Assalamu’alaikum, Pemirsaaa. Kok sudah hari ke-26 aja ya.. Ini waktu berlalu begitu cepat atau kalender saya yang bermasalah? Bisa ga nih, kita balik ke hari pertama Ramadan? *ditimpuk pembaca
Iyaaa, iyaaa. Tadinya saya sudah janji kepada diri sendiri untuk mengisi blog ini lagi dengan tema-tema #RamadanMenulis. Sungguh saya merasa berdosa karena mewajibkan para peserta menulis secara konsisten, sementara sayanya malah kabur mengurusi ujian kehidupan yang tiada habisnya. Tsah. Tapi beneran, saya lelah luar biasa pada Ramadan tahun ini. I know setiap orang punya porsi ujiannya masing-masing. Kalau saya tidak diuji dengan masalah ini, saya tetap akan diuji dengan masalah lain. Jadi lain kali ada ujian datang, senyumin aja. Enggak takut, weeek. *Julurin lidah ke masalah*
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah (94): 5-6)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".” (Q.S. Al-Baqarah (2): 286)
Selama bulan Ramadan, Al-Insyirah dan dua ayat terakhir Al-Baqarah menjadi favorit saya untuk dibaca pada saat salat wajib maupun sunah. Despite the fact that I am forever grateful to be able to release my book, Perjalanan Menuju Cahaya, and also held Ramadan Menulis on my second account Instagram Muslimah Sinau, life has been so hard these days.
Bermula dari Whatsapp saya yang di-block oleh mama beberapa hari sebelum Ramadan, sehingga membuat saya fokus meminta dan terus meminta kepada Allah, bagaimana caranya agar bisa berbaikan dengan mama saya sebelum saya berangkat ke Bali. Dikabulkan? Ya, Allahu Akbar! Mama saya dilarikan ke rumah sakit pada hari Selasa minggu lalu karena kondisi badan yang drop. Insya Allah mama saya tidak menderita penyakit yang berarti, hanya mungkin kebebanan pikiran tentang saya sampai stres. Saya pun berkesempatan menemuinya dan akhirnya kami berbaikan di rumah sakit.
Iyaaa, iyaaa. Tadinya saya sudah janji kepada diri sendiri untuk mengisi blog ini lagi dengan tema-tema #RamadanMenulis. Sungguh saya merasa berdosa karena mewajibkan para peserta menulis secara konsisten, sementara sayanya malah kabur mengurusi ujian kehidupan yang tiada habisnya. Tsah. Tapi beneran, saya lelah luar biasa pada Ramadan tahun ini. I know setiap orang punya porsi ujiannya masing-masing. Kalau saya tidak diuji dengan masalah ini, saya tetap akan diuji dengan masalah lain. Jadi lain kali ada ujian datang, senyumin aja. Enggak takut, weeek. *Julurin lidah ke masalah*
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah (94): 5-6)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".” (Q.S. Al-Baqarah (2): 286)
Selama bulan Ramadan, Al-Insyirah dan dua ayat terakhir Al-Baqarah menjadi favorit saya untuk dibaca pada saat salat wajib maupun sunah. Despite the fact that I am forever grateful to be able to release my book, Perjalanan Menuju Cahaya, and also held Ramadan Menulis on my second account Instagram Muslimah Sinau, life has been so hard these days.
Bermula dari Whatsapp saya yang di-block oleh mama beberapa hari sebelum Ramadan, sehingga membuat saya fokus meminta dan terus meminta kepada Allah, bagaimana caranya agar bisa berbaikan dengan mama saya sebelum saya berangkat ke Bali. Dikabulkan? Ya, Allahu Akbar! Mama saya dilarikan ke rumah sakit pada hari Selasa minggu lalu karena kondisi badan yang drop. Insya Allah mama saya tidak menderita penyakit yang berarti, hanya mungkin kebebanan pikiran tentang saya sampai stres. Saya pun berkesempatan menemuinya dan akhirnya kami berbaikan di rumah sakit.
Akan tetapi, saya harus melewati proses yang menyakitkan untuk dapat melepaskan perasaan bersalah (karena sebenarnya saya tidak bersalah dalam kejadian ini – but it’s too complicated to tell). Saya pikir saya hampir masuk jurang depresi lagi. Saya sudah mulai sering bengong lagi, susah tidur, dan malas beranjak dari kamar. Selain dibantu dengan obat antidepresan; pekerjaan, Ramadan Menulis, dan berdialog dengan Ustaz membangkitkan saya dari keterpurukan. Pokoknya saya bertekad enggak boleh sampai jatuh lagi. Nangis boleh, sesenggukan oke. Tapi jangan sampai terjun bebas kayak waktu itu.
Namun pada akhirnya, ada satu khotbah tarawih yang saya catat dalam hati dan pikiran. Bahwa ujian itu ada untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat seseorang. Saya pulang dengan tersenyum dan memeluk ayah saya, “Alhamdulillah Yah, semoga aku dimampukan Allah untuk menemuiNya dalam keadaan suci tanpa dosa karena ujian-ujian yang datang ke kehidupanku.”
Sesudah malam itu, saya mencoba untuk lebih berbahagia. Saya menulis gratitude list lagi, dan berfokus pada apa yang bisa saya maksimalkan pada Ramadan tahun ini. Memang ada hal-hal yang hingga hari ini masih saya latih terus-menerus, tapi untuk menambah wawasan Sister, bolehlah belajar dari kesalahan saya berikut: