Wednesday, February 24, 2016

Enaknya Kuliah Dimana: Tentang Perguruan Tinggi Swasta

Pic from here.

Jaman saya mau daftar kuliah (S1) dulu, saya hampir terlalu excited untuk masuk Universitas Airlangga (Unair) Jurusan Ilmu Komunikasi. Secara umum, sahabat-sahabat saya juga mendaftar di Unair, jadi harapan saya untuk bisa bersama dengan mereka terus, mengalahkan hal-hal yang lain. Pada saat yang sama, saya mendapat rekomendasi dari guru bahasa Inggris native speaker saya untuk kuliah di sebuah universitas swasta di Surabaya for free. Empat tahun, FREE. Gile. Kebetulan universitas itu baru akan buka pada angkatan saya, kelasnya berbahasa Inggris, kurikulumnya luar negeri, dan 90% dosennya orang asing. Saya ngiler, tapi ayah saya mendatangi kantor universitas tersebut, dan menolak permintaan saya. “Ayah masih bisa bayar kuliah mbak, udah (kuliah di) negeri aja.” Saya cuma bisa manyun.

Sepuluh tahun kemudian, teman saya yang kuliah di universitas tersebut, saat ini bekerja di Kepulauan Karibia. Belum lagi, setelah lulus S1, dese dapat networking untuk melanjutkan S2 di bidang pastry di Switzerland. Oya, jangan tanya nama universitasnya apa, saya lupa. Terakhir kali saya lewat bangunan yang waktu itu saya datangi dengan ayah saya, bangunannya sudah tidak berfungsi sebagai universitas lagi. So where are they going? I don't know.

Pada masa itu, saya pertama kali mendengar kata 'eligible university'. Jadi kebanyakan lowongan kerja mensyaratkan lulusan dari universitas yang cukup reputable. Nah, kata ini masih sangat sering diterjemahkan jadi 'universitas negeri'. Tapi apa iya sih kuliah di universitas negeri selalu jadi pilihan utama? Let's see.

Generasi saya memiliki anggapan bahwa universitas negeri identik dengan biaya pendidikan yang terjangkau dan mendapatkan prioritas pemerintah dalam hal pengembangan, kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain. Apalagi beberapa universitas negeri di Indonesia gengsinya gede banget. Semakin sulit masuknya, semakin membanggakan pula.

Ketika saya lulus S1 dan bekerja, saya mulai merasakan sedikit ketimpangan antara saya yang lulusan negeri dengan teman-teman lulusan swasta. Mungkin saya harus menegaskan kalau semuanya kembali ke pribadi masing-masing, tapi ini ada contoh-contoh kasus ya. Jangan dipikir saya akan membandingkan dengan universitas swasta yang abal-abal. Manajer saya lulusan Universitas Kristen Petra Surabaya, pasti pernah dengar dong? Saya juga punya kenalan yang alumni Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Menurut saya, mereka lebih kreatif dan inovatif. Mereka lebih 'siap kerja', dan konon di kampus mereka, nilai bagus ga gampang didapatkan. Biasanya mindset dan jiwa mereka lebih 'entrepreneur', dan dari segi apapun, mereka lebih skillful.

Kemudian saya mengamati beberapa kampus swasta, dan saya mendapat kesimpulan pertama. Justru karena posisi mereka yang masih sering dipandang sebelah mata, mereka lebih terpacu untuk meningkatkan kualitas. Rata-rata universitas negeri kan ga butuh promosi, sedangkan jika universitas swasta ga melakukan promosi habis-habisan, mereka ga akan dikenal.

Selain itu, karena universitas swasta sadar betul bahwa mahasiswa adalah aset, mereka dilayani sebaik mungkin. Teman kuliah S2 yang juga alumni Atma Jaya pernah bilang bahwa selama kuliah, jadwal UTS atau UAS selalu pasti, dan dapat diketahui pada awal semester. Kantor internasional universitas swasta juga getol bikin kerja sama dengan universitas di luar negeri untuk membangun networking mahasiswanya. Tujuan dari pelayanan ini ya, supaya para mahasiswa mendorong adik-adik mereka untuk melanjutkan jejak mereka di universitas tersebut.

Beda sama universitas negeri yang - Allahu Akbar - ngurus apa-apa itu susahnya bukan maen. Terus ga terhitung lagi saya dengar cerita tentang dosen-dosen universitas negeri yang waktunya diregenerasi tapi terhalang birokrasi dari pusat.

Saya bukannya mau menjelek-jelekkan universitas negeri ya, secara saya sendiri masih kuliah di universitas negeri. Saya hanya ingin memberikan wawasan kalau kuliah di universitas swasta ga sejelek itu. Bahkan kalau sister khawatir akan tingginya biaya, universitas negeri sekarang juga banyak yang muuuahal pwol. SPP adik saya yang S1 di Universitas Brawijaya hampir sama dengan SPP saya yang S2. Makanya saya ketar-ketir karena akan ada 2 (!!) adik lagi yang masuk universitas tahun ajaran depan.

Ragu-ragu tentang image universitas di mata perusahaan yang ingin sister lamar suatu hari nanti? Well maybe it's another problem. Tapi kembali lagi keatas, kalau sister memutuskan untuk kuliah di universitas swasta, jangan kuliah di universitas 'ga jelas'. Sebisa mungkin tetap kuliah di universitas swasta yang sudah terpercaya.

Seandainya saja saya boleh memilih saat itu, mungkin saya akan mempertimbangkan kuliah di universitas 'yang tidak terkenal' itu. Saya juga pernah berandai-andai kalau bisa kuliah di Universitas Ciputra Surabaya atau Universitas Ma Chung Malang, kayaknya seru. Sayangnya kedua universitas itu dari sejak awal tidak ada di daftar saya karena tidak punya jurusan Ilmu Komunikasi.

So, untuk merangkum how to choose a private university, here are some tips for you:
1. Lihat akreditasi universitas dan jurusan. Kadang bisa berbeda lho, karena jurusan kan didaftarkan sesuai tahun pembukaan, sedangkan mungkin universitasnya sudah berdiri sejak lama. Hal ini tidak terlalu krusial tapi bisa membangun image dan reputasi mahasiswanya.
2. Jika memungkinkan, perhatikan daftar mata kuliah yang mereka tawarkan, atau setidaknya kurikulum yang mereka gunakan. Apakah lebih cenderung pada praktik kerja, atau teoritis? Kalau untuk S2, pilihan peminatan atau mata kuliah dapat dilihat di brosur, tapi mungkin untuk S1 hal ini bisa ditanyakan ke bagian informasi.
3. Bagaimana dengan dosen-dosennya? Dari latar belakang dosen bisa dilihat juga kecenderungan kurikulum universitasnya. Sebagai contoh, bos saya dulu (kayaknya) bukan lulusan S2 tapi bisa mengajar mata kuliah yang dasarnya creative works sesuai dengan pengalaman kerja beliau.
4. Apakah universitas ini memiliki networking yang mumpuni? Ga cuma dengan universitas di luar negeri, tapi bisa juga instansi atau institusi yang memberikan peluang pekerjaan bagi mahasiswanya.

Kesannya sedikit ribet ya, kecuali universitas ini sudah mentereng abis, tapi namanya memilih universitas itu hampir sama dengan memilih pacar (…). Bisa jadi pilihan ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada kehidupan selanjutnya (dunia kerja maksudnya, bukan kehidupan sesudah mati, hehe), dan hampir semua orang tua pasti berharap sister akan bertahan untuk menyelesaikan kuliah di satu universitas saja sampai lulus. Nah, kalau sekarang sister sudah sedikit tercerahkan tentang kuliah dimana, next post saya akan membahas tentang kuliah apa. Stay tune ya! ;)

Salam mahasiswa,
Prima

Thursday, February 18, 2016

Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Malang

Alhamdulillah, paspor baru saya sudah di tangan ayah. Lho kok? Iya, soalnya waktu itu saya ga sempat ambil, jadi saya percayakan paspor saya diambilkan oleh ayah. Cuma ada sedikit masalah nih. Berhubung saya kadang melakukan perjalanan spontan, sekarang agak-agak repot karena beliau pasti tanya-tanya saya mau kemana, sama siapa, berbuat apa. Yolandaaa #eaaa

Sembari saya merencanakan bagaimana meminta paspor saya ke ayah saya (karena saya sedang menulis tesis dan tidak berpenghasilan tetap, beliau bakal tanya juga, “hah kamu mau ke luar negeri dapet duit dari mana?” Haha); saya ingin menceritakan proses pembuatan paspor yang saya jalani kemarin.

