Showing posts with label #RefleksiRamadhan. Show all posts
Showing posts with label #RefleksiRamadhan. Show all posts

Monday, June 11, 2018

#Refleksi Ramadan 1439 H: Finale

Assalamu’alaikum, Pemirsaaa. Kok sudah hari ke-26 aja ya.. Ini waktu berlalu begitu cepat atau kalender saya yang bermasalah? Bisa ga nih, kita balik ke hari pertama Ramadan? *ditimpuk pembaca

Iyaaa, iyaaa. Tadinya saya sudah janji kepada diri sendiri untuk mengisi blog ini lagi dengan tema-tema #RamadanMenulis. Sungguh saya merasa berdosa karena mewajibkan para peserta menulis secara konsisten, sementara sayanya malah kabur mengurusi ujian kehidupan yang tiada habisnya. Tsah. Tapi beneran, saya lelah luar biasa pada Ramadan tahun ini. I know setiap orang punya porsi ujiannya masing-masing. Kalau saya tidak diuji dengan masalah ini, saya tetap akan diuji dengan masalah lain. Jadi lain kali ada ujian datang, senyumin aja. Enggak takut, weeek. *Julurin lidah ke masalah*

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah (94): 5-6)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".” (Q.S. Al-Baqarah (2): 286)

Selama bulan Ramadan, Al-Insyirah dan dua ayat terakhir Al-Baqarah menjadi favorit saya untuk dibaca pada saat salat wajib maupun sunah. Despite the fact that I am forever grateful to be able to release my book, Perjalanan Menuju Cahaya, and also held Ramadan Menulis on my second account Instagram Muslimah Sinau, life has been so hard these days.

Bermula dari Whatsapp saya yang di-block oleh mama beberapa hari sebelum Ramadan, sehingga membuat saya fokus meminta dan terus meminta kepada Allah, bagaimana caranya agar bisa berbaikan dengan mama saya sebelum saya berangkat ke Bali. Dikabulkan? Ya, Allahu Akbar! Mama saya dilarikan ke rumah sakit pada hari Selasa minggu lalu karena kondisi badan yang drop. Insya Allah mama saya tidak menderita penyakit yang berarti, hanya mungkin kebebanan pikiran tentang saya sampai stres. Saya pun berkesempatan menemuinya dan akhirnya kami berbaikan di rumah sakit. 

Akan tetapi, saya harus melewati proses yang menyakitkan untuk dapat melepaskan perasaan bersalah (karena sebenarnya saya tidak bersalah dalam kejadian ini – but it’s too complicated to tell). Saya pikir saya hampir masuk jurang depresi lagi. Saya sudah mulai sering bengong lagi, susah tidur, dan malas beranjak dari kamar. Selain dibantu dengan obat antidepresan; pekerjaan, Ramadan Menulis, dan berdialog dengan Ustaz membangkitkan saya dari keterpurukan. Pokoknya saya bertekad enggak boleh sampai jatuh lagi. Nangis boleh, sesenggukan oke. Tapi jangan sampai terjun bebas kayak waktu itu.

Namun pada akhirnya, ada satu khotbah tarawih yang saya catat dalam hati dan pikiran. Bahwa ujian itu ada untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat seseorang. Saya pulang dengan tersenyum dan memeluk ayah saya, “Alhamdulillah Yah, semoga aku dimampukan Allah untuk menemuiNya dalam keadaan suci tanpa dosa karena ujian-ujian yang datang ke kehidupanku.”

Sesudah malam itu, saya mencoba untuk lebih berbahagia. Saya menulis gratitude list lagi, dan berfokus pada apa yang bisa saya maksimalkan pada Ramadan tahun ini. Memang ada hal-hal yang hingga hari ini masih saya latih terus-menerus, tapi untuk menambah wawasan Sister, bolehlah belajar dari kesalahan saya berikut:

Tuesday, May 22, 2018

Refleksi Ramadan 1439 H: Standar Sukses Berpuasa Ramadan

“…bisa bantuin aku kasih link pencerahan rohani gitu....seriusnya....kok aku gak dapet asiknya Ramadhan.”

