Sejak saya rutin mengunjungi dokter gigi (untuk berobat, bukan untuk cari pacar), saya jadi mulai malas berpuasa. Tadinya saya punya rencana untuk puasa Daud lagi sesudah puasa Syawal dan melunasi hutang puasa, tapi apa daya karena ada masalah rahang, saya harus merelakan gigi saya diikat. Saya pun merasa seperti puasa terus-menerus, secara engga bisa makan, hanya bisa minum (paling banter makan sup cream).
Ternyata, bukannya semakin kurus (lah), kemalasan beribadah ini jadi merembet kemana-mana. Saya jadi malas mengaji karena membuka mulut butuh perjuangan yang lumayan berat. Lama-lama, tahajjud pun bolong-bolong dan sholat subuh semakin ngaret. Astaghfirullah.
Masalahnya, semakin kita enggan ‘memaksakan’ diri untuk beribadah, perasaan sedih karena tidak dapat menyempurnakan ibadah juga beranjak menghilang. Saya perlahan tidak merasa bersalah walaupun tidak tahajjud – saya pikir ah, nanti juga bisa digantikan dengan salat dhuha atau sunnah rawatib. Padahal pahalanya berbeda. Pun perjuangan dan esensinya.
Lalu hubungannya apa dengan judul post ini?
Masih dalam rangkaian Sunshine Blogger Awards, ada sebuah pertanyaan dari Kak Nissa yang ingin saya jawab.
Ternyata, bukannya semakin kurus (lah), kemalasan beribadah ini jadi merembet kemana-mana. Saya jadi malas mengaji karena membuka mulut butuh perjuangan yang lumayan berat. Lama-lama, tahajjud pun bolong-bolong dan sholat subuh semakin ngaret. Astaghfirullah.
Masalahnya, semakin kita enggan ‘memaksakan’ diri untuk beribadah, perasaan sedih karena tidak dapat menyempurnakan ibadah juga beranjak menghilang. Saya perlahan tidak merasa bersalah walaupun tidak tahajjud – saya pikir ah, nanti juga bisa digantikan dengan salat dhuha atau sunnah rawatib. Padahal pahalanya berbeda. Pun perjuangan dan esensinya.
Lalu hubungannya apa dengan judul post ini?
Masih dalam rangkaian Sunshine Blogger Awards, ada sebuah pertanyaan dari Kak Nissa yang ingin saya jawab.
Jika kamu dituntut harus mengganti judul blogmu, kamu akan menggantinya dengan judul apa?