Wednesday, March 21, 2018

Before You Giving Up...

“There’s always time for everything.”

Menjelang tenggat waktu yang sudah saya tetapkan untuk penyerahan naskah buku saya ke penerbit, mendadak bermunculan berbagai ‘tantangan’. Salah satu kontributor yang berdomisili di Papua harus mengalami masalah dengan koneksi internet yang mati se-pulau (atau se-kota gitu, lupa); kedua editor saya jatuh sakit; mbak ilustrator mengumumkan di Instagram bahwa HP-nya rusak; dan mas-mas yang sedianya akan membantu tata letak naskah putus dari pacarnya (thing is, pacarnya adalah teman saya – sehingga ia pun mundur dari proyek ini). Saya bahkan sudah tak sanggup untuk menangis, yang ada di pikiran hanyalah, “udah ah, aku mau nyerah aja.”

Menerbitkan buku adalah impian saya yang paling, paling, dan paling. Sayangnya, saya belum punya kemewahan untuk semata mengejar impian ini. Saya masih harus bekerja di kantor, menjalankan proyek pribadi lainnya; dan terus mencari tambahan penghasilan. Saya baru leluasa mengerjakan naskah pada akhir pekan. Pilihan lainnya, setiap hari saya harus bangun pagi-pagi sekali atau tidur larut malam. Rasanya seperti mengulangi masa-masa penulisan tesis, hehehe. Maka wajar jika sejak akhir tahun lalu, saya seolah-olah kelelahan terus-menerus. Pun, saya tahu tidak akan istirahat dalam waktu dekat karena harus melakukan rangkaian promosi buku hingga benar-benar ada yang beli. Makanya, please ikut pre-order buku saya pada akhir April ya, supaya seenggaknya saya bisa tidur lebih nyenyak. :))

Ngobrolin promosi buku, barusan saya lihat post Alanda Kariza. 


Pada kolom caption, ia menuliskan:

Foto bareng @christinego__, kawan baik saya yang menetap di Bali. Christine adalah salah satu dari tiga orang yang hadir di acara #SophismataBookTour edisi Denpasar, Bali
—
Saya cukup bersemangat untuk kembali ke Indonesia karena *akhirnya* bisa mempromosikan novel ini secara langsung lagi, setelah kemarin-kemarin hanya bisa melalui media sosial. Sejujurnya, fakta bahwa hari ini cuma dihadiri tiga orang cukup membuat terpukul, mengingat Denpasar bukan jarak yang dekat untuk ditempuh. Tapi, hari ini juga memberi peringatan pada saya bahwa masih ada ruang untuk perbaikan yang sangat besar — dalam menulis dan memasarkan karya tanpa mengurangi idealisme soal konten yang hendak saya produksi
—
Untuk bisa punya hati besar ketika hal seperti ini terjadi cukup sulit, apalagi ada masa di mana acara promosi buku terdahulu bisa menginjak 200 orang hadirin. God, thank you for the reminder. Perhaps we really just need to move forward and strive to be better each day. As startup gurus usually say: fail fast, fail often 😊
—
Terima kasih @christinego__ + @adityamau sudah hadir di hari ini 💖 Jadi tetap semangat untuk bicara di panggung! Untuk yang lain, mohon maaf jika kurang maksimal karena saya sedang demam.
—
#masihbelajar


I was like... what??? Sekelas Alanda Kariza lho, masa yang datang cuma TIGA orang??? Saya sendiri belum baca bukunya tapi cukup tahu kiprah Alanda di beberapa kegiatan yang ia inisiasi. Sebagaimana ia katakan di kolom komentar, pihak penerbit sudah melakukan sounding tapi mungkin terpengaruh dengan sistem algoritma Instagram yang baru (c’mon Instagram, you’re doing it so badly). Sehingga ya itu yang terjadi... Itupun satu orang merupakan teman dari Alanda, jadi praktisnya hanya ada dua orang yang datang. *pukpuk Alanda*

Sekitar dua minggu yang lalu, saya membaca novel Ika Natassa yang berjudul A Very Yuppy Wedding (AVYP), pinjam ke teman. Sebelumnya, saya memang baru membaca Critical Eleven dan The Architecture of Love. But to be honest, AVYP seperti ditulis oleh orang yang ‘baru belajar menulis’. At first, I couldn’t believe that Ika Natassa wrote that. Eh tapi ini menurut saya ya, it’s up to you if you have different opinion.

