini itu banyak sekali. Maybe this is why saya diliputi kekhawatiran yang luar biasa. Kalau kata orang, salah satu sumber ketidakbahagiaan yang paling utama adalah ketika kita tidak hidup untuk hari ini, tapi terlalu banyak berangan-angan ke masa depan yang masih jauh.

Contohnya saya yang saat ini masih single, terus ngebayangin “enak kali ya punya suami, ada yang ngebantuin diskusi tesis.” Padahal belum tentu juga, kenyataannya nih, teman-teman sekelas saya yang sudah menikah, malah tesisnya berhenti karena keasyikan ngurus rumah tangga.

Atau contoh lagi, masih tentang saya yang sedang mengerjakan tesis. Setiap kali saya lihat lowongan pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan hubungan internasional, saya sering berharap sudah lulus dan tiba-tiba bekerja di instansi terkait. Padahal kembali bekerja full time di kantor mungkin engga seindah yang saya harapkan. Segala macam tuntutan ada di depan mata untuk membuktikan apakah kita cukup profesional dan produktif. Apalagi orangtua akan tutup mata: engga peduli gajimu berapa, kamu harus bisa survive. Anyway, British Embassy buka lowongan lho: [Digital Media Officer]

Makanya sekarang saya berusaha fokus pada hari demi hari. Setiap pagi, saya mengingatkan diri sendiri untuk membuat kemajuan dengan tesis. Mau harus baca bahan selama dua jam nonstop (satu jam aja deh...); ngetik 1000 kata (hitungannya sedikit, tapi kalau buat tesis, malasnya kanmaen); atau browsing case study (believe me, it can take a lot of time).

Demi menjaga kewarasan, saya memaksakan diri untuk keluar rumah paling tidak dua hari sekali. Saya orangnya suka mager, tapi engga bagus untuk kesehatan mental karena saya orang yang sangat people person. Saya harus tetap ketemu orang agar tidak stres.

Saya juga berusaha untuk tidak melirik kalender atau agenda. Saya membuat jadwal maksimal seminggu ke depan agar tidak memberati pikiran saya sendiri. Hal ini ternyata berguna karena saya jadi melakukan evaluasi setiap hari. Seperti akhir pekan kemarin, saya merasa bersalah karena gagal membaca 5 jurnal dan mengetik 1500 kata untuk kerangka pemikiran. Saya pun harus ‘membayar hutang’ tersebut pada hari ini dan besok. Di sisi lain, saya masih harus banyak istirahat karena badan belum pulih seratus persen. I also attended my classmate’s wedding and turned out it was really fun. Namanya mahasiswa kalau udah ngerjain tesis, cuma bisa reunian kalau lagi bimbingan (itupun beda dosen pembimbing) dan ada yang menikah. I definitely enjoyed last weekend but still feel guilty for my thesis.

Jadi, buat kamu yang sering merasa gelisah, coba lihat lagi apakah kamu tipikal orang yang suka berandai-andai dan justru mengabaikan masa sekarang? Saya pernah baca salah satu cara agar sholat kita lebih khusyu’ adalah dengan membayangkan jika sholat ini adalah sholat terakhir yang kita lakukan. Dalam hidup, saya merasa akan lebih mudah untuk berjuang jika kamu tahu hari ini adalah hari terakhir kamu berada di dunia. After all, kita engga tahu apakah kita masih akan hidup keesokan hari. So, do your best today and make the most of your happiness!     

Love,
Prima

Tuesday, February 14, 2017

Weekend Journal #7

So sorry for being late to post Weekend Journal. Akhir-akhir ini saya sedang engga mood blogging, padahal banyak yang pingin diceritain ke sister. Mungkin efek habis sakit kali. Makanya saya happy banget waktu tahu salah satu finalis World Muslimah Award 2014 dari Singapura, Masturah, main ke Yogyakarta. Ehhh, kok pas saya sakit :((( Jadilah kami hanya main bareng selama satu hari. Terus pagi ini saya down waktu ditinggal Masturah ke airport pagi buta, hiks. Masuk masa seminggu sebelum datang bulan alias PMS memang menyesakkan dada. Argh kesel kesel kesel, engga salah kalau kapan hari saya nulis artikel berjudul: Pasti Ada Alasan Mengapa Tuhan Menciptakan Saya Begitu Perasa.

