Friday, September 30, 2016

A Blessed Life vs An Amazing Life

Sejak saya rutin mengunjungi dokter gigi (untuk berobat, bukan untuk cari pacar), saya jadi mulai malas berpuasa. Tadinya saya punya rencana untuk puasa Daud lagi sesudah puasa Syawal dan melunasi hutang puasa, tapi apa daya karena ada masalah rahang, saya harus merelakan gigi saya diikat. Saya pun merasa seperti puasa terus-menerus, secara engga bisa makan, hanya bisa minum (paling banter makan sup cream).

Ternyata, bukannya semakin kurus (lah), kemalasan beribadah ini jadi merembet kemana-mana. Saya jadi malas mengaji karena membuka mulut butuh perjuangan yang lumayan berat. Lama-lama, tahajjud pun bolong-bolong dan sholat subuh semakin ngaret. Astaghfirullah.

Masalahnya, semakin kita enggan ‘memaksakan’ diri untuk beribadah, perasaan sedih karena tidak dapat menyempurnakan ibadah juga beranjak menghilang. Saya perlahan tidak merasa bersalah walaupun tidak tahajjud – saya pikir ah, nanti juga bisa digantikan dengan salat dhuha atau sunnah rawatib. Padahal pahalanya berbeda. Pun perjuangan dan esensinya.

Lalu hubungannya apa dengan judul post ini?

Masih dalam rangkaian Sunshine Blogger Awards, ada sebuah pertanyaan dari Kak Nissa yang ingin saya jawab.
Jika kamu dituntut harus mengganti judul blogmu, kamu akan menggantinya dengan judul apa?

Monday, September 26, 2016

Agus Yudhoyono Maju Pilgub DKI Jakarta, Babak Baru Sinetron Politik Indonesia

Dulu, ketika saya hendak masuk kuliah (S1), saya hampir tidak memiliki pilihan kedua, karena satu-satunya jurusan kuliah yang saya masuki hanya Ilmu Komunikasi. Tapi engga mungkin kan, mendaftar tanpa ada pilihan kedua, pede banget. Di sebuah universitas swasta di Malang, yang sedianya menjadi pilihan nomer sekian bagi saya yang sedang menunggu pengumuman SPMB, saya membubuhkan jurusan Ilmu Pemerintahan sebagai pilihan kedua.

Lalu terjadilah dialog dibawah ini:
Ayah: “ngapain milih jurusan ini?”
Saya: “soalnya ayah engga ngebolehin aku milih jurusan Hukum.”
Ayah: “jangan ah, kerjaannya rawan dosa!”
Saya: “nah ya, kalau aku engga jadi wartawan, aku mau jadi orang yang ngerti tentang pemerintahan. Kalau mau mengubah (pemerintahan) Indonesia jadi lebih baik, kita harus berada didalamnya!”
Ayah: “gaya kamu!” *dijitak ayah*

Ternyata saya malah berkelana jauh dari pekerjaan yang saya inginkan pada awalnya. Maklum, waktu itu masih muda, masih makan idealisme. Sekarang, berhubung banyak tagihan yang harus dibayar, kerjaan apapun boleh deh (#lah). Waktu itu saya belum mengerti kalau ada yang namanya pembuat kebijakan. Tahu sedikit aja dari pelajaran IPS, tapi saya sudah gundah ngeliat Indonesia yang carut-marut. Saya merasa harus melakukan sesuatu, dan menurut saya, masuk ke dunia politik atau pemerintahan adalah solusinya.

Thursday, September 22, 2016

Antara Halal dan 'Halal' (Bagian 2)


Mau ngelanjutin post hari senin deh, kebetulan saya baru nonton The Food Files, sebuah program di National Geographic People dan bahasannya ‘ngena’ banget buat saya. Kalau sister sedang luang, boleh tuh dicari. Programnya diproduksi di Singapura dan Malaysia, jadi buat kita orang Indonesia, ‘kasus’ yang diangkat sangat sesuai dengan kondisi kita.

Pernahkah kamu merasa bersalah sesudah makan sesuatu? Bukan hanya karena halal atau engga, tapi kamu tahu bahwa makanan ini tidak memiliki dampak yang baik terhadap dirimu. Sederhananya begini, we eat to live. Not live to eat. Jadi apapun yang kita makan, idealnya mendukung kesehatan dan kehidupan kita. Sebagai manusia, kita membutuhkan nutrisi dari makanan agar kita bisa beraktivitas secara optimal. Ada perbedaan tipis antara ‘eat to live’ dan ‘live to eat’. Sebagian orang memang memikirkan apa yang akan dimakan dengan sangat teliti dan perhatian, misalnya vegan atau vegetarian. Ada juga yang sangat picky dan selektif sehingga tujuan mendapatkan kesenangan (pleasure) dari apa yang dimakan menjadi prioritas yang tinggi.

Supaya lebih mudah dipahami, kalau kamu sering punya pemikiran seperti ini: “engga bakal makan kalau engga di restoran X”, dan itu terjadi berulang kali, hampir setiap hari, bisa jadi kamu live to eat. Sementara sebagian besar orang cukup santai terhadap pilihan makanan. Perhaps a little bit picky, tapi tidak memaksakan diri.

Hidup kita bukan hanya tentang makanan. Meskipun pangan merupakan kebutuhan primer, tapi makanan adalah penyokong kehidupan kita. Bukan satu-satunya hal yang penting dalam hidup.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...