Setelah ber-basa basi singkat, Kak Didi, begitu saya memanggil perempuan itu, melontarkan pertanyaan yang sesungguhnya juga sedang menggelayuti pikiran saya. Wah, sepertinya dia belum baca buku saya (LOL) atau mengikuti akun Muslimah Sinau (hehe). Bercanda, Pemirsa. Saya pun bertanya balik bagaimana ibadahnya akhir-akhir ini. Dia katakan, dia baru saja bersuci dari menstruasi. Saya tanya lagi, apa ada masjid di dekat tempat tinggalnya. Ternyata oh ternyata, dia tinggal di Ubud. Waduh. *langsung menyiapkan mental* 

But seriously, although I have released a book that titled “Perjalanan Menuju Cahaya: Renungan Harian Ramadan untuk Muslimah Pembelajar” and I was sooooo happy to meet Ramadan again (I even did jingkrak-jingkrak on the first tarawih evening); I still feel that I haven’t optimized this Ramadan yet. Kabar buruknya, sudah hari ke-6. Kabar baiknya, baru hari ke-6 dan insya Allah masih ada 22-23 hari lagi untuk berjuang.

Nah, kebetulan khotbah tarawih malam ke-4 adalah tentang muhasabah diri alias evaluasi. Ustaz tersebut menyatakan, Muslim yang menjalani Ramadan ini gampangannya sedang berjalan (…menuju cahaya :p) menuju suatu tujuan. Ya ya ya, mungkin kita bahkan sudah hafal Surat Al-Baqarah ayat 183 di luar kepala, tapi sudahkah kita benar-benar memahami tujuan puasa itu sendiri?

‘Buat jadi manusia bertakwa, Prim.’  Yaaa, sekarang pertanyaannya sudah tahu apa itu takwa? Atau belum? Waiki, that’s why puasa bertahun-tahun tapi enggak berubah, gara-gara enggak tahu arah perjalanan ini. Istilahnya, Sister mau ke Jakarta, tahu banget Jakarta ada di bagian barat Pulau Jawa, tapi Sister malah bergerak ke arah timur. Enggak bakal nyampe. 

Wednesday, May 16, 2018

Refleksi Ramadan 1439 H: Menjadi Muslim yang Lebih Berempati

“Kita enggak akan pernah tahu rasanya jadi minoritas kalau enggak pernah ngerasain.”

Saya baru tiba di Jakarta dan driver GoCar ini sudah mulai menceramahi saya. Saya – di sela-sela perasaan mabuk karena baru saja naik kereta dari Surabaya, lanjut KRL sampai Stasiun Pasar Minggu Baru – mengangguk-angguk. Mungkin ia merasa tak mendapat tanggapan, sehingga ia melanjutkan ceramahnya dengan berapi-api hingga kami tiba di kos teman saya di daerah Jati Padang.

What he didn’t know, I actually took some notes from what he said. I just never thought that it will be an urgent topic to discuss for, only two weeks after.

Saya, yang lahir sebagai seorang Muslim dan besar di Jawa, tidak pernah menyadari bahwa menjadi mayoritas adalah sebuah privilese. Sampai suatu waktu, seseorang berkewarganegaraan Amerika bertanya kepada saya, “how does it feels to be a Muslim in Indonesia?” That American girl, now converted to Muslim, was the first person ever who reminded me that it’s GREAT to be a Muslim in Indonesia.

Tak lama sesudah pertanyaan itu muncul dan mengisi benak saya selama berhari-hari, saya menjalani karantina World Muslimah Award 2014. Bersama sekitar 17 finalis lain dari Inggris, Iran, India, Bangladesh, Trinidad & Tobago, Tunisia, Malaysia, Singapura, dan Nigeria; kami bertukar kisah tentang menjadi Muslim di negara masing-masing. And you know what? The hardest thing of being a Muslim is not receiving the poor treatment from non-Muslim, but from our own brother/sister. My roommate was Dina Tokio from England, and if you see her style, I won’t be shocked to know she is judged a lot by other British Muslims. Ya memang, sang pemenang, Fatma dari Tunisia, banyak menerima perlakuan tidak adil saat dia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Perancis. Dia sempat mengatakan, “betapa enaknya kalian Muslimah Indonesia bisa berhijab dengan santai dan tenang. I can’t.” Tapi selepas itu, perlakuan paling keras ‘biasanya’ adalah dari kalangan Muslim sendiri.