FYI, ini adalah paspor ketiga saya. ENGGA, SAYA GA SETAJIR ITU KOK. FYI kedua, paspor pertama saya cuma saya pakai satu kali saja, tapi itupun langsung tiga negara *ditiban pesawat karena congkak* Soalnya nih, paspor Indonesia cuma berlaku 5 (lima) tahun saja. Jadi, dengan frekuensi pergi keluar negeri yang cuma sekali setahun, pastinya bukunya ga akan penuh. Kecuali kalau saya travel blogger macem mas Ariev Rahman, atau fashion blogger macem Anastasia Siantar, atau desainer sekaliber Dian Pelangi; ya lain ceritanya. 
Tampak depan Kantor Imigrasi Malang. Pic from here.

Balik ke paspor saya. Kali ini saya memutuskan untuk bikin di Kantor Imigrasi Malang seperti paspor kedua dahulu. Selain karena saya ga punya banyak waktu saat liburan di Surabaya, ternyata saya punya teman dan saudara yang bekerja di Kantor Imigrasi Malang. Sekalian silaturrahim gitu maksudnya, hehehe. Setelah saya perhatikan, kedua kantor imigrasi di Surabaya memang kurang strategis lokasinya. Jauuuh banget dari rumah saya. Sedangkan kantor imigrasi di Malang masih bisa dijangkau dengan angkutan umum (letaknya dekat dengan terminal Arjosari) dan bahkan bisa jalan kaki dari rumah sakit tempat saya menunggui bude saya.

Saya juga mencoba membuat paspor secara online. Yang ada di bayangan saya sih, semuanya akan lebih cepat. Kalau dulu, saya harus ke kantor imigrasi tiga kali, dan kesemuanya harus pagi-pagi buta; saya pikir kali ini ga akan begitu. Ternyata, saya malah ngalamin bolak-balik karena saya ga punya printer di rumah. Tahapannya begini:

1. Melakukan proses pendaftaran disini 
2. Nge-print 'Bukti Pengantar ke Bank'
3. Melakukan pembayaran di BNI
4. Melakukan proses konfirmasi kedatangan lewat website, sebagaimana dipandu lewat email (dan ini beberapa kali gagal, kayaknya server-nya lagi down)
5. Nge-print 'Tanda Terima Permohonan', beserta 'Formulir Surat Perjalanan Republik Indonesia'-nya
6. Mendatangi kantor imigrasi untuk foto
7. Mengambil paspor, antara 3-4 hari sesudah foto

Iya sih, untuk pendaftar online ada antrian tersendiri, tapi rasanya sih ga terlalu jauh berbeda. Tapi yang pasti, sister harus bolak-balik nge-print. Berdasarkan pengalaman saya, BNI dan kantor imigrasi ga akan memproses aplikasi kita kalau hanya menunjukkan surat itu di handphone, harus ada bukti cetak. 

Disamping itu, yang berbeda kali ini, saya ga pakai akte kelahiran, tapi pakai ijazah S1. Tadinya saya sempat deg-degan karena waktu googling ada yang bilang ijazah S1 ga bisa dipakai karena tidak ada nama orang tua, tapi mungkin karena saya sudah pernah punya paspor jadi diloloskan. Kenapa saya ga pakai akte kelahiran? Soalnya akte saya ada di Surabaya sih, hihi. Buat sister yang mau aman, mending pakai akte kelahiran; dan buat yang sudah menikah, ada baiknya buku nikah juga dibawa – meski ga wajib kalau Kartu Keluarga dan KTP sister sudah di-update.

Biaya yang saya bayarkan adalah Rp. 360.000, sedangkan saya kurang tahu untuk paspor yang biasa. Oya, make sure kita bikin yang 48 halaman ya, soalnya yang 24 halaman hanya untuk tenaga kerja Indonesia. Waktu itu saya sempat dongkol ketika salah satu petugas kantor imigrasi bilang, “ya bikin yang 48 halaman mbak, jangan yang 24 (halaman), itu kan buat TKW. Mbak TKW?” Saya jawab aja, “wah kalaupun saya bukan TKW, saya kan wanita Pak. Lagi juga kenapa kalau TKW?” Sebenernya pingin saya lanjutin, 'halah Paaak, Bapak juga banyak duit karena kita punya banyak TKW yang bikin paspor', untung saya lagi kalem hari itu. Lol.