Oh ya, alhamdulillah saya sudah jauh lebih baik. Sebenarnya hari Selasa lalu saya divonis dokter harus masuk rumah sakit karena positif demam berdarah dan kondisi saya semakin memburuk. Malamnya, saya naik motor sendiri (ditemani roommate) ke rumah sakit dekat rumah, tapi ternyata kamarnya penuh. Udah berasa hotel di Prawirotaman aja pakai penuh segala. Ya sudah, Rabu-Jumat saya istirahat di rumah lagi, sampai bosaaaaan. Lalu Jumat sore saya cek lab dan trombosit saya sudah meningkat pesat. Yay!!!

Sakit selama 10 hari jelas membuat mood saya turun drastis. Pokoknya baper, tidak bersemangat, serba salah juga. Badan masih lemas, mau ngapa-ngapain yang berat sedikit eh capek. Namun beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar seorang sahabat saya divonis lupus. Belum lagi minggu waktu saya sakit itu, saya mengetahui seorang kenalan saya divonis kanker. Hati saya mencelos. Saya jarang sekali sakit parah, bahkan seingat saya, terakhir kali saya ambil darah – itupun untuk medical check up – adalah pada masa World Muslimah Award 2014. Mendengar tentang kabar dua orang ini membuat saya banyak ‘bersyukur’ bahwa Allah masih berkenan mengingatkan saya untuk mengambil rehat dan merenung. Apa ini waktu yang tepat untuk membuat Happiness Project lagi? Mengingat sejak awal tahun, cukup banyak badai yang menghantam biduk kehidupan saya. LOL, drama abis.

Saya minta maaf kalau pagi-pagi sister harus membaca cerita saya yang sedang pesimis. I do feel like I have to find some strength to rise up and move forward. Thankfully I had Masturah came and reminded me that life can be beautiful whatever it gives you. Ngelihat cerita hidup kami berdua, engga heran kalau kami dapat gelar Inspiring Muslimah dulu, hihihi. Semoga siapapun yang membaca ini mendapatkan semangat yang dibutuhkan untuk bangkit:
“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” [Q.S. Ali Imran (3): 190] – (ayat ini diulang sebanyak 16 kali di dalam Al-Qur’an) 

Have a nice day,
Prima

Monday, February 6, 2017

Weekend Journal #6

I was very very sick for the last five days. Nyebelin, kan? Padahal seminggu yang lalu saya ‘berpesan’ kepada sister untuk menjaga kesehatan. Ternyata saya sendiri tepar, sebenar-benarnya tepar.

I am not superwoman. Jadi engga usah komen, “masa Prima bisa sakit?” To be honest, menurut jurnal yang saya tuliskan, saya sakit hampir setiap bulan. Normal lah, flu ringan atau migrain. Gini belum kerja di Jakarta lho, ckckck. Tapi yang kemarin ini benar-benar di luar prediksi. 

Saya kembali dari Surabaya hari Selasa sore. Malamnya Jogja diguyur hujan teramat deras sehingga saya harus meringkuk sendirian di rumah (niatnya nginep kos teman). Rabu pagi saya lupa ngapain tapi badan mulai engga enak. Kok menggigil padahal dingin banget juga engga. Kamis pagi suhu badan semakin meninggi, sampai 39,5 derajat dan jalan kliyengan. Sholat pun duduk. Sisanya tiduran terus di kamar. Engga bisa makan karena (maaf) muntah-muntah. Udah mulai engga sanggup lihat handphone atau laptop.

Jum’at pagi tiba-tiba keadaan saya membaik. Alhamdulillah banget, karena saya sudah janji akan bertugas di event Japan Tobacco International. Engga sebagai SPG sih – lagian siapa yang mau nge-hire saya jadi SPG, hahaha – tapi sebagai fasilitator buat acara semacam Amazing Race. Kegiatannya selesai sebelum jum’atan, dan sesudah itu saya langsung ngibrit ke dokter. Diagnosanya antara gejala tipes atau DB :(((

Jadilah saya menghabiskan sepanjang akhir pekan di tempat tidur (lagi). Sampai tadi pagi. Dengan kekuatan bulan dari Yang Maha Kuasa, saya pergi lagi ke klinik untuk ambil darah dan tes lab. Hasilnya sih baru bisa dilihat besok, mohon doanya ya, semoga saya sudah sembuh sepenuhnya.