Saya pun merefleksikan pengalaman ini dengan hari-hari saya selama menjadi volunteer di Ubud Writers & Readers Festival. Entah kenapa, berinteraksi dengan rekan-rekan yang Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, tak beragama, tak bertuhan... terasa ‘alami’. Mungkin karena kami tidak pernah ‘menyenggol’ hal-hal yang bersifat prinsipil. Kamu mau nge-bir, terserah. Enggak nge-bir, ya enggak ada yang maksa juga. Pernah juga volunteer pada mau makan malam, nungguin saya dulu yang harus mengkhatamkan Alquran (nanggung nih, udah setengah jalan juz 30, hehe). Sekumpulan orang dewasa yang berkumpul dengan membawa prinsipnya masing-masing, tahu apa yang perlu dikatakan dan apa yang tidak.

Loncat ke peristiwa pengeboman di Surabaya, I was devastated. Really. Saya tak sanggup berkata-kata karena saya rasa kita semua tahu, Surabaya adalah salah satu kota paling damai di Indonesia. Candaan datang silih berganti, bahwa Surabaya adalah kota paling ‘seru’, karena di mana lagi Jawa-Madura-Cina-Arab-dan kelompok lain bisa hidup berdampingan dengan rukun? Sejak menjadi perwakilan Surabaya untuk World Scout Jamboree dan harus satu regu dengan anak pesantren PLUS anak Sekolah Ciputra PLUS anak Sekolah Al-Azhar, saya semakin mengerti perbedaan itu garis tipis yang menjadi pilihan: kita mau mempermasalahkannya atau tidak? Toh pada akhirnya kami makan sepiring dan tidur setenda. Bayangin kalau enggak saling percaya, bisa-bisa w kudu tidur di luar tenda.

Sunday, July 3, 2016

#RefleksiRamadhan: FINALE

Allahu akbar!!!!! This year might be the most unproductive year for me and my personal blog. Apalagi di bulan Ramadhan ini ternyata saya hanya mampu mem-post lima #RefleksiRamadhan. Kalau sister hanya menilai saya dari blog, mungkin sister akan berpikir, ‘prima kemana aja selama Ramadhan ini? Tidur doang? Atau lagi sibuk banget ngerjain tesis?’ BWAKAKAKAKAKAKAKAKAKAK *ngakak sampai Lebaran* Hasrat hati sih pingin ngerjain tesis atau paper buat ACMC, tapi apa daya tiap buka laptop yang di-klik folder kerjaan lagi, kerjaan lagi. 

Meskipun demikian, banyak sekali hal yang harus saya syukuri dan tentu saja, saya pelajari di Ramadhan tahun ini. Salah satunya yang pasti saya dapat THR lagi setelah sekian lama~~~~~ yang langsung amblas dipakai buat kasih uang saku dan kado buat adik-adik tersayang. Secara hari raya Idul Fitri juga bertepatan dengan menjelang masuk tahun ajaran baru, dan alhamdulillah adik-adik saya sudah pada dapat sekolah semua. Jadi siap-siap deh, “mbak, hadiah buatku mana?” Padahal namanya masuk sekolah ya tanggungjawab pribadi, kenapa saya ikutan repot #lah #dasarkakaktakberguna

Berhubung saya besok sudah mudik ke Surabaya, kali ini saya (mau tidak mau) akan membagikan beberapa mutiara dari ceramah-ceramah tarawih yang sudah saya catat di handphone saya. Seharusnya sih, setiap malam langsung saya tuangkan di blog, tapi ya sudahlah. Saya tidak mungkin membalikkan waktu kan. Ini beberapa cerita yang menginspirasi saya selama Ramadhan ini:

1. Gravitasi Dunia vs Langit
Mungkin sister pernah mendengar tentang ‘hamba yang sangat terkenal di langit, tapi tak terkenal di dunia.’ Pertama kali saya mendengar konsep tersebut, saya langsung merasa bahwa Allah itu Maha Adil. Let’s just say in simple words, tidak semua orang bisa mendapatkan ‘kebahagiaan’ di dunia. Tapi kalau dipikir lagi, apa sih sebenarnya makna kebahagiaan? Punya rumah gede? Mobil bagus? Koleksi Hermes? Atau tahu bedanya lipstik lima ratus ribu dan lima puluh ribu? #eh 

Semua bentuk kebahagiaan diatas ternyata bukanlah sesuatu yang dikejar oleh hamba satu ini. Atau mungkin beliau sempat memiliki impian, tapi tidak lagi menjadi prioritas ketika memahami bahwa Allah menyimpannya untuk diberikan di akhirat nanti. 

