Tuesday, October 29, 2013

Blossom Hijab


Hi Daniel,

First of all, congratulation! Glad to hear about the success of the fundraising for Jalanan Movie. Good luck with all your plans! ^^


I attended your session at UWRF13 which is “Contemporary Culture-Indonesia”, and I was mesmerized with your knowledge about Indonesia :)


Besides that, one of your questions just got stuck in my mind since then.


When we discussed about some trending topics in Indonesia, one of your concern was about hijab trend in Indonesia. You wondered whether hijab trend shows us that the general society (or specifically Hijabi women) becoming more religious.


As I was also wondering about it, I didn't have much foundation to give my opinion.


So I did a small research towards my hijabi friends - but unfortunately none of them are hijaber (a term to call a trendy hijabi).


Most answers that came to me agree in two things: hijab is an identity and a reminder. While we can say only muslimah wear that kind of specific hijab (because there are various kinds of headscarf in the world), it's not automatically change a person to be a religious one. 


From what I've learned for all this time, wearing hijab is a compulsory for us and we shouldn't be questioning it. It is same with us wearing any other kind of clothes. We never think why we should wear this kind of clothes, or some certain kind of clothes. We just think we need to wear proper clothes. That's it.


However, to give you deeper insight, and this is all only my personal observation. I can be wrong and I don't want to force all hijaber out there to have the same point of view with me. But for me, what you meant was just a fashion trend.


Since it is a fashion trend, it might change fast or disappear in the near future. For example, me myself never change my hijab style since I start wearing it permanently two years ago. But because nowadays it is a fashion trend, no wonder when you see a beauty hijaber wear specific what-so-called hijab style, many other hijaber will ask 'show me how you make your hijab like that'. Yes, now that is what I call ridiculous.

 
this is one of hijab tutorial, in case you wondering..

and my hijab, that vintage-classic-simple one :D

However, this trend can be good too. As most people (especially hijabi like my friends and I) will think there is nothing great about wearing a headscarf; we do hope that it brings positive impact for our surrounding. While Muslims are proud to be the major number in Indonesia, we still have to face the reality that some work sectors don't allow women workers wearing hijab in the workplace. For example: mass media, manufacturing company, or bank. It's quite strange actually, because in this democracy country, we have the right to say what we want; but not wearing what we want.

So, while personally hijab is expected to bring us to be a better person in God's eyes; generally I would consider the hijab trend in Indonesia is a social movement. To get the right that we deserve.


That's all, I hope it answers your curiosity. Have an awesome day!

Salam,
Prima

Let's Get Lost



Kalau kamu berpikir bahwa travel is all about going to new place, make a good photo so you can get many likes in Facebook/Instagram, you might wrong.

There's much more than just being a 'traveller', dan hal itu saya temukan saat mengikuti sesi “Travellers” di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2013.

Yang tadinya mikir ih pasti seru banget, eeeh sepanjang sesi itu berlangsung yang ada saya dan teman saya Nadine ga henti-hentinya berkaca-kaca. Bukan karena sesinya berubah jadi nonton film drama bareng sih, tapi saya pulang dengan keyakinan yang berubah 180 derajat. I WANT TO BE A TRAVEL WRITER!!!

Traveling bukan semata-mata menjadi eksis dan glamor karena bisa bilang ke teman-teman (atau pembaca blog), “eh gw pergi kesini lhooo..”. No. Ada sesuatu yang lebih besaaar daripada itu. Dan sebagai seorang travel writer, kita (cieh kita..) punya tanggung jawab yang berat untuk menyampaikannya ke pembaca tulisan kita.

Salah satu pembicara dalam sesi Travellers ini adalah Don George (penulis Lonely Planet’s Guide to Travel Writing DAN Editor at Large for National Geographic Traveler – how awwwesome is that), dan kalimat pertama beliau langsung bikin saya nganga. He said, “Roads are the best school a student can have.” Buat traveler, tentu saja pengalaman yang didapatkan selama perjalanan adalah pelajaran yang berharga. Makanya, setelah saya amati, kalau saya bepergian ke suatu tempat, biasanya saya berubah waktu pulang. Lebih sopan, lebih santun, lebih ngehargain orang lain lah. Yup, karena di tempat yang saya datangi, saya belajar beradaptasi dengan nilai-nilai yang dianut oleh penduduk setempat.