Yang mau saya garis bawahi dari kedua ‘kasus’ di atas adalah, setiap orang punya waktunya sendiri. Kalau Ika Natassa enggak pernah menulis AVYP, mungkin dia enggak akan pernah merasakan Critical Eleven dibuat film. Alanda Kariza mungkin sudah pernah sangat sukses dengan Indonesian Youth Conference. Sebelumnya dia juga sudah punya beberapa buku yang lain. Maka sangat mungkin di masa depan tiga orang akan menjadi tiga ratus atau tiga ribu.

Buku saya yang pertama ini, insya Allah bukan akan menjadi buku yang terakhir. Sungguh pun saya menanti feedback, apalagi kritik yang membangun, agar saya bisa menulis dengan lebih baik lagi. Syukur-syukur kalau one day bisa jadi seperti Alanda Kariza atau Ika Natassa.

Jujur saya sudah memikirkan buku berikutnya karena perjalanan buku pertama ini memberikan saya banyak sekali pelajaran. Salah satu yang terpenting adalah tentang kesabaran. Karena seperti telah saya sampaikan di atas, seberapa keras pun kita berusaha, apa yang sudah ditakdirkan untuk menjadi milik kita akan menjadi milik kita pada waktu yang tepat. Bukannya kemudian pasrah, karena saya pun terus berjuang agar buku saya bisa terbit pada waktu yang saya harapkan. TAPI jika misalnya ada suatu hal yang menjadi hambatan, dan itupun bukan dari internal diri saya, saya bisa apa?

Tentu tidak mudah untuk menuliskan hal ini, tapi kemudian saya teringat bahwa J.K. Rowling pun ditolak belasan penerbit sebelum akhirnya bisa menerbitkan Harry Potter yang fenomenal itu. So yeah, for you who is struggling in making your dream comes true, just keep believing that one day it will be yours!  

Lots of love,
Prima


Thursday, February 22, 2018

Road to Success

Harus saya akui, yang membuat saya sangat tertekan beberapa waktu lalu adalah tekanan orangtua terhadap pencapaian saya. Mereka mengharapkan saya memiliki pekerjaan tetap, jabatan strategis, yang tentu berimplikasi terhadap penghasilan yang tinggi. Terlebih sesudah saya lulus S2, ekspektasi diri saya menjadi semakin meningkat. Teman-teman terdekat mengatakan sebenarnya kehidupan saya sudah cukup ‘sukses’, tetapi saya terlanjur menetapkan target yang teramat tinggi untuk diri saya sendiri. Saya pun sering membandingkan diri dengan orang lain, namun bukan seberapa kaya seseorang dibandingkan saya, melainkan lebih kepada kontribusi seseorang kepada lingkungannya. Saya sering merasa sangat ‘kecil’ dan belum membuat perubahan apa-apa untuk masyarakat luas, atau sederhananya belum membuat gebrakan agar kehidupan orang menjadi lebih baik.

Salah satu yang tampak dari usaha saya memenuhi pengharapan itu adalah pemahaman saya terhadap waktu. Terkadang saya menyesal jika satu hari terlewatkan begitu saja ‘tanpa berbuat apa-apa’, selain bekerja tentunya. Di sisi lain, orangtua saya bukan orang yang pandai menyampaikan apresiasi, sehingga saya menyibukkan diri pada bidang-bidang atau kelompok-kelompok yang sekiranya dapat menghargai saya. Makanya, pada masa awal depresi, saya merasa kelaparan terus-menerus. Kalau kata bos, saya ‘lapar’ penghargaan – tapi alhamdulillah, saya ‘mengenyangkan diri’ saya dengan tindakan positif.

Berhubung mental saya sedang lumayan ‘rawan’, saya pun berusaha menurunkan target tersebut sedikit demi sedikit. Saya juga banyak berbincang dengan teman-teman dan saudara; serta membaca buku biografi. Why biography? Karena di situ saya melihat perjalanan seseorang dari mulai ‘belum punya apa-apa’ hingga bisa menjadi seperti saat ini.
And you know what? There is no such thing called an instant success.