Tentu saya tidak ingin mengatakan ‘ya sudah yang penting kamu jungkir balik sholat terus atau ngaji terus aja, nanti juga bakal dimasukin surga.’ Kerja juga ibadah, apalagi kalau sister bekerja di sektor yang sangat berpotensi untuk mencetak amal jariyah. Seperti saya dan tulisan-tulisan saya gitu *ehem*

Beberapa hari yang lalu, saya juga pernah membaca sebuah kutipan, ‘having dunya is not a problem, loving dunya is.’ Saya harus menyampaikan hal ini karena mungkin sister bertanya, lha gimana kalau memang hidup saya alhamdulillah enak? Apa saya harus hidup menyengsarakan diri? No no! Ustadz Salim A Fillah pernah bilang, bahwasanya semua yang kita miliki idealnya bukan hanya milik kita pribadi. Sebisa mungkin, semuanya bermanfaat untuk ummat. Jadi kalau kebetulan sister memiliki mobil dan tinggal di daerah yang banyak orang miskin, mungkin sister ‘dikirim’ oleh Allah untuk membantu mengantar orang sakit ke rumah sakit atau ibu hamil ke bidan. Bagaimanapun, semua hal itu lebih aman untuk dilakukan dengan mobil daripada sepeda motor kan. 

Yang kemudian membahayakan adalah ketika mobil itu menjadi sarana bermewah-mewahan, menyombongkan diri, dan tidak mudah puas. Bukan sponsored post nih (LOL), misalnya sister cuma mampu punya Toyota Avanza, tapi memaksakan diri untuk membeli Mercedes Benz demi gengsi. Contoh lain, adanya televisi di rumah boleh digunakan untuk mencari ilmu pengetahuan, jangan dipakai buat menonton The Kardashians terus. Ya, prim? *ngomong sama diri sendiri* Sampai pada akhirnya, televisi membuat sister lupa akan jam sholat. Mobil mewah membuat sister lebih mikirin angsurannya daripada bersedekah. Perlahan sister lebih mengutamakan dunia daripada akhirat yang lebih kekal. Waspadalah, jika semuanya terasa sangat mudah, mungkin sister sedang diuji dengan istidraj: ditinggikan di dunia, direndahkan di akhirat. Naudzubillahi min dzalik. 

That’s why, jangan berlebihan dalam hal apapun di dunia. Kalau kata lagu dangdut, yang sedang-sedang saja. Sementara untuk akhirat, sebaliknya. Gas pol! Ada waktu untuk sholat dhuha, jangankan hanya 2 atau 4 rakaat, lakukan 12 rakaat! Sudah mampu melakukan #OneDayOneJuz? Pertahankan dan ajak lebih banyak orang untuk melakukannya. Berlomba-lombalah dalam hal kebaikan dan ibadah, supaya kelak nama sister digaungkan di langit. 

Wednesday, June 22, 2016

#RefleksiRamadhan: How Does It Feels to be Single for More Than 5 Years?

Maybe it’s the time.

Seperti sister tahu, saya mudah menangis, kalau tidak bisa dibilang sering. Tetapi tentu ada beberapa hari dalam sebulan yang menjadikan saya jauh lebih mudah menitikkan air mata. Kalau ada yang bilang ‘senggol, bacok’, buat saya jadinya ‘senggol, (saya yang) nangis’. Dulu saya pernah kesal karena ‘keahlian’ saya satu ini. Soalnya, bawaan dari sononya, saya ini terlalu ekspresif. Kalau lagi tertawa, ya bisa terbahak-bahak. Kalau lagi menangis, bisa sampai meraung. Ya engga apa-apa juga kalau lagi sendirian, kalau lagi sama orang atau di muka umum kan engga enak, nanti saya dipikir orang gila lagi. 