Nah, kenapa ga membagi pelajaran yang kita dapatkan itu kepada orang banyak? That, is the point of travel writer. Jadi, sekarang ini sudah mulai ada pergeseran tentang cerita-cerita yang dibagi dalam artikel perjalanan. Bukan lagi itinerary, tapi making connection with the local people and the new place. Ada nilai-nilai yang lebih dalam di setiap tulisan travel writer. Dulu mungkin yang namanya artikel perjalanan itu ya apa aja yang bisa dilakukan di kota X, misalnya. Tapi sekarang, travel writer memasukkan emosi dan pemikirannya selama ia melakukan perjalanan. Contoh, bagaimana perjalanan ke Amerika Serikat membuat ia lebih menghargai perbedaan.

Mas Agustinus Wibowo adalah salah satu pembicara yang menghabiskan beberapa tahun hidupnya di Cina dan Afghanistan. Saya ga begitu ingat semua perkataannya, tapi yang jelas tiap ia menyelesaikan kalimat, saya dan Nadine cuma bisa diam seribu bahasa. Mas, kamu keren sekali dan semua perkataanmu itu bisa banget dibikin quote *halah *lebay

Pasti udah sering baca saya nulis di blog ini, 'create mutual understanding'. Ya itu kata-katanya mas ini.




Jadi, menurut mas ini, yang diamini sama kedua pembicara yang lain yaitu: Trinity dan Tony Wheeler (co-founder Lonely Planet) adalah, travel writer itu punya misi penting yaitu mengkomunikasikan keadaan apa yang berbeda-beda di setiap belahan dunia. Misalnya (ini contoh dari saya), perempuan di Arab Saudi itu ga boleh nyetir mobil lho. Kalau kita ga punya kesempatan ke Arab Saudi, dan ga ada penulis, kita ga bisa tahu kan hal-hal seperti ini.

Terus apa pentingnya tahu hal-hal begitu? Ya supaya kita sadar di dunia ini ga cuma kita dan 'dunia kecil' kita. Belajar menghargai perbedaan karena ga selalu mereka salah dan kita benar. Cuma, karena beda latar belakang, beda budaya, menghasilkan suatu produk pemikiran yang berbeda juga. Selain itu, seringnya hal-hal yang kita temui dari artikel perjalanan itu bikin kita lebih bersyukur dan juga bikin kita lebih semangat berjuang. Kalau pas lihat negara lain keadaannya lebih maju, pingin juga kan mewujudkannya di Indonesia? Bisa banget kok, sama-sama manusia ini..

Tapi terus, mungkin beberapa dari kamu berpikir 'saya kan perempuan, mana bisa pergi jauh-jauh gitu..' Hmmm, justru kata mas Agus kita punya banyak kelebihan as female traveler. Misalnya waktu mas Agus di Afghanistan, itu kan yang bisa kontak langsung sama penduduk wanita ya cuma turis wanita aja. Atau coba baca bukunya Claudia Kaunang, atau Asma Nadia. Perempuan semua tuh kan..

So, what stop you from pack your bags and book the ticket, ladies? ;)



Love,
Prima

Monday, October 28, 2013

#MenulisMuharram: Ikutan Yuk!



Assalamu'alaikum sister..
I hope you all had a great Monday ^^

Menjelang tahun baru Hijriyah, kayaknya seru juga ya kalau ngumpulin blogger-blogger muslimah nulis bareng di satu blog. Makanya, saya bikin #MenulisMuharram dan mau mengundang saudari-saudari muslimah untuk menjadi guest blogger di blog saya.

Lewat #MenulisMuharram, saya pingin kita sama-sama belajar nulis – jadi ga usah malu kalau sister baru aja punya blog (saya juga kok); dan bukan berprofesi sebagai penulis. Mau mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawati; boleh banget ikutan program ini ^^

Terus, apa sih yang bisa didapetin dari ikutan #MenulisMuharram? Selain hadiah (asik nih :D), sister juga bisa promosiin blog sister; dan tentunya kita bisa sharing tentang suatu topik.

Apa cuma di blog theprimadita? Iya sih, sementara gitu. Tapi, kalau sister juga mengizinkan saya menulis di blog sister, saya oke aja. Jadi seperti bertukar tulisan gitu..

Nah, di bawah ini ada syarat untuk ikutan #MenulisMuharram..