[Sekarang saya mau kembali ke tempat tidur lagi karena masih agak pusing.]

Take care,
Prima 

Sunday, January 29, 2017

Weekend Journal #5

Should post it tonight because tomorrow I have a lot of appointments. Halah.

Guess where am I now? I am in Surabaya, unexpectedly. Iya, tadinya saya sudah ‘pamitan’ ke orangtua saya untuk tidak pulang kampung sampai lulus. Soalnya gimana ya, mudik itu engga hanya berat di ongkos, tapi sebagai anak pertama saya pasti ‘dimiskinkan secara paksa’ oleh adik-adik saya. *nangis di pojokan*

Tapi namanya mama dan adik kalau sudah kangen ada aja rayuan mautnya. Ceritanya adik saya tipes dari minggu lalu. Saya kira dia bedrest di rumah sakit, ternyata di rumah. Mungkin mama saya kecapekan menjaganya, sehingga mama saya ambruk dan harus diinfus. Pelajaran berharga, buat sister yang sedang menjaga anggota keluarga di rumah/rumah sakit: makan teratur, minum suplemen, dan jangan sampai dehidrasi. Rasanya hal ini lazim terjadi ya. Yang sakit lumayan baikan, yang ngejaga gantian sakit.

Saya pun pulang pada hari Jumat. Sampai Surabaya, mama dan adik udah cengengesan tuh -___-
Karena sudah telanjur beli tiket balik Jogja hari Selasa, ya sudah mari kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Salah satunya, mematangkan business plan bareng Adis. Kebetulan, dua partner bisnis saya namanya sama-sama Adis, tapi mereka engga saling kenal, hihi. Malam minggu, tahun baru Imlek, saya dan Adis C (satunya Adis S) nongkrong di sebuah kafe di bilangan Klampis. Hujan turun dengan syahdunya, bikin suasana semakin romantis. Apalagi saya sempat lihat mantan pacar pas SMP. Langsung pura-pura lihat ke arah lain deh, padahal dia duduk tepat di samping saya. Kayaknya dia engga ingat sama saya. Zzz.

Namanya ciwi-ciwi ngumpul, meeting dari jam setengah lima sampai jam setengah delapan! :p Itupun kalau engga diberhentikan, mungkin bisa sampai subuh. Nice to talk with you, Adis! Hopefully bisnis kami segera launching dalam hitungan beberapa minggu kedepan.

Tadi pagi saya baru sadar kalau saya engga menulis blog post selama seminggu yang lalu, soalnya saya memang fokus menyelesaikan pekerjaan di ZettaMedia. Alhamdulillah sekarang status saya resmi jadi pengangguran – alias kembali ke status sesungguhnya: mahasiswa! Yang tadinya mau ngebut ngerjain tesis, seminggu kedepan masih akan mondar-mandir sama pekerjaan freelance. Kalau di atas kertas, per tanggal 4 Februari saya akan STOP terima pekerjaan apapun kecuali akhir pekan. Lah kok masih ada ‘kecuali’, kamu serius ngerjain tesis atau engga sih? Nah itu dia. Di sisi lain, saya seharusnya bersyukur, namanya networking yang sudah dibina sekian lama selalu mendatangkan tawaran pekerjaan. Kadang sudah saya alihkan ke kenalan saya, mereka tetap maunya saya yang kerja dengan mereka. Gimana dong? Atau saya sebaiknya menyerahkan tesis saya ke jasa pengerjaan tesis? Hmmm, ide bagus *dikeplak orangtua*

Anyway, hari ini saya sempat menulis tiga blog post, dan satu tulisan buat guestblogging di blognya Ika. Tulisan-tulisan ini sebenarnya sudah lama ada di pikiran saya. Lalu ada beberapa topik lagi yang masih jadi PR, seperti review film La La Land yang saya tonton sendiri (bareng orang satu bioskop) pada hari Kamis lalu. Atau tentang ‘dua anak cukup’ yang sempat jadi perdebatan hangat di status Facebook saya.