Namun saya pernah bersyukur. Dengan segala hal yang terjadi dalam hidup saya (duileeeee berasa hidupnya sengsara banget nih?), saya rasa menangis itu katarsis. Something to keep me sane. Saya ‘senang’ bisa mudah menangis sampai kelelahan dan tertidur, lalu ketika bangun saya bisa memulai hari yang lebih baik. Saya pun bukan orang yang suka menutupi perasaan. Saya pernah menangis di kantor, di kampus, di angkutan umum (sambil menyandarkan kepala ke jendela biar kayak di film gitu..). Ketika hal itu terjadi, saya bukannya sedang cari perhatian. Saya tidak bisa menahannya saja. Kadang di rumah pun bukan tempat yang baik untuk menangis. Saat saya menangis, saya tidak ingin ditanyai. Saya ingin didiamkan. Kalau ada yang mau memeluk, boleh. Apalagi kalau seganteng Chris Evans Pangeran Dubai. Meski saya sadar ini kebiasaan yang kurang profesional dan saya berusaha keras untuk meminimalisasinya, saya belum mampu. Paling saya ngibrit ke kamar mandi supaya tidak ada yang melihat (tapi kalau lagi di angkutan umum, mesti lari kemana?). 

Pagi ini, saya membaca blog post Nazura Gulfira yang ini. Saya pernah berkirim email ke dia mungkin setahun atau dua tahun yang lalu, tapi beberapa minggu terakhir email kami jadi lebih sering. Thanks to my workplace that ‘meets’ us virtually. Kalau kamu pembaca blognya Nazura, pasti setuju kalau tulisan-tulisannya cocok untuk dibukukan. And she made it! Congratulations, Nazu! *brb beli bukunya dan antri tanda tangannya* 

Kali ini saya bukan mau cerita tentang bukunya, nanti saja kalau sudah meet n greet (kapaaaaan, Nazu? :p). I always love the ‘darkness’ side that she reveals in her writing. She is undoubtedly blessed, and shows her gratefulness with a very special way. Hampir sama dengan mas Ariev Rahman, Nazura juga jarang menulis pendek. Tidak seperti saya yang setiap post-nya ‘yang penting kelar’, she really applied mindfulness in her writing.  

Kali ini saya juga bukan mau cerita tentang perjalanannya di negara-negara di Eropa (yang sempat bikin saya menjauhi blognya untuk sementara waktu). Kembali ke post yang saya pagi ini. Hanya itu. 

Instead of commenting on her blog, I decided to make my own post. 

But before that, I want to say: “Nazura, baru setahun???????????? Aku lho, lima tahun. LIMA tahun.”

(kasih ekspresi ketawa getir) 

Tuesday, June 21, 2016

#RefleksiRamadhan: Apakah Kamu Teman yang Baik?

Apa kabaaar? Sudah malam ke-17 Ramadhan lho~ Gimana ngajinya, sudah dapat berapa juz?

Akhirnya saya tarawih (bukan taraweh – kalau kata seorang editor bahasa) lagi sesudah tiga hari tidak tarawih (di masjid). Hari Sabtu hujan deras sekali sampai mau ke mushola terdekat pun rasanya akan sulit dilakukan tanpa basah kuyup. Hari minggu saya sakit kepala sejak sore, lalu kemarin saya baru menenggak obat yang bikin engga tahan berdiri lama. Guess what? Saya sakit gigi lagi brooo. Lebih tepatnya, saya mengalami dislokasi rahang yang menyebabkan saya tidak boleh mengunyah. Ini saya sedang diperban kayak pocong orang habis operasi perampingan dagu. Meskipun kalau punya uang, mending saya operasi biar hidung saya agak mancung. #YaKaleee

Beberapa hari yang lalu, ada ceramah tentang teman. Jadi ada beberapa kategori teman yang baik, seperti amar ma’ruf nahi munkar – teman yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang tidak baik (yaeyalah). Ada juga teman yang memberikan peningkatan ekonomi kepada kita. Ada juga yang as simple as making us feel comfortable, tentunya tanpa melupakan kriteria amar ma’ruf nahi munkar itu tadi. Terakhir, sebenarnya yang paling penting dan utama, yang membuat kita selalu ingat akan Allah. Meskipun, teman yang masuk kategori tipe ini bisa juga mengingatkan kita akan Allah saking karena kita jengkel sama dia. Kalau lagi sama dia, rasanya pingin banyak-banyak istighfar. “Ya Allah, dosa apaaa aku ini, punya teman dia?” Hahahahaha, bercanda. 