1. Pilih satu atau dua tema dari yang sudah disediakan. Nomer menandakan tanggal posting. Infokan tema yang sister pilih ke (hubungi saya via satu cara saja): 
· Twitter: @primaditarahma
· Comment di blog post ini
· Chat via LINE: primaa10
· Atau email: primadita1088@gmail.com (diutamakan lewat Twitter atau comment ya) 

2. Follow blog saya.

3. Tulisan maksimal 500 kata – yup, biar sederhana dan ga menghabiskan waktu sister juga.. Silahkan tulis apa saja yang penting nyambung dengan topik, dan kalau ada gambar/foto, lebih bagus lagi. Hehe.

4. Tulisan sister akan di-publish di blog saya, jadi tulisannya dikirim ke saya via email ke primadita1088@gmail.com, maksimal jam16.00, DUA hari sebelumnya. Misal sister ambil topik nomer 4 (di-publish tanggal 4) berarti kirim post maksimal jam16.00 tanggal 2, gitu. **kecuali yang post tanggal 1-3 November, sepertinya bisanya 1 hari sebelumnya. Oke deh, ga pa-pa :)

5. Di tulisan sister, silahkan cantumkan blog sister, Twitter, Facebook. Dan di E-MAIL, cantumkan nomer HP ya ^^ 
Dari 30 post tersebut, saya akan mengambil TIGA post yang akan mendapatkan hadiah dari saya. Satu adalah yang paling saya suka; satu diambil dari page views paling banyak; dan satu lagi akan jadi surprise.. So, setelah nulis, sister juga mesti promosiin post sister ^^
I have three packages with various gifts, dari mulai baju muslim, maxi skirt, gantungan kunci dari luar negeri, aksesoris, dan masih banyak lagi.. Sounds nice, right? ;)

***

UPDATE!!! 
Dibawah ini adalah topik-topik yang udah diambil beserta nama yang sudah bersedia untuk menulisnya.
Ingat untuk mengirim tulisan sister ke email saya: primadita1088@gmail.com, maksimal DUA hari sebelum tanggal topik. Tapi, misal sister tulis untuk tanggal 20, terus tanggal 10 udah jadi, kirim aja juga boleh ;)

Good luck, and have fun! :*

1. Akun twitter islami favorit (BUKAN akun mubaligh ya, soalnya udah ada sendiri topiknya)
2. Negara timur tengah yang ingin dikunjungi selain Arab Saudi untuk haji – Santi Dewi
3. Pengalaman berhijab  – Intan Dzikria
4. Ayat Quran favorit – Hasnawati
5. Resolusi tahun baru - Vitarinda
6. Buku islami favorit – Emi Syofyan
7. Ibu – Erina Julia
8. Masjid - Monika
9. Pakaian sholat (mukenah) - @brmldyw di Twitter
10. Doa favorit – Annisa Dewi
11. Positive thinking – Intan Novriza
12. Tradisi Idul Fitri di keluarga sister – mywordsfortheworld di comment
13. Mubaligh favorit – Fatkah
14. Islamic wedding
15. Hijab clothing line favorit - Nesyabila
16. Inspirator muslim favorit (yang bukan mubaligh, mungkin pengusaha, artis, dan lain-lain – dari Indonesia) - Fatkah
17. Islamic quote favorit (boleh diambil dari hadits, atau kutipan dari inspirator/tokoh muslim) – Lilis Suryani
18. Cara sister untuk berdakwah – Kalis Mardiasih
19. Blog islami - Selvia
20. Pengalaman gagal - Vitarinda
21. Mobile app islami
22. Mengatur keuangan - Titasya
23. Website islami - Selvia
24. Film Islami favorit - Rosalia
25. Menjadi perempuan percaya diri - Vicky

26. Tokoh Islam (nah ini seperti inspirator, tapi dari luar negeri) – my inspiration di comment
27. Kisah sejarah Islam favorit - Ratri
28. Tentang pilihan – Intan Novriza
29. Guru sekolah yang paling diingat – Lilis Suryani
30. Belajar istiqomah – Vicky

Masih dibuka: 1, 14,  21 - daftar via Twitter aja yah :)


Untuk pertanyaan juga silahkan langsung ke Twitter, atau kalau pingin lebih jelas lagi via chat Line aja. Mudah-mudahan ini juga bisa jadi cara kita ber-silaturrahmi ya ^^


Saya tunggu, yuk!

Salam,
Prima
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...