Oh ya, buat yang nanya kabar (hati) saya, alhamdulillah saya sudah baikan. Terutama diri saya pribadi, kalau hubungan saya dan si ganteng dari Asia Selatan belum tahu juga. Jalan masih panjang, dan masih banyak ikan di laut pula. Santai sajaaa. Kalau jodoh engga akan lari kemana, betul? Ini juga perlu saya tuliskan menjadi satu blog post tersendiri, supaya jadi pelajaran buat sister yang pingin nyobain online dating juga :)))

In conclusion, you can make your plans, but still Allah knows best. Semoga pekan ini menyenangkan, keep fighting for you who still work. Hore, saya bisa bangun siang lagi! :)))

Lots of love,
Prima

Monday, January 23, 2017

Weekend Journal #4

Wuah, baru weekend keempat dan saya sudah nge-drop. Hahaha. Buat sister yang mengenal saya dengan baik, saya biasanya melakukan dua hal saat sedang sedih: menangis sepuasnya, atau nyari teman yang bisa bikin saya ketawa. And I will laugh out loud like there is nothing happen. Suatu hari, saya lagi ketawa ngakak sama teman-teman sekelas, dan salah satu teman nyeletuk, ‘mbak prima lagi sedih? Kok ketawanya puas banget.’ YEEE ngapain pake diingetin segala *timpuk si teman

Minggu lalu adalah minggu yang berat. Soalnya setelah beberapa lama (sepertinya terakhir tahun 2015), saya mulai menyukai seseorang lagi. Saat saya sedang menulis ini, saya hanya bisa mengingat hal-hal jelek dari dia, mikirin kenapa dia bisa begitu jahat sama saya, dan segala perdebatan kami. Bahkan saya jadi kepikiran, ‘kayaknya dari awal aku udah engga sreg sama dia.’ Tapi saya paksakan karena dia ganteng (yaelah). Selain itu, saya rasa koneksi di antara kami sangat kuat sehingga saya berharap apapun permasalahan yang mungkin timbul, kami akan bisa melaluinya.

Naaah, that’s the thing! Minggu kemarin saya belajar suatu pola yang cukup menyeramkan dari diri saya. Saya sering terburu-buru dalam memutuskan sesuatu!!! Ditambah lagi saya orang yang plin-plan dan ceplas-ceplos, jadilah kadang efek yang terjadi itu buruk banget. Oya, satu lagi, saya orang yang emosional. I feel like a monster now saying this about myself. 

"And man supplicates for evil as he supplicates for good, and man is ever hasty."
["Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa."]
Q.S. Al-Isra' (17): 11

Sebenarnya saya punya alasan saya sendiri. Karena saya orangnya perfeksionis, overthinker, dan kadang sering lambat dalam memberikan keputusan, saya berusaha mengubah hal ini. Sayangnya dalam beberapa situasi tertentu, hasilnya bisa ekstrem. Salah satunya, yang terjadi antara saya dengan si ganteng dari Asia Selatan ini (sebut saja begitu).

Fast forward ke akhir pekan, hari Sabtu pagi saya sudah kalang kabut. Saya mau kemana nih, lebih tepatnya ‘mau mengusir dia dari pikiran saya dengan cara apa?’ Jumat sore saya sudah sangat terhibur dengan zumba, senang banget deh. Tapi berhubung kami janjian untuk ngobrol hari Sabtu, duh saya harus mengalihkan perhatian supaya engga terus-terusan ngecek hp. Saya pun ke perpustakaan kampus dan berencana untuk bekerja. Engga tahunya, saya dapet dan langsung lemesssss. Saya menyempatkan manicure dan mewarnai kuku (sambil curhat habis-habisan ke terapisnya), lalu sampai rumah langsung tepar. Tapi karena sudah diniatkan, saya masih bisa bikin blog post untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke sahabat saya (walaupun terlambat sehari juga).

Hari berikutnya, saya pergi ke Pantai Drini bersama mbak Zeetha dan rombongan dari DM Fitness untuk...zumba on the beach! Sebenarnya zumbanya cuma enam atau tujuh lagu, itupun hanya goyang-goyang dikit secara di pantai, mau berdiri tegak aja susah kan. Saya jadi ngebayangin gimana rasanya main voli pantai. Voli bukan pantai aja saya gagal mulu, apalagi di pantai, bisa dipecat dari tim. Zzz.

Berhubung saya engga kenal banyak orang, saya pun jalan-jalan sama mbak Zeetha and the gang, terus berpisah. Oh ya, saya kan lagi dapet, jadi engga bisa nyemplung. Tapi saya menikmati berjalan ‘di bawah’ Pulau Drini, mendekati laut...sampai dicariin sama rombongan karena dikira hilang di laut :))

No I didn’t mean to commit suicide. Saya hanya mencoba menelusuri kapan semuanya tiba-tiba menjadi berantakan. Saya salah, satu kali. Saya pikir hanya satu kali itu saja. Saya minta maaf. Dia memaafkan. Namun esoknya, saya sudah tidak bisa memungut hatinya yang telah berserakan dan mengumpulkannya menjadi suatu hal yang utuh. Dia sudah memalingkan hatinya dari saya.

Cieh. Drama banget. #ahzeeek

Sebenarnya, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Bahkan dengan cara saya menuliskannya di blog seperti ini, justru bisa memperkeruh suasana walaupun dia engga bisa bahasa Indonesia (kan bisa Google Translate – lah kenapa saya kasih ide?). Sekali lagi, saya berpikir dan mengambil kesimpulan terlalu cepat.

It’s another week and I will start another chapter of life, back as a freelancer (baca: pengangguran) once again. Yes, I took unpaid leave from my workplace for two months. Minggu depan insyaAllah saya akan kembali berkuliah – supaya saya engga ada alasan untuk engga ke kampus. Semoga minggu ini berjalan dengan baik, kalau ada masalah yaaaaa semoga saya diberi jalan untuk menyelesaikannya. Capek bok, nangis terus.

And you, yes you! I hope you are happy :)

Lots of love,
Prima

Monday, January 16, 2017

Weekend Journal #3

Tiga bulan terakhir di tahun 2016, akhir pekan saya tergolong sangat produktif. Terutama karena saya mengadakan ZettaMedia #LifeGoals setiap dua minggu sekali. Nanti akan saya ceritakan tentang workshop penulis profesional yang didanai oleh kantor saya ini. I was so grateful to collaborate with my friends, such as Erny Kurniawati, Aga Prastomo, Mbak Rani from SP*ACE FISIPOL UGM, Mas Dira from Orbit Semesta EO, and many more. Saya juga kebagian ‘rezeki’ bekerjasama dengan orang-orang hebat dan didukung oleh venue yang keren: Kolase Coffee, Lippo Plaza, dan Ling-lung Kopi & Eatery. 

Ternyata, memasuki tahun 2017, akhir pekan saya masih didominasi dengan berbagai kesibukan. Hari minggu pertama di bulan Januari – tanggal 1, saya meeting dengan tim saya, Henny, dan Erny yang membantu proyek besar saya tahun ini. Minggu lalu, saya menghabiskan hari sabtu dengan mereview sebuah restoran Korea baru di daerah Seturan. Itu juga masih nanti ya di-post di blog, sabar aja deh namanya juga masih fokus bikin proposal tesis :)))

Hari sabtu dan minggu kemarin, saya meeting lagi dengan alumni #LifeGoals dan Henny (lagi). Minggu pagi sempat mampir ke Mirota Batik beli kain untuk seragam (seragam apa yaaa, hihi) lalu ke Liman beli kain alas foto. 

Then why I decided to post Weekend Journal on blog? Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri kalau akhir pekan itu BUKAN waktunya tidur seharian. Tidur (sedikit) lebih lama boleh deh, tapi masih banyaaaaak sekali target dan impian yang ingin dicapai. Tahun ini resolusinya hanya satu: kerja, kerja, dan kerja! (Eh tiga dong). Terutama kerja di luar (work out :p). Apalagi kalau kegiatan selama akhir pekan tidak ditulis, biasanya cenderung wuuush, udah senin aja. Masih belum puas, ya kan?

So, welcome to another chapter of A Blessed Life. Hopefully it can be our reminder that time is meant to be optimized. Have a great weekday ahead!

Lots of love,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...