SEMUA ORANG, I repeat, SEMUA ORANG, mengalami masa-masa struggling financially; belum lagi kalau mereka juga masih mencari apa yang sesungguhnya ingin mereka lakukan (seperti saya). Salah satu sepupu saya yang berprofesi sebagai dokter gigi bercerita, sesudah menyandang gelar, ia tak butuh waktu lama untuk membuka praktik di sebuah rumah sakit. Pada bulan pertama dan kedua, ia tidak mendapatkan pasien satu pun. Alhamdulillah, pada bulan ketiga, ia mulai mendapatkan pasien: satu orang. Meskipun begitu, ia tetap datang ke rumah sakit setiap hari meskipun belum tentu ada pasien (dan pada masa itu ia sebenarnya bisa on call). Tahun berganti tahun, sekarang pasien sudah cukup mengenalnya dan jadwal praktiknya hampir selalu ramai.

Kedua teman saya yang lain, yang menurut saya sudah lumayan ‘enak hidupnya’, juga mengalami perjuangan tersendiri. 6-7 tahun yang lalu, mereka harus naik-turun angkot menuju kantor (karena belum ada GoJek). Berangkat pagi buta, sampai rumah paling cepat jam sembilan malam, begitu terus sampai akhir pekan. Sebagai ‘anak bawang’, mereka harus mau melakukan apapun yang diminta oleh atasan, tak peduli mereka tidak menikmati pekerjaan itu. Someone has to work to pay the bills. Beberapa tahun kemudian, posisi mereka sudah cukup senior sehingga bisa mendelegasikan tugas-tugas kepada bawahan.

Saya pun bercermin pada pengalaman hidup saya, yang sepertinya ‘enggak jelek-jelek amat’. Saat orang lain masih bingung mencari kerja, saya sudah punya pekerjaan dan beberapa proyek pribadi (yang mungkin saat ini belum menghasilkan uang, but who knows?). Banyak orang iri dengan pekerjaan saya yang bisa dikerjakan di rumah, dan walaupun saya pegawai kontrak, alhamdulillah saya sudah mendapatkan pekerjaan lain selepas kontrak dengan perusahaan ini berakhir. And guess what? InsyaAllah saya akan bekerja di..... B a l i! Woohoo.

Mungkin bagi saya ‘masalahnya’ adalah, back in 2014, saat saya seharusnya diangkat menjadi manajer, saya justru resign dan mengikuti World Muslimah Award; yang ternyata oh ternyata merupakan sebuah ajang yang gagal karena sampai hari ini pun saya belum menerima hadiah saya dan tidak ada kelanjutannya. Jika saja manusia boleh berandai-andai, sekiranya saya tetap bekerja di kantor tersebut, barangkali saya sudah bisa keluar negeri setiap tiga atau empat bulan sekali. FYI, gaji+bonus saya waktu itu hampir sama dengan gaji saya sekarang, bahkan bisa lebih tinggi kalau lagi banyak klien.

Nyesel sih enggak, tapi kadang suka nyesek mikirin itu. Hahahahaha. Di sisi lain, life keeps surprising me dan target saya yang lain yaitu selesai S2 maksimal 5 tahun sesudah S1 sudah tercapai (terlambat satu tahun sih, tapi lumayan lah...). Allahu akbar!

Everybody has his/her own battle and all we can do is work hard. Seorang teman saya pernah berkata, “kalau ada orang yang lebih kaya atau sukses daripada kamu, lihat jam berapa dia pulang dari kantor.” Maksudnya itu kiasan untuk menggambarkan yaaa orang itu gimana kerja kerasnya. Kecuali kalau dia kaya dari warisan, beda cerita. Hehe.

Untuk itu, saya punya dua contoh yang bisa sister pelajari. Pertama, kamu bisa baca bukunya Kak Teppy (Stephany Josephine) yang berjudul “The Freaky Teppy: Cerita Hidup Penuh Tawa Walau Luka-luka”. Saya sudah pernah menuliskan review bukunya di sini. Kalau kamu cek Instagram dan blog Kak Teppy, sekitar 2-3 tahun terakhir kakak cantik satu ini makin heboh traveling dan kerjaannya. Siapa belum pernah baca review Ayat-ayat Cinta 2-nya yang ngehe abis? :))) Luar biasanya, she is still as humble as I knew her first time. Melihat kak Teppy yang sekarang enggak akan bikin orang berpikir dulu dia pernah ‘miskin’ (pokoknya kalian kudu baca bukunya). Hehe.

Kedua, mas Ariev Rahman. Saya memang belum jadi travel blogger, tapi kalau saya lagi malas mengerjakan proyek-proyek pribadi saya, saya pasti teringat akan mas satu ini. Selain menjadi pekerja kantoran dan memiliki blog traveling yang heitsnya kanmaen; ia pun menjalankan bisnis travel bersama teman-temannya. Yang ada di pikiran saya, “ini masnya tidurnya berapa jam sehari yak?” But he is a true hardworker at heart, and I think you can learn a lot from him.

Barangkali tidak semua orang harus bekerja sekeras saya, atau Kak Teppy, atau Mas Ariev. Hanya saja buat kita yang tidak punya nama ‘Bakrie’ sebagai nama keluarga; rasanya kita kok masih harus kerja keras kalau mau ‘hidup enak’, hihi. Ingatlah bahwa Allah tidak akan mengubah nasib kita kalau kita sendiri tidak berusaha.
"...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." Q.S. Ar-Ra'd (13): 11

And maybe as I have said, it’s not about how much you can get but how much you can contribute to the society.


Sabar, sabar, sabar. Dan tetap ikhtiar.

Lots of love,
Prima 

Sunday, February 18, 2018

Perjalanan Menuju Cahaya (Teaser)

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Yusuf (12): 6)

Awal tahun 2018, saya ‘terpaksa’ menemui psikolog dan psikiater karena sudah tak sanggup menahan penderitaan. Long story short, saya didiagnosis mengidap ‘severe depressive episode without psychotic syndrom’, yaitu gangguan psikologis yang tidak keren pokoknya. Awalnya saya shock karena tidak menduga sama sekali; saya kira saya hanya stres biasa. Akan tetapi, berhubung saya menulis blog dan buku harian, belakangan saya menjadi sadar kalau gejala depresi sudah muncul sejak awal 2016. Meskipun demikian, fisik dan mental saya mampu menahannya sampai Agustus 2017. Saat itu saya kewalahan dengan berbagai keperluan yang harus saya urus setelah melalui ujian tesis.

Puncaknya, saya merasakan dorongan yang sangat kuat untuk bunuh diri pada tanggal 20 Agustus 2017 (kok tahu? Ya kan saya tulis di diary). Saya sudah menenggak dua tablet obat tidur, tapi urung meminum lebih banyak karena takut dosa kalau beneran meninggal. Keesokan pagi, betapa bersyukurnya saya masih diberi hidup – walaupun rasanya tetap enggan beranjak dari tempat tidur dan tidak ada energi untuk melakukan apapun. Sayangnya, tekanan sosial dan daftar aktivitas yang harus dipenuhi menahan saya dari mencari penyebab kejadian ini. Saya pun menjalani hari dengan tertatih-tatih sampai tahun 2017 berakhir.

Beberapa hari sesudah tahun baru, saya muntab. Tingkah laku saya semakin tak terkendali sehingga sahabat terdekat pun menyarankan agar saya memeriksakan diri. Saya menemui dokter umum sambil membawa buku harian saya; menjalani serangkaian tes bersama psikolog; lalu dirujuk ke dokter spesialis kejiwaan. Sungguh hati saya remuk, tetapi saya percaya ada hikmah di balik ini semua. Saya merasa ini adalah bagian dari ikhtiar saya untuk menjadi hamba yang lebih baik di mata Allah; sekaligus mengoptimalkan fungsi saya sebagai makhluk sosial.

Hari demi hari, saya mulai membaik. Namun begitu, tidak mudah bagi saya untuk mengakui hal ini pada awalnya. Saya takut teman-teman saya menjauhi saya, saya pun khawatir dengan penghakiman orang atas saya. Alhamdulillah teman-teman saya justru menjadi pendukung terbaik saya. Tidak ada satupun yang mencerca atau merendahkan saya. Pujian dan apresiasi malah datang bertubi-tubi, menguatkan hati saya untuk terus menjalani perawatan.

Lucunya, banyak orang – seperti followers saya di media sosial atau pembaca blog – yang tidak percaya kalau saya mengalami depresi. Mungkin sudah pembawaan saya yang sanguinis dan ekstrovert untuk tampak ceria, meski berjuta beban sebenarnya menggelayuti bahu saya. Di kelompok pergaulan manapun, saya memang dikenal sebagai badut yang bicara paling lantang dan tertawa paling keras. Sungguh tak ada yang akan menduga kalau saya kerap menangis hingga mengamuk kalau sedang sendiri.

Salah satu tanggapan dari teman yang cukup menggelitik saya untuk menuangkannya dalam bab ini adalah,
“But mbak Prima, how could you be depressed? Your life is perfect. You are beautiful, smart, and have such an amazing life. Imagine if you were me...”

Ini teman saya yang bilang lho ya, bukan saya. Hehe. Dia pun mengeluarkan unek-uneknya tentang permasalahan hidupnya sejak kecil sampai sekarang; sehingga dia menganggap dirinya lebih ‘pantas’ untuk mengidap depresi daripada saya. For your information, dalam sudut pandang medis, seringnya depresi tidak berhubungan dengan seberapa cantik/terkenal/kaya/relijius seseorang. Sejauh yang saya pahami, depresi adalah gabungan dari turunnya ketahanan mental, serta reaksi dari saraf-saraf di otak yang berkaitan dengan zat-zat/hormon tertentu dalam tubuh. Dengan demikian, seseorang yang depresi tidak dapat berpikir dengan jernih layaknya orang normal. Dalam kasus saya, obat-obatan dibutuhkan untuk menyeimbangkan zat-zat/hormon tersebut. Meningkatnya kekebalan fisik saya, insyaAllah akan berimbas positif pada kekukuhan psikologis saya. Tahu enggak, apa yang saya pikirkan selama proses penyembuhan? Maha Besar Allah yang menciptakan akal manusia untuk terus mengembangkan ilmu; ditambah dengan orang-orang tulus yang mau mengemban misi sebagai psikolog dan psikiater. Luar biasanya lagi, orang-orang yang menangani saya itu mampu menuntun saya untuk menerima kejadian ini dengan penuh keimanan. Semoga Allah berkenan memberkahi hidup mereka.
Kembali ke perkataan teman saya, saya pun tertawa saat mendengarnya. Saya menjawab, “you don’t know my life. I have endured more pain than any common people. I have been living under the cloud of negativity for too long until it becomes difficult for me to see the light. For the last five years, I have became the most insecure person in the world no matter how big my achievements are.”

Barangkali sister akan bertanya-tanya, apakah saya tidak cukup beribadah hingga harus jatuh terpuruk seperti ini? Sebenarnya, masalah-masalah yang terus berdatangan sungguh membuat saya lebih dekat dengan-Nya. Ada suatu masa lutut saya sampai melepuh karena terlalu banyak salat dan terlalu lama bersujud. Saya pun semakin sering menekuni Al-Qur’an dan terjemahannya. Dan saat itulah saya jatuh cinta kepada Nabi Yusuf a.s.

Konon cerita tentang ketampanannya sudah sering kita dengar, sementara kisah cintanya dengan Zulaikha juga santer dibagikan untuk menginspirasi kita agar menahan hawa nafsu. Namun bukan itu yang membuat saya takjub.
Yusuf a.s. mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Tetapi ketika dia menoleh pada masa lalu kehidupannya, dia berkata, ‘Ah tidak, Allah Mahatahu apa yang sedang terjadi pada diriku selama ini, dan semua ini adalah kebijaksanaan-Nya.’ Subhanallah. (Nouman Ali Khan, 2016: 69)

Semua nabi dan rasul menghadapi ujiannya masing-masing. Akan tetapi, Yusuf telah menjalani kehidupan yang ‘sengsara’ sejak kecil, pun salah satu penyiksa terberatnya adalah kakak-kakaknya sendiri. Bayangkan kalau sister dibenci oleh saudara sister, diajak main ke suatu tempat terpencil dan ditinggal di sana. Betapa sakitnya hati ini.

“Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi". (Q.S. Yusuf (12): 15) 

Kemalangan Yusuf tak berhenti di situ. Memang ada sekelompok orang yang menyelamatkannya, tetapi ia malah dijual, untuk kemudian dibeli oleh penguasa Mesir.

“Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Yusuf (12): 19) 

“Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.” (Q.S. Yusuf (12): 20) 


Apakah lalu hidupnya menjadi lebih baik? Ya, untuk sementara. Sebelum Zulaikha menggodanya dan menjadikannya sebagai sasaran fitnah. Yusuf tak gentar sedikit pun. Ia justru memilih untuk dipenjarakan!

“Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh".  (Q.S. Yusuf (12): 33) 

Saat di penjara inilah, Yusuf mulai menunjukkan kenabiannya dengan menafsirkan mimpi penghuni penjara lainnya. Sedihnya, ia ‘apes’ sekali lagi. Si narapidana yang berhasil keluar dari penjara, ternyata lupa menyebutkan perihal Yusuf kepada tuannya! MasyaAllah. Setelah beberapa tahun, barulah mantan napi itu teringat untuk ‘mempromosikan’ jasa Yusuf dalam menginterpretasi mimpi kepada sang raja. Maka Al Aziz pun mengangkat Yusuf sebagai bendaharawan negara. Fiuh, akhirnya...

“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu". Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Q.S. Yusuf (12): 42)

“Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)". (Q.S. Yusuf (12): 45)

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Yusuf (12): 56)

Ternyata, perjalanan hidup Yusuf yang berliku tersebut membawanya kepada hadiah terbesar dari Allah: kemuliaan dunia-akhirat. Dan luar biasanya, ia begitu bersabar dalam menjalani ketetapan Allah, dan terus berprasangka baik kepada Allah. Coba kalau kita yang diuji oleh Allah seperti itu? Mungkin yaaa, ujung-ujungnya seperti saya, melambaikan bendera putih alias menyerah.
Pada bagian awal surah itu (surah Yusuf) sebelum masalah timbul, kita menoleh ke Allah dan menyebut-Nya sebagai Mahatahu dan Mahabijaksana. Lalu kita mempunyai harapan rencana besarnya bagi kita. Ketika masalah timbul, kita menyebut Allah sebagai Mahatahu dan Mahabijaksana karena apa pun yang terjadi itu adalah bagian dari pengetahuan dan kearifan Allah. Kita percaya pada-Nya. Dan ketika masalah kita teratasi, kita berpaling lagi pada Allah Swt. dan mengatakan bahwa Allah menolong kita. Kita bisa melihat peristiwa itu baik untuk keimanan kita. Dan hal itu juga baik dari sisi lain. Bahkan ketika kita tidak memahaminya, Allah Swt. mempunyai kebaikan untuk kita. Allah Swt. mempunyai sesuatu untukku. (Nouman Ali Khan, 2016: 75)

Suatu kali saat saya sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menemui psikiater, saya melihat pelangi yang begitu indah di kejauhan. Sister tahu kan, kalau pelangi hanya dapat muncul sesudah hujan? Hidup seperti itu – cahaya hanya akan tampak sesudah gelap yang begitu pekat.

Maka saya pun mengucap syukur berkali-kali. Alhamdulillah, Allah masih berkehendak untuk memanggil saya mendekat dengan-Nya. Ia langsung ‘turun tangan’ untuk memberikan jalan keluar. Ia mengirimkan orang-orang baik untuk membantu saya memperbaiki diri. Ia memberikan keberanian bagi saya untuk membagikan cerita ini kepada sister, semata agar sister bisa mengambil pelajaran.

Dan tahukah sister, apa kearifan yang nilainya paling besar dari peristiwa ini? Saya jadi mengerti bahwa Allah masih sayang sama saya. Ia masih peduli akan saya, dan Ia percaya saya bisa naik level setelah ujian ini. He trust me, so why can’t I trust myself?

Ramadan kali ini, mari resapi makna ujian hidup yang diberikan oleh Allah. Yakinlah bahwa tak ada ujian tanpa ganjaran; sebagaimana tak ada penyakit tanpa obat. Allah sudah menjanjikan, dan memberikan contoh melalui kisah nabi-nabi. And now it depends on us, will we fight to pass the test? Bismillah. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...