Kali ini, yang saya minta dari sister bukanlah ‘mengevaluasi’ lingkaran pertemanan sister. Saya yakin sister punya teman-teman yang insyaAllah kece dunia akhirat. Contohnya saya deh, walaupun kita berteman secara virtual #pede

Tapi ketika sister memandang ke cermin, apakah sister sudah merasa jadi seorang teman yang baik? Yang konsisten dalam mengajak kepada kebaikan, bukan hanya sekadar having fun. Apakah sister termasuk kategori orang yang membawa perbaikan ekonomi kepada lingkungan sister? Bahkan mungkin hanya merekomendasikan, menjadi penyambung informasi – baik rezeki secara materiil, maupun ilmu untuk pengembangan diri. Bukan teman yang pelit, kalau ada informasi lowongan pekerjaan atau kuis berhadiah ke Perth, Australia; maunya disimpan sendiri supaya kompetitor berkurang. Percayalah bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur. Meski yah, kalau sister yang menang ke Perth, tolong ajak saya dong :))

Saya jadi ingat seorang teman yang pernah saya sebut namanya di blog ini sekitar setahun yang lalu. Akhir tahun kemarin, kami bertengkar hebat dan saya sempat bersumpah tidak akan bicara lagi dengannya. Akan tetapi saya merasa hal itu tidak menunjukkan kedewasaan saya. Saya pun memilih untuk mengatakan di depan mukanya langsung bahwa saya kecewa atas perlakuannya, tapi saya juga minta maaf jika ada kesalahpahaman sehingga dia harus memperlakukan saya demikian buruknya. Butuh hitungan bulan untuk kami bisa saling melempar senyum, makan siang bersama, dan kembali bersahabat. Sebulanan terakhir kami cukup dekat sehingga bisa hang out seperti dulu lagi. Sebelum dia mudik hari minggu kemarin, dia mengatakan “eh kapan hari aku mau whatsapp mbak Prim, kapan ke kos lagi? Aku kangen deh. Tapi takut mbak Prim GR.” 

Saya menangis di jalan pulang dari kosnya hari itu. Saya tahu saya bukan orang yang sempurna. Saya lebih sering jadi teman yang morotin daripada yang mentraktir. Saya masih sering ngomong kotor – dan pembicaraan engga jelas lainnya yang jelas bukan amar ma’ruf nahi munkar. Tapi saya ingin terus menjadi lebih baik. Saya ingin suatu hari nanti seseorang berteman dengan saya dan merasakan kasih sayang Allah, sehingga berusaha untuk lebih dekat dengan-Nya. Semoga bisa, dan semoga sister pun demikian.

Lots of love,
Prima

Tuesday, June 14, 2016

#RefleksiRamadhan: Filosofi Layang-Layang

Pic from here.

Hari ini saya ikut buka puasa bersama di kantor tante saya, dilanjut ‘taraweh kecil-kecilan’ dengan makmum pria satu orang, dan makmum wanita beberapa orang. So, tidak ada ceramah hari ini. Tapi, saya ada cerita dari ceramah taraweh beberapa hari yang lalu. 

Saya agak lupa konteks ceramahnya gimana (lah?), yang jelas saya menangkap kisah tentang layang-layang yang menurut saya patut dijadikan peringatan bagi semua orang.

Pernah tahu layang-layang dong? Atau sister adalah mantan alay (anak layangan)? :p

Lucunya, sore hari sebelum taraweh, saya sempat menyenandungkan lagu Layang-layang. Mungkin saya ada bakat cenayang, bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Halah. 

Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang

Kujadikan layang-layang
Bermain berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hatiku riang dan senang

Monday, June 13, 2016

#RefleksiRamadhan: Pindah Jam Makan

Pic from here.
Kalau saya membuka post ini dengan menuliskan, ‘engga kerasa ya, sudah sembilan hari terlewati”, pasti terdengar sangat klise. Buat saya pribadi, tadi ini baru taraweh ke-4, jadi masih tergolong ‘pemanasan’. Seharian badan masih lemas banget padahal kerjaan cuma ngeliatin laptop. Menjelang ashar baru bisa ‘berkicau’. Begitu adzan maghrib, rasanya mau makan semua yang terhidang di meja. Yaelah, kayak puasa anak TK aja, prim..

Ngomongin tentang taraweh, sister pasti tidak pernah melupakan yang namanya catatan khutbah taraweh. Iya, yang tiap hari harus minta tanda tangan ustadz/takmir, terus dikumpul ke wali kelas untuk dicek. Dulu saya termasuk rajin dan catatannya paling lengkap. Cuma kalau sudah menjelang hari raya, apalagi sudah mudik ke rumah nenek, jadi malas mencatat khutbah karena disampaikan dalam bahasa Jawa. Berasa aneh aja tiap kalimat harus nanya, “Ti, artinya apa?” Yang ada malah dapat tambahan ceramah dari nenek mengenai pentingnya belajar bahasa Jawa. 

Then I think, why don’t I do it again now? Sejak saya nge-blog tahun 2013, saya memang sudah sering memasukkan cerita-cerita yang saya dapat dari khutbah yang saya dengar atau pengajian yang saya hadiri. Tapi untuk bulan yang sangat spesial ini – yang insyaAllah setiap harinya saya akan mendapatkan siraman rohani – kan sayang kalau tidak didokumentasikan. Semoga catatan ini berguna suatu waktu nanti kalau iman saya sedang turun. 

So, refleksi Ramadhan hari ini adalah...masalah rezeki. Ustadz yang hari ini memberikan ceramah, suaranya mirip Profesor Snape! Berat, ngomongnya lambat-lambat, setiap kata diberi penekanan. Saya hampir nungguin dia ngomong ‘avada kedavra’. LOL. 

Sebenarnya beliau tidak membahas masalah rezeki. Yang beliau sampaikan justru tiga amal yang paling dicintai Allah, yaitu berderma, ‘menjalin hubungan’ dengan Al-Qur’an, dan qiyamul lail alias sholat Tahajud. Amal yang pertama sempat membuat saya tertohok, saat beliau mengatakan tentang nilai dari ‘beramal saat lapang dan saat sempit.’ Jadi beramal tidak harus menunggu kaya. Sedikit juga boleh, asal rutin, konsisten, dan ikhlas. Duh, sedih banget dengernya; secara sejak hari pertama Ramadhan, saya belum mengeluarkan sepeserpun untuk shodaqoh. Memalukan? Banget! Memang saya ada alasan yang tidak perlu diceritakan disini, tapi rasanya ada beban menghimpit di dada. Saya hanya bisa banyak mengucap istighfar dan berdoa semoga segera ada rezeki yang bisa digunakan untuk ber-shodaqoh. 

Selain tentang amal, saya juga terkesan dengan kemampuan masjid tempat saya ber-taraweh dalam menyiapkan 300-400 pax takjil setiap harinya. Saya dengar Masjid Jogokariyan yang dipimpin oleh Ustadz Salim A. Fillah menyediakan 1200 piring untuk makanan buka puasa selama bulan Ramadhan. Ngaku deh, siapa diantara sister yang tergabung dalam geng PPT (Para Pencari Takjil)? :p

Beberapa tahun terakhir, saya hampir tidak pernah mengejar takjil gratis meskipun berencana menghabiskan maghrib di suatu masjid. Selain karena malas antri, saya pernah menolak pemberian takjil karena saya merasa masih mampu membeli. Sementara di masjid itu ada banyak sekali orang yang sedang mengantri – dan menurut saya lebih membutuhkan. Tapi pernah juga sih, bela-belain antri makanan buka puasa di sebuah masjid karena hari itu menunya ayam goreng crispy dari sebuah merek franchise terkenal (#eaaa). 

Bukannya saya ingin menyombongkan diri, tapi dibalik itu justru ada cerita yang sangat menyedihkan. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...