Satu yang bikin saya sedikit kaget, ternyata hampir semua orang yang datang dan mau memproses pembuatan paspor, harus memeriksakan berkas-berkasnya di ruang informasi. Saya bilang hampir karena saya ga tahu apa semua orang melewati proses itu, cuma sepertinya sih harus karena dengan demikian kita bisa dapat map untuk berkas-berkas kita [maap maap informasinya kurang jelas]. Sebagaimana yang dijelaskan oleh teman saya, proses pengecekan berkas adalah untuk menghindari adanya orang-orang yang sudah mengantri lama untuk pengajuan paspor, ternyata tidak membawa berkas-berkas yang dibutuhkan. Dan memang ada buuuanyak orang yang ga membawa berkas karena ga paham; meski ada juga yang setelah dijelaskan tetap ngeyel pingin bikin paspor hari itu juga. Saya ga tahu saya berharap ada petugas yang lebih sabar atau lebih tegas untuk menghadapi orang-orang seperti mereka, hmmm. Saya juga sempat agak bingung karena saya harus mengisi ulang formulir pengajuan paspor, padahal saya membawa print-an formulir pengajuan online. Kata teman saya, saya ga seharusnya mengisi formulir lagi kok, mungkin petugasnya lelah, hvft.

Tapi yang jelas, saya senang mengurus paspor di Kantor Imigrasi Malang. Petugasnya helpful (lebih tepatnya teman saya..... lol) dan tempatnya nyaman (sayang lahan parkirnya terbatas – tapi ini juga terjadi di Surabaya sih). Kemarin waktu saya kesana, toiletnya sedang direnovasi. Tapi saya yakin sebentar lagi akan jadi lebih bagus. So, kalau saya nanti bikin paspor lagi lima tahun dari sekarang, I'll definitely be back to this office (sambil berharap saat itu sudah ada one day service :)).

For the love of traveling,
Prima

Wednesday, February 17, 2016

NOT a Book Review: a Tale of Crestfallen - FloLady Ochie

 
 
 
 

Eh? How come it's not a book review, Prima? Because the book is too good to be reviewed!

Gak kerasa udah dua kali saya kerja bareng Kak Ochie, dan kedua kalinya selalu unforgettable. Kak Ochie buat saya adalah seseorang yang unik - sangat terbuka DAN misterius sekaligus. But most important thing is, she is a very inspiring person. Tidak hanya dipercaya Ubud Writers & Readers Festival sebagai Volunteers Coordinator a.k.a 'emaknya anak-anak' sejak tahun 2010; tapi Kak Ochie sendiri juga punya sekolah bahasa Indonesia bernama Cinta Bahasa di Ubud, Bali. 

Surely she is a writer herself. Dan ketika Kak Ochie bikin buku, ga tanggung-tanggung, bukunya sangat menghibur - ga cuma rasa tapi juga mata #gimanatuh Coba aja intip foto-foto diatas. Keren banget kan? Bukunya pun dibuat dengan kertas khusus, hampir menyerupai kertas daur ulang. 

Terus isi bukunya sendiri gimana? Kalau kata Kak Ochie di pembukaannya, "this is neither a poetry book nor a beautiful collection of rhymes." TAPI bukunya sangat 'kaya' lho. Saya banyak belajar tentang kehidupan dari baris-baris kalimatnya. Tentang menjadi perempuan - yang bangkit dari semua pedih yang teralami. Tentang menjadi sahabat. Tentang mencintai dan patah hati. 

Dibawah ini beberapa kalimat yang saya sukai:

"What keeps her happy might hurt her so deeply."

"After a while, some people could only care about winning the battle, they just forgot what they were fighting for,"

"Sxiinner replied to her, "Your pain doesn't stay in the place you left it. It goes with you.""

"You're telling me nothing can beat you, but I wonder why you keep yourself so busy." 

"But she has made her choice. it's not absolute yet it's subtle. This is her current road. To dress up her every pain. It might not be pretty, but she has wrapped herself, tightly inside the flowery sins. Her only comfort."

Penasaran kan, tentang cerita-nya Crestfallen? So why don't you contact Kak Ochie yourself to ask more about the book? ;)

Lots of love,
Prima

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...