Monday, October 31, 2016

Don't Forget to Breathe

Last two weeks has been so crazy I even slept for 12 hours last night! I know it’s not good but I just couldn’t help myself as I was really tired. However, I also understand that I am getting more exhausted because I didn’t make time to work out. That’s why I did jogging a bit this morning.

Anyway, there is always first time for everything. For me, it was the academic symposium that I joined last week. For you who have known me for some times, perhaps you know that I have been hesitate for all these years, to decide what I want to be after I graduated from Master Degree. As much as I love sharing and exchanging knowledge, I do realize that lecturer’s salary in Indonesia is small. Hahahahaha, reality bites! My aunt can go everywhere and help paying my tuition fee because she is so busy taking care a lot of projects. At this point, I am not sure I can handle so many things – without slipping on one thing – like her.

It didn’t stop me to join the Asian Congress for Media & Communication (ACMC) 2016 because I have to take myself to the next level. I also am very curious if I can get along with scholars. It required more effort as I have to read my research again, collect updates about football situation in Indonesia, etc.

Long story short, I arrived at the opening ceremony. I was so nervous. Luckily, I saw familiar faces as I met delegates from Universitas Brawijaya. I sat with them until the dinner, it almost felt like I play safe as I didn’t need to introduce myself to new people.

At the second day, I still feel anxious but some delegates start introducing people to their friends and colleagues. We already have parallel sessions so it became easier to spark the conversation. It didn’t happen to me as I haven’t get my session yet. But I attended some sessions and finally, make friends with students from Philippines :)))

Then, the last day came and it’s time for me to present my paper. Glad to get a few comments and questions. My research about football players also a bit ‘fun’ so I successfully made my session more relaxed and we laughed a lot. Not to mention, my moderator, mas Fajar Junaedi, is also a football addict and he completed my explanation about football in Indonesia.

Being able to share my experiences and exchange insight eventually turned me to be more confident. At lunch, I approached more participants to get their business card so that we can keep in touch. The president of ACMC, Dr. Azwan Azman also asked how I feel about the conference. I found myself expressing my anxiety to her. Curhat gitu ceritanya. She appreciates my effort and encourages me to join another conference – which I WILL! After graduate, for sure :)))

So I just want you to know that I am not always confident. I do feel insecure too, sometimes. MANY times. I got out of my comfort zone because I want to grow. So what about you? Have you done something to prove that you are committed to your self development?

Lots of love,
Prima

Wednesday, October 26, 2016

Sabaidi! Cerita Saya dan Delegasi Luang Prabang, Laos di EATOF 2016

Saya kenal Tony ketika bekerja untuk sebuah project kerjasama GEO FISIPOL UGM dan JUMP! Foundation Oktober tahun lalu. Ternyata kami dipertemukan lagi saat seleksi untuk beasiswa Tokyo Foundation (dan alhamdulillah – saya mendapatkannya). Sementara Yoana, saya kenal dari Asia Pacific Regional Rotaract Conference (APRRC) 2016 dan kerja bareng lagi di acaranya JUMP! Foundation tersebut. Saya, Tony, dan Yoana saling mengenal satu sama lain sebagai anak muda yang aktif, berprestasi (ceileh), gemar traveling (mereka sih, saya mah apa atuh...), senang mencari kesempatan untuk berpartisipasi di event-event tingkat internasional, dan kadang-kadang merekomendasikan om-om (eh). Intinya sih, kami punya tingkat keinginan untuk eksis yang diatas rata-rata orang normal pada umumnya.

That’s why ketika Tony ngajakin saya dan Yoana ikutan jadi Liaison Officer di East Asia Inter-regional Tourism Forum (EATOF) 2016, kami langsung bilang ‘oke’ tanpa pikir panjang. Kapan lagi jadi LO untuk gubernur/wakil gubernur negara-negara tetangga? Gubernur sendiri, baik Pak Sultan maupun Pakde Karwo, saya belum pernah ketemu. Nah, pingin tahu dong, apa saja yang terjadi selama empat hari yang melelahkan itu? Here we go.

Apa sih EATOF itu?
“East Asia Inter-Regional Tourism Forum was founded in Gangwon Province, Korea in 2000 in order to pursue for peace and prosperity through exchanges in diverse fields especially on tourism.”
Intinya EATOF adalah organisasi yang dibentuk oleh 12 (perasaan kok cuma 10 yak) provinsi dari negara-negara di Asia Timur, dimana mereka bekerjasama untuk saling mempromosikan pariwisata provinsi tersebut.

Mengapa harus bekerjasama? Apa organisasi regional seperti ASEAN kurang efektif?
Engga tahu, saya engga bisa jawab. Tapi gini, yang namanya promosi pariwisata itu MAHAL BUKAN MAEN. Ini kalau kita ngomongin promosi secara ‘konvensional’ seperti bikin iklan, brosur, dan sebagainya. Belum lagi kalau setiap daerah harus ngirim delegasi pertukaran budaya. Tentu saja pengeluarannya tidak sedikit. Apalagi, daerah-daerah ini harus bisa berdiri secara mandiri. Okelah pemerintah negaranya punya program promosi pariwisata, tapi gimana caranya untuk memaksimalkan potensi daerah? Kerjasama dengan daerah lain (dan negara lain) jadi solusi.
Di EATOF, saya sebagai masyarakat awam yang sok tau, melihat kerjasama seperti ini ada kelebihan dan kekurangannya. Bagi provinsi seperti Gangwon, Korea; atau Tottori, Jepang; bahkan untuk Yogyakarta, Indonesia; it won’t be hard to promote. Okelah, mungkin beberapa dari kita cukup familiar sama Siem Reap, Kamboja (terutama karena saya udah pernah kesana); atau Sarawak, Malaysia...tapi gimana dengan Tuv, Mongolia; Quanh Ninh, Vietnam dan beberapa daerah lain? Jadi keuntungan buat provinsi yang ‘kurang terkenal’ adalah bisa ‘mendompleng’ keterkenalan provinsi lain.
Di sisi lain, ini pemikiran pribadi saya aja sih, yang sempat saya obrolin sama delegasi Luang Prabang, Laos. Tidak semua anggota EATOF punya anggaran dan prioritas yang sama dalam hal pariwisata. Terus, apa semua anggota sudah punya infrastruktur yang bisa mendukung untuk peningkatan pariwisata? Jadi, semuanya kembali lagi ke usaha masing-masing daerah dalam memanfaatkan kerjasama ini. Yah, sekadar wacana aja, but this was another thing that makes me feel grateful. Alhamdulillah for the opportunity to learn from a high-level forum directly. Siapa tahu saya beneran jadi diplomat sesudah lulus S2. Amiiin. 

Saturday, October 15, 2016

BOOK REVIEW: Di Balik Gerbang


Judul: Di Balik Gerbang – Inspirasi dari Kisah 7 Pendamping Diplomat

Penulis: Andis E. Faizasyah, Angela Widowati Nugroho, Lona Hutapea Tanasale, 
Myra Junor, Syifa Fahmi, Tyas Santoso, dan Utami A. Witjaksono

Penerbit: B first (PT Bentang Pustaka)

ISBN: 978-602-426-002-6

Tebal: 258 hlm

Tahun terbit: Juni 2016

Cetakan: Pertama

Genre: Kisah Perjalanan, Inspirasi, Biografi

Dua tahun terakhir ini, saya mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi dunia kerja yang agak berbeda dari pengalaman kerja saya. Kalau dibilang beda banget juga engga sih, karena pada dasarnya semua pekerjaan yang saya lakukan intinya satu: komunikasi. Memang semua pekerjaan itu butuh skill komunikasi, bahkan sahabat saya, Igna pernah bilang “ngapain sih kita kuliah komunikasi? Kayaknya semua orang bisa belajar sambil jalan.” Lah guweh, ngapain kuliah komunikasi sampai S2 tapi masih sering miscommunication? Ngambil peminatan komunikasi pemasaran, tapi sampai sekarang belum berhasil ‘memasarkan’ diri sendiri? Hvft. Kalau sudah begini, jadi nyesel kenapa dulu engga kuliah kedokteran aja. #ahseeek #kayakyangotaknyamampuaja

Saya sendiri mulai diberondong pertanyaan ‘kapan lulus?’ terutama dari beberapa orang yang ingin menawarkan pekerjaan penuh waktu sesudah saya menyandang gelar Master nanti. Padahal saya mah apa atuh, kerjaan begini doang. Ya nulis, ya ngedit, ya kasih pelatihan menulis, sesekali jadi tour guide. To be honest, saya masih sering minder kalau ngeliat lowongan pekerjaan. Ngerasa under-qualified gitu.

Seperti sekarang ini, dimana saya mulai mempersiapkan diri untuk merancang apa yang akan saya lakukan sesudah lulus. Saya masih menyimpan impian untuk bekerja di luar negeri – atau setidaknya di organisasi internasional yang berbasis di Indonesia. Setelah saya renungkan, waktu saya kerja jadi marketing executive di studio animasi beberapa tahun yang lalu, saya sudah bekerja di sebuah perusahaan internasional. 90% klien berasal dari luar negeri lho. Saya pun bisa bilang bahwa saya punya pengalaman bekerja dengan klien dari 20-an negara. Cieh banget kan.

Cuma kekurangannya waktu itu adalah, saya sendiri engga pernah keluar negeri karena business trip. Toh pekerjaannya hanya menuntut komunikasi dengan klien via Skype. Selebihnya bisa diskusi lewat email. Makanya waktu ada klien dari Irlandia yang pindah ke Bali dan mampir kantor saya di Surabaya, saya seneng banget. Apalagi setelah tahu kita kerja bareng lagi sebagai volunteer di Ubud Writers & Readers Festival 2014.

That’s why saya mencoba menyiapkan hal-hal yang diperlukan agar beneran bisa kerja di luar negeri. Minimal di Kemenlu deh. Atau jadi asisten di Kedutaan Britania Raya di Jakarta. Sadar diri juga, soalnya cuma bisa bahasa Inggris sih, huhuhu.

Berangkat dari keinginan saya untuk menapaki jalan menjadi diplomat, saya beli buku Di Balik Gerbang ini. Buku ini berisi cerita dari tujuh orang istri diplomat, yang dibagi menjadi empat tema besar: Kegiatan, Yang Unik, Perlu Tahu, dan Wisata. Kelebihan pertama buku ini terletak pada penuturan para penulisnya yang tidak klise. Ternyata, semua penulis punya latar belakang pendidikan tinggi; ada yang bekerja (atau pernah bekerja) sebagai pengajar, wartawan, dan bahkan editor